Jadi orang jangan baperan dong! Atau, duh apa aku yang terlalu baper ya?
Baper, sepertinya seseorang tuh tidak boleh sekali merasa baper. Hari ini saya chat panjang sekali dengan adik saya. Dia sih yang chat panjang duluan,ahaha. Kami mengobrol panjang sekali sampai-sampai setelahnya saya beli es krim untuk menetralkan hati dan pikiran yang kayaknya penuh sekali :')
Inti chat kami, yah soal baper salah satunya. Apa aku yang terlalu baper ya, kurang lebih seperti itu. Saya sendiri kadang suka kesal sama kalimat 'jangan baper' atau 'aku aja kali yang baper'.
Apakah setidak boleh itu kita terbawa perasaan diri sendiri, pada emosi yang dirasakan? Padahal perasaan itu, emosi itu tidak minta apa-apa. Hanya minta kita terima dengan senang hati.
Dari kelas basic parenting yang saya ikuti tempo hari, pada dasarnya ada 5 macam emosi dominan yang sering kita rasakan (waktu itu dalam konteks sebagai orang tua namun menurut saya ini juga cukup valid dalam konteks sebagai individu). 5 emosi dominan itu adalah marah, khawatir, merasa todak enakan, merasa bersalah, dan ingin dipuji.
Dan saat kondisi atau momen dimana emosi dominan kita sedang keluar, sebenarnya ya tidak apa-apa. Namun, akhirnya menjadi apa-apa karena dianggap baper saat emosi yang kita rasakan itu tidak diterima oleh lingkungan sekitar bahkan diri kita sendiri. Padahal, kalau mau legowo, dan menerima dengan senang hati, tidak ada 15 menit juga akan hilang pelan-pelan emosinya :')
Saya sendiri sebenarnya cukup struggling dengan istilah baper karena saya memiliki perasaan yang sensitif dalam menyikapi sesuatu. Saya pun tidak suka menjadi orang yang sensitif karena being sensitif sangat melelahkan dan membuat saya hanya punya sedikit teman. Saya menjadi sangat berhati-hati dalam pergaulan. Setiap kalimat yang saya tulis atau saya ketik disusun dengan sangat hati-hati sehingga tidak jarang menjadi kalimat-kalimat yang kadang terkesan kaku. Semua itu karena saya terlalu takut untuk menyinggung perasaan seseorang, karena saya tau bagaimana sedihnya jika kita merasa tersinggung.
But, here i am now. Saya mencoba untuk menerima rasa sensitif itu dan berusaha menyampaikan apa yang saya rasakan kepada orang-orang di sekitar saya. Saya mencoba mengakui bahwa, yes i'm a sensitif person so it's ok. Dan ternyata orang lain pun pada akhirnya dapat belajar untuk memahami diri saya. Seandainya sewaktu-waktu saya memberi respon yang berlebihan terhadap suatu kejadian (misalnya saya sampai menangis seharian) bagi keluarga saya itu adalah hal yang wajar-wajar saja, hehehe.
Di sisi lain, selain menjadi belajar menerima perasaan diri sendiri, saya juga belajar untuk menerima perasaan orang lain. Ada satu anggota keluarga saya yang tergolong acuh tak acuh. Setiap kali berhubungan dengannya, saya mencoba menetralisir perasaan sensitif yang saya punya. Saya tidak dapat memaksa seseorang untuk menjadi peka terhadap saya. Saya hanya bisa mengontrol apa yang saya rasakan. Kalaupun ternyata sulit, saya memilih untuk lebih baik jarang bertemu dengannya, hehehe.
Begitu pula dengan kehidupan pertemanan yang saya punya. Semakin kesini rasanya dunia pertemanan saya semakin sepi. Awalnya sulit bagi saya untuk menerima kondisi ini, namun, pada akhirnya saya merasa cukup nyaman. Saya mulai percaya bahwa suatu hubungan pertemanan yang sehat bukan dari berapa banyak teman yang dimiliki namun seberapa berkualitas hubungan pertemanan itu, bukan sering tidaknya untuk saling bertemu, namun sering tidaknya untuk saling mendukung. Termasuk menerima emosi dan perasaan dominan yang dimiliki masing-masing.
Semoga pada akhirnya semua mau belajar saling menerima dan memahami, jadi nanti istilah baper sudah tidak perlu digunakan lagi, imho :)
Saya sadar saya bukan ibu yang sempurna. Saya masih seringkali kelepasan marah ke anak. Sekali waktu saya marah besar ke Aliyah. Hari-hari berlalu, ternyata ia masih mengingat kejadian itu. Satu hal yang selalu ditanyakannya, "Mama, kenapa waktu itu mama marah sekali ke Yaya?" Saya terdiam. Hati saya patah mendengar ucapannya. Pengalaman masa lalu saya terulang kembali"
Halo!
Bagaimana kabarnya teman-teman mama? Semoga sehat selalu ya :) Cerita saya diatas adalah satu dari cerita yang cukup menyedihkan bagi saya dalam menjalankan peran sebagai orangtua.
Saya percaya tidak ada orangtua yang senang memarahi anaknya, bahkan sampai membuat anaknya trauma dan meninggalkan bekas di dalam ingatan sang anak. Saya pun demikian. Saya sangat sedih ketika sekali waktu saya marah kepada Aliyah, ternyata peristiwa itu meninggalkan bekas di dalam ingatannya. Saya mungkin telah menjadi penyebab trauma masa kecil yang kurang baik bagi Aliyah :'(
Kondisi ini semakin diperburuk dengan pola pikir saya yang menyalahkan pola asuh kedua orang tua saya di masa lalu yang membentuk saya menjadi ibu yang mudah marah.
"Tidak salah saya menjadi seperti ini, karena dulu orang tua saya mendidik saya seperti ini" pikir saya waktu itu.
Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai sadar kalau saya tidak boleh terus-terusan seperti ini. Saya merasa ada yang salah dengan pola pikir saya. Tidak seharusnya saya membenarkan tindak amarah saya kepada Aliyah. Apalagi sampai meninggalkan trauma baginya.
Tindak amarah saya kepada Aliyah adalah tanda kalau saya belum bisa memutus mata rantai pola asuh yang kurang baik di masa lalu.
Saya merasa harus melakukan sesuatu. Memperbaiki apa yang telah terjadi, sebelum benar-benar terlambat. Saya ingin belajar untuk menjadi ibu yang jauh lebih baik untuk Aliyah.
Belajar Berdamai dengan Inner Child
Sebagai orang awam saya tidak tahu pasti apa istilah untuk trauma masa kecil yang kurang baik. Karena ketidaktahuan ini, maka saya putuskan untuk mencoba mencari tahu apa dan bagaimana cara mengatasi trauma masa kecil.
Saya lalu membuka situs Ibupedia, sebuah platform dimana saya biasanya mendapatkan berbagai informasi tentang dunia parenting, keluarga, kesehatan anak, bayi dan info seputar kehamilan. Siapa tau ada artikel yang membahas tentang mengatasi trauma masa kecil disini, pikir saya waktu itu.
"Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan petunjuk bagaimana cara mengatasi trauma masa kecil seperti yang saya alami selama ini setelah membaca artikel tentang inner child di Ibupedia "
Trauma masa kecil yang saya alami ternyata adalah inner child yang terluka yang tersimpan di dalam diri saya.
Ya, menurut pakar, inner child adalah pengalaman di masa lalu, tidak hanya di masa kecil melainkan di semua tahap kehidupan yang telah kita lalui.
Pengalaman ini yang kemudian tersimpan menjadi memori positif ataupun negatif di dalam diri kita, yang tanpa kita sadari ternyata mempengaruhi diri kita dalam mengekspresikan diri saat dewasa.
Saat menjalankan peran sebagai orangtua, inner child saya yang tersimpan selama ini menjadi sering muncul ke permukaan.
Misalnya seperti, saya menjadi ibu yang mudah marah, karena saya merasa sering dimarahi sewaktu kecil dulu, yang mungkin dapat membuat Aliyah juga tumbuh menjadi orang yang mudah marah.
Atau, trauma lain seperti tidak ingin memiliki anak dengan kelahiran jarak dekat karena khawatir Aliyah kurang mendapatkan perhatian seperti yang saya rasakan dulu sebagai anak sulung dari 3 bersaudara dengan jarak kelahiran yang berdekatan. Padahal, mungkin disisi lain, keputusan ini dapat membuat Aliyah merasa kesepian karena tidak ada saudara yang dapat diajak bermain bersama di rumah.
Jika saya tidak berusaha berdamai dengan trauma-trauma saya diatas, mungkin saja tanpa saya sadari saya menurunkan trauma tersebut kepada Aliyah. Dan mata rantai trauma masa kecil saya akan terus terjalin bahkan mungkin bisa sampai ke cucu saya kelak.
Pada akhirnya, saya mencoba belajar untuk berdamai dengan inner child saya agar dapat memutus mata rantai trauma masa lalu yang kurang enak ini.
Apa saja sih yang sebenarnya menjadi penyebab inner child kita terluka?
Sebelum memulai untuk berdamai dengan trauma masa kecil, saya lebih dulu mencoba memahami lebih dalam apa yang kira-kira menjadi penyebab seseorang mengalami trauma di masa kecil nya. Apakah benar pola asuh orang tua dan pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan dapat menjadi penyebab inner child dalam diri saya terluka?
Pada gambar adalah beberapa kemungkinan kejadian di dalam hidup yang menjadi penyebab inner child dalam diri yang terluka dilansir dari Ibupedia dan Better Help,
Kejadian-kejadian diatas mungkin pernah dialami sebagian dari kita yang tanpa kita sadari ternyata bisa jadi menjadi penyebab trauma masa kecil. Mengetahui penyebab dari trauma masa kecil yang dialami adalah langkah awal untuk berdamai dengan trauma masa kecil. Saya sendiri berusaha belajar untuk menerima bahwa kejadian di masa lalu yang meninggalkan trauma bagi saya merupakan bagian dari perjalanan hidup saya.
Sama seperti memori masa kecil yang menyenangkan yang seringkali dianggap sebagai pengalaman yang berharga, saya pun belajar untuk mengganggap trauma di masa kecil saya sebagai pengalaman yang sama berharganya :) Harapannya, dengan belajar menerima, langkah saya untuk berdamai dengan trauma masa kecil saya menjadi lebih mudah.
Lalu, bagaimana cara untuk berdamai dengan trauma masa kecil?
Saya salah satu yang percaya bahwa setiap orang memiliki "waktu" nya masing-masing untuk dapat berdamai dan pulih dari traumanya di masa kecil :) Meski mungkin tidak secepat apa yang diharapkan, perlahan tapi pasti, tentu usaha untuk berdamai dengan trauma masa kecil ini akan berbuah manis, InsyaAllah :)
Di artikel Ibupedia, 7 Cara Mengelola Inner Child Dalam Mengasuh Anak yang saya baca, ada beberapa tips yang diberikan yang bisa kita lakukan untuk mulai berdamai dengan inner child yang terluka. Apa saja ketujuh tips nya? Saya sharing garis besarnya saja ya :) Untuk detailnya, teman-teman dapat langsung klik di judul artikelnya ya :)
Berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu terlebih dulu.
Mencoba memaafkan kesalahan pola asuh orang tua di masa lalu.
Memberi perhatian penuh dengan tulus kepada anak kita sebagai bentuk self healing dari inner child yang terluka.
Mengindentifikasi inner child yang kita miliki. Inner child yang negatif yang kita miliki sebaiknya tidak diturunkan ke pola asuh kita ke anak, sebaliknya inner child yang positif dapat kita adaptasi di dalam pola asuh kita.
Mengurangi intensitas berada di dalam lingkungan yang menjadi penyebab trauma di masa kecil.
Mengapresiasi diri sendiri atau melakukan re-parenting sebagai wujud mencintai diri sendiri.
Berbagi cerita kepada orang terdekat yang dapat dipercaya, atau berkonsultasi dengan ahli seperti psikolog.
Oh iya, saya juga membaca artikel lain yang terkait dengan inner child di Ibupedia. Artikelnya berjudul Berdamai Dengan Inner Child, Atasi Luka Yang Tertinggal Tips untuk berdamai dengan inner child di kedua artikel di Ibupedia inilah yang kemudian saya gunakan untuk pelan-pelan belajar berdamai dengan trauma masa kecil, ditambah juga dengan beberapa referensi lain dari jurnal tentang inner child.
Pada intinya saya perlu merangkul inner child saya dan membangun koneksi dengannya agar saya dapat lebih mudah untuk berdamai dengan inner child saya yang terluka.
Tips dari Ibupedia ini menjadi awal bagi saya untuk akhirnya bisa menerima inner child yang terluka sebagai bagian dari diri saya. Ia telah bertumbuh bersama bagian dari diri saya yang lain. Belajar menerima kenyataan ini membuat saya merasa jauh lebih baik :)
Lalu bagaimana caranya saya dapat berdamai dengan trauma di masa kecil?
Selama ini ada beberapa cara saya coba lakukan untuk mencoba berdamai dengan trauma masa kecil saya.
Pertama, seperti cerita saya diatas saya mencoba untuk menerima pengalaman masa lalu sebagai bagian dari perjalanan hidup, baik itu pengalaman yang menyenangkan ataupun yang kurang menyenangkan seperti trauma di masa kecil. Saya benar-benar berterimakasih pada Allah atas apa-apa yang sudah saya lalui selama ini, dan dari ini rasa ikhlas atas apa yang telah terjadi mulai tumbuh di dalam hati saya.
Kedua, memaafkan kejadian masa lalu yang telah terjadi. Setelah dapat menerima pengalaman masa lalu sebagai bagian dari perjalanan hidup saya, pelan-pelan saya mulai dapat memaafkan kejadian di masa lalu yang meninggalkan trauma bagi saya.
Dari pengalaman saya, untuk dapat lebih legowo dalam memaafkan, mencoba untuk bercerita dari hati ke hati dengan orang-orang terdekat yang ada di sekitar saya seperti suami, orang tua dan adik saya sangat membantu proses ini.
Dari bercerita dengan orang terdekat, saya menjadi lebih mengerti dan memahami jika apa yang menjadi trauma di masa kecil saya bukan sepenuhnya kesalahan dari kedua orang tua saya. Kedua orang tua saya bahkan tidak pernah berniat untuk melukai perasaan saya.
Yang sebenarnya terjadi adalah mata rantai pola asuh di masa lalu (dari kakek nenek) yang diturunkan kepada kedua orang tua saya, lalu orang tua saya menurunkan pola asuh yang kurang lebih sama kepada saya dan kedua adik saya.
Inilah kenapa, saat ini menjadi penting untuk belajar memutus pola asuh di masa lalu yang kurang baik agar kita tidak menurunkannya ke anak-anak kita, agar tidak menjadi trauma masa kecil anak kita. Mungkin memang bukan hal yang mudah, tapi jika kita mencoba semampu kita, InsyaAllah akan berbuah manis di kemudian hari, Aamiin :)
Ketiga, menulis jurnal tentang apa yang menjadi trauma masa kecil saya, atau apa yang sebenarnya saya rasakan selama ini. Menulis jurnal sebenarnya bukan kebiasaan yang biasa saya lakukan. Namun, setelah mencoba menulis jurnal untuk lebih mengenali diri sendiri, ternyata saya dapat lebih mengerti apa yang saya rasakan. Meski sebelumnya saya sudah mencoba untuk mengerti diri saya dengan cara berpikir dan merenung, namun ternyata dengan menulis jurnal, rasanya menjadi jauh lebih baik dan lebih menyentuh.
Jika teman-teman mama juga ingin mencoba untuk mulai menulis jurnal, berikut beberapa hal yang dapat ditulis di jurnal yang disadur dari Ibupedia dan artikel di Phsychology Today.com, yang juga saya coba aplikasikan dalam proses berdamai dengan inner child :)
Mulai menulis dari hal yang sederhana untuk mengenal diri sendiri seperti aku pencemas karena...
Menulis sebuah surat untuk sosok anak kecil yang ada di dalam diri kita. Isinya dapat berupa ucapan terima kasih, atau pernyataan kalau kita sayang padanya.
Menulis tentang apa yang kita rasakan dan apa yang menjadi penyebab dari perasaan tersebut.
Menuliskan apa yang sebenarnya kita inginkan.
Menulis tentang apa yang sebenarnya ingin kita ubah dan bagaimana langkah yang dapat kita tempuh untuk mencapai perubahan itu.
Keempat,belajar mencintai diri sendiri dan berterima kasih ke diri sendiri karena sudah melalui kejadian di masa lalu dan masih mau berjuang sampai sekarang. Tadinya saya tidak begitu tahu bagaiamana cara untuk mencintai diri sendiri.
Dari tips di artikel Ibupedia, saya mencoba mengaplikasikan bentuk mencintai diri sendiri dengan berbicara kepada diri kalau saya mencintainya dan mau mendengarkan apa yang dirasakannya. Biasanya dilakukan sembari memeluk diri sendiri sambil berbicara dari hati :)
Bentuk lain mencintai diri sendiri juga bisa dengan melakukan 'me time' dan mengisinya dengan hal-hal yang kita senangi agar tangki cinta kita terisi penuh hingga cukup untuk dibagi ke diri sendiri dan orang lain, seperti suami dan anak :)
Apa perubahan yang dirasakan dan manfaat yang didapatkan setelah belajar berdamai dengan trauma masa kecil?
Saya sangat menyadari kalau tiap-tiap individu memiliki trauma masa kecilnya masing-masing dan membutuhkan waktu untuk pulih yang tidak sama satu dengan yang lainnya :) Versi saya, setelah berberapa bulan terakhir mencoba belajar berdamai dengan trauma masa kecil saya dengan keempat cara yang saya sebutkan diatas, saya merasa ada perubahan yang cukup berarti di dalam diri saya dan orang-orang di sekitar saya. Beberapa perubahan yang saya rasakan diantaranya;
Menjadi tidak mudah marah kepada anak
Saya tidak lagi membenarkan tindakan marah saya kepada Aliyah sebagai bentuk dari akibat pola asuh orangtua saya di masa lalu. Saya sadar jika saya perlu belajar untuk mengelola emosi dengan lebih baik lagi agar tidak mudah marah kepada Aliyah.
Hubungan dengan keluarga menjadi lebih hangat dari sebelumnya.
Belajar tentang inner child membuat saya menjadi lebih mengerti jika orang lain pun punya inner child dan trauma nya masing-masing.
Saya menjadi lebih sering berbagi cerita dengan suami tentang trauma masa kecil yang ia rasakan dan saya rasakan. Kami tidak lagi mudah untuk bertengkar dan menjadi lebih mengerti satu sama lain.
Begitu pula dengan kedua orang tua saya. Sekali waktu, Bapak saya bercerita bagaimana kerasnya pola asuh kakek terhadap bapak sewaktu kecil. Dari cerita ini lah saya jadi mengerti kalau orang tua saya tidak pernah benar-benar sengaja untuk membuat saya merasa trauma.
Dan dari adik saya, yang biasanya diantara kami ada siblings rivalvy, setelah kami melakukan pillow talk dan berbagi cerita pengalaman di masa kecil masing-masing, kami akhirnya menyadari siblings rivalvy tidak seharusnya ada diantara kami. Hubungan kami yang tadinya lebih sering diisi dengan pertengkaran, belakangan menjadi lebih hangat karena kami mencoba belajar untuk saling mengerti satu sama lain :)
Belajar memperbaiki pola asuh untuk menjadi orang tua yang lebih baik
Setelah belajar berdamai dengan trauma di masa kecil, saya belajar untuk memperbaiki pola asuh saya kepada Aliyah. Sekali waktu saya dan suami mengobrol santai dan saling berbagi tentang hal yang tidak kami harapkan dari pola asuh orang tua kami di masa lalu terjadi kepada Aliyah, misalnya trauma masa kecli suami yang dulu jarang diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan perasaannya, dari sini kami belajar untuk menjadi orang tua yang terbuka bagi Aliyah untuk berbagi cerita ataupun tentang apa yang sedang dirasakannya.
Tidak mudah menjudge atas sikap atau keputusan yang diambil oleh orang lain
Karena mulai memahami jika setiap individu punya pengalaman di masa lalu yang berbeda, maka saya percaya setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang sedikit banyak dipengaruhi oleh pengalamannya di masa lalu. Tidak ada yang salah atau benar dalam setiap obrolan atau berbagi pendapat :)
Lebih sering mengajak anak mengobrol dan memahami apa yang dirasakannya
Lebih sering mengajak Aliyah mengobrol dan memahami apa yang dirasakannya menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi saya setelah belajar berdamai dengan trauma masa kecil. Karena pengalaman yang kurang menyenangkan bisa saja muncul di dalam kehidupan Aliyah sampai ia dewasa kelak, yang bisa datang dari mana saja seperti lingkungan pertemanannya atau sekolahnya.
Sejak peristiwa marah saya kepada Aliyah tempo hari, saya jadi lebih sering mengajaknya mengobrol dan bertanya apa kejadian yang kira-kira selalu ia ingat dan membuatnya merasa sedih. Dari obrolan ini paling tidak, ia tahu ada saya yang menjadi tempat ia berbagi cerita. Harapannya, peristiwa yang kurang menyenangkan yang ia alami tidak meninggalkan trauma yang mendalam baginya.
Pada akhirnya, inilah cerita parenting versi saya, belajar berdamai dengan inner child yang terluka dari membaca artikel di Ibupedia. Ibupedia telah membantu saya belajar tidak hanya untuk menjadi ibu yang lebih baik, tapi juga menjadi istri, anak dan kakak yang InsyaAllah lebih baik :)
Cerita saya semata-mata berdasarkan pengalaman pribadi. Saya bukanlah seorang ahli di bidang inner child maupun psikologi. Teman-teman dapat menghubungi ahli untuk mendapatkan penanganan trauma masa kecil lebih lanjut. :)
Pernah tidak teman-teman merasa sudah berbuat baik ke seseorang tapi setelahnya respon orang tersebut ke kita ga seperti kita ke mereka? Jadi seperti kita berharap orang membalas kebaikan yang sudah kita lakukan. Saya pernah merasa seperti itu. Dan ternyata di dalam agama itu tanda kalau kita kurang ikhlas dalam memberi :( Astaghfirullah.
Memberi seharusnya ya memberi saja. Tak harap kembali. Seperti orang buang air yang legaa banget kalau sudah keluar dan tidak perlu diingat-ingat lagi.
Di dalam Al Quran sudah jelas sekali janji Allah SWT. Setiap kebaikan pasti akan dapat balasannya walau sebesar biji dzarrah.
Saya jadi teringat cerita Bapak yang dulu sempat bertemu orang yang baru dikenalnya di dalam pesawat menuju Lombok bersama rahimahullah adik. Orang yang baru kenal di pesawat, tapi menawarkan tumpangan kepada Bapak, dan keesokannnya memancing bersama.
"Kok bisa ya Pak, orang baru kenal begitu bisa baik banget sama Bapak?" tanya saya. "Ya bisa saja, Wallahualam. Bukan karena Bapak, tapi bisa jadi karena balasan dari masa lalu, bahkan laluu banget. Rahimahullah mbah Kung mu dulu tiap ada tentara habis latihan lewat depan rumah, ditawari masuk ke rumah untuk istirahat dan ditawari makan. Kebaikan itu bisa saja balasannya tidak langsung ke kita. Bisa ke anak-anak kita, bahkan ke cucu-cucu kita kelak. Intinya, dilakukan saja sekecil apapun itu. Biar Allah SWT yang membalas" jawab Bapak.
Apa kabar teman-teman mama? Satu bulan berlalu sejak tulisan terakhir saya di blog ini, sampai akhirnya saya kembali dan membuat tulisan ini :)
Sebulan terakhir saya tidak update postingan apapun di blog, juga tidak terlalu sering berbagi di sosial media seperti biasanya. Sedang mencoba belajar untuk memahami diri sendiri, bagaimana cara berinteraksi di media sosial dengan baik, dunia blogging dan sejenisnya, bagaimana dampaknya bagi saya secara mental, serta bagaimana pula dampaknya bagi teman-teman mama yang membaca sharing saya selama ini, membuat saya berhenti sejenak. Apakah saya benar-benar berbagi manfaat kepada teman-teman? Atau hanya sekedar sok tahu, dan lupa bahwa diluar sana masih banyak yang jauh lebih tahu banyak daripada saya.
Tentang berhenti sejenak
Berbagi pengalaman dan berusaha membuat konten yang bermanfaat awalnya dibuat dengan tujuan sederhana untuk sekedar untuk berbagi siapa tahu ada yang juga related dengan pengalaman yang saya alami. Namun, seiring berjalannya waktu, tujuan sederhana itu kemudian berubah menjadi tuntutan. Saya menuntut diri sendiri untuk terus update agar tidak ketinggalan dengan yang lain. Lalu menjadi lupa akan tujuan diawal.
Proses yang berulang, kebuntuan akan ide sampai pada titik membuat saya menjadi sedikit bosan dalam melakukannya. Berusaha untuk tidak ketinggalan membuat mental saya menjadi kurang sehat. Saya menjadi lebih mudah marah kepada siapa pun. I'm getting stuck! Lalu saya berpikir, mungkin mundur sejenak, berhenti sebentar akan membuat saya merasa jauh lebih baik. Kembali mengkaji apakah yang dilakukan selama ini benar-benar bermanfaat atau tidak. Mencoba tidak menulis sampai rindu menulis. Membaca buku yang tidak disuka, sampai rindu untuk membaca buku kesukaan. Tidak berbagi sampai rindu untuk berbagi.
Tentang berbagi
Berbagi kepada teman-teman mama-mama merupakan alasan utama mengapa saya mencoba untuk kembali. Berbagi adalah tujuan awal saya yang sempat terlupakan. Berbagi bukan untuk sok-sokan karena saya pun masih perlu banyak belajar, dan masih banyak teman-teman mama-mama yang lebih tau dari saya.
Berbagi melalui akun media sosial sebaiknya memang memberi kebaikan untuk pemiliknya dan teman-teman yang membacanya sekecil apapun itu. Karenanya, mencoba menjadi lebih berhati-hati untuk membuat postingan pun dipertimbangkan. Dan memikirkan bagaimana caption yang tepat agar tidak menyakiti siapapun. Repot? Iya, repot.
Tidak jarang, setelah repot-repot membuat konten yang kira-kira bermanfaat, ternyata respon yang didapatkan terkadang tidak sesuai harapan. Sedikit yang membaca, sedikit yang suka, sedikit yang sharing. Then, am i feeling down about it? Yes, sometimes. I'm just a human :)
Dan pagi ini, di tengah-tengah perhentian saya, saya membaca postingan dan tulisan Puty Puar berjudul "Karena Proses Mungkin Tentang Hal-Hal Yang Membosankan". Seperti biasa ciri khas Puty Puar yang menulis tanpa bertele-tele namun sangat berarti, saya mendapat poin penting yang saya cari selama ini, setelah membaca tulisan tersebut. Ternyata memang saya sedang berproses. Rasa bosan dan stuck itu adalah bagian dari proses. Dan saya tidak sendirian. Puty Puar, pun pernah mengalaminya. I'm 1000% related with it. Sangat banyak orang sukses yang mengingatkan untuk sabar menjalani setiap proses menuju kesuksesan, namun sangat sedikit yang menjelaskan seperti apa prosesnya. Mengalami naik turun sudah pasti. Tapi, tentang bertahan pada rasa bosan, saya baru saja mengetahuinya setelah membaca tulisan Puty Puar diatas.
Jadi, ya! Saya kembali ke blog ini. Mengelap debu-debu yang sedikit menempel. Mencoba kembali berbagi, dan sudah siap dealing dengan segala respon yang kelak diterima nanti. Apapun responnya, saya percaya bahwa saya dan teman-teman dapat saling menerima :) Semoga nanti apa yang coba saya bagi dapat membawa manfaat untuk teman-teman, dan semoga tidak lagi menjadi terlalu sok tahu seperti yang dulu :)
*mohon maafkan saya yang lalu, yang terkadang masih suka menjadi terlalu sok tahu :)
Bagaimana 10 hari pertama bulan Ramadhan teman-teman mama-mama? Semoga lancar ya ibadah puasa, dan ibadah lainnya yang ditunaikan di bulan Ramadhan ini :) Semoga semua amalan ibadah kita membawa berkah dan diterima oleh Allah SWT. Aamiin.
Beberapa hari terakhir saya sempat off posting tulisan di blog ini cukup lama. Sebenarnya banyak sekali konten di pikiran yang antri untuk ditulis. Tapi karena memang urusan domestik di rumah juga sedang minta perhatian lebih, jadi blog nya baru bisa di update sekarang :)
Tulisan saya kali ini terinspirasi dari postingan IG adik saya yang bercerita tentang ceramah yang ia dengarkan saat solat tarawih. Ustadnya bercerita tentang, bagaimana saat kita bertanya, kapan Allah akan mengabulkan doa-doa kita? Pertanyaan ini juga seringkali melintas di benak saya. Sesekali saya bertanya, Ya Allah kapan doa saya akan dikabulkan? Setiap hari saya panjatkan doa yang sama, berulang dan berulang.
Bagaimana jawaban sang ustadz? Ustadznya memberi perumpaan seperti ketika kita sedang mendengarkan lantunan nyanyian dari seorang pengamen jalanan. Jika pengamennya bernyanyi dengan asal-asalan, biasanya kita segera memberi uang agar pengamen itu segera menghentikan nyanyiannya. Namun, jika pengamennya bernyanyi dengan suara yang yang merdu, maka dengan senang hati kita akan menunggu untuk membiarkan pengamen itu menyelesaikan lagunya, menikmati setiap alunan suara merdunya, lalu memberi nya uang (bahkan dengan jumlah yang lebih besar biasanya).
Perumpamaan diatas sama seperti lantunan doa-doa yang kita panjatkan kepadaNya. Setiap lantunan doa kita terdengar merdu oleh Allah SWT. Allah SWT sangat senang mendengar setiap lantunan doa yang kita panjatkan. Kita hanya perlu bersabar, karena InsyaAllah doa-doa kita akan dikabulkan oleh Allah SWT, bahkan bisa lebih dari yang kita harapkan. Aamiin InsyaAllah.
Sebelumnya, saya juga pernah membaca cerita yang sama di konten milik @madcatnip. Tentang @madcatnip, @madcatnip merupakan salah satu akun yang sering memposting konten Islami dengan gambar ilustrasi. Go follow them, InsyaAllah bermanfaat :)
Nah, bercerita tentang doa-doa yang dikabulkan oleh Allah SWT, yang seringkali jawabannya datang dari arah yang tidak pernah kita duga, saya pun pernah mengalaminya. Masih segar dalam ingatan saya, saat bulan Ramadhan tahun lalu, sewaktu saya mengikuti kompetisi blog, dengan hadiah utama uang cash lima juta rupiah. Saya berdoa, memohon kepada Allah SWT, berikthtiar untuk menjadi pemenang utama. Jika menjadi pemenang utamanya, saya berniat untuk membantu kedua orang tua saya, dengan uang hadiah yang saya dapatkan.
Qadarullah, saya tidak menjadi pemenang utama. Saya menjadi pemenang favorit dengan hadiah voucher belanja. Dengan menangnya saya atas hadiah voucher tersebut, ternyata Allah mengabulkan doa adik saya yang diam-diam menginginkan sepatu baru. Bagaimana dengan orangtua saya? MasyaAllah Alhamdulillah, Allah SWT memberi mereka rezeki, dari jalan yang lain, cash lima juta rupiah, seperti doa yang saya panjatkan.
Allah SWT tidak menjawab doa saya seperti cara yang saya minta. Allah SWT menjawabnya dengan cara yang jauh lebih indah :) Terkadang kita seringkali merasa Allah SWT belum mengabulkan doa-doa kita. Padahal mungkin saja, dari setiap rezeki, nikmat, ujian, kemudahan, kesulitan, di dalamnya ada jawaban atas lantunan doa-doa yang kita panjatkan. Kita hanya diminta untuk lebih bersabar dan bersyukur, menikmati setiap cerita di dalam kehidupan yang kita jalani, karena InsyaAllah selalu ada Allah SWT yang menemani :)
Tulisan ini sebenarnya sudah ada di postingan Instagram saya sejak bulan maret yang lalu. Walaupun awalnya untuk ikut serta di dalam DarlieXBPN, namun tulisan ini benar-benar menjadi pengingat untuk saya dalam menjalani peran sebagai seorang ibu. Tulisan ini seperti satu bagian diri yang mulai percaya bahwa saya bisa melewati setiap prosesnya bersama dengan Aliyah, dengan segala yang kami miliki, dengan ketidak idealan milik kami. Dan rasanya sangat legaa bisa menulis dari hati seperti ini :') Semoga tulisan ini juga dapat memberi manfaat untuk teman-teman yang membaca :)
"Menjalani peran sebagai seorang ibu sejak 3,5 th yg lalu dimulai dengan perasaan ragu, apa iya saya bisa melalui segala prosesnya. Diawali dengan baby blues yang melanda dan merasa khawatir serta ketakutan melihat bayi Aliyah, sampai tidak ingin ditinggal suami bekerja karena takut terjadi sesuatu pada si anak bayi. Keraguan itu seperti mendarah daging di tubuh saya. Banyaknya informasi parenting di sosial media dengan segala bentuk ke-'idealan' bagaimana menjadi orangtua justru semakin membuat tinggi gunung keraguan itu. Saya menuntut diri untuk bisa segalanya bagi Aliyah. Saya tidak boleh lelah. Saya harus bisa seperti ini, saya harus bisa seperti itu. Saya ragu dengan diri saya sendiri. Sampai di satu obrolan dengan seorang sahabat, "Jeng, ga apa-apa kalau kamu lelah. Boleh kok kalau kamu bilang ke Aliyah kalau sedang lelah". Sejak obrolan itu, Saya mulai yakin untuk percaya bahwa tidak ada orang tua yang sempurna di dunia ini. Saya boleh merasa lelah. Saya percaya Aliyah sangat mencintai saya seperti saya mencintainya. Aliyah tidak menuntut banyak hal dari saya. Aliyah tidak menuntut mamanya harus bisa melakukan segalanya. Dengan segala keterbatasan kami, dengan segala ketidaksempurnaan milik kami, Aliyah tetap berkata "Mama, sayang. Yaya sayang mama". Ucapannya membuat saya yakin jika Aliyah percaya pada saya. Jika Aliyah percaya pada saya, maka saya harus percaya pada diri sendiri bahwa kami dapat melalui setiap proses kehidupan ini bersama, dengan segala kurang lebihnya. Saya pun juga percaya kepada Aliyah bahwa ia akan tumbuh menjadi anak yang baik-baik saja sesuai dengan fitrah-Nya. Salah satunya seperti saya percaya kepada Aliyah kalau ia dapat mengambil foto ini dengan baik 😊 Terimakasih Yaya ❤️
*Untuk semua ibu yang penuh dengan rasa khawatir, tidak apa-apa, InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja 😊 "
Menjadi orang tua milenial dengan banyaknya informasi parenting terkadang menuntut saya untuk berusaha menjadi orang tua yang 'ideal' sesuai standar akun-akun parenting yang saya ikuti. Padahal, sebenarnya tidak ada yang mengharuskan saya untuk seperti itu, termasuk Aliyah sendiri. Saat merasa kelelahan, ternyata saya saya boleh berkata lelah pada Aliyah. Dan rasanya legaa sekali. Makin kesini, saat saya berkata lelah, "Yaya, mama capek, boleh ya mama tidur dulu sebentar" , Alhamdulillah Aliyah mengerti. "Capek ya mama" "Selamat tidur mama" saya dihadiahi kecupan di pipi. Walaupun tidak selalu juga seperti ini tapi rasanya MasyaAllah, priceless sekali...
Respon Aliyah yang menerima saya apa adanya membuat saya mulai belajar untuk percaya diri, percaya pada Aliyah, percaya pada suami saya bahwa kami dapat melalui kehidupan ini bersama dengan segala kelebihan dan kekurangan milik kami, dengan segala bentuk ketidak idealan milik kami :) Ternyata menerima segala apa yang kita miliki, kemampuan yang kita punya, berusaha untuk percaya diri bahwa we can do it by our own way dapat memberi perasaan yang jauh lebih baik, lebih bahagia dan lebih bersyukur lagi atas segala nikmat dariNya :)
"Mbak, aku nanti kalau punya anak mau nya dipanggil Ibu ah sama anakku" begitu kata adik saya saat kami sedang mengobrol.
"Lha, kenapa gitu?"
"Ya ga kenapa-kenapa juga, suka aja. Bagus, seperti orang-orang Jawa gitu." katanya lagi.
"Oh,.."
"Eh, mbak tau ga, ada loh arti-artinya kita manggil anak kita apa. Aku pernah baca di artikel mana gitu, jadi kalau dipanggil Ibu sama anaknya, seperti punya norma-norma yang idealis gitu. Kalau dipanggil Mama, berarti posesif sama anaknya. Kalau Mami itu, seperti memanjakan gitu. Kalau Bunda...ehm apa ya aku lupa. Gitu lah pokoknya" jelas adik saya.
"Lah, Aliyah manggil aku mama, aku posesif dong, hahaha" jawab saya.
Percakapan diatas tidak sekali dua kali kami obrolkan tapi berulang kali, hahaha. Entah kenapa juga sering terulang, dan selalu seru untuk dibahas.
Kalau ditanya kenapa saya memilih dipanggil Mama oleh Aliyah, sebenarnya alasannya sederhana. Menurut saya, kata Mama adalah kata yang paling mudah diucapkan oleh anak bayi, dan saya cuma ingin menjadi kata pertama yang diucapkan oleh anak saya. Dan Alhamdulillah kata pertama Aliyah adalah Mama. Entah karena dia memanggil saya atau sekedar celotehan random si anak bayi :') Tapi saya anggap Aliyah sedang memanggil saya, karena saat mendengar Aliyah mengucap ma-ma ma-ma rasanya terharu sekali. Unforgettable moment lah pokoknya :)
Panggilan Mama sebenarnya sangat mendarah daging di keluarga besar kami, baik dari keluarga ibu saya maupun ayah saya. Semua tante dipanggil mama oleh saudara-saudara sepupu saya. Dari keluarga suami saya pun begitu, suami saya memanggil ibunya dengan sebutan mama, begitu juga dengan tante-tante dari pihak suami saya, sebagian besar dipanggil dengan sebutan mama oleh anak-anaknya.
Bisa jadi faktor lain saya memilih untuk dipanggil Mama oleh Aliyah karena lingkungan saya yang sebagian besar memanggil ibu nya dengan sebutan mama, lalu masuk ke alam bawah sadar saya, bahwa ibu itu ya manggilnya dengan sebutan mama, hehe.
Kembali ke soal bahasan obrolan saya dan adik, bahwa setiap panggilan anak ke ibu nya memiliki arti, saya jadi penasaran apa iya seperti itu. Lalu saya menemukan artikel di detikhealth dari detik.com yang membahas soal makna dari setiap panggila anak ke ibunya. Valid atau tidak nya artikel itu saya belum tau pasti, namun jika teman-teman mama-mama juga ingin tau seperti apa perbedaan maknanya berikut rangkuman artikelnya:
1. Ma'am atau Nyonya : Tipe orang tua yang otoriter dan disiplin
2. Mama : Tipe orang tua yang posesif
3. Mother/ Bunda:Tipe orang tua yang sering memaksa anak untuk selalu menjadi yang terbaik
4. Mom/ Ibu: Tipe orang tua yang netral, sesuai dengan norma umum yang berlaku di masyarakat
5. Ma/Mak, Emak: Tipe orang tua yang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan anak
6. Nama Asli: Tipe orang tua yang tidak mementingkan norma-norma di masyarakat.
7. Mommy/ Mami: Tipe orang tua yang memanjakan anak.
Saya sebenarnya cukup senang juga membaca artikel dari detikhealth tersebut, karena jujur semakin besar Aliyah, ia semakin sering memanggil saya dengan sebutan Mak.
"Mak... mak dimana, Yaya carii..."
"Mak, main sama Yaya..."
"Mak, Yaya mau pipis..."
"Mak, sudah maakk... cebok maak"
" Mak, lapar, mau makan Yaya"
"Mak, ikuuutt..."
dan seruan-seruan Mak lainnya, kalau kalau saya jabarin satu-satu bisa jadi novel blog post ini :D Namun, yang paling saya percaya sih, Aliyah jadi memanggil saya dengan sebutan Mak, karena meniru saya memanggil ibu saya yang sering saya panggil dengan Mak juga, hehe. Kebetulan kami berasal dari Sulawesi, dan di daerah asal kami mama means mamak :)
Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu ambil pusing dengan makna panggilan anak kepada ibunya, karena poin pentingnya adalah bagaimana hubungan antar ibu-anak itu sendiri. Bagaimana kita dapat membesarkan anak dengan penuh cinta, mencintai anak dengan cara kita sehingga anak pun tumbuh dengan merasa dicintai oleh orangtua. Saya yakin, apapun panggilan anak kepada ibunya, pasti akan selalu tetap "kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa".
Bagaimana dengan teman-teman mama-mama? Dipanggil dengan sebutan apa oleh anak?
Sudah menjadi rahasia umum betapa hebohnya dunia maya, saat Maudy Ayunda, aktris multi talenta dengan paket lengkapnya, cantik dan pintar, memposting soal dirinya berhasil lolos di dua universitas terbaik di dunia, Stanford University dan Harvard University untuk melanjutkan pendidikan S2 nya. Saya adalah salah satu yang terbawa euforia nya ;') karena jujur i adore her so much. Saya tidak memandang keaktrisannya, atau kecantikannya, tapi betapa dia tidak pernah berhenti untuk belajar, melakukan berbagai hal semampu dia dengan semaksimal mungkin untuk memberi manfaat di lingkungan sekitarnya. She's an ambisious enough yet very humble too. Saya sendiri sangat banyak belajar dari Maudy Ayunda walaupun sebatas melihat berbagai updates nya di Instagram.
Saya juga salah satu yang ikut-ikutan reshare blog post Puty Puar tentang kelulusan Maudy Ayunda di dua universitas terbaik di dunia ini. Bahwa apa-apa yang diraih bisa juga karena previllege yang dimiliki oleh Maudy Ayunda, seperti dia aktris, dia dari keluarga yang sangat mampu, dia lulusan dari British International School sehingga aksesnya untuk sekolah ke Oxford jauh lebih tebuka dibandingkan lulusan sekolah negeri :'), dll. Memang, bahasan di blog tersebut tidak fokus kepada Maudy Ayunda nya, melainkan mengenai makna previllege itu sendiri. Saya salah satu yang sepakat dengan Puty Puar tentang previllege yang dimilik oleh Maudy Ayunda, sampai saat saya menyaksikan tayangan channel Youtube mbak Najwa Shihab, Catatan Najwa Shibab, dengan Maudy Ayunda sebagai tamu/narasumber nya.
Tayangan yang berdurasi kurang lebih 27 menit itu, membuat saya belajar banyak hal. Banyak sisi lain yang dapat saya pelajari dari seorang Maudy Ayunda dan juga mbak Najwa Shihab. Terutama tentang bagaiamana previllege yang dimiliki oleh Maudy Ayunda ternyata tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan betapa keras usaha yang dilakukannya untuk meraih itu semua.
Ada beberapa hal yang dapat saya ambil sebagai pembelajaran setelah menyaksikan tayangan tersebut, baik untuk diri saya sendiri maupun untuk Aliyah kelak:
1. Memvisualisasikan apa yang menjadi impian kita, agar energi, usaha, doa-doa yang terpanjat mengiringi setiap langkah kita untuk meraih mimpi itu. If we believe it, we can do it for sure, InsyaAllah :)
2. Authenticity dalam berkarya. Keaslian, kejujuran atas karya kita. Karya yang asli berasal dari ketulusan dari dalam hati Motivation letters yang ditulis Maudy Ayunda untuk Stanford University benar-benar berasal dari kejujurannya pada diri sendiri. Saya jadi belajar bagaiamana menjadi diri sendiri tanpa harus terpengaruh oleh orang lain. Saya pun juga belajar untuk menulis blog post yang benar-benar dari dalam hati karena terkadang di beberapa postingan saya lebih ke 'sekedar' menulis :')
3. Research, research, and research. Melakukan banyak riset atas tujuan/ mimpi yang ingin kita raih. bisa dilakukan dengan belajar dari banyak hal atau pengalaman kita sebelumnya, bertanya kepada banyak orang yang telah berpengalaman sebelumnya, serta membaca dari berbagai sumber.
4. Lebih banyak baca buku. Saat kecil, buku adalah hiburan satu-satunya yang dimiliki oleh Maudy Ayunda karena di rumahnya tidak ada televisi. Ayahnya bahkan sampai rela ke Singapura khusus untuk membelikan anak-anaknya buku! Diawal tahun ini, saya baru menyadari bahwa saya sangat miskin literasi, dan mulai belajar lebih rajin membaca buku, juga membacakan buku untuk Aliyah. Ternyata memang benar, lebih banyak membaca buku tidak sekedar menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk pola pikir serta wawasan kita menjadi semakin luas.
5. Berpikir kritis terhadap sesuatu. Saat Maudy Ayunda kecil, sang Ibu selalu mengajaknya berdiskusi secara dalam tentang berbagai hal. Ibunya sering meminta pendapatnya tentang apapun, salah satunya menu makanan apa yang sebaiknya disajikan saat lebaran, mengapa harus menu tersebut, mengapa menganggap menu ini cocok dengan menu itu, dan berbagia pertanyaan mendetail lainnya. Ternyata benar kata akun-akun parenting :) bahwa penting untuk mengajarkan anak berpikir kritis sedini mungkin. Saya jadi belajar untuk mencoba mengajak Aliyah berdiskusi seperti ini. Namun, jawaban Aliyah masih sebatas "iya, engga, iya, engga" dengan diselingi "ndak mau", :'))
6. Belajar mengambil keputusan sedini mungkin. Dari cerita mbak najwa Shihab, mbak Najwa sudah dibebaskan untuk memilih akan bersekolah dimana saat masih SMP oleh orang tuanya. Sedangkan saya, memilih jurusan untuk kuliah masih melibatkan kedua orang tua saya :') Tidak ingin membandingkan karena saya yakin sudah jalanNya saya seperti itu, namun saya ingin belajar untuk mencoba cara yang berbeda kepada Aliyah. Saya ingin Aliyah dapat mengambil keputusan apapun itu atas dasar keinginannya sendiri, dan bertanggung jawab sepenuhnya atas manfaat, resiko, dampak yang mungkin akan timbul dari keputusan yang diambilnya. Harapannya, kelak dia tidak akan menyalahkan kedua orangtuanya atas apa yang telah dipilihnya :) Saya pun belajar untuk melatih Aliyah dalam mengambil keputusan sejak lama, mulai saat membeli pakaian, memutuskan ingin makan apa hari ini, ingin bermain apa hari ini, ingin pergi kemana, kalau Aliyah memilih ini resikonya seperti ini, kalau begitu resikonya seperti itu, dll. Namun terkadang lingkungan di sekitar saya yang justru keberatan, anak kecil kok ditanyain begitu menurut mereka. Saya tetap pada pendirian saya, tetap mengajak Aliyah berdiskusi, :))
Kurang lebih 6 hal diatas adalah pembelajaran yang dapat saya ambil setelah menyaksikan tayangan channel Youtube Catatan Najwa Shihab bersama Maudy Ayunda. Blog post saya kali ini bukan berarti saya, Aliyah atau kita belajar untuk menjadi seperti Maudy Ayunda ataupun mbak Najwa Shihab.,tetapi paling tidak kita dapat mengadaptasi nilai positif yang ada pada mereka dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari sebagai diri kita sendiri :)
Masih ingat dengan rencana saya untuk lebih banyak membaca tahun ini? Rencana tersebut (yang semoga bisa saya lakukan dengan konsisten :')) saya mulai dengan membaca sebuah buku karya Elvina Lim Kusumo, founder dari IMC (IndonesiaMontessori.Com), yang ternyata saya pun sudah subscribe IMC sejak lama dan baru sadar setelah melihat buku ini :'). Dan buku ini sebenarnya bukan buku baru juga, sudah terbit sejak tahun 2017 yang lalu. Awalnya saya kurang begitu ngeh dengan penulisnya, saya tertarik membaca karena judulnya "Real Mom, Real Journey". Ga tau kenapa buku-buku tentang kehidupan mama-mama zaman sekarang sangat menarik bagi saya. Mungkin karena saya butuh referensi bahwa kehidupan ibu itu tidak ada yang mudah untuk dijalani, namun pada saat bersamaan dapat memberi bahagia dan pengalaman yang sangat berarti secara personal.
Kembali ke buku Real Mom Real Journey, buku ini saya pinjam, iya PINJAM! Saya pinjam dari salah satu peminjaman buku online di Surabaya, @pinjambukuanakdarrel beserta satu buku lain, satu buku untuk Aliyah dan satu mainan untuk Aliyah. Tentang @pinjambukuanakdarrel akan saya bahas setelah postingan ini yaa InsyaAllah.
Buku Real Mom Real Journey menceritakan kehidupan Elvina Lim Kusumo sebagai ibu rumah tangga dengan satu anak balita yang tinggal di Amerika (saat ini Elvina tinggal di Singapura-Jakarta), yang notabene jauh dari sanak keluarga. Kehidupan Elvina selayaknya kita para ibu rumah tangga di Indonesia yang tanpa ART. Sehari-hari mengerjakan berbagai pekerjaan rumah sendiri, sambil berkegiatan dengan anak balita nya melalui pendekatan Montessori. Elvina jatuh cinta pada pendekatan Montessori sampai ia mengambil sekolah khusus Monstessori di Amerika. Salah satu yang saya suka dari gaya bercerita Elvina ialah dia tidak meghakimi dan merasa bahwa gaya mengasuhnya adalah yang paling benar. Elvina menjelaskan diawal bahwa setiap ibu punya latar belakang yang berbeda dan jago di bidangnya masing-masing. Tidak ada ibu yang ideal karena ibu yang ideal menurutnya adalah sebuah ilusi (saya suka poin ini!) Bahwa setiap ibu diberi karunia talenta yang berbeda-beda olehNya. Ada yang jago masak, jago di bidang financial planner, ada yang jago coding (coding ya! bukan kode! :P), ada yang kreatif dengan karya DIY nya, dll.
Dari sini saya belajar menerima diri sendiri bahwa iya ya, saya gak bisa kalau ingin mahir di segala bidang. Saya cuma bisa melakukan yang terbaik semampu saya, mencoba memahami lebih dalam saya cukup cakap di bidang apa dan fokus disana. Hal ini dapat membantu mengurangi tingkat stress saya sehari-hari. Penerimaan terhadap diri sendiri is the point!
Di buku ini terdapat empat bagian utama. Bagian pertama tentang Elvina's Journey, kisah Elvina sebagai seorang ibu dan menjalani kehidupan motherhoodnya di Amerika lengkap dengan suka dukanya namun, tetap selalu berusaha berpikir postif dan memandang sesuatu dan perspektif yang berbeda (positive perspective). Di setiap akhir sub-bagian ada halaman RMRJ Diary yang mengajak kita untuk mencatat hal-hal yang berkaitan dengan tema bahasan di sub-bagian tersebut sesuai dengan perspektif kita. Lalu ada RMRJ Challenge yang mengajak kita untuk challenge diri sendiri sesuai dengan tema bahasan di sub-bagian tersebut.
Salah satu challenge yang saya coba lakukan:
" I dare you NOT to compare yourself with other mothers. STOP comparing ourselves with other mothers. Everyone has their own talents, backgrounds, purposes, motivations, and unique! Pursue your own talents and passions instead"- Elvina Lim Kusumo
Di bagian kedua, ada 19 ibu yang menceritakan kisah perjalanan mereka sebagai seorang ibu. Sangat banyaakk hal yang saya perlajari dari bagian kedua ini. Bahwa ternyata setiap perjalanan seorang ibu selalu memiliki ceritanya masing-masing. Every mom has their own struggle. Tidak ada cerita yang menghakimi. Ada ibu yang sekian tahun setelah menikah baru bisa memiliki anak. Ada ibu yang divonis kanker ketika berencana memiliki anak kedua, dan anak pertamanya pun masih berusia balita. Ada ibu bekerja yang harus resign karena tidak punya rejeki jodoh untuk menitipkan anaknya di daycare. Ada ibu rumah tangga yang merupakan GBS survivor (Guillain Barre Syndrome) sehingga tidak yakin bagaimana nanti ia bisa merawat anaknya, dan ternyata bisa! Dan masih banyak kisah inspiratif lainnya. Membaca buku ini membuat kita tidak sempat lagi mengeluh dengan kehidupan yang kita jalani karena diluar sana masih banyak kisah perjuangan yang sangat luar biasa. Pesan dari kisah-kisah tersebut adalah tetap lakukan appaun yang terbaik semampu kita dan jangan menyerah :)
MotherhoodLifehack adalah bagian ketiga dari buku ini. Berisi tentang tips-tips kehidupan ibu rumah tangga dari Elvina seputar kebersihan rumah, dapur, dan travelling bersama bayi dan balita. Tips-tips nya menurut saya dapat membantu kita lebih santai dalam menjalani hari-hari sebagai ibu rumah tangga :)
Nah di bagian keempat ada 10 permainan Mosntessori yang dapat kita buat sendiri dari bahan-bahan yang ada di rumah sekaligus keterangan untuk stimulasi apa saja permainan-permainan tersebut.
Secara keseluruhan buku ini Alhamduillah memberi manfaat bagi saya. Banyak hal yang saya pelajari dari buku ini, mulai dari belajar menerima diri sendiri, belajar untuk lebih bersyukur, lebih memahami Aliyah lagi, termasuk juga belajar tentang pendekatan Monsessori (karena sebelumnya saya kalau bikin mainan ga pake mikir pakai pendekatan apa :')) Salah satu buku yang perlu dibaca oleh kaum mama-mama milenial zaman sekarang.
Anyway, ada yang sudah baca bukunya juga ga? Sharing yuk :)
Judul Buku: Real Mom Real Journey, and other motherhood stories
Bagaimana awal tahun 2019 nya? Sudah 24 hari berlalu di 2019, Alhamdulillah. Di awal tahun ini saya mulai belajar banyak hal. Paling banyak adalah tentang rasa syukur yang benar-benar bisa membawa ketenangan batin serta berkurangnya rasa emosi yang berlebihan.
Sebenarnya, pembelajaran ini bersambung dari pembelajaran yang sangat banyak saya dapatkan di tahun 2018 yang lalu. Di 2018 Allah Maha Baik kepada saya. Banyak kejadian yang diluar prediksi saya, yang mengingatkan bahwa La Hawla Walaa Quwwata Illah Billah, tidak ada upaya kecuali dengan kekuatan Allah.
Di awal tahun 2019 ini saya mencoba belajar untuk benar-benar mengingat resolusi saya tahun ini dan berusaha belajar menjadi orang yang lebih konsisten dalam menjalani sesuatu. Sangat banyak rencana-rencana yang ingin coba saya lakukan. Mulai dari belajar untuk lebih dekat kepadaNya, belajar mencintai diri sendiri, belajar lebih peduli terhadap keluarga, belajar menghargai orang lain, menjadi lebih produktif, lebih banyak membaca, lebih sayang pada bumi, serta dapat mengatur cashflow dengan baik. Sounds will gonna be much of learnings and doing mistakes.
As a first start, saya mulai belajar untuk self-healing di pagi hari. Keluar rumah, menghirup udara pagi, inhale-exhale sambil mengucap syukur kepadaNya bahwa masih diberi kesempatan untuk bangun pagi ini dengan keadaan sehat walafiat. Percaya atau tidak, rutinitas pagi ini membawa saya jauh lebih tenang dan lebih siap menjalani hari :) Aktifitas ini sempat saya share di IG story saya, dan benar, beberapa teman-teman juga sepakat bahwa self-healing pagi hari sangat membantu untuk memberi ketenangan batin :) Saya salah satu yang percaya bahwa dengan batin yang tenang, kita akan jauh lebih siap dalam melakukan apapun :)
Hal lain yang coba saya lakukan di awal tahun adalah memberanikan diri berteman dengan orang lain. Iya, sesederhana itu, karena saya sebenarnya tipikal orang yang malu untuk menyapa lebih dulu. Bukan apa-apa, saya merasa kurang percaya diri saja untuk berteman dengan orang baru. Ternyata setelah saya mencoba membuka diri, punya teman-teman yang baru sangat menyenangkan :) InsyaAllah semua membawa dampak positif ke kehidupan saya, dan saya bisa banyak belajar dari teman-teman :)
Sebenarnya, apapun dan bagaimanapun kita mulai belajar melakukan sesuatu, InsyaAllah ada nilai dan manfaat di dalamnya sekecil apapun itu :)
Bagaimana dengan teman-teman mama-mama? Yuk, share perubahan positif apa yang teman-teman mama-mama coba belajar lakukan untuk memulai tahun 2019 ini! :)
Kali ini saya sharing nya agak berbeda dari biasanya nih. Kalau biasanya tentang parenting, bikin mainan atau masakan untuk anak, sekarang saya ingin sharing tentang pemikiran saya sendiri (banyak gaya kali! :D) Bolehlah dikasih hashtag #mamayayasharingthoughts gitu :P
Bukan untuk sok-sok an sok tau tapi lebih ke pengingat diri sendiri dan InsyaAllah juga bisa untuk bekal ngajarin Aliyah juga. Mudah-mudahan juga bisa memberi manfaat untuk teman-tenan Ibu-ibu, mama-mama sekalian :)
Tentang 'menghargai'. Kalau di artikan, menurut KBI (Kamus Bahasa Indonesia) menghargai adalah kata verba yang dapat berarti memberi harga pada suatu benda, atau menghormati, atau menganggap penting/bermanfaat atas sesuatu. Nah, konteks di blog saya kali ini, tentang menghargai yang berarti menghormati/menganggap penting/bermanfaat.
Pernah tidak sih, kita jadi orang suka banget mencela orang lain? Bukan yang berlebihan bagaimana, mencela receh seperti misal liat orang dandan dengan alis yang super ketebalan, dan kita langsung dalam hati "buset, tebel amat alisnya" gitu? Atau liat postingan IG orang lain yang fotonya kurang instagramable terus dalem hati "duh, ga bisa apa foto bagusan sedikit"
Ada lagi nih, liat anak orang yang kurus nya minta ampun, trus dalem hati "ini bagaimana sih ibunya ga kreatif amat kasih makan anak, sampai anaknya ga mau makan begitu" Atau, anak bayi baru lahir yang langsung dikasih susu formula sama Ibunya, terus dalam hati "ga kasian apa anaknya dikasih formula begitu".
Ibu bekerja yang dicela karena memilih bekerja daripada menghabiskan waktu dengan anak. Atau Ibu rumah tangga yang dicela, ga mau bantu-bantu suami untuk mencari nafkah. Di dunia blogging juga ada, dicela dengan tulisan receh, yang "hhmm nulisnya gitu doang?" Atau seperti "emang penting ya?"
Semuanya tidak keluar dari mulut, tapi dalam hati. Nyinyir nya di dalam hati. Saya juga seperti itu. Seringnya memang tidak sengaja, karena jujur kebiasaan ini termasuk salah satu yang sulit dihilangkan.
Lalu saya berpikir, kenapa tidak saya rubah saja pola pikir saya. Daripada saya nyinyir dan menuntut orang lain sesuai dengan standar saya, lebih baik saya yang belajar untuk menghargai. Saya mulai belajar untuk menghargai bahwa setiap tindakan yang dilakukan orang lain pasti sudah melalui usaha yang susah payah.
Di balik alis yang ketebalan, ada perempuan yang berusaha terlihat cantik di depan suaminya sampai rela berjam-jam di depan cermin demi benerin alis. Belum lagi kalau salah gambar alisnya, harus dihapus, diulang lagi, dihapus lagi, diulang lagi sampai berhasil.
Di balik postingan IG yang kurang instagramable ada orang yang berusaha untuk berbagi manfaat, berbagi kebahagiannya, berbagi cerita dengan caranya sendiri. Di balik postingan yang sekedarnya ada usaha untuk mengambil foto sebisa mungkin, sementara kakinya ditarik-tarik si anak yang minta segera digendong.
Di balik anak yang kurus, ternyata ada Ibu yang berusaha masak dengan 3 menu berbeda setiap hari, mencari resep baru setiap hari, berbelanja dengan doa semoga anakku mau makan hari ini, atau bahkan tidak lelah mencari info sana-sini untuk meningkatkan nafsu makan anaknya.
Di balik bayi yang diberi susu formula, ada Ibu yang berusaha minum segala sesuatu yang bernama ASI Booster. Lalu dengan susah payah mencoba pumping namun belum berhasil.
Di balik Ibu bekerja, ada keluarga yang harus ditanggung kehidupannya, setiap pagi harus struggling antara berangkat kerja dengan anak yang menangis, bangun lebih pagi demi menyiapkan keperluan untuk anak yang akan ditinggal berangkat bekerja.
Di balik Ibu rumah tangga yang jobless, ada usaha untuk mencari rezeki halal apapun itu tanpa harus keluar rumah, karena anak yang tidak bisa ditinggal. Setiap hari memanjatkan doa agar dicukupkan segala rezekinya, sebesar apapun itu. Ada usaha mengatur keuangan sedemikian rupa agar tercukupi setiap bulannya.
Di balik tulisan blog yang biasa, ternyata ada blogger yang susah payah begadang semalaman (bahkan 2-3 malam), riset sana-sini, foto dengan susah payah untuk menghasilkan tulisan/konten yang bermanfaat untuk orang lain. Sesederhana atau se 'tidak pentingnya' tulisannya, InsyaAllah membawa manfaat, kalau pun bukan untuk orang lain, paling tidak untuk dirinya sendiri.
Masih banyak sekali 'di balik'-'di balik' lainnya. Di balik orang yang tak kunjung menikah ada doa yang tidak henti dipanjatkan setiap hari agar segera dipertemukan dengan jodohnya, atau berusaha menata hati karena pengalaman pernah dikecewakan.
Di balik foto makanan yang wow, ada yang berusaha memasak dengan susah payah, mencari resep sana-sini, berusaha sharing resepnya, atau bahkan usaha tersirat siapa tau ada yang ingin memesan dalam ikhtiarnya mencari rezeki tambahan untuk keluarganya.
Di balik liburan yang menyenangkan, ada usaha susah payah menabung sampai uangnya terkumpul cukup untuk liburan, menghemat pengeluaran harian, dan mencari waktu yang tepat.
Setiap orang memiliki perjuangannya sendiri. Everybody has their own struggle. Kita yang hanya dapat melihat dari luar tidak sepatutnya mencela atau nyinyir atas apa yang mereka perlihatkan. Coba lihat lebih dalam, menghargai bahwa setiap apa yang terlihat pasti ada usaha yang susah payah dibaliknya.