Pengalaman Stimulasi Kemampuan Bicara pada Aliyah

| on
September 20, 2019

Halo!

Bagaimana harinya hari ini teman-teman? Semoga menyenangkan ya :) Di postingan kali ini saya ini ingin berbagi pengalaman saya dan Aliyah dalam hal belajar berbicara. Sebenarnya sudah sejak lama ingin berbagi soal ini, namun maju mundur karena sepertinya teman-teman juga sudah banyak yang tahu dan mengerti bagaimana stimulasi untuk mengajarkan anak belajar berbicara :) Tapi akhirnya, saya berpikir siapa tahu pengalaman saya dan Aliyah ini dapat memberi sedikit tambahan informasi bagi teman-teman :)

Aliyah tergolong anak yang agak terlambat dalam berbicara. Saya tidak tahu pasti apakah Aliyah sudah termasuk dalam anak dengan speech delay atau tidak. Tapi, saat Aliyah berusia 20 bulan, kami sempat ke Klinik Anakku Surabaya, untuk screening tumbuh kembangnya. Saat itu, di samping memberi stimulasi untuk sensorik dan motoriknya, concernnya memang memberi stimulasi untuk kemampuan berbicara Aliyah, karena Aliyah ada indikasi agak terlambat.

Dari hasil screening saat itu, ketahuanlah penyebab Aliyah terlambat berbicara yang tergolong beragam. Kurang lebih sama seperti faktor penyebab keterlambatan bicara pada anak umumnya, seperti kurang diajak bercerita, pengenalan bahasa secara bilingual, pola makan Aliyah yang kurang tekstur dan, tentu saja kebiasaan menonton televisi/gagdet. 

Fungsi oral motor Aliyah juga belum maksimal, otot-otot di sekitar rahang dan mulutnya masih kurang kuat untuk mendukung Aliyah berbicara.

Maka, solusinya tentu saja saya perlu lebih banyak mengajak Aliyah bercerita dengan kalimat sederhana, lebih sering berbahasa Indonesia dengannya, meningkatnya tekstur menu makanannya sampai membatasi Aliyah dalam menonton televisi/gadget.

Stimulasi lain yang dapat dilakukan untuk melatih oral motor Aliyah adalah dengan lebih banyak latihan menghisap dan meniup. Beberapa permainan meniup kami coba lakukan di rumah. Seperti, meniup lilin, meniup potongan kertas kecil, meniup terompet, dan meniup bubble/ gelembung sabun. Dari kegiatan meniup, Aliyah memang terlihat cukup kesulitan. Gerakan bibirnya cenderung seperti menyembur, tidak bisa monyong seutuhnya :'D

ALSO READ: Bikin-bikin Di Taman: Tips Stimulasi Bicara Anak dan DIY Table Soccer Game


Untuk mengajak Aliyah bercerita sebenarnya susah-susah gampang bagi saya. Tidak jarang saya bingung harus memulai dari mana bercerita dengan Aliyah :') Saya mulai mencoba dengan membacakannya buku cerita, setiap saat entah siang atau malam. Saran dari psikolog Klinik Anakku untuk memulai mengenalkan kata sederhana dengan memenggal suku kata pun dilakukan. Seperti saat mengajaknya bermain di taman, dan berhitung 1,2,3 ketika akan meluncur di perosotan. Satu, dua,tiii......berhenti sejenak sampai Aliyah menyahut 'ga'. Atau saat Aliyah haus dan ingin minum, maka akan saya ambilkan setelah saya bilang Mii... dan Aliyah berhasil menyebut kata 'num'.

Buku cerita Aliyah yang berbahasa Inggris saya terjemahkan dengan random  menggunakan kata-kata sederhana dalam bahasa Indonesia. Tekstur makanan Aliyah juga mulai ditingkatkan, dari makan daging cincang yang halus, dicoba diganti pelan-pelan dengan daging yang teksturnya lebih kasar atau diiris tipis. Seiring berjalannya waktu, tekstur makanannya terus ditingkatkan sampai sekarang.

Sewaktu Aliyah berusia 2 tahun lebih sebulan, kami kembali ke Klinik Anakku Surabaya untuk kembali screening tumbuh kembang Aliyah. Beberapa aspek sensorik dan motoriknya sudah cukup berkembang saat itu. Namun, untuk kemampuan berbicaranya masih perlu distimulasi. Kali ini, oleh psikolog dari Klinik Anakku, Aliyah diberi sedotan ulir berbentuk hati berwarna pink kesukaan Aliyah. Harapannya, dengan menyedot minuman menggunakan sedotan ulir, otot-otot di sekitar rahang dam mulut Aliyah menjadi lebih kuat :)

Sedotan ulir yang saya beli di @articmediaterapi
Sedotan ulir ini digunakan setiap kali Aliyah minum untuk melatih daya hisapnya. Saya sempat mencoba juga minum dengan sedotan ini, dan memang butuh usaha ekstra untuk menyedot minuman dengan sedotan ini. Mungkin, karena sedotannya cukup eye cacthing, Aliyah sepertinya enjoy-enjoy saja mengggunakannya, hihi.

Selain latihan menghisap dengan sedotan ulir, stimulasi lain untuk melatih oral motor dan kemampuan berbicara Aliyah seperti yang saya sharing diatas tetap terus dilakukan.

Sudah dua tahun berlalu sejak screening Aliyah terakhir di Klinik Anakku. Bulan Mei yang lalu, kami kembali ke Klinik Anakku untuk kembali screening tumbuh kembang Aliyah. Alhamdulillah, surprisingly, menurut dokter yang menguji Aliyah saat itu, artikulasi berbicara Aliyah tergolong sangat jelas untuk anak seusianya. Walaupun begitu PR untuk tetap menggunakan sedotan ulir tetap berlanjut untuk memperjelas huruf R dan L pada saat Aliyah berbicara. Dalam hal ini, saya juga tidak tahu apakah Aliyah ada indikasi tongue tie atau tidak karena kemampuannya dalam mengucapkan kedua huruf tersebut belum sempurna (kalau soal tongue tie di periksa atau tidak, saya belum memeriksakannya, karena sebelumnya pernah membaca artikel kalau tongue tie bisa sembuh sendiri seiring semakin besarnya anak, namun memang ada juga yang perlu tindakan lebih lanjut. Saya masih di level observasi dulu, hehe) . Tapi, secara keseluruhan, hasil screening nya kali ini cukup baik. Yaiy!

Barangkali teman-teman mama ada yang ingin memulai stimulasi berbicara pada anak, jangan tunggu sampai seperti saya yaa.. Anaknya terlanjur terindikasi terlambat bicara baru distimulasi :')

Berikut beberapa tips untuk stimulasi bicara  pada anak berdasarkan pengalaman saya dan Aliyah, yang mungkin juga kurang lebih sama seperti pengalaman teman-teman mama yang lain,

1. Sering-sering mengajak anak bercerita. Kalau tipikal orang tua nya pendiam, bisa dimulai dengan membacakan buku cerita :) Sering mengajak anak bertemu dengan orang lain selain orang yang ada di rumah juga cukup membantu, apalagi yang sehari-harinya anak hanya dengan ayah dan ibu saja di rumah :)
2. Mengurangi penggunaan bahasa bilingual di rumah. Beberapa anak mungkin punya kemampuan lebih dalam berbahasa. Namun, beberapa anak lainnya bisa saja terbatas sehingga menyebabkan anak menjadi bingung dalam berbahasa. Kebetulan, Aliyah sepertinya tipikal yang agak bingung dengan dua bahasa.
3. Membatasi waktu anak menonton televisi/gadget. Kalau pun anak menonton, paling tidak tontonan anak dengan satu bahasa dengan gambar gerak yang tidak terlalu cepat. Baby TV Indonesia salah satu yang bisa jadi rekomendasinya :)
4. Berlatih memenggal suku kata untuk mengajak anak berbicara.
5. Meningkatkan tekstur makanan anak.
6. Banyak bermain dengan meniup.
7. Menghisap/menyedot minuman dengan sedotan ulir.

Oiya, untuk dimana bisa mendapatkan sedotan ulir, dari hasil browsingan saya,  tidak banyak toko yang menjual sedotan ulir. Satu-satunya yang saya dapat hanya di @articmediaterapi, toko online yang berjualan berbagai macam alat terapi.

Anyway, bagaimana dengan teman-teman mama? Ada yang punya pengalaman atau cerita tentang stimulasi bicara pada anak juga ga? Yuk sharing sama-sama di sini :)
Semoga sharing saya bermanfaat ya :)

Disclaimer: Setiap kasus terlambat berbicara pada anak bisa saja berbeda. Teman-teman mama dapat menghubungi para ahli seperti psikolog/dokter tumbuh kembang anak untuk mengetahui penyebab pastinya dan untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut :)





27 comments on "Pengalaman Stimulasi Kemampuan Bicara pada Aliyah"
  1. Halo mbak Ajeng, slaam kenal ya. Kabar baik alhamdulillaah. Wah, semaangat ya dek, mamahnya juga pasti gercep nih berusaha supaya dede bisa lebih lancar berbicaranya. Sudah berkonsultasi di Klinik Anakku ya? Semoga progress-nya oke ya. Memang sih kita sebaiknya ajak ngubrul2 dan membacakan buku cerita yang menarik, ini bisa jadi salah satu solusinya. Take care ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mba Nurul, Salam kenal juga yaa mba :) Alhamdulillah progress nya oke sejauh ini mba :) Take care juga mbaa, trimakasih sudah mampir :)

      Delete
  2. Semangat Dede cantik. Semangat yang hebat liar biasa nih. Salut sama bunda dan ayahanda juga pastnya.

    Fahmi putra saya bicara tidak terlalu menunggu lama. Hanya jalan yang sangat lambat. Hampir mau usia 2 tahun baru bisa jalan. Alhamdulillah.

    Selagi kita yakin, insyaallah anak bisa ya. Tetapi semua mungkin ada prosesnya. Semangat semuanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa mba, ternyata anak memang punya 'waktunya' sendiri yaa mba, semangatt :)

      Delete
  3. saya suka bercerita apa saja pada anak saya, Zril. usianya kini 21 bulan. sukanya mengulang satu kata yg sesuai dg jawaban pertanyaan yg saya ajukan, misalnya, "Zril suka makan ini?" kata saya sambil menunjukkan semangka. "Suka!" jawabnya singkat. Saya ngerasa dia sudah ba bicara sesuai usianya. Tapi setelah baca ini rasanya jadi was2. Bener udah bisa bicara atau malah speech delay yaaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu,awalnya Aliyah sempat dicek jumlah kosakata yang dikuasainya saat itu mba, terus dibandingkan deh dengan jumlah normal kosakata yang seharusnya dikuasainya anak seusia nya :)

      Delete
  4. Anak saya juga terlambat bicara, usianya sudah 30 bulan tapi masih belum bisa merangkai kalimat. Saya sih melatihnya hanya sering mengajaknya ngobrol.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa sering mengajak ngobrol salah satu caranya juga mbaa :))

      Delete
  5. Dulu anak pertama saya juga diduga speech delay, karena di usia yang hampir dua tahun hanya baru bisa beberapa kata saja. Tapi, dengan terus saya ajak bercerita dan membaca buku, alhamdulillah ketakutan saya terpatahkan. Sekarang anaknya udah 4 tahun, nggak bisa berhenti bercerita hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe Alhamdulillah yaa mba Intan :) berarti anakknya seumuran sama Aliyah dong mba, Sama-sama 4 tahun, sama-sama ga berhenti bercerita, hihii.

      Delete
  6. Masyaallah.. Semangat terus ya bunda Ajeng. Aku juga jadi belajar pentingnya stimulasi untuk anak sejak dini. Terima kasih sharingnya, saya jadi semangat juga untuk pertumbuhan si kecil yg masih di perut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah Tabarakallah, sama-sama mba Nabila, semoga sehat selalu, diberi kelancaran dariNya sampai lahiran nanti ya mba :) Aamiin

      Delete
  7. Lho saya baru tahu kalau ada klinik seperti ini di Surabaya
    Mba tinggal di Surabaya mana?

    Stimulasi harus terus diberikan dengan semangat. Semangat ya Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya di Sidoarjo mba, Surabaya sonoan dikit, hehehe. Mba Rahmah Surabaya juga yaa? Salam kenal ya mba :))

      Delete
  8. Pengalaman anakq yang bungsu baru bicara usia 2 tahun, ternyata pas bisa bicara jadi talkactive/cerewet, mungkin karena dipendam terlalu lama yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, anak-anak memang selalu punya kejutan dan 'waktunya' sendiri yaa mba Eva :))

      Delete
  9. Semangat buat Mba Ajeng dan si kecil, terus berikan doa dan dukungan serta stimulasi ya mba, sehat selalu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Allahumma Aamiin, trimakasih mba Indri :) sehat selalu juga yaa mba :)

      Delete
  10. Aku baru tahu, ada sedotan khusus yg bisa menjadi terapi bicara untuk anak

    Selamat ya yaya, sehat terus

    ReplyDelete
  11. hai mb Ajeng baru tahu aku untuk melati daya hisap juga berpengaruh ya untuk bicara itu sedotannya emang eye catcing banget :)

    ReplyDelete
  12. Sedotannya lucu ya mbak, semangat terus menjadi Ibu yang tangguh untuk stimulus si kecil. Harapannya dalam waktu dekat si kecil sudah fasih berkata dengan baik mbak.

    ReplyDelete
  13. Stimulasi kemampuan anak ini bisa dilakukan dengan mudah sebenarnya ya mbak, yang penting ada peran aktif orangtuanya

    ReplyDelete
  14. Dlu anak saya baru bisa ngmng usia 2 tahunan ke atas mba tapi anak laki2 ..memang ibunya harus terus aktif dan semngat untuk dukung tumbuh kembang anaknyaa...semangat terus y mba ajeng

    ReplyDelete
  15. sebagai orang tua memang harusnya kita peka ya anak telat bicara apa nggak. kalau anak saya dulu sempat agak pendiam tapi sekarang kerjaannya nyanyi melulu. heu. yang jadi PR nih ngajarin huruf R soalnya saya nggak bisa nyebut huruf R. hihi

    ReplyDelete
  16. Jadi orang tua itu harus peka terhadap si kecil, karena perawatan usia dini ditangani sepenuhnya oleh ibu

    ReplyDelete
  17. Dulu keponakanku juga delay speech. Karena selalu tinggal dengan si mbaknya ketika abang dan kaka ipar bekerja. Jadi sehari-hari keponakanku gak pernah diajak ngomong sama mbaknya dan gak pernah diajak main bareng. Jadi kurang intens komunikasinya. Setelah aku bawa pulang ke medan sekarang malah lancar ngomong. Karena disana selalu kami ajak bicara akhirnya sekarang lancar ngomong deh.

    ReplyDelete
  18. Soal sedotan ulir itu saya pun baru ngeh ya, bener juga ya kita kalau minum dengan menggunakan sedotan ulir ini memang harus ekstra usahanya. Makanya ini baik untuk anak-anak juga ya mbak, aku jadi ingat jaman dimana melatih anakku bicara juga.

    ReplyDelete