MEMILIH SEKOLAH UNTUK ALIYAH

| on
October 04, 2019

Halo!

Beberapa hari yang lalu saya sempat ingin berbagi cerita bagaimana pengalaman kami, saya dan suami saya, saat akan memilih sekolah Aliyah di instagram story, namun karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk membagi cerita ini ke teman-teman mama-mama melalui blog post ini lebih dulu :) Tadinya saya sempat sedikit ragu untuk membagi cerita pengalaman kami memilih sekolah untuk Aliyah, karena mungkin untuk beberapa orang, memilih sekolah sebenarnya hal yang sederhana saja, tidak perlu banyak pertimbangan apalagi jika usia anak baru saja mau duduk di bangku pra sekolah ataupun taman kanak-kanak. Dan, mungkin dulu saya juga termasuk salah satu orangtua yang berpikiran sama, sampai saat saya mengikuti Seminar Memilih Sekolah yang diadakan oleh tim #bikinbikinditaman milik mbak Iput @iburakarayi. 
Karena beberapa hari belakangan sangat ramai tentang survey biaya sekolah yang diadakan oleh The Urban Mama di instagram story, akhirnya saya semakin yakin untuk berbagi cerita memilih sekolah versi keluarga kami. Siapa tau ada sedikit informasi yang bisa didapat dari cerita kami untuk teman-teman mama-mama yang juga sedang mencari sekolah untuk anaknya :)

Oh iya, sebelum memulai, saya ingin menyamakan persepsi terlebih dulu dengan teman-teman, bahwa setiap kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga pasti berbeda, termasuk juga dalam hal memilih sekolah anak :) Dalam konteks ini, kebetulan kondisi keluarga kami adalah tipikal yang "on budget" dalam memilih sekolah untuk Aliyah. Tidak ada yang dikurangi, dan tidak ada yang dipaksakan :) Dan ini menjadi salah satu alasan, kenapa oh kenapa sepertinya cara kami memilih sekolah untuk Aliyah terlihat lebih "ribet" dibandingkan dengan yang lain. On budget dan banyak maunya, ya mestii berujung jadi beribet sendiri, kan akhirnya :')

Oke, kembali ke cerita pengalaman kami dalam memilih sekolah untuk Aliyah. Tahun ini Aliyah tepat berusia 4 tahun, dan sudah waktunya Aliyah untuk bersekolah menurut saya atas pengalaman membaca beberapa buku dan pengalaman berbagi dengan para sahabat. Mengapa Aliyah tidak bersekolah sejak usia 3 tahun? Sebenarnya, usia bukan merupakan tolak ukur yang utama untuk anak bersekolah. Semua kembali bergantung dari kebijakan masing-masing orangtua dan yang paling utama adalah bagaimana kesiapan anak itu sendiri untuk mulai bersekolah. 

Belajar dari masa lalu saya dan adik-adik saya yang mulai bersekolah di usia yang masih muda (yang kini saya sadari bahwa sungguh itu terlalu muda :')) Dari pengalaman masa kecil yang cukup traumatis bagi saya dan adik-adik tersebut, membuat saya berpikir bahwa, hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak, jika anak belum benar-benar siap untuk bersekolah. Pada akhirnya dapat berpengaruh pada kemampuan/kematangan cara berpikir anak, kondisi emosional, dan kemampuan menghadapi masalah (walaupun juga terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi ketiga hal diatas) di masa depan. Dan, saya tidak ingin kejadian tersebut berulang kembali pada Aliyah. 

Kembali kepada bagaimana kesiapan anak untuk bersekolah. Dari beberapa buku dan artikel yang saya baca, salah satunya dari Buku Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, anak dikatakan dapat mulai bersekolah beberapa diantaranya adalah ketika: 

1. Anak sudah selesai dengan toilet trainingnya, 
2. Kemampuan sosial anak yang semakin berkembang
3. Kemampuan berbahasa anak yang semakin berkembang
4. Sudah bisa makan dan minum sendiri
5. Sudah menujukkan tanda-tanda kemandirian.
Pada saat Aliyah berusia 3 tahun, saya pernah mencoba untuk mengajaknya bermain-main ke sekolah yang cukup dekat dengan rumah kami. Hasilnya, saat itu, Aliyah hanya tertarik ke sekolah untuk bermain perosotan :') Aliyah belum mau masuk ke kelas dan berinteraksi dengan guru dan teman-temannya. Aliyah memang tipikal anak yang butuh waktu beradaptasi yang cukup lama, tidak hanya hitungan jam, bahkan bisa sampai hitungan hari ataupun minggu :') Saya juga sempat mengajak Aliyah ke tempat les bahasa Inggris, dengan pikiran mungkin saja waktu les yang hanya sebentar dapat melatih Aliyah untuk terbiasa  berada di dalam kelas, namun hasilnya, sekedar untuk trial class saja Aliyah menangis dan menolak ikut masuk kelas. Dari trial and error ini, saya akhirnya bisa menerima pesan dari Aliyah bahwa ia belum siap untuk bersekolah ataupun sejenisnya :)

Sembari menunggu Aliyah siap untuk bersekolah, saya mulai mengajaknya untuk lebih sering bermain dengan orang lain (Aliyah anak rumahan yang seringnya bermain dengan saya, atau keluarga inti yang lain). Aliyah mulai berkenalan dengan anak tetangga, dan belajar untuk bermain bersama. Setiap sore saya mengajaknya untuk bermain di taman kompleks rumah, bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Semua yang kenal dengan Aliyah akan tau banget kalau belum pernah bertemu, Aliyah pasti akan menolak itu mendekat bahkan sekedar untuk cium tangan, hehehe. Saya tidak memaksanya karena saya percaya Aliyah punya waktunya sendiri, dan memang tipe temperamennya seperti itu. 

Memasuki usia 3,5 tahun Aliyah mulai menujukkan tanda-tanda perkembangan dalam kemampuan sosialnya. Aliyah mulai kebingungan mencari teman bermain kalau sedang di rumah dan senang jika rumah kami ramai karena kunjungan dari keluarga dan kerabat. Dari sini saya seperti mendapat pesan dari Aliyah kalau ia sudah  siap untuk bersekolah :)

Tentang Memilih Sekolah untuk Aliyah

Memilih sekolah untuk Aliyah gampang-gampang susah bagi kami karena ya itu tadi, seperti yang sudah saya ceritakan diatas, kalau kami tipikal yang "on budget" tapi banyak maunya, hehehe. Pertanyaannya kemudian, apakah semua kriteria yang diinginkan terpenuhi? Tentu saja tidak, mengingat "on budget" tadi dan memang pilihan yang tersedia di kota kami juga tidak banyak jika dibandingkan dengan kota lain. Waktu itu kami sempat survey ke 6 sampai 7 sekolah pra sekolah dan taman kanak-kanak, hihihi. 

Beberapa pertimbangan kami dalam mencari sekolah untuk Aliyah:

1. Sekolah yang dekat dari rumah, walaupun kami juga sempat survey ke sekolah yang berjarak 5-6 km dari rumah. Memilih sekolah yang dekat dari rumah sebagai antisipasi anak akan lelah/ kehabisan waktu di jalan, sehingga tidak semangat untuk bersekolah.
2. Berbasis agama 
3. Rasio guru dan anak yang cukup berimbang, dengan jumlah anak per kelas tidak lebih dari 10 murid. Dari standar NAEYC (National Association for the Education of Young Children) yang dikutip dari Buku Panduan Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, paling tidak untuk anak usia 0-2 tahun, 1 guru mewakili 4 murid, usia 2-4 tahun, 1 guru mewakili 6 murid dan usia 4-6 tahun, 1 guru mewakili 10 murid.
4. Sistem kelas sentra/ moving class untuk menghindari anak merasa bosan.
5. Kelas yang luas tanpa meja dan tempat duduk yang tertata rapi (kalaupun ada tempat duduk dan meja, sebaiknya ditata secara melingkar atau saling berhadapan) sebagai tanda bahwa setiap anak dapat saling berinteraksi satu sama lain, serta berinteraksi dengan gurunya dengan porsi yang seimbang.
6. Sekolah yang concern dengan kebersihan sebagai tanda bahwa menjaga kebersihan juga merupakan bagian dari pendidikan
7. Tersedia sarana dan alat belajar yang cukup untuk anak bermain dan belajar yang diletakkan secara rapi di rak rendah serta dilengkapi dengan tulisan untuk mempermudah anak mengambil dan mengembalikannya.
8. Hasil karya semua anak yang dipajang di tembok kelas sebagai tanda bahwa setiap karya mendapat apresiasi yang sama tanpa harus menjadi yang paling sempurna.
9. Jam masuk sekolah yang tidak terlalu pagi, bahkan cenderung siang sebagai antisipasi anak trauma berangkat ke sekolah karena terpaksa bangun pagi. Bukannya tidak ingin melatih Aliyah untuk bangun pagi, namun Aliyah adalah tipikal anak yang cukup 'moody' dan selalu membutuhkan waktu sejak ia bangun pagi sampai mood nya benar-benar bagus dan siap untuk berangkat ke sekolah. Saya salah satu yang percaya kalau dengan mood yang bagus anak akan lebih mudah menjalani harinya di sekolah :) Hal ini juga untuk menghindari Aliyah terlambat berangkat ke sekolah jika jam belajarnya terlalu pagi (in case, Aliyah masih dalam tahap belajar dan menyesuaikan diri dengan ritme aktivitasnya yang berubah karena sekolah) :)
10. Guru-guru yang cukup terbuka, ramah pada anak secara natural, dan komunikatif dengan orangtua murid.
11. Jadwal sekolah yang tidak terlalu padat mengingat Aliyah masih akan masuk usia pra sekolah. Kami lebih memilih sekolah yang jadwalnya selang seling antara sekolah-libur-sekolah atau sederhananya hanya 3-4 hari sekolah/minggu, daripada yang full senin-jumat.

Step by step dalam memilih sekolah untuk Aliyah

1. Sebelum survey fisik, saya dan suami mencari informasi lebih dulu dengan browsing di internet kira-kira sekolah mana saja yang akan kami kunjungi untuk memperkecil lingkup survey kami.
2. Kami survey setiap hari sabtu, yang rata-rata di beberapa sekolah sedang berlangsung kegiatan belajar-mengajar. Kami juga mengajak serta Aliyah untuk ikut survey sekolah karena paling tidak Aliyah punya gambaran seperti 
sekolah yang sebenarnya. Rata-rata Aliyah suka di sekolah karena ada playgroundnya, hahaha.
3. Saat survey, kami berusaha berkomunikasi dengan pihak sekolah secara terbuka, baik guru ataupun kepala sekolah. Menanyakan tentang apa saja kegiatan di sekolah, jam belajar anak, berapa jumlah murid per kelas dan jumlah guru yang mengajar per kelasnya, serta program lain seperti kegiatan keagamaan, ekstrakulikuler, outbond, studi tur, dll yang mendukung kegiatan belajar mengajar.
4. Kondisi fisik dan lingkungan sekitar sekolah juga diperhatikan. Saya selalu bertanya tentang bagaimana jika anak ingin ke toilet, melihat kondisi kebersihan toiletnya, memperhatikan bagaimana guru menghandle anak yang tantrum atau bertengkar,  serta memperhatikan bagaimana keamanan anak saat orangtua terlambat menjemput.
5. Sebisa mungkin kami mengikutkan Aliyah pada program trial class jika pihak sekolah menyediakan program tersebut. Saya juga selalu berusaha mendampingi agar dapat melihat langsung bagaimana gambaran kegiatan di sekolah berlangsung.
6. Karena kami 'on budget', kami selalu berusaha realistis saat membaca rincian-rincian biaya yang ditetapkan dari masing-masing sekolah. Oleh karena nya sangat penting untuk survey fisik dan bertanya-tanya sebanyak mungkin informasi yang ingin kami ketahui tentang sekolah yang di survey agar kami dapat membandingkan apakah biaya yang tertera di brosur sesuai dengan kegiatan, fasilitas,  dan sarana belajar atau tidak. Jujur, dari survey kami, beberapa sekolah tidak cukup relevan antara biaya dengan kegiatan, fasilitas serta sarana belajarnya.

Tentang keputusan memilih sekolah

Pada akhirnya kami memutuskan memilih sekolah untuk Aliyah yang tidak begitu jauh dari rumah kami, berjarak sekitar -/+ 1,5 km. Tadinya kami tidak tahu bahwa ada sekolah ini di dekat rumah kami. Setelah suami saya browsing dan mencari di Google, kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi sekolah Aliyah. Sejatinya bahwa tidak ada satu pun yang sempurna di dunia ini, sama halnya dengan sekolah Aliyah. Tidak semua kriteria kami diatas dapat terpenuhi, tapi paling tidak sebagian besar sudah mewakili kebutuhan kami. Yang paling utama sebenarnya adalah karena sistem kelas di sekolah Aliyah adalah sistem sentra yang dinamis. Jadi Aliyah belajar di sentra yang berbeda setiap harinya.


Berikut beberapa hal yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk Aliyah bersekolah di sekolahnya saat ini:

1. Sistem kelas sentra/moving class. Di sekolah Aliyah terdapat 6 kelas sentra yang terdiri dari, Sentra Balok, Sentra Peran, Sentra Musik dan Olah Tubuh, Sentra Alam, Sentra Seni & Kreatifitas, dan Sentra Keaksaraan.
2. Sarana dan alat belajar cukup variatif dan lengkap yang semuanya diletakkan di rak rendah dengan dilengkapi keterangan tulisan untuk memudahkan anak mengambil dan mengembalikannya.
3. Perbandingan guru dan murid per kelas nya -/+ 1:2. Jumlah murid per kelas tidak lebih dari 10, dengan jumlah guru -/+ 3 orang, (wali kelas, guru sentra dan guru pendamping).
4. Tersedia pilihan jam masuk sekolah, pagi atau siang dengan jadwal sekolah 3-4 hari/minggu.
5. Tidak begitu berbasis agama, tapi setiap pagi sebelum mulai belajar, ada kegiatan religion lebih dulu seperti mengaji, membaca surat-surat pendek, besholawat, dll.
6. Guru-guru yang ramah dan komunikatif secara natural dengan anak dan orangtua anak.
7. Tersedia beberapa kegiatan yang mendukung kegiatan belajar seperti ekstrakulikuler, keagamaan, outbond dan studi tur.


Kalau diatas adalah kebutuhan kami dan Aliyah yang dapat terpenuhi di sekolah Aliyah saat ini, berikut beberapa kebutuhan kami dan Aliyah yang tidak dapat terpenuhi di sekolah Aliyah saat ini:

1. Playground yang mumpuni. Aliyah merupakan tipikal anak kinestetik yang sangat aktif dan selalu butuh sarana untuk menggerakkan bagian tubuhnya. Di sekolahnya tidak tersedia plyaground yang cukup aman dan mumpuni untuk Aliyah bermain. Untuk hal ini dapat saya maklumi, karena saya pikir toh Aliyah masih dapat bermain di taman kompleks rumah kami setiap sore, atau sesekali bermain di playground mall.
2. Ekstrakulikuler yang tersedia sangat basic, seperti menari, mewarnai, fashion, dll. Tidak tersedia ekstrakulikuler olahraga seperti panahan, atau science seperti robotic, dll. Untuk ekskul yang agak canggih-canggih ini sebenarnya tersedia di sekolah yang diatas budget kami. Namun karena tidak ingin memaksakan juga, saya coba untuk ambil jalan tengah dengan mencari tempat les diluar sambil melihat potensi bakat dan minat Aliyah. Sejauh ini sepertinya minat Aliyah lebih ke olah tubuh seperti menari balet.
3. Walaupun sistem kelasnya sentra, pola belajar dan mengajar di sekolah Aliyah masih semi konvensional menurut saya, imho :) Hal ini saya coba siasatin saat bermain dengan Aliyah di rumah. Apa yang diajarkan gurunya di sekolah, saya ulang kembali di rumah dengan cara yang berbeda. Harapan saya, paling tidak tujuan saya dan gurunya seiringan, masih bisa memenuhi kebutuhan Aliyah, di sisi lain Aliyah juga tetap merasa nyaman dan tidak mudah bosan :)

Sejauh ini, proses Aliyah menjalani hari-hari si sekolah nya Alhamdulillah tidak ada hambatan yang berarti, walaupun seminggu pertama memang ada drama karena Aliyah masih perlu beradaptasi :) Tapi sejauh ini cukup oke, pagi hari  Aliyah dilalui dengan semangat untuk ketemu guru dan main dengan teman-teman :)

Pada intinya, setiap kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga pasti berbeda dalam memilih sekolah. Versi kebutuhan kami, belum tentu sama dengan versi kebutuhan teman-teman mama-mama :) Kalaupun sama, pasti ada satu dan lain hal yang berbeda :) Saya masih selalu ingat pesan dari Pak Bukik Setiawan, salah satu penulis Buku Panduan Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, bila tidak ada sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan kita dan anak 100%,  orangtua punya pilihan untuk memenuhi kebutuhan anak dengan cara yang lain :)

Anyway, bagaimana menurut teman-teman mama-mama? Yuk share sama-sama di sini :)

Semoga sharing saya bermanfaat ya :)

Disclaimer: Tulisan diatas semata-mata atas dasar referensi dan pengalaman pribadi. Kebutuhan dan kondisi setiap anak dan keluarga bisa saja berbeda dalam memilih sekolah sesuai dengan referensi dan pengalaman masing-masing :)

*mohon maaf untuk keterbatasan foto yang ditampilkan mengingat informasi mengenai sekolah dan atributnya adalah privasi anak yang perlu kita jaga bersama :)










Montessori Play and Learn: Menjadikan Kegiatan Bermain Lebih Bermakna

| on
September 30, 2019


Halo!

Saya sebenarnya kurang mengerti apa itu Montessori. Saya hanya sekedar pernah melihat dan mendengar, tidak begitu paham apa makna dan fungsinya bagi tumbuh kembang anak. Sampai pada saat membaca buku Elvina Liem Kusumo, yang Real Mom Real Journey, disitu saya mulai mengerti sedikit apa sebenarnya Montessori.
Pada dasarnya, sangat banyak pendekatan yang dapat kita adaptasi untuk pola asuh kita kepada anak. Tidak hanya pendekatan Montessori, tetapi juga ada beberapa pendekatan lain. Mau pilih yang mana, mau dikombinasikan seperti apa, fleksibel saja, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan anak kita :)

Nah, kali ini saya ingin berbagi tentang buku Montessori Play and Learn. Buku ini bukan ditulis langsung oleh Maria Montessori, melainkan oleh Lesley Britton, seorang Montessorian dan founder London Montessori Centre.

Lagi-lagi, buku ini tidak saya beli tetapi saya pinjam dari pinjam buku online andalan saya @pinjambukuanakdarrel. Cerita tentang bagaimana meminjam buku di @pinjambukuanakdarrel bisa di klik disini yaa :)

Oke, kembali ke buku Montessori Play and Learn. Buku ini merupakan cetakan tahun 2017, yang merupakan cetakan versi terjemahan dari Montessori Play and Learn terbitan Vermilion,London. Buku aslinya dicetak pertama kali pada tahun 1992. Diawal buku, Lesley Britton sedikit bercerita tentang Maria Montessori. Menjelaskan siapa sebenarnya Maria Montessori, bagaimana jenjang karir dan pengalamannya, sampai bagaimana akhirnya Maria Montessori sangat concern tentang pendidikan dan tumbuh kembang anak, walaupun latar belakang Maria Montessori sebenarnya bukan dari dunia psikolog seperti psikolog pendidikan, namun dari dunia kedokteran.


Kadang, kita ga pernah tau, orang yang ternyata punya latar belakang yang sedikit berbeda, ternyata dapat menjadi ahli di suatu bidang tertentu, kalau mau concern dan serius untuk terus belajar. Ini benar-benar menjadi pengingat dan motivasi bagi saya.

Di bagian berikutnya, Lesley Britton, menjabarkan bagaimana esensi dari metode Monstessori. Disini Lesley Britton menjelaskan bagaimana esensi Montessori  yang seringkali menimbulkan salah kaprah di masyarakat luas. 

Tahapan bagaimana menerapkan metode Monstessori dalam pengasuhan diijabarkan di bagian berikutnya. Semua dijelaskan dengan cukup detail dimulai dari mengembangkan kepribadian anak, bagaimana peran orangtua, dan bagaimana membantu penyesuaian sosial dan emosional anak.

Di bagian berikutnya, Lesley Britton memberi contoh aplikasi pendekatan Monstessori yang dapat kita lakukan di berbagai lingkungan tempat anak tumbuh dan melakukan aktivitas nya sehari-hari. Dimulai dari lingkungan rumah seperti kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga, sampai di lingkungan sekitar rumah, lingkungan sekolah, pedesaan, kota, negara dan alam semesta.

Semua aktivitasnya ternyata cukup sederhana, tidak serumit bayangan saya sebelumnya. Sesederhana bagaimana anak bermain dengan volume air yang ternyata dari sana anak dapat belajar konsep matematika sederhana tanpa perlu belajar konsep yang lebih rumit seperti langsung diajarin 1+1= 2.


Dari sini saya semakin belajar bahwa untuk mengenalkan sesuatu kepada anak, dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, secara pelan-pelan dan dilakukan dengan bertahap. Saya, yang masih suka kurang sabar ini, terkadang tidak menyadari hal itu. Penginnya, Aliyah langsung bisa, langsung mengerti apa maksud saya :'(

Tentang belajar dengan pelan-pelan

Saya jadi teringat saat berkunjung ke Klinik Anakku beberapa waktu lalu. Semua stimulasi yang disarankan untuk dilakukan, terutama yang berkaitan dengan aktivitas makan Aliyah, sebaiknya dilakukan dengan bertahap. Menaikkan tekstur makanannya dengan pelan-pelan. Mengganti ukuran sendoknya dengan pelan-pelan, dari sendok kecil, ke sendok yang sedikit lebih besar, sampai ke ukuran yang lebih besar lagi. Semuanya sebaiknua dilakukan secara bertahap.

Saya juga teringat saat sharing session dengan mbak Iput @iburakarayi tentang bagaimana sebaiknya mengenalkan huruf kepada anak. Dimulai dengan mengenalkan bentuk lebih dulu, seperti segitiga, bujur sangkar, lingkaran, sampai akhirnya anak familiar akan bentuk dan kemudian anak akan lebih mudah mengenal huruf. Semua ternyata ada tahapannya :)

Tentang Play and Learn

Di buku Montessori Play and Learn juga terdapat berbagai macam ide bermain yang dapat dilakukan di rumah dengan rentang umur bervariasi. Kalau sebelumnya saya sempat menduga pendekatan Montessori harus dengan aparatus yang banyak dijual dengan harga yang tidak murah,  ternyata saya keliru. Semua bahan bermain dapat dibuat sendiri di rumah dengan bahan-bahan yang ada di rumah :)


Dari buku Montessori Play and Learn ini, saya jadi belajar bagaiamana cara mengajarkan sesuatu kepada Aliyah dengan cara yang lebih seru. Jujur, hal ini sangat membantu saya untuk menyeimbangkan sistem belajar di sekolah Aliyah yang semi konvesional.

Dan akhirnya saya pun kepikiran,  sepertinya saya perlu membeli buku ini untuk sebagai pegangan di rumah, karena benar-benar sangat banyak ilmu yang dapat dipelajari dari buku ini.

Teman-teman mama-mama ada yang sudah membaca buku ini juga ga? Yuk sharing sama-sama disini :)

Semoga sharing saya bermanfaat ya :)


Pengalaman Stimulasi Kemampuan Bicara pada Aliyah

| on
September 20, 2019

Halo!

Bagaimana harinya hari ini teman-teman? Semoga menyenangkan ya :) Di postingan kali ini saya ini ingin berbagi pengalaman saya dan Aliyah dalam hal belajar berbicara. Sebenarnya sudah sejak lama ingin berbagi soal ini, namun maju mundur karena sepertinya teman-teman juga sudah banyak yang tahu dan mengerti bagaimana stimulasi untuk mengajarkan anak belajar berbicara :) Tapi akhirnya, saya berpikir siapa tahu pengalaman saya dan Aliyah ini dapat memberi sedikit tambahan informasi bagi teman-teman :)

Aliyah tergolong anak yang agak terlambat dalam berbicara. Saya tidak tahu pasti apakah Aliyah sudah termasuk dalam anak dengan speech delay atau tidak. Tapi, saat Aliyah berusia 20 bulan, kami sempat ke Klinik Anakku Surabaya, untuk screening tumbuh kembangnya. Saat itu, di samping memberi stimulasi untuk sensorik dan motoriknya, concernnya memang memberi stimulasi untuk kemampuan berbicara Aliyah, karena Aliyah ada indikasi agak terlambat.

Dari hasil screening saat itu, ketahuanlah penyebab Aliyah terlambat berbicara yang tergolong beragam. Kurang lebih sama seperti faktor penyebab keterlambatan bicara pada anak umumnya, seperti kurang diajak bercerita, pengenalan bahasa secara bilingual, pola makan Aliyah yang kurang tekstur dan, tentu saja kebiasaan menonton televisi/gagdet. 

Fungsi oral motor Aliyah juga belum maksimal, otot-otot di sekitar rahang dan mulutnya masih kurang kuat untuk mendukung Aliyah berbicara.

Maka, solusinya tentu saja saya perlu lebih banyak mengajak Aliyah bercerita dengan kalimat sederhana, lebih sering berbahasa Indonesia dengannya, meningkatnya tekstur menu makanannya sampai membatasi Aliyah dalam menonton televisi/gadget.

Stimulasi lain yang dapat dilakukan untuk melatih oral motor Aliyah adalah dengan lebih banyak latihan menghisap dan meniup. Beberapa permainan meniup kami coba lakukan di rumah. Seperti, meniup lilin, meniup potongan kertas kecil, meniup terompet, dan meniup bubble/ gelembung sabun. Dari kegiatan meniup, Aliyah memang terlihat cukup kesulitan. Gerakan bibirnya cenderung seperti menyembur, tidak bisa monyong seutuhnya :'D

ALSO READ: Bikin-bikin Di Taman: Tips Stimulasi Bicara Anak dan DIY Table Soccer Game


Untuk mengajak Aliyah bercerita sebenarnya susah-susah gampang bagi saya. Tidak jarang saya bingung harus memulai dari mana bercerita dengan Aliyah :') Saya mulai mencoba dengan membacakannya buku cerita, setiap saat entah siang atau malam. Saran dari psikolog Klinik Anakku untuk memulai mengenalkan kata sederhana dengan memenggal suku kata pun dilakukan. Seperti saat mengajaknya bermain di taman, dan berhitung 1,2,3 ketika akan meluncur di perosotan. Satu, dua,tiii......berhenti sejenak sampai Aliyah menyahut 'ga'. Atau saat Aliyah haus dan ingin minum, maka akan saya ambilkan setelah saya bilang Mii... dan Aliyah berhasil menyebut kata 'num'.

Buku cerita Aliyah yang berbahasa Inggris saya terjemahkan dengan random  menggunakan kata-kata sederhana dalam bahasa Indonesia. Tekstur makanan Aliyah juga mulai ditingkatkan, dari makan daging cincang yang halus, dicoba diganti pelan-pelan dengan daging yang teksturnya lebih kasar atau diiris tipis. Seiring berjalannya waktu, tekstur makanannya terus ditingkatkan sampai sekarang.

Sewaktu Aliyah berusia 2 tahun lebih sebulan, kami kembali ke Klinik Anakku Surabaya untuk kembali screening tumbuh kembang Aliyah. Beberapa aspek sensorik dan motoriknya sudah cukup berkembang saat itu. Namun, untuk kemampuan berbicaranya masih perlu distimulasi. Kali ini, oleh psikolog dari Klinik Anakku, Aliyah diberi sedotan ulir berbentuk hati berwarna pink kesukaan Aliyah. Harapannya, dengan menyedot minuman menggunakan sedotan ulir, otot-otot di sekitar rahang dam mulut Aliyah menjadi lebih kuat :)

Sedotan ulir yang saya beli di @articmediaterapi
Sedotan ulir ini digunakan setiap kali Aliyah minum untuk melatih daya hisapnya. Saya sempat mencoba juga minum dengan sedotan ini, dan memang butuh usaha ekstra untuk menyedot minuman dengan sedotan ini. Mungkin, karena sedotannya cukup eye cacthing, Aliyah sepertinya enjoy-enjoy saja mengggunakannya, hihi.

Selain latihan menghisap dengan sedotan ulir, stimulasi lain untuk melatih oral motor dan kemampuan berbicara Aliyah seperti yang saya sharing diatas tetap terus dilakukan.

Sudah dua tahun berlalu sejak screening Aliyah terakhir di Klinik Anakku. Bulan Mei yang lalu, kami kembali ke Klinik Anakku untuk kembali screening tumbuh kembang Aliyah. Alhamdulillah, surprisingly, menurut dokter yang menguji Aliyah saat itu, artikulasi berbicara Aliyah tergolong sangat jelas untuk anak seusianya. Walaupun begitu PR untuk tetap menggunakan sedotan ulir tetap berlanjut untuk memperjelas huruf R dan L pada saat Aliyah berbicara. Dalam hal ini, saya juga tidak tahu apakah Aliyah ada indikasi tongue tie atau tidak karena kemampuannya dalam mengucapkan kedua huruf tersebut belum sempurna (kalau soal tongue tie di periksa atau tidak, saya belum memeriksakannya, karena sebelumnya pernah membaca artikel kalau tongue tie bisa sembuh sendiri seiring semakin besarnya anak, namun memang ada juga yang perlu tindakan lebih lanjut. Saya masih di level observasi dulu, hehe) . Tapi, secara keseluruhan, hasil screening nya kali ini cukup baik. Yaiy!

Barangkali teman-teman mama ada yang ingin memulai stimulasi berbicara pada anak, jangan tunggu sampai seperti saya yaa.. Anaknya terlanjur terindikasi terlambat bicara baru distimulasi :')

Berikut beberapa tips untuk stimulasi bicara  pada anak berdasarkan pengalaman saya dan Aliyah, yang mungkin juga kurang lebih sama seperti pengalaman teman-teman mama yang lain,

1. Sering-sering mengajak anak bercerita. Kalau tipikal orang tua nya pendiam, bisa dimulai dengan membacakan buku cerita :) Sering mengajak anak bertemu dengan orang lain selain orang yang ada di rumah juga cukup membantu, apalagi yang sehari-harinya anak hanya dengan ayah dan ibu saja di rumah :)
2. Mengurangi penggunaan bahasa bilingual di rumah. Beberapa anak mungkin punya kemampuan lebih dalam berbahasa. Namun, beberapa anak lainnya bisa saja terbatas sehingga menyebabkan anak menjadi bingung dalam berbahasa. Kebetulan, Aliyah sepertinya tipikal yang agak bingung dengan dua bahasa.
3. Membatasi waktu anak menonton televisi/gadget. Kalau pun anak menonton, paling tidak tontonan anak dengan satu bahasa dengan gambar gerak yang tidak terlalu cepat. Baby TV Indonesia salah satu yang bisa jadi rekomendasinya :)
4. Berlatih memenggal suku kata untuk mengajak anak berbicara.
5. Meningkatkan tekstur makanan anak.
6. Banyak bermain dengan meniup.
7. Menghisap/menyedot minuman dengan sedotan ulir.

Oiya, untuk dimana bisa mendapatkan sedotan ulir, dari hasil browsingan saya,  tidak banyak toko yang menjual sedotan ulir. Satu-satunya yang saya dapat hanya di @articmediaterapi, toko online yang berjualan berbagai macam alat terapi.

Anyway, bagaimana dengan teman-teman mama? Ada yang punya pengalaman atau cerita tentang stimulasi bicara pada anak juga ga? Yuk sharing sama-sama di sini :)
Semoga sharing saya bermanfaat ya :)

Disclaimer: Setiap kasus terlambat berbicara pada anak bisa saja berbeda. Teman-teman mama dapat menghubungi para ahli seperti psikolog/dokter tumbuh kembang anak untuk mengetahui penyebab pastinya dan untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut :)





Berhenti Untuk Kembali :)

| on
September 13, 2019

Halo!


Apa kabar teman-teman mama? Satu bulan berlalu sejak tulisan terakhir saya di blog ini, sampai akhirnya saya kembali dan membuat tulisan ini :) 

Sebulan terakhir saya tidak update postingan apapun di blog, juga tidak terlalu sering berbagi di sosial media seperti biasanya. Sedang mencoba belajar untuk memahami diri sendiri, bagaimana cara berinteraksi di media sosial dengan baik, dunia blogging dan sejenisnya, bagaimana dampaknya bagi saya secara mental, serta bagaimana pula dampaknya bagi teman-teman mama yang membaca sharing saya selama ini, membuat saya berhenti sejenak. Apakah saya benar-benar berbagi manfaat kepada teman-teman? Atau hanya sekedar sok tahu, dan lupa bahwa diluar sana masih banyak yang jauh lebih tahu banyak daripada saya. 

Tentang berhenti sejenak

Berbagi pengalaman dan berusaha membuat konten yang bermanfaat awalnya dibuat dengan tujuan sederhana untuk sekedar untuk berbagi siapa tahu ada yang juga related dengan pengalaman yang saya alami. Namun, seiring berjalannya waktu, tujuan sederhana itu kemudian berubah menjadi tuntutan. Saya menuntut diri sendiri untuk terus update agar tidak ketinggalan dengan yang lain. Lalu menjadi lupa akan tujuan diawal.

Proses yang berulang, kebuntuan akan ide sampai pada titik membuat saya menjadi sedikit bosan dalam melakukannya. Berusaha untuk tidak ketinggalan membuat mental saya menjadi kurang sehat. Saya menjadi lebih mudah marah kepada siapa pun. I'm getting stuck! Lalu saya berpikir, mungkin mundur sejenak, berhenti sebentar akan membuat saya merasa jauh lebih baik. Kembali mengkaji apakah yang dilakukan selama ini benar-benar bermanfaat atau tidak. Mencoba tidak menulis sampai rindu menulis. Membaca buku yang tidak disuka, sampai rindu untuk membaca buku kesukaan. Tidak berbagi sampai rindu untuk berbagi. 

Tentang berbagi

Berbagi kepada teman-teman mama-mama merupakan alasan utama mengapa saya mencoba untuk kembali. Berbagi adalah tujuan awal saya yang sempat terlupakan. Berbagi bukan untuk sok-sokan karena saya pun masih perlu banyak belajar, dan masih banyak teman-teman mama-mama yang lebih tau dari saya.

Berbagi melalui akun media sosial sebaiknya memang memberi kebaikan untuk pemiliknya dan teman-teman yang membacanya sekecil apapun itu. Karenanya, mencoba menjadi lebih berhati-hati untuk membuat postingan pun dipertimbangkan. Dan memikirkan bagaimana caption yang tepat agar tidak menyakiti siapapun. Repot? Iya, repot.

Tidak jarang, setelah repot-repot membuat konten yang kira-kira bermanfaat, ternyata respon yang didapatkan terkadang tidak sesuai harapan. Sedikit yang membaca, sedikit yang suka, sedikit yang sharing. Then, am i feeling down about it? Yes, sometimes. I'm just a human :)

Dan pagi ini, di tengah-tengah perhentian saya, saya membaca postingan dan tulisan Puty Puar berjudul "Karena Proses Mungkin Tentang Hal-Hal Yang Membosankan". Seperti biasa ciri khas Puty Puar yang menulis tanpa bertele-tele  namun sangat berarti, saya mendapat poin penting yang saya cari selama ini, setelah membaca tulisan tersebut. Ternyata memang saya sedang berproses. Rasa bosan dan stuck itu adalah bagian dari proses. Dan saya tidak sendirian. Puty Puar, pun pernah mengalaminya. I'm 1000% related with it. Sangat banyak orang sukses yang mengingatkan untuk sabar menjalani setiap proses menuju kesuksesan, namun sangat sedikit yang menjelaskan seperti apa prosesnya. Mengalami naik turun sudah pasti. Tapi, tentang bertahan pada rasa bosan, saya baru saja mengetahuinya setelah membaca tulisan Puty Puar diatas. 

Jadi, ya! Saya kembali ke blog ini. Mengelap debu-debu yang sedikit menempel. Mencoba kembali berbagi, dan sudah siap dealing dengan segala respon yang kelak diterima nanti. Apapun responnya, saya percaya bahwa saya dan teman-teman dapat saling menerima :) Semoga nanti apa yang coba saya bagi dapat membawa manfaat untuk teman-teman, dan semoga tidak lagi menjadi terlalu sok tahu seperti yang dulu :)

*mohon maafkan saya yang lalu, yang terkadang masih suka menjadi terlalu sok tahu :)



Sup Jamur Yang Terinspirasi dari Resep dr. Zaidul Akbar

| on
August 08, 2019

Halo!

Beberapa waktu lalu, tepatnya setelah momen lebaran tahun ini, saya sempat membaca postingan instagram dari dokter @zaidulakbar, tentang resepsup Jamur untuk mendetox tubuh dari berbagai macam makanan yang kita makan saat lebaran.

Resep yang saya baca waktu itu sederhaha, membuat sup seperti biasa, lalu ditambahkan kayu manis, jahe, dan aneka jamur-jamuran.

Saya pun mencoba membuatnya di rumah, dengan berusaha memahami resep sup biasa seperti apa,hehe. Resepnya sedikit dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan makan Aliyah. Alhamdulillah ternyata Aliyah suka makan sup jamur ini :)

Nah, kemarin karena Aliyah sedang flu, saya kembali membuat sup ini lagi karena konon jamur juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Di Cina, sup jamur biasa dibuat untuk mengurangi gejala flu.


Sup Jamur ala mama Yaya:

Bahan:
Ayam kampung, potong kecil
Jamur kuping
Jamur champignon
Jamur bunapi
Wortel, potong sesuai selera

Bumbu:
Bawang putih 2-3 siung, digeprek
Kayu Manis secukupnya
Jahe, satu ruas/seukuran ibu jari
Batang bawang, iris tebal
Garam
Lada halus

Cara membuat:
1. Rebus air sampai agak mendidih,  lalu masukkan ayam kampung yang telah dipotong sesuai selera bersama kayu manis, bawang putih dan jahe.
2. Setelah ayam mulai agak matang (air rebusan jadi berminyak karena kaldu ayam) masukkan potongan wortel bersama jamur champignon dan jamur kuping.
3. Masak sebentar, masukkan jamur bunapi dan daun bawang. Bumbui sup dengan garam dan lada.
4. Masak +/- 7 menit sampai daun bawang agak layu.

Rasa kayu manis ternyata enak sekali berpadu dengan kaldu ayam dan jamur. Oiya, Saya masaknya di rice cooker karena ga punya slow cooker dan kepikiran kalau panas di rice cooker biasanya lebih selow daripada langsung dimasak di atas kompor.

Jamur champignon nya matang sempurna, tidak overcook, daging ayamnya empuk, teksturnya cukup nyaman buat dikunyah Aliyah ☺️ 

Tips: jamurnya pilih yang fresh yaa, InsyaAllah bikin rasa kaldunya lebih enak, seperti pakai MSG padahal enggak. 😅

Semoga bermanfaat yaa 💙

Mencatat Pengeluaran Harian dengan Aplikasi Catatan Keuangan

| on
July 18, 2019


Halo!

Teman-teman mama-mama masih ingat tidak beberapa waktu lalu yang ramai banget di sosial media membahas tentang financial planning? Ketika itu yang lebih dulu meramaikan topik ini untuk dibahas di sosial media adalah Andra Alodita, salah satu blogger dan influencer tanah air. Saya salah satu follower Alodita di instagram dan beberapa kali terpengaruh juga oleh #racunAlo, termasuk soal financial planning ini, hahaha. Mungkin sebagian besar teman-teman mama-mama juga ada yang sempat mengikuti pembahasan financial planning oleh Alodita ini.


Nah, menurut Adrian, personal financial consultant nya Alodita yang saat itu juga ikutan sharing, tips paling utama dalam menyusun financial planning  adalah spent less than you earn. Penting untuk mengusahakan jumlah pegeluaran kita lebih kecil dari jumlah penghasilan kita dengan membuat pos-pos keuangan. Ada 6 pos berdasarkan sharing Alodita dan Adrian, yaitu:

1. Pos Sedekah
2. Pos Dana Darurat
3. Pos Tabungan dan Investasi
4. Cicilan dan Hutang
5. Kebutuhan sehari-hari
6. Hiburan

Jadi versi Alodita seingat saya (cmiiw..) tipsnya adalah, saat memperoleh penghasilan ada baiknya kita langsung mengaolasikan penghasilan ke beberapa pos diatas. Khusus untuk pos hiburan, bisa diisi setelah kelima pos diatasnya telah terpenuhi. Diawal menyusun financial planning. akan lebih baik jika lebih sering menghabiskan waktu di rumah, sehingga pos hiburan jumlahnya tidak terlalu besar.

Setelah mengikuti sharing Alodita yang membahas tentang financial planning, saya pun mencari tahu tentang personal financial planning dan dana darurat. Satu kesimpulan yang saya dapat, financial planning dapat disusun dengan apik, saat kondisi penghasilan kita dapat dikatakan cukup berlebih, sehingga dapat dialokasikan ke beberapa pos pengeluaran termasuk pos dana darurat. Realitanya, untuk mencapai posisi cukup berlebih tersebut tidaklah mudah bagi saya, karena setiap bulan biasanya ada saja cicilan yang harus dibayar, berbagai kebutuhan rumah tangga, dan pengeluaran sehari-hari yang kalau ditotal-total jumlahnya hampir sama dengan jumlah gaji yang didapat.  In case,  saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sebagian besar penghasilan berasal dari gajian suami.

Menurut Adrian lagi, tips untuk ibu rumah tangga seperti saya yang penghasilannya nya belum cukup berlebih, bahkan minus-minus adalah dengan menambah sumber penghasilan agar dapat mengalokasikan penghasilan ke beberapa pos pengeluaran, termasuk dana darurat dengan apik. Namun, bukan hal yang instan bagi saya untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Untuk menjalankan suatu usaha sampai akhirnya balik modal dan untung saja, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sama halnya dengan menjadi seorang blogger, juga perlu waktu untuk merintis karir di dalam dunia blogging :) Pada akhirnya, saya mencoba untuk sharing dengan teman-teman melalui IG story saya tentang bagaimana saya mencoba untuk belajar menata financial planning yang notabene saya adalah seorang ibu rumah tangga dengan penghasilan yang sebagian besar berasal dari gajian suami.

Saya pun berpikiran untuk mencoba mengurangi jumlah pengeluaran harian, hal yang paling bisa saya lakukan untuk saat ini sambil mencoba untuk mendapatkan penghasilan tambahan dari usaha yang dijalankan (in case, kerja kantoran bukan menjadi pilihan saya untuk saat ini :)) Saya mulai mencatat pengeluaran harian secara rinci setiap harinya. Di salah satu artikel finance yang pernah saya baca,, hal yang paling mendasar di dalam menyusun personal financial planning adalah dengan mencatat semua aliran kas yang masuk dan yang keluar. Semakin yakinlah saya untuk mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran sehari-hari.

Lalu bagaimana cara saya mencatat pengeluaran dan pemasukan sehari-hari? Awal mulanya saya membuat file Ms Excel yang berisi kolom-kolom rincian pengeluaran harian. Saya membuat kolomnya berdasarkan waktu, jadi ada kolom pengeluaran sehari-hari, ada kolom pengeluaran mingguan, kolom pengeluaran dua mingguan, dan kolom pengeluaran bulanan.


Tujuan saya membagi pengeluaran berdasarkan kolom-kolom tersebut agar memudahkan saya untuk mengetahui pengeluaran apa saja yang paling sering muncul dan dapat saya kurangi. Misalnya dari jajan yang setiap hari, dikurangi menjadi dua hari sekali, atau tiga hari sekali. Tapii... ternyata oh ternyata, kolom-kolom di file excel tersebut berujung pada saya yang akhirnya kebingungan sendiri membacanya, hahaha. Kurang lebih empat bulan, sejak bulan November 2018 yang lalu sampai bulan Februari 2019, saya bertahan dengan mencatat di kolom-kolom tersebut. Pokoknya disabar-sabari saja setiap hari :')


Sampai pada akhirnya saya menemukan aplikasi sederhana untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan sehari-hari. Nama aplikasinya Catatan Keuangan yang saya download dari Play Store. Saya belum tau apakah aplikasi ini juga tersedia di App Store atau tidak :) Aplikasi Catatan Keuangan ini asli buatan anak negeri. Sebenarnya, kalau teman-teman mama-mama mencari aplikasi dengan keywords 'budget app' sangat banyak aplikasi budgeting buatan luar yang akan muncul dengan fitur yang canggih-canggih. Namun, saya pribadi lebih senang dengan hal yang simple saja, hitung-hitung mengurangi sakit kepala saya, hahaha.


Aplikasi Catatan Keuangan saya gunakan untuk mencatat semua pengeluaran dan pemasukan harian sejak bulan Maret 2019. Di aplikasi ini kita dapat dengan mudah memasukkan kategori apa saja yang menjadi pengeluaran dan pemasukan harian kita. Kategorinya dapat disesuaikan dengan preferensi masing-masing yaa. Intinya, yang dapat memudahkan kita untuk melihat pengeluaran harian terbesar kita di kategori yang mana. Begitu juga dengan pemasukan, teman-teman mama-mama dapat mengedit apa saja kategori pemasukan yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.


Nah, nanti akan keluar tampilan jumlah pengeluaran dan pemasukan per harinya sesuai dengan tanggal inputnya. Jadi akan ketahuan tanggal berapa saja yang pengeluaran kita lumayan besar. Kita tinggal nge klik tanda panah yang disamping kanan untuk membaca perinciannya kalau kita lupa pengeluarannya untuk apa saja.


Secara detail per tanggal nya akan muncul tampilan seperti ini. Kelemahannya adalah fungsi kolom seacrh dibagian atas ternyata tidak bisa digunakan untuk search tanggal tertentu. Fungsinya hanya untuk mengetik rincian pengeluaran yang kita inginkan, misalnya saja kita ingin mengetahui jumlah pengeluaran kita untuk belanja susu anak. Nanti akan keluar deh semua tanggal yang ada pengeluaran untuk belanja susu anak.



Keutamaan dari Aplikasi Catatan Keuangan ini adalah laporan yang menampilkan seluruh jumlah pengeluaran dam pemasukan harian kita. Kita bisa pilih ingin mengetahui jumlah pengeluaran dan pemasukan bulan ini, bulan lalu, 30 hari terakhir, 7 hari terakhir atau sesuai dengan keinginan kita. Di laporan ini juga akan terlihat  lima kategori pengeluaran tertinggi selama rentang waktu tersebut. Bagi saya ini membantu banget untuk mengetahui pengeluaran harian yang tertinggi di kategori apa, agar saya bisa mulai belajar untuk mengurangi pengeluaran tersebut di bulan berikutnya.


Laporan yang ditampilkan juga dapat di export ke file Ms. Excel. Namun tampilan di Ms. Excel nya sederhana saja, ada tabel pengeluaran harian dengan rincian kategori pengeluaran dan pemasukan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah di bawahnya. File ini biasanya saya share juga ke suami saya sebagai bentuk komunikasi kami berdua. Jadi suami tidak akan penasaran kemana saja mengalirnya kucuran dana darinya, :P


Dari gambar-gambar diatas, ketahuan banget ya pengeluaran saya paling banyak ya di jajan dan main di playground. Di bulan April, pengeluaran saya untuk jajan yang paling tinggi. Setelahnya di bulan Juni, pengeluaran saya untuk jajan mulai berkurang :) Main-main di playground pun mulai dikurangi dari yang setiap minggu pasti nge mall untuk main di playground, menjadi dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali aja, diawal bulan.

Solusi dari berkurangnya main di playground adalah, Aliyah sering main di taman yang terdapat area playgroundnya. Mau di komplek rumah, di alun-alun kota, atau saat kami lagi keluar kota, yang dicari tempat main gratisan yang bersih dan ramah anak :) Selingan lainnya adalah saya sering mengajak anak tetangga yang sebaya dengan Aliyah main ke rumah, main sama-sama dengan Aliyah. Tidak jarang Aliyah juga main ke rumah tetangga saya, yang jarak rumah masih sangat dekat, antara satu sampa dua rumah dari rumah kami. Lumayan juga ternyata dampaknya, kemampuan sosial Aliyah lumayan meningkat, hihi.

Satu-satunya tips yang dapat saya bagi untuk teman-teman mama-mama (termasuk untuk saya sendiri) adalah untuk konsisten mencatat setiap harinya. Saya pun seringkali masih sering lupa, malas atau sekedar menunda yang berujung jadi menumpuk beberapa hari tidak mencatat. Ujung-ujungnya ada yang kelewatan walaupun sudah berusaha diingat-ingat. Tapi beneran berasa banget bedanya kalau dicatat sama gak dicatat. Mencatat tidak hanya untuk financial planning semata, atau malah jadi orang yang perhitungan, tetapi juga menjadi bentuk pertanggunjawaban  kita atas rezeki yang diberi olehNya. Sudah dipakai untuk apa saja rezeki dariNya, sudah terisi kategori/pos sedekahnya atau belum. Rezeki yang didapat banyak dipakai untuk hal-hal yang mubazir atau engga, imho :)

Nah, bagaimana dengan teman-teman mama-mama? Ada yang punya pengalaman menggunakan Aplikasi Catatan Keuangan juga, atau sedang menata financial planning juga? Yuk share sama-sama disini :)

Semoga bermanfaat yaa :)

Disclaimer: Saya bukanlah seorang expert di bidang financial planning. Semua berdasarkan referensi yang saya baca dan pengalaman pribadi dengan sedikit bekal sebagai lulusan akuntansi :) Untuk konsultasi tentang financial planning, teman-teman mama-mama dapat menghubungi financial consultant ya :)