OUR VERY FIRST TIME HOLIDAY ON WEEKDAYS AT BATU SECRET ZOO

| on
November 11, 2019

Halo!

Setelah lama tidak jalan-jalan yang agak jauhan dikit dari rumah, akhirnya kami sekeluarga berkesempatan jalan-jalan yang agak jauhan (walaupun jauhan versi kami masih dalam maksimal 3 jam perjalanan, wkwk) pada hari kamis sampai jumat yang lalu. Eh, jalan-jalannya pas weekdays gitu? Iya, weekdays. Dan kemarin adalah our very first time holiday on weekdays :D

Kali ini memilih liburan saat weekdays, karena kami berencana mengunjungi Batu Secret Zoo yang dari pertama kali buka  di tahun 2010 sampai bertahun-tahun kemudian baru kami kunjungi kemarin, hahaha. Ga apa-apa lah terlambat, yang penting tujuannya tercapai, ya ga? :P Pernah kepikiran untuk ke Batu Secret Zoo saat Aliyah masih berusia 2 tahun, tapi kemudian kami berpikir mungkin belum saatnya karena belum banyak yang bisa dipetik Aliyah jika ia kami ajak berkunjung ke Batu Secret Zoo saat itu.

Keluarga Llama yang lagi hip jadi gambar kaos nya anak-anak 

Oke, jadi mengapa kami memilih ke Batu Secret Zoo saat weekdays? Pertimbangan kami, selain harga tiket masuk yang lebih murah :P mungkin suasananya tidak akan seramai saat weekend, dan akan cukup nyaman untuk kami berkeliling Batu Secret Zoo. Yang paling utama adalah kenyamanan untuk Aliyah, karena sudah tercatat di dalam kitab permamakan kalau kenyamanan anak berbanding terbalik dengan level cranky si anak. Semakin nyaman anak, semakin kecil kemungkinan anak mudah cranky :D


Meski weekdays, ternyata suasananya cukup ramai karena kami berbarengan dengan kunjungan anak-anak dari beberapa sekolah, tapi masih tergolong nyaman untuk melihat-lihat dan berkeliling. Di Batu Secret Zoo rata-rata hewannya dirawat dengan sangat baik, kandangnya cukup bersih, lingkungan Batu Secret Zoo nya juga bersih, karyawannya juga cukup tanggap. Pembagian area di dalam Batu Secret Zoo sangat tertata dengan papan rute yang mempermudah kita untuk berkeliling. Dengan mengikuti papan rute, bisa dipastikan kita tidak akan terlewat satu area pun. Ada 11 area yang dapat kita kunjungi di dalam Batu Secret Zoo, diantaranya Monkey Island, Nocturnal House, Reptile Garden, Aquarium, Savannah, Waterpark, Fantasy Land, Baby Zoo, Safari Farm ,River Adventure dan Tiger Land. Luas keseluruhan area Batu Secret Zoo sendiri mencapai 14 hektar!


Jalan-jalan kesini ternyata memang one stop education & entertainment bagi anak-anak seumuran Aliyah ya. Kebun binatang, playground, waterpark, dan beberapa wahana bermain, semuanya free entry karena sudah termasuk harga tiket.


Food court/cafetaria juga tersedia di dalam area Batu Secret Zoo, tapi yang paling favorit kayaknya orang-orang pada jajan PopMie. Saya sendiri, karena backpackeran, dan khawatir Aliyah kelaparan di jalan, bekal yang saya bawa cukup banyak, hahaha. Tetapi ternyata kita ga boleh bawa makanan berat masuk ke dalam area kebun binatang :P


Sedihnya, karena kami baru pertama banget ke Batu Secret Zoo, kami melewatkan beberapa jadwal seperti memberi makan jerapah, bermain di baby zoo, naik kereta di Safari Farm, menonton atraksi, atau masuk ke museum satwa nya (padahal sudah termasuk di htm tiket masuk).   Untuk teman-teman mama-mama yang akan berkunjung ke Batu Secret Zoo, mungkin bisa searching dulu di Google ada jadwal apa aja yang bisa diikuti di Batu Secret Zoo supaya tidak kelewatan seperti kami :)


Oh iya, kalau anak-anak mudah lelah kalau berjalan kaki, membawa stroller/ micro trike jadi salah satu alternatif karena memang area Batu Secret Zoo yang sangat luas, dan cukup lelah juga ngiterin semua area nya :')  Di dalam area nya juga tersedia e-bike untuk disewa ( Rp 150.000/3 jam, namun jika ingin lebih hemat teman-teman mama bisa membawa stroller/micro trike sendiri karena areanya sangat stroller friendly :) ) 

Tentang hewan-hewan nya.

Pada dasarnya, saya secara personal ga tegaan kalau melihat hewan yang dikandangin, padahal di habitatnya mereka terbiasa hidup bebas. Sedikit terhibur saat melihat para hewan dirawat dengan baik, diberi pakan sesuai dengan speciesnya, bahkan bisa sampai beranak pinak. Di Batu Secret Zoo baru saja ada anak gajah lahir bulan Juli yang lalu bernama Dumbo :)


Rata-rata hewan-hewan di Batu Secret Zoo banyak yang berasal dari Asia dan Afrika. Yang paling banyak speciesnya dari primata dan reptil. Tidak banyak yang saya ambil gambarnya karena jujur saya sendiri ga berani mendekat :') Apalagi saat di area Savannah & Tiger Land, yang banyak hewan buasnya, saya jalan bawaannya ingin cepat saja Hehe. Padahal kandangnya pasti sudah didesain sedemikian rupa untuk keamanan para pengunjung. Tapi tetap saja sih, saya ga berani. Hehee. Hewan yang juga paling banyak adalah si tikus raksasa. Mungkin karena para tikus beranak pinak dengan bahagianya jadi populasinya agak banyak :') Yang paling sedikit kayaknya dari bangsa unggas. Bisa jadi karena di Batu juga ada Eco Green Park (yang masih satu grup juga dengan Batu Secret Zoo yaitu grup Jawa Timur Park) tempat wisata edukasi burung dan unggas.

Yang jadi favorit saya di Batu Secret Zoo adalah area aquariumnya. Aquariumnya cukup dingin dan sangat bersih sekaligus wangi. Wangi nya enak sekali dan sangat nyaman untuk berkeliling melihat-melihat. Salut untuk seluruh karyawan Batu Secret Zoo yang benar-benar menjaga lingkungan seluruh area nya agar selalu bersih :)

Jalan-jalan kali ini cukup menghibur untuk kami sekeluarga, apalagi untuk Aliyah yang ga berhenti-berhenti lompat-lompat kegirangan. Kalau teman-teman yang diluar Jawa Timur, lagi berkunjung ke Jawa Timur, main-main ke Batu Secret Zoo bisa jadi salah satu alternatif kunjungannya :) Batu Secret Zoo terletak di Jalan Raya Oro-Oro Ombo no.9 Kota Wisata Batu. Buka pada pukul 10.00 - 18.00 dengan beberapa jadwal atraksi di jam-jam tertentu. Untuk harga tiketnya sebesar Rp 90.000/person saat weekdays dan Rp 120.000/person saat weekend, dengan catatan anak dengan tinggi diatas 85 cm terhitung harga penuh :)

Oh iya, selain dengan menggunakan kendaraan sendiri, berkunjung ke Batu Secret Zoo dengan  menggunakan jasa transportasi kereta api bisa jadi salah satu alternatif yang cukup nyaman :) Cukup turun di Stasiun Malang, dan lanjut ke Batu dengan memesan kendaraan online. Rate untuk rute Malang-Batu berkisar di Rp 85.000- Rp. 90.000 :)

Semoga bermanfaat :)




DIY Magic Cards

| on
October 22, 2019

Halo!

Kali ini saya dan Aliyah membuat magic cards. Biasanya magic cards ini dijadikan gift celebration gitu, atau hadiah buat teman :) 

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat magic cards ini sangat sederhana, hanya kertas gambar ukuran A4, kertas bufalo/karton berwarna, lembaran plastik mika, spidol hitam serta pensil warna/crayon/spidol warna warni.

Cara membuatnya dapat dilihat disini yaa :)
Seru sih mainnya, bisa bikin Aliyah mikir banget kenapa kok bisa berubah warna tulisannya, hihi :)
Jangan lupa untuk ajak anak terlibat dalam membuatnya yaa :) Kalau Aliyah kebagian mewarnai tulisannya, karena untuk menggunting dan menggaris Aliyah belum begitu mahir :)

Untuk cara mainnya tinggal digeser-geser saja atas bawah, atau bisa dilihat disini :)


Selamat bikin-bikin :) 


MEMILIH SEKOLAH UNTUK ALIYAH

| on
October 04, 2019

Halo!

Beberapa hari yang lalu saya sempat ingin berbagi cerita bagaimana pengalaman kami, saya dan suami saya, saat akan memilih sekolah Aliyah di instagram story, namun karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk membagi cerita ini ke teman-teman mama-mama melalui blog post ini lebih dulu :) Tadinya saya sempat sedikit ragu untuk membagi cerita pengalaman kami memilih sekolah untuk Aliyah, karena mungkin untuk beberapa orang, memilih sekolah sebenarnya hal yang sederhana saja, tidak perlu banyak pertimbangan apalagi jika usia anak baru saja mau duduk di bangku pra sekolah ataupun taman kanak-kanak. Dan, mungkin dulu saya juga termasuk salah satu orangtua yang berpikiran sama, sampai saat saya mengikuti Seminar Memilih Sekolah yang diadakan oleh tim #bikinbikinditaman milik mbak Iput @iburakarayi. 
Karena beberapa hari belakangan sangat ramai tentang survey biaya sekolah yang diadakan oleh The Urban Mama di instagram story, akhirnya saya semakin yakin untuk berbagi cerita memilih sekolah versi keluarga kami. Siapa tau ada sedikit informasi yang bisa didapat dari cerita kami untuk teman-teman mama-mama yang juga sedang mencari sekolah untuk anaknya :)

Oh iya, sebelum memulai, saya ingin menyamakan persepsi terlebih dulu dengan teman-teman, bahwa setiap kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga pasti berbeda, termasuk juga dalam hal memilih sekolah anak :) Dalam konteks ini, kebetulan kondisi keluarga kami adalah tipikal yang "on budget" dalam memilih sekolah untuk Aliyah. Tidak ada yang dikurangi, dan tidak ada yang dipaksakan :) Dan ini menjadi salah satu alasan, kenapa oh kenapa sepertinya cara kami memilih sekolah untuk Aliyah terlihat lebih "ribet" dibandingkan dengan yang lain. On budget dan banyak maunya, ya mestii berujung jadi beribet sendiri, kan akhirnya :')

Oke, kembali ke cerita pengalaman kami dalam memilih sekolah untuk Aliyah. Tahun ini Aliyah tepat berusia 4 tahun, dan sudah waktunya Aliyah untuk bersekolah menurut saya atas pengalaman membaca beberapa buku dan pengalaman berbagi dengan para sahabat. Mengapa Aliyah tidak bersekolah sejak usia 3 tahun? Sebenarnya, usia bukan merupakan tolak ukur yang utama untuk anak bersekolah. Semua kembali bergantung dari kebijakan masing-masing orangtua dan yang paling utama adalah bagaimana kesiapan anak itu sendiri untuk mulai bersekolah. 

Belajar dari masa lalu saya dan adik-adik saya yang mulai bersekolah di usia yang masih muda (yang kini saya sadari bahwa sungguh itu terlalu muda :')) Dari pengalaman masa kecil yang cukup traumatis bagi saya dan adik-adik tersebut, membuat saya berpikir bahwa, hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak, jika anak belum benar-benar siap untuk bersekolah. Pada akhirnya dapat berpengaruh pada kemampuan/kematangan cara berpikir anak, kondisi emosional, dan kemampuan menghadapi masalah (walaupun juga terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi ketiga hal diatas) di masa depan. Dan, saya tidak ingin kejadian tersebut berulang kembali pada Aliyah. 

Kembali kepada bagaimana kesiapan anak untuk bersekolah. Dari beberapa buku dan artikel yang saya baca, salah satunya dari Buku Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, anak dikatakan dapat mulai bersekolah beberapa diantaranya adalah ketika: 

1. Anak sudah selesai dengan toilet trainingnya, 
2. Kemampuan sosial anak yang semakin berkembang
3. Kemampuan berbahasa anak yang semakin berkembang
4. Sudah bisa makan dan minum sendiri
5. Sudah menujukkan tanda-tanda kemandirian.
Pada saat Aliyah berusia 3 tahun, saya pernah mencoba untuk mengajaknya bermain-main ke sekolah yang cukup dekat dengan rumah kami. Hasilnya, saat itu, Aliyah hanya tertarik ke sekolah untuk bermain perosotan :') Aliyah belum mau masuk ke kelas dan berinteraksi dengan guru dan teman-temannya. Aliyah memang tipikal anak yang butuh waktu beradaptasi yang cukup lama, tidak hanya hitungan jam, bahkan bisa sampai hitungan hari ataupun minggu :') Saya juga sempat mengajak Aliyah ke tempat les bahasa Inggris, dengan pikiran mungkin saja waktu les yang hanya sebentar dapat melatih Aliyah untuk terbiasa  berada di dalam kelas, namun hasilnya, sekedar untuk trial class saja Aliyah menangis dan menolak ikut masuk kelas. Dari trial and error ini, saya akhirnya bisa menerima pesan dari Aliyah bahwa ia belum siap untuk bersekolah ataupun sejenisnya :)

Sembari menunggu Aliyah siap untuk bersekolah, saya mulai mengajaknya untuk lebih sering bermain dengan orang lain (Aliyah anak rumahan yang seringnya bermain dengan saya, atau keluarga inti yang lain). Aliyah mulai berkenalan dengan anak tetangga, dan belajar untuk bermain bersama. Setiap sore saya mengajaknya untuk bermain di taman kompleks rumah, bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Semua yang kenal dengan Aliyah akan tau banget kalau belum pernah bertemu, Aliyah pasti akan menolak itu mendekat bahkan sekedar untuk cium tangan, hehehe. Saya tidak memaksanya karena saya percaya Aliyah punya waktunya sendiri, dan memang tipe temperamennya seperti itu. 

Memasuki usia 3,5 tahun Aliyah mulai menujukkan tanda-tanda perkembangan dalam kemampuan sosialnya. Aliyah mulai kebingungan mencari teman bermain kalau sedang di rumah dan senang jika rumah kami ramai karena kunjungan dari keluarga dan kerabat. Dari sini saya seperti mendapat pesan dari Aliyah kalau ia sudah  siap untuk bersekolah :)

Tentang Memilih Sekolah untuk Aliyah

Memilih sekolah untuk Aliyah gampang-gampang susah bagi kami karena ya itu tadi, seperti yang sudah saya ceritakan diatas, kalau kami tipikal yang "on budget" tapi banyak maunya, hehehe. Pertanyaannya kemudian, apakah semua kriteria yang diinginkan terpenuhi? Tentu saja tidak, mengingat "on budget" tadi dan memang pilihan yang tersedia di kota kami juga tidak banyak jika dibandingkan dengan kota lain. Waktu itu kami sempat survey ke 6 sampai 7 sekolah pra sekolah dan taman kanak-kanak, hihihi. 

Beberapa pertimbangan kami dalam mencari sekolah untuk Aliyah:

1. Sekolah yang dekat dari rumah, walaupun kami juga sempat survey ke sekolah yang berjarak 5-6 km dari rumah. Memilih sekolah yang dekat dari rumah sebagai antisipasi anak akan lelah/ kehabisan waktu di jalan, sehingga tidak semangat untuk bersekolah.
2. Berbasis agama 
3. Rasio guru dan anak yang cukup berimbang, dengan jumlah anak per kelas tidak lebih dari 10 murid. Dari standar NAEYC (National Association for the Education of Young Children) yang dikutip dari Buku Panduan Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, paling tidak untuk anak usia 0-2 tahun, 1 guru mewakili 4 murid, usia 2-4 tahun, 1 guru mewakili 6 murid dan usia 4-6 tahun, 1 guru mewakili 10 murid.
4. Sistem kelas sentra/ moving class untuk menghindari anak merasa bosan.
5. Kelas yang luas tanpa meja dan tempat duduk yang tertata rapi (kalaupun ada tempat duduk dan meja, sebaiknya ditata secara melingkar atau saling berhadapan) sebagai tanda bahwa setiap anak dapat saling berinteraksi satu sama lain, serta berinteraksi dengan gurunya dengan porsi yang seimbang.
6. Sekolah yang concern dengan kebersihan sebagai tanda bahwa menjaga kebersihan juga merupakan bagian dari pendidikan
7. Tersedia sarana dan alat belajar yang cukup untuk anak bermain dan belajar yang diletakkan secara rapi di rak rendah serta dilengkapi dengan tulisan untuk mempermudah anak mengambil dan mengembalikannya.
8. Hasil karya semua anak yang dipajang di tembok kelas sebagai tanda bahwa setiap karya mendapat apresiasi yang sama tanpa harus menjadi yang paling sempurna.
9. Jam masuk sekolah yang tidak terlalu pagi, bahkan cenderung siang sebagai antisipasi anak trauma berangkat ke sekolah karena terpaksa bangun pagi. Bukannya tidak ingin melatih Aliyah untuk bangun pagi, namun Aliyah adalah tipikal anak yang cukup 'moody' dan selalu membutuhkan waktu sejak ia bangun pagi sampai mood nya benar-benar bagus dan siap untuk berangkat ke sekolah. Saya salah satu yang percaya kalau dengan mood yang bagus anak akan lebih mudah menjalani harinya di sekolah :) Hal ini juga untuk menghindari Aliyah terlambat berangkat ke sekolah jika jam belajarnya terlalu pagi (in case, Aliyah masih dalam tahap belajar dan menyesuaikan diri dengan ritme aktivitasnya yang berubah karena sekolah) :)
10. Guru-guru yang cukup terbuka, ramah pada anak secara natural, dan komunikatif dengan orangtua murid.
11. Jadwal sekolah yang tidak terlalu padat mengingat Aliyah masih akan masuk usia pra sekolah. Kami lebih memilih sekolah yang jadwalnya selang seling antara sekolah-libur-sekolah atau sederhananya hanya 3-4 hari sekolah/minggu, daripada yang full senin-jumat.

Step by step dalam memilih sekolah untuk Aliyah

1. Sebelum survey fisik, saya dan suami mencari informasi lebih dulu dengan browsing di internet kira-kira sekolah mana saja yang akan kami kunjungi untuk memperkecil lingkup survey kami.
2. Kami survey setiap hari sabtu, yang rata-rata di beberapa sekolah sedang berlangsung kegiatan belajar-mengajar. Kami juga mengajak serta Aliyah untuk ikut survey sekolah karena paling tidak Aliyah punya gambaran seperti 
sekolah yang sebenarnya. Rata-rata Aliyah suka di sekolah karena ada playgroundnya, hahaha.
3. Saat survey, kami berusaha berkomunikasi dengan pihak sekolah secara terbuka, baik guru ataupun kepala sekolah. Menanyakan tentang apa saja kegiatan di sekolah, jam belajar anak, berapa jumlah murid per kelas dan jumlah guru yang mengajar per kelasnya, serta program lain seperti kegiatan keagamaan, ekstrakulikuler, outbond, studi tur, dll yang mendukung kegiatan belajar mengajar.
4. Kondisi fisik dan lingkungan sekitar sekolah juga diperhatikan. Saya selalu bertanya tentang bagaimana jika anak ingin ke toilet, melihat kondisi kebersihan toiletnya, memperhatikan bagaimana guru menghandle anak yang tantrum atau bertengkar,  serta memperhatikan bagaimana keamanan anak saat orangtua terlambat menjemput.
5. Sebisa mungkin kami mengikutkan Aliyah pada program trial class jika pihak sekolah menyediakan program tersebut. Saya juga selalu berusaha mendampingi agar dapat melihat langsung bagaimana gambaran kegiatan di sekolah berlangsung.
6. Karena kami 'on budget', kami selalu berusaha realistis saat membaca rincian-rincian biaya yang ditetapkan dari masing-masing sekolah. Oleh karena nya sangat penting untuk survey fisik dan bertanya-tanya sebanyak mungkin informasi yang ingin kami ketahui tentang sekolah yang di survey agar kami dapat membandingkan apakah biaya yang tertera di brosur sesuai dengan kegiatan, fasilitas,  dan sarana belajar atau tidak. Jujur, dari survey kami, beberapa sekolah tidak cukup relevan antara biaya dengan kegiatan, fasilitas serta sarana belajarnya.

Tentang keputusan memilih sekolah

Pada akhirnya kami memutuskan memilih sekolah untuk Aliyah yang tidak begitu jauh dari rumah kami, berjarak sekitar -/+ 1,5 km. Tadinya kami tidak tahu bahwa ada sekolah ini di dekat rumah kami. Setelah suami saya browsing dan mencari di Google, kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi sekolah Aliyah. Sejatinya bahwa tidak ada satu pun yang sempurna di dunia ini, sama halnya dengan sekolah Aliyah. Tidak semua kriteria kami diatas dapat terpenuhi, tapi paling tidak sebagian besar sudah mewakili kebutuhan kami. Yang paling utama sebenarnya adalah karena sistem kelas di sekolah Aliyah adalah sistem sentra yang dinamis. Jadi Aliyah belajar di sentra yang berbeda setiap harinya.


Berikut beberapa hal yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk Aliyah bersekolah di sekolahnya saat ini:

1. Sistem kelas sentra/moving class. Di sekolah Aliyah terdapat 6 kelas sentra yang terdiri dari, Sentra Balok, Sentra Peran, Sentra Musik dan Olah Tubuh, Sentra Alam, Sentra Seni & Kreatifitas, dan Sentra Keaksaraan.
2. Sarana dan alat belajar cukup variatif dan lengkap yang semuanya diletakkan di rak rendah dengan dilengkapi keterangan tulisan untuk memudahkan anak mengambil dan mengembalikannya.
3. Perbandingan guru dan murid per kelas nya -/+ 1:2. Jumlah murid per kelas tidak lebih dari 10, dengan jumlah guru -/+ 3 orang, (wali kelas, guru sentra dan guru pendamping).
4. Tersedia pilihan jam masuk sekolah, pagi atau siang dengan jadwal sekolah 3-4 hari/minggu.
5. Tidak begitu berbasis agama, tapi setiap pagi sebelum mulai belajar, ada kegiatan religion lebih dulu seperti mengaji, membaca surat-surat pendek, besholawat, dll.
6. Guru-guru yang ramah dan komunikatif secara natural dengan anak dan orangtua anak.
7. Tersedia beberapa kegiatan yang mendukung kegiatan belajar seperti ekstrakulikuler, keagamaan, outbond dan studi tur.


Kalau diatas adalah kebutuhan kami dan Aliyah yang dapat terpenuhi di sekolah Aliyah saat ini, berikut beberapa kebutuhan kami dan Aliyah yang tidak dapat terpenuhi di sekolah Aliyah saat ini:

1. Playground yang mumpuni. Aliyah merupakan tipikal anak kinestetik yang sangat aktif dan selalu butuh sarana untuk menggerakkan bagian tubuhnya. Di sekolahnya tidak tersedia playground yang cukup aman dan mumpuni untuk Aliyah bermain. Untuk hal ini dapat saya maklumi, karena saya pikir toh Aliyah masih dapat bermain di taman kompleks rumah kami setiap sore, atau sesekali bermain di playground mall.
2. Ekstrakulikuler yang tersedia sangat basic, seperti menari, mewarnai, fashion, dll. Tidak tersedia ekstrakulikuler olahraga seperti panahan, atau science seperti robotic, dll. Untuk ekskul yang agak canggih-canggih ini sebenarnya tersedia di sekolah yang diatas budget kami. Namun karena tidak ingin memaksakan juga, saya coba untuk ambil jalan tengah dengan mencari tempat les diluar sambil melihat potensi bakat dan minat Aliyah. Sejauh ini sepertinya minat Aliyah lebih ke olah tubuh seperti menari balet.
3. Walaupun sistem kelasnya sentra, pola belajar dan mengajar di sekolah Aliyah masih semi konvensional menurut saya, imho :) Hal ini saya coba siasatin saat bermain dengan Aliyah di rumah. Apa yang diajarkan gurunya di sekolah, saya ulang kembali di rumah dengan cara yang berbeda. Harapan saya, paling tidak tujuan saya dan gurunya seiringan, masih bisa memenuhi kebutuhan Aliyah, di sisi lain Aliyah juga tetap merasa nyaman dan tidak mudah bosan :)

Sejauh ini, proses Aliyah menjalani hari-hari si sekolah nya Alhamdulillah tidak ada hambatan yang berarti, walaupun seminggu pertama memang ada drama karena Aliyah masih perlu beradaptasi :) Tapi sejauh ini cukup oke, pagi hari  Aliyah dilalui dengan semangat untuk ketemu guru dan main dengan teman-teman :)

Pada intinya, setiap kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga pasti berbeda dalam memilih sekolah. Versi kebutuhan kami, belum tentu sama dengan versi kebutuhan teman-teman mama-mama :) Kalaupun sama, pasti ada satu dan lain hal yang berbeda :) Saya masih selalu ingat pesan dari Pak Bukik Setiawan, salah satu penulis Buku Panduan Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, bila tidak ada sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan kita dan anak 100%,  orangtua punya pilihan untuk memenuhi kebutuhan anak dengan cara yang lain :)

Anyway, bagaimana menurut teman-teman mama-mama? Yuk share sama-sama di sini :)

Semoga sharing saya bermanfaat ya :)

Disclaimer: Tulisan diatas semata-mata atas dasar referensi dan pengalaman pribadi. Kebutuhan dan kondisi setiap anak dan keluarga bisa saja berbeda dalam memilih sekolah sesuai dengan referensi dan pengalaman masing-masing :)

*mohon maaf untuk keterbatasan foto yang ditampilkan mengingat informasi mengenai sekolah dan atributnya adalah privasi anak yang perlu kita jaga bersama :)










Mengenal Huruf Vokal Melalui Permainan Kartu AIUEO

| on
October 02, 2019


Halo!

Saya pernah membaca kalau setiap anak selalu mempunyai 'waktunya' sendiri. Dan iya ya, saya jadi tersadar kalau ternyata anak memang punya 'waktunya' sendiri, seperti Aliyah yang punya waktu belajar berjalannya sendiri, waktu bisa berbicara dengan lancarnya sendiri, walaupun terkadang saya suka kurang sabar menemani Aliyah menjalani semua prosesnya :(

Bermain huruf AIUEO ini salah satu proses saya dan Aliyah yang sama-sama sedang menunggu 'waktunya' Aliyah untuk mulai membaca. Ga tau kapan, tapi saya percaya pada Aliyah kalau Aliyah mempunyai 'waktu' yang tepat :)

Cara membuat permainan ini sangat sederhana, hanya dengan mengunduh gambar hewan dari internet yang namanya berawalan dari huruf AIUEO, lalu dilapisi dengan kertas karton yang agak tebal supaya lebih awet :) Gambar yang diunduh akan lebih baik jika sesuai dengan bentuk nyata hewannya, bukan kartun ataupun sketsa dengan tujuan sekalian mengenalkan jenis hewan kepada anak. 

Ide bermainnya terinspirasi dari buku Montessori Play and Learn :) Permainan pra membaca dengan metode phonic. Saat anak keliru menyebut awalan huruf hewan yang ditunjuk, tidak apa-apa, seperti Aliyah yang menunjuk huruf U pada hewan Ikan. Walaupun gemas, saya mencoba untuk tidak langsung mengoreksinya, tetapi menggiring Aliyah untuk berpikir dan mengoreksinya kesalahannya sendiri dengan menyebut kan "Hmmm apakah namanya Ukan?" Lalu kami tertawa bersama dan Aliyah pun langsung menyebutkan, "bukaan, Ikan! I !! "


Walaupun permainan ini sederhana ternyata it works :)

Untuk video saat saya dan Aliyah bermain bisa dilihat di sini yaa :)

Selamat bermain :)


Montessori Play and Learn: Menjadikan Kegiatan Bermain Lebih Bermakna

| on
September 30, 2019


Halo!

Saya sebenarnya kurang mengerti apa itu Montessori. Saya hanya sekedar pernah melihat dan mendengar, tidak begitu paham apa makna dan fungsinya bagi tumbuh kembang anak. Sampai pada saat membaca buku Elvina Liem Kusumo, yang Real Mom Real Journey, disitu saya mulai mengerti sedikit apa sebenarnya Montessori.
Pada dasarnya, sangat banyak pendekatan yang dapat kita adaptasi untuk pola asuh kita kepada anak. Tidak hanya pendekatan Montessori, tetapi juga ada beberapa pendekatan lain. Mau pilih yang mana, mau dikombinasikan seperti apa, fleksibel saja, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan anak kita :)

Nah, kali ini saya ingin berbagi tentang buku Montessori Play and Learn. Buku ini bukan ditulis langsung oleh Maria Montessori, melainkan oleh Lesley Britton, seorang Montessorian dan founder London Montessori Centre.

Lagi-lagi, buku ini tidak saya beli tetapi saya pinjam dari pinjam buku online andalan saya @pinjambukuanakdarrel. Cerita tentang bagaimana meminjam buku di @pinjambukuanakdarrel bisa di klik disini yaa :)

Oke, kembali ke buku Montessori Play and Learn. Buku ini merupakan cetakan tahun 2017, yang merupakan cetakan versi terjemahan dari Montessori Play and Learn terbitan Vermilion,London. Buku aslinya dicetak pertama kali pada tahun 1992. Diawal buku, Lesley Britton sedikit bercerita tentang Maria Montessori. Menjelaskan siapa sebenarnya Maria Montessori, bagaimana jenjang karir dan pengalamannya, sampai bagaimana akhirnya Maria Montessori sangat concern tentang pendidikan dan tumbuh kembang anak, walaupun latar belakang Maria Montessori sebenarnya bukan dari dunia psikolog seperti psikolog pendidikan, namun dari dunia kedokteran.


Kadang, kita ga pernah tau, orang yang ternyata punya latar belakang yang sedikit berbeda, ternyata dapat menjadi ahli di suatu bidang tertentu, kalau mau concern dan serius untuk terus belajar. Ini benar-benar menjadi pengingat dan motivasi bagi saya.

Di bagian berikutnya, Lesley Britton, menjabarkan bagaimana esensi dari metode Monstessori. Disini Lesley Britton menjelaskan bagaimana esensi Montessori  yang seringkali menimbulkan salah kaprah di masyarakat luas. 

Tahapan bagaimana menerapkan metode Monstessori dalam pengasuhan diijabarkan di bagian berikutnya. Semua dijelaskan dengan cukup detail dimulai dari mengembangkan kepribadian anak, bagaimana peran orangtua, dan bagaimana membantu penyesuaian sosial dan emosional anak.

Di bagian berikutnya, Lesley Britton memberi contoh aplikasi pendekatan Monstessori yang dapat kita lakukan di berbagai lingkungan tempat anak tumbuh dan melakukan aktivitas nya sehari-hari. Dimulai dari lingkungan rumah seperti kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga, sampai di lingkungan sekitar rumah, lingkungan sekolah, pedesaan, kota, negara dan alam semesta.

Semua aktivitasnya ternyata cukup sederhana, tidak serumit bayangan saya sebelumnya. Sesederhana bagaimana anak bermain dengan volume air yang ternyata dari sana anak dapat belajar konsep matematika sederhana tanpa perlu belajar konsep yang lebih rumit seperti langsung diajarin 1+1= 2.


Dari sini saya semakin belajar bahwa untuk mengenalkan sesuatu kepada anak, dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, secara pelan-pelan dan dilakukan dengan bertahap. Saya, yang masih suka kurang sabar ini, terkadang tidak menyadari hal itu. Penginnya, Aliyah langsung bisa, langsung mengerti apa maksud saya :'(

Tentang belajar dengan pelan-pelan

Saya jadi teringat saat berkunjung ke Klinik Anakku beberapa waktu lalu. Semua stimulasi yang disarankan untuk dilakukan, terutama yang berkaitan dengan aktivitas makan Aliyah, sebaiknya dilakukan dengan bertahap. Menaikkan tekstur makanannya dengan pelan-pelan. Mengganti ukuran sendoknya dengan pelan-pelan, dari sendok kecil, ke sendok yang sedikit lebih besar, sampai ke ukuran yang lebih besar lagi. Semuanya sebaiknua dilakukan secara bertahap.

Saya juga teringat saat sharing session dengan mbak Iput @iburakarayi tentang bagaimana sebaiknya mengenalkan huruf kepada anak. Dimulai dengan mengenalkan bentuk lebih dulu, seperti segitiga, bujur sangkar, lingkaran, sampai akhirnya anak familiar akan bentuk dan kemudian anak akan lebih mudah mengenal huruf. Semua ternyata ada tahapannya :)

Tentang Play and Learn

Di buku Montessori Play and Learn juga terdapat berbagai macam ide bermain yang dapat dilakukan di rumah dengan rentang umur bervariasi. Kalau sebelumnya saya sempat menduga pendekatan Montessori harus dengan aparatus yang banyak dijual dengan harga yang tidak murah,  ternyata saya keliru. Semua bahan bermain dapat dibuat sendiri di rumah dengan bahan-bahan yang ada di rumah :)


Dari buku Montessori Play and Learn ini, saya jadi belajar bagaiamana cara mengajarkan sesuatu kepada Aliyah dengan cara yang lebih seru. Jujur, hal ini sangat membantu saya untuk menyeimbangkan sistem belajar di sekolah Aliyah yang semi konvesional.

Dan akhirnya saya pun kepikiran,  sepertinya saya perlu membeli buku ini untuk sebagai pegangan di rumah, karena benar-benar sangat banyak ilmu yang dapat dipelajari dari buku ini.

Teman-teman mama-mama ada yang sudah membaca buku ini juga ga? Yuk sharing sama-sama disini :)

Semoga sharing saya bermanfaat ya :)


Pengalaman Stimulasi Kemampuan Bicara pada Aliyah

| on
September 20, 2019

Halo!

Bagaimana harinya hari ini teman-teman? Semoga menyenangkan ya :) Di postingan kali ini saya ini ingin berbagi pengalaman saya dan Aliyah dalam hal belajar berbicara. Sebenarnya sudah sejak lama ingin berbagi soal ini, namun maju mundur karena sepertinya teman-teman juga sudah banyak yang tahu dan mengerti bagaimana stimulasi untuk mengajarkan anak belajar berbicara :) Tapi akhirnya, saya berpikir siapa tahu pengalaman saya dan Aliyah ini dapat memberi sedikit tambahan informasi bagi teman-teman :)

Aliyah tergolong anak yang agak terlambat dalam berbicara. Saya tidak tahu pasti apakah Aliyah sudah termasuk dalam anak dengan speech delay atau tidak. Tapi, saat Aliyah berusia 20 bulan, kami sempat ke Klinik Anakku Surabaya, untuk screening tumbuh kembangnya. Saat itu, di samping memberi stimulasi untuk sensorik dan motoriknya, concernnya memang memberi stimulasi untuk kemampuan berbicara Aliyah, karena Aliyah ada indikasi agak terlambat.

Dari hasil screening saat itu, ketahuanlah penyebab Aliyah terlambat berbicara yang tergolong beragam. Kurang lebih sama seperti faktor penyebab keterlambatan bicara pada anak umumnya, seperti kurang diajak bercerita, pengenalan bahasa secara bilingual, pola makan Aliyah yang kurang tekstur dan, tentu saja kebiasaan menonton televisi/gagdet. 

Fungsi oral motor Aliyah juga belum maksimal, otot-otot di sekitar rahang dan mulutnya masih kurang kuat untuk mendukung Aliyah berbicara.

Maka, solusinya tentu saja saya perlu lebih banyak mengajak Aliyah bercerita dengan kalimat sederhana, lebih sering berbahasa Indonesia dengannya, meningkatnya tekstur menu makanannya sampai membatasi Aliyah dalam menonton televisi/gadget.

Stimulasi lain yang dapat dilakukan untuk melatih oral motor Aliyah adalah dengan lebih banyak latihan menghisap dan meniup. Beberapa permainan meniup kami coba lakukan di rumah. Seperti, meniup lilin, meniup potongan kertas kecil, meniup terompet, dan meniup bubble/ gelembung sabun. Dari kegiatan meniup, Aliyah memang terlihat cukup kesulitan. Gerakan bibirnya cenderung seperti menyembur, tidak bisa monyong seutuhnya :'D

ALSO READ: Bikin-bikin Di Taman: Tips Stimulasi Bicara Anak dan DIY Table Soccer Game


Untuk mengajak Aliyah bercerita sebenarnya susah-susah gampang bagi saya. Tidak jarang saya bingung harus memulai dari mana bercerita dengan Aliyah :') Saya mulai mencoba dengan membacakannya buku cerita, setiap saat entah siang atau malam. Saran dari psikolog Klinik Anakku untuk memulai mengenalkan kata sederhana dengan memenggal suku kata pun dilakukan. Seperti saat mengajaknya bermain di taman, dan berhitung 1,2,3 ketika akan meluncur di perosotan. Satu, dua,tiii......berhenti sejenak sampai Aliyah menyahut 'ga'. Atau saat Aliyah haus dan ingin minum, maka akan saya ambilkan setelah saya bilang Mii... dan Aliyah berhasil menyebut kata 'num'.

Buku cerita Aliyah yang berbahasa Inggris saya terjemahkan dengan random  menggunakan kata-kata sederhana dalam bahasa Indonesia. Tekstur makanan Aliyah juga mulai ditingkatkan, dari makan daging cincang yang halus, dicoba diganti pelan-pelan dengan daging yang teksturnya lebih kasar atau diiris tipis. Seiring berjalannya waktu, tekstur makanannya terus ditingkatkan sampai sekarang.

Sewaktu Aliyah berusia 2 tahun lebih sebulan, kami kembali ke Klinik Anakku Surabaya untuk kembali screening tumbuh kembang Aliyah. Beberapa aspek sensorik dan motoriknya sudah cukup berkembang saat itu. Namun, untuk kemampuan berbicaranya masih perlu distimulasi. Kali ini, oleh psikolog dari Klinik Anakku, Aliyah diberi sedotan ulir berbentuk hati berwarna pink kesukaan Aliyah. Harapannya, dengan menyedot minuman menggunakan sedotan ulir, otot-otot di sekitar rahang dam mulut Aliyah menjadi lebih kuat :)

Sedotan ulir yang saya beli di @articmediaterapi
Sedotan ulir ini digunakan setiap kali Aliyah minum untuk melatih daya hisapnya. Saya sempat mencoba juga minum dengan sedotan ini, dan memang butuh usaha ekstra untuk menyedot minuman dengan sedotan ini. Mungkin, karena sedotannya cukup eye cacthing, Aliyah sepertinya enjoy-enjoy saja mengggunakannya, hihi.

Selain latihan menghisap dengan sedotan ulir, stimulasi lain untuk melatih oral motor dan kemampuan berbicara Aliyah seperti yang saya sharing diatas tetap terus dilakukan.

Sudah dua tahun berlalu sejak screening Aliyah terakhir di Klinik Anakku. Bulan Mei yang lalu, kami kembali ke Klinik Anakku untuk kembali screening tumbuh kembang Aliyah. Alhamdulillah, surprisingly, menurut dokter yang menguji Aliyah saat itu, artikulasi berbicara Aliyah tergolong sangat jelas untuk anak seusianya. Walaupun begitu PR untuk tetap menggunakan sedotan ulir tetap berlanjut untuk memperjelas huruf R dan L pada saat Aliyah berbicara. Dalam hal ini, saya juga tidak tahu apakah Aliyah ada indikasi tongue tie atau tidak karena kemampuannya dalam mengucapkan kedua huruf tersebut belum sempurna (kalau soal tongue tie di periksa atau tidak, saya belum memeriksakannya, karena sebelumnya pernah membaca artikel kalau tongue tie bisa sembuh sendiri seiring semakin besarnya anak, namun memang ada juga yang perlu tindakan lebih lanjut. Saya masih di level observasi dulu, hehe) . Tapi, secara keseluruhan, hasil screening nya kali ini cukup baik. Yaiy!

Barangkali teman-teman mama ada yang ingin memulai stimulasi berbicara pada anak, jangan tunggu sampai seperti saya yaa.. Anaknya terlanjur terindikasi terlambat bicara baru distimulasi :')

Berikut beberapa tips untuk stimulasi bicara  pada anak berdasarkan pengalaman saya dan Aliyah, yang mungkin juga kurang lebih sama seperti pengalaman teman-teman mama yang lain,

1. Sering-sering mengajak anak bercerita. Kalau tipikal orang tua nya pendiam, bisa dimulai dengan membacakan buku cerita :) Sering mengajak anak bertemu dengan orang lain selain orang yang ada di rumah juga cukup membantu, apalagi yang sehari-harinya anak hanya dengan ayah dan ibu saja di rumah :)
2. Mengurangi penggunaan bahasa bilingual di rumah. Beberapa anak mungkin punya kemampuan lebih dalam berbahasa. Namun, beberapa anak lainnya bisa saja terbatas sehingga menyebabkan anak menjadi bingung dalam berbahasa. Kebetulan, Aliyah sepertinya tipikal yang agak bingung dengan dua bahasa.
3. Membatasi waktu anak menonton televisi/gadget. Kalau pun anak menonton, paling tidak tontonan anak dengan satu bahasa dengan gambar gerak yang tidak terlalu cepat. Baby TV Indonesia salah satu yang bisa jadi rekomendasinya :)
4. Berlatih memenggal suku kata untuk mengajak anak berbicara.
5. Meningkatkan tekstur makanan anak.
6. Banyak bermain dengan meniup.
7. Menghisap/menyedot minuman dengan sedotan ulir.

Oiya, untuk dimana bisa mendapatkan sedotan ulir, dari hasil browsingan saya,  tidak banyak toko yang menjual sedotan ulir. Satu-satunya yang saya dapat hanya di @articmediaterapi, toko online yang berjualan berbagai macam alat terapi.

Anyway, bagaimana dengan teman-teman mama? Ada yang punya pengalaman atau cerita tentang stimulasi bicara pada anak juga ga? Yuk sharing sama-sama di sini :)
Semoga sharing saya bermanfaat ya :)

Disclaimer: Setiap kasus terlambat berbicara pada anak bisa saja berbeda. Teman-teman mama dapat menghubungi para ahli seperti psikolog/dokter tumbuh kembang anak untuk mengetahui penyebab pastinya dan untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut :)