BELAJAR MENGENDALIKAN AMARAH DARI BUKU DON'T BE ANGRY, MOM Mendidik Anak Tanpa Marah

| on
June 26, 2019

Halo!
Saya salah satu yang percaya bahwa setiap orang pasti pernah marah, baik rasa marah yang tersalurkan ataupun sekedar rasa marah yang tidak tersalurkan. Sekitar satu setengah tahun yang lalu, sewaktu Aliyah masih berusia dua tahun lebih, saya meyakini bahwa sebagai seorang Ibu tidak sepatutnya marah kepada anak. Saat itu saya mencoba untuk mengendalikan emosi, berusaha untuk tidak marah kepada Aliyah. Saya pun sempat menulis artikel yang berjudul Managing Emotions, yang berisi beberapa tips bagaimana cara saya untuk mencoba mengendalikan amarah, terutama kepada Aliyah kecil.


Seiring berjalannya waktu, saya semakin memahami bahwa ternyata marah kepada anak merupakan hal yang wajar karena marah juga bagian dari diri kita, emosi kita, perasaan kita. Marah adalah hal yang manusiawi. Apalagi seiring bertumbuhnya anak yang semakin besar, dan kreatifitasnya semakin berkembang. Sesringkali perilaku anak dapat menjadi trigger untuk membuat kita mudah marah. Dan saya semakin paham hal tersebut setelah membaca buku Don't Be Angry Mom ini.

Cover Buku Don't Be Angry Mom, Mendidik Anak Tanpa Marah

Buku ini sebenarnya adalah buku keempat yang saya baca tahun ini, sebelumnya saya membaca buku Revolusi Makan karya dokter Hiromi Shinya, yang saya pinjam dari @pinjambukuanakdarrel. Buku Revolusi Makan tersebut belum saya review karena saya sendiri belum selesai menjalankan tips makan sehat dari dokter Hiromi Shinya.

READ: PINJAM BUKU ONLINE SURABAYA| @pinjambukuanakdarrel

Kembali ke buku Don't Be Angry Mom, buku ini saya pre order dari seorang sahabat. Saya tertarik untuk membaca karena jujur saja, sampai hari ini pun, saya kerap kali marah kepada Aliyah. Rasa marah saya ke Aliyah itu seperti hal yang tidak ingin saya lakukan, tapi sering terjadi di luar kendali saya yang dapat disebabkan oleh banyak faktor.  Karena marah yang sering diluar kendali itu, maka saya merasa perlu lebih belajar lagi untuk mengelola emosi agar rasa marah dapat saya salurkan dengan benar. Salah satunya dengan membaca buku ini. Apalagi mengingat Aliyah yang semakin tumbuh besar, dan  semakin paham serta mengerti segala hal yang saya perbuat kepadanya. Saya ingin menjadi contoh teladan yang baik untuk Aliyah, InsyaAllah, meskipun saya bukanlah Ibu yang sempurna dan masih banyak hal yang perlu saya perbaiki dan pelajari.

Buku ini ditulis oleh dr. Nurul Afifah, dikenal juga dengan Bunda Diva, seorang dokter dan ibu dari dua anak, founder @bundatalk dan cukup sering mengisi seminar parenting. Di buku Don't Be Angry Mom ini, Bunda Diva mengajak kita untuk memahami apa itu marah, sebab dan akibat nya, bagaimana cara mengelolanya, serta solusi yang dapat dilakukan jika kita sudah terlanjur marah kepada anak. Yang saya suka dari buku ini adalah kita tidak hanya diajak untuk memahami amarah dari sudut pandang kita sebagai orangtua, tetapi kita juga diajak untuk memahami amarah dari sudut pandang anak. Mengapa anak kita merasa marah, apa yang anak kita rasakan, dan bagaimana solusinya untuk menghadapi anak yang sedang marah. Semua dikupas secara detail di buku ini :) Hal yang menarik lainnya adalah, Bunda Diva tidak hanya mengajak kita untuk memahami amarah secara psikologis, melainkan juga mengajak kita memahami amarah dari sudut pandang ajaran Islam :)

Buku ini terbagi dalam enam bagian utama:

1. For Parents: Salurkan Kemarahan Dengan Benar
2. Ada Sebab, Ada Akibat
3. Akibat Kemarahan Orangtua dan Anak
4.Kesabaran dalam Menahan Amarah
5. Kemarahan Pada Anak, Normalkah?
6. Cara Mendisiplinkan Anak


Bagian pertama, For Parents: Salurkan Kemarahan Dengan Benar. Pada bagian ini, Bunda Diva menjabarkan secara detail tentang definisi marah baik dari sisi psikologis maupun dari pandangan ajaran Islam. Definisi yang dijabarkan tidak semata-mata pendapat pribadi penulis, melainkan berdasarkan teori para ahli. Pelajaran yang saya dapatkan setelah membaca bagian pertama buku ini, adalah merupakan hal yang sangat wajar jika kita memiliki rasa marah. Bahkan Rasulullah SAW pernah merasa marah (HR.Muslim: 6627) Saya belajar untuk menerima bahwa, iya, saya Ibu yang kerap kali marah kepada anak, dan itu tidak apa-apa selama saya mencoba untuk menyalurkannya dengan benar :)

Di bagian kedua, Bunda Diva menjelaskan tentang apa saja yang dapat menyebabkan rasa marah pada diri kita. Sebenarnya kurang lebih sama seperti yang dijabarkan oleh mbak Najeela Shibab di dalam Buku Keluarga Kita, Mencintai Dengan Lebih Baik.

READ: Review Buku Keluarga Kita, Mencintai Dengan Lebih Baik

Bunda Diva juga menjelaskan tentang beberapa sebab rasa marah lainnya. Salah satu nya adalah kita orangtua yang menginginkan kondisi anak yang ideal. Hal ini merupakan pengetahuan yang baru bagi saya. Saya sendiri secara tidak sadar juga pernah melakukannya kepada Aliyah. Di pikiran saya, seharusnya Aliyah sudah bisa melakukan sesuatu, misalnya seperti buang air kecil ke kamar mandi sendiri. Saya lupa kalau Aliyah masih belajar melawan rasa takutnya, Aliyah masih sedang membangun kemandiriannya. Intinya, terkadang saya seringkali lupa, bahwa kemampuan anak untuk melakukan sesuatu tidak secepat yang saya harapkan karena mereka masih dalam tahap belajar.


Akibat yang ditimbulkan karena kemarahan orang tua yang berlebihan kepada anak, dijabarkan oleh Bunda Diva di bagian ketiga. Selain akibat marah secara psikis, Bunda Diva juga menjelaskan akibat marah secara fisik, mungkin karena Bunda Diva juga adalah seorang dokter dan mengetahui secara pasti akibat marah terhadap kondisi fisik kita dan anak kita. Percaya atau tidak, beberapa akibat psikis dan fisik yang dijabarkan oleh Bunda Diva pernah saya alami, terlepas mungkin juga dipengaruhi oleh hal yang lain.

Bagian keempat adalah Kesabaran dalam Amarah. Boleh dikatakan bagian ini merupakan inti buku Don't Be Angry Mom. Bunda Diva menjelaskan secara detail bagaimana kendali agar kita tidak mudah marah, kendali saat kita ingin marah baik dari sudut pandang psikologis maupun sudut pandang ajaran Islam, kendali saat kita terlanjur marah, dan metode pukul rangkul. Saya sangat suka bagian ini, walaupun awal bagiannya cenderung klise, tapi setelah membaca secara keseluruhan membuat saya belajar untuk lebih legowo, dan let it flow. Saya belajar untuk meyakini bahwa semua akan baik-baik saja jika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapan saya, terutama kepada Aliyah.

Selain berisi penjelasan tentang amarah orang tua kepada anak, di buku ini Bunda Diva juga menjelaskan rasa marah  yang dirasakan di dalam diri anak pada bagian kelima, Kemarahan pada Anak, Normalkah? Beberapa tanda-tanda kemarahan yang tidak normal pada anak sesuai dengan rentang umurnya dijelaskan pada bagian ini. Saya telah mencoba mengaplikasikan tips Bunda Diva pada bagian ini saat Aliyah marah kepada saya. Marah Aliyah ke saya seringkali dengan berteriak atau menangis kencang. Karena saya sudah mengetahui tipsnya, Alhamdulillah saya lebih woles menghadapi Aliyah yang sedang marah :))


Rasa marah orangtua kepada anak memang seringkali dikaitkan dengan kedisiplinan. Saya pun begitu. Seringkali saya marah kepada Aliyah dengan harapan Aliyah menjadi anak yang lebih disiplin. Dan sudah seringkali pula saya membaca buku parenting yang menjelaskan bahwa amarah tidak akan mendisiplinkan anak, dalam jangka panjang. Di bagian keenam, Bunda Diva menjelaskan tentang bagaiaman cara mendisiplinkan anak tanpa amarah. Tips nya sangat lengkap mulai dari rentang usia anak balita sampai remaja, Satu tips yang paling saya ingat terus adalah bagaimana cara mengatasi anak yang tidak mau mendengarkan orangtua. Saya seperti mendapat jawaban atas pertanyaan saya selama ini, mengapa Aliyah sulit kalau saya bilangin. Aliyah termasuk anak dengan kemauan yang cukup keras. Saya sudah mencoba salah satu tips dari Bunda Diva, yaitu memperbaiki cara saya menyampaikan pesan kepada Aliyah. Alhamdulillah berhasil :))


Cukup banyak pelajaran yang dapat saya ambil dari membaca buku Don't Be Angry Mom ini. Buku ini seperti menjawab beberapa pertanyaan saya tentang bagaimana mengelola emosi namun dijelaskan dengan lebih detail oleh Bunda Diva. Di tiap sub bagian buku terdapat kolom curhatan dari para orangtua tentang permasalahan rasa amarah yang mereka alami. Di sisi lain, untuk saya yang tidak terlalu suka dengan buku yang agak teoritis, perlu waktu, mood dan suasana yang oke untuk benar-benar dapat meresapi setiap bagian buku ini :))

Diluar konteks buku ini, seperti yang yang saya tulis diawal, saya meyakini bahwa rasa amarah tidak dapat kita hilangkan sepenuhnya dari dalam diri kita. Rasa amarah atau emosi yang terbentuk di dalam diri kita dapat disebabkan oleh banyak hal. Bukan hanya karena sekedar kelelahan, PMS atau terburu-buru. Seiring berjalannya waktu, saya meyakini bahwa lingkungan, perbedaan kondisi masa lalu dan masa kini, pola didik orang tua kita di masa lalu, karakteristik bawaan kita, penerimaan kita terhadap diri sendiri, dan orang-orang di sekitar kita juga dapat menjadi faktor penyebab rasa marah di dalam diri.

Saya pun percaya bahwa ketika kita mencoba untuk menghilangkan atau belajar untuk mengendalikan rasa marah itu butuh waktu yang tidak sebentar. Tidak hanya dengan membaca dua sampai tiga buku. Tidak hanya dengan sekali dua kali mengikuti kelas mengelola emosi. Tapi bisa saja perlu waktu bertahun-tahun untuk kita melewati berbagai prosesnya. Satu hal yang dapat kita lakukan hanyalah menikmati setiap prosesnya :)

Anyway, ada yang sudah membaca buku ini juga ga? Share yuk :)

Judul Buku: Don't be Angry Mom, Mendidik Anak Tanpa Marah
Penulis: dr. Nurul Afifah
Penerbit: Ikon
Tebal Buku: 164 halaman, full color
Harga: Rp 60,000

Disclaimer: Saya bukanlah seorang yang expert di bidang psikolog, parenting dan sejenisnya. Semua tulisan diatas saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi dan sama sekali tidak berniat untuk menjadi sok tahu :) Teman-teman mama-mama dapat menghubungi para ahli untuk mengetahui secara detail tentang bagaimana cara mengendalikan amarah dengan benar :)

Semoga sharing saya bermanfaat ya!




AVILA KETAPAN RAME HOTEL: A SHORT ESCAPE TO TRAWAS

| on
June 12, 2019

Halo!

Bagi sebagian teman-teman mungkin liburan lebaran sudah selesai dan harus kembali ke rutinitas harian. Saya pun juga begitu, hehe. Tapi, bagi sebagian yang lain masih ada juga yang masih dalam masa liburan terutama anak-anak sekolahan. Seringkali, sebagai orangtua (walaupun Aliyah belum officially sekolah :')) saat liburan sekolah bawaannya ingin mengaajak anak-anak berpergian, karena suka kasihan kalau ngeliatin anak-anak mati gaya di rumah bingung mau ngapain (padahal habis mudik juga hihi). Nah, kalau memang masih ada budget untuk ajak anak-anak bepergian, saya punya salah satu rekomendasi tempat liburan yang ramah di kantong, dengan jarak yang tidak begitu jauh, khusus untuk teman-teman mama-mama yang berdomisili di Surabaya dan sekitarnya :))

Jadi, seperti kebiasaan suami saya yang sudah-sudah, yang selalu mengajak saya dan Aliyah staycation/travelling mendadak, saya dan Aliyah kembali diajak secara mendadak untuk kabur sejenak ke Trawas, Mojokerto. Trawas merupakan salah satu daerah dataran tinggi di Jawa Timur, semacam Puncak-nya Jawa Barat lah. Simpel saja saat suami saya mengajak kami ke Trawas, ketika menjemput saya dari rumah mama, dan di mobil saya curhat ini itu (saat itu saya benar-benar sedang sedih), langsung deh suami saya nyeletuk, "yaah padahal mau Baba ajakin ke Trawas", saya yang lagi sedih langsung aja, ya sudah  ayuk berangkat! Mau protes karena diajak mendadak sudah tidak mampu karena emosi saya sudah terkuras habis di curhatan saya hahaha.

Kami pun berangkat, setelah melakukan packing seadanya. Membutuhkan waktu  perjalanan kurang lebih 1-1,5 jam untuk sampai di Trawas dari rumah kami di Sidoarjo, dan kurang lebih 2 jam perjalanan jika teman-teman mama berangkat dari Surabaya :)


Bangunan tambahan Avila Ketapan Rame Hotel

Kali ini saya dan Aliyah diajak menginap di Avila Ketapan Rame Hotel, Trawas Mojokerto. Tepatnya ya di daerah Ketapan Rame, Trawas. Sepertinya, Avila Ketapan Rame salah satu hotel yang cukup besar di daerah Ketapan Rame, karena sekitarnya kebanyakan vila, walaupun ada juga hotel yang lebih besar tapi lebih ke old school hotel :) Avila Ketapan Rame Hotel adalah hotel bintang tiga yang terdiri dari tiga bangunan., satu bangunan utama, dan dua bangunan tambahan. Bangunan utama hotel ini terdiri dari tiga lantai, dengan dua bangunan tambahan masing-masing terdiri dari satu lantai dan dua lantai.

Kamar kami di pojokan

Kami reservasi sekitar pukul lima sore, dan sebenarnya kami dapat kamar yang berada di bangunan utama, dengan twin bed. Karena kami lebih prefer dengan double bed, akhirnya kami ditawari untuk ganti kamar, di kamar yang berada di bangunan tambahan. Kamar kami terletak di paling pojok bahkan seperti terpisah dengan kamar-kamar lainnya, tapi ini salah satu yang menarik bagi kami. Sebagai orangtua dengan anak usia toodler,  area yang lebih privat membuat kami merasa jauh lebih nyaman, untuk berjaga-jaga kalau Aliyah lagi cranky, tidak sampai menganggu tamu hotel yang lain :)

Untuk kamar hotel nya termasuk cukup nyaman untuk kami. Kasur double bed, dengan kaca besar dan meja rias di sisi kiri. Ukuran mejanya cukup besar, sehingga dapat digunakan untuk bekerja dengan laptop juga. Tapi karena ukuran meja yang cukup besar, jadi kalau turun dari bed di sisi kiri terasa agak sempit.



Fasilitas lainnya yang terdapat di dalam kamar, ada televisi dengan channel lokal, meja bar lengkap dengan air mineral, cangkir teh, teh & kopi siap seduh, ketel air (ini penting buat saya karena memudahkan saya untuk membuatkan Aliyah susu :)).  Disamping meja bar ada rel sekaligus hanger untuk menggantung baju. Dibawahnya terdapat beberapa laci penyimpanan.




Kamar mandinya cukup bersih dengan wastafel, cermin, shower dengan heater water, dan closet duduk. Ukuran kamar mandi nya cukup luas, Aliyah bisa berlari dari closet menuju shower mandi, hihi.

Malam harinya, kami jalan-jalan ke Taman Ghanjaran, yang berjarak -/+ 300 meter dari hotel. Deket banget lah. Tapi karena kami belum tau jauh dekatnya, kami naik mobil,haha. Semacam cuma pindah parkiran doang,haha.

Di Taman Ghanjaran ini ada pasar malam dengan beberapan stan pernak pernik, mainan anak-anak seperti kereta, mobil aki, carousel, kincir-kincir, dll. Harga tiket tiap permainannya Rp 10,000. Kami juga makan malam disini karena memang di taman ini ada area seperti food court kecil dengan berbagai stan makanan yang rasa-rasanya semua pengin dimakan, :D Saya beli sate, karena menurut saya kalau ke daerah dingin belum sah kalau belum makan sate :P. Rasa satenya enak :) Aliyah makan nasi goreng, ada dua yang jualan nasi goreng, satunya di dalam area food court, yang satu lagi diluar food court. Saya beli yang diluar food court dan rasanya lumayan enak :) Aliyah sempat main beberapa wahana, termasuk main mobil aki juga. Seneng banget, main-main sederhana begini :) Setelah puas makan dan main, kami kembali ke sedang hotel untuk istirahat. Sayangnya untuk aktivitas kami di Taman Ghanjaran saat malam hari tidak saya foto, karena sibuk main-main dengan Aliyah :')




Berhubung lagi di daerah dataran tinggi, begitu bangun pagi saya langsung keluar kamar dan duduk-duduk di restoran hotel yang seperti sebuah pendopo. Letaknya tepat bersebrangan dengan kamar kami. Saya inhale exhale dengan pemandangan gunung yang cantiknya MasyaAllah. View depan hotel memang Gunung Penanggungan yang cantik. Saya nikmatin viewnya sampai sunrise, MasyaAllah :)

Playground Taman Ghanjaran

Oh iya, karena Avila Ketapan Rame Hotel termasuk budget hotel dan no breakfast, jadi kami cari sarapan pagi ke Taman Ghanjaran lagi, atapi kali ini kami berjalan kaki. Lumayan ngos-ngosan sih, karena walaupun dekat, kontur jalannya naik turun, dan suami saya sambil menggendong Aliyah, haha.  Suasana Minggu pagi di Taman Ghanjaran banyak orang yang sedang senam bersama. Seru! Saat pagi baru deh kelihatan jelas seluruh sudut di Taman Ghanjaran.




First impressions, tamannya bersiiiihhh bangeett Ya Allah ;') Ini beneran saking bersihnya saya sampai banyakin huruf i dan e nya. Ada playground sederhana untuk anak-anak bermain, dan tentu saja Aliyah bermain juga disini. Seluruh tanaman di taman ini sangat terawat, bunganya cantik-cantik. Memang ada beberapa petugas yang terlihat seliweran bersih-bersih. Bener-bener salut deh saya!




Setelah bermain, Aliyah tiba-tiba ingin buang air kecil. Saya sebenarnya salah satu yang kurang nyaman kalau harus buang air kecil di tempat umum, tapi karena Aliyah anak-anak ga mungkin juga nahan pipis lama-lama. Akhirnya kami cari toilet di Taman Ghanjaran ini. Eh ternyata, toilet nya ga kalah bersihnya :') Bersiiih bangettt. Sampai saya fotoin juga toiletnya karena memang sebersih itu. Ga worry saya kalau Aliyah buang air kecil di toilet umum sebersih ini.



Khusus untuk Taman Ghanjaran, kami sekeluarga sangat happy menghabiskan waktu di taman ini. Dan kami setuju untuk mengulang kembali main-main di taman ini :)


Setelah membeli sarapan, kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap kembali ke rumah. Overall, menginap di Avila Ketapan Rame Hotel sangat menyenangkan. Hotel nya bersih, pelayanannya ramah :) Kami juga ingin mengulang kembali pengalaman menginap disini dengan anggota keluarga yang lain :)



Setelah check out dari hotel, suami saya mengajak kami untuk mampir sebentar ke Air Terjun Dlundung Trawas yang ada taman kelincinya juga. Jaraknya tidak begitu jauh dari Avila Ketapan Rame Hotel. Tiket masuk ke Air Terjun Dlundung  Rp 10,000/orang. Kami tidak naik sampai ke atas tempat air terjunnya, tapi cuma mampir ke taman kelincinya saja. Tiket masuk ke taman kelinci Rp 5,000/orang dan wortel untuk kelinci 5,000/ikat. Sayangnya saat itu sempat turun hujan dan tidak banyak tempat berteduh, karena kami pas lagi di taman kelincinya. Jadi kami sekedar menunggu hujan berhenti terus kasih makan kelinci, ga lama-lama karena kami khawatir hujan turun lagi. Oh iya, kami sempat jajan ote-ote juga disini, haha, Eh tapi ote-ote nya enak banget. Yang jualan ibu-ibu setengah baya berhijab. Kalau main-main kesini, cobain deh ote-ote nya, enak!




Overall, pengalaman kabur sejenak kami ke Trawas sangat menyenangkan bagi kami sekeluarga. Mulai dari hotel nya, tempat mainnya, tamannya, view gunungnya, semuanya MasyaAllah, what a great short escape (makasih, Baba!). Budget yang dibutuhkan untuk kabur sejenak ini lumayan ga terlalu bikin sesek, -/+ Rp 400 - 500 rban (hotel, makan, main, tiket air terjun), hampir sama kalau dibuat jalan ke mall, terus makan di restoran dan main di playground :). Budget tersebut karena kebetulan kami dapat harga  hotel sekitar Rp 200 rb/malam dengan harga promo dari Traveloka. Normal price nya di sekitaran Rp 300- 400 rban/malam. Untuk booking hotel, teman-teman mama-mama bisa melalui berbagai aplikasi travelling. Avila Ketapan Rame Hotel juga ada di OYO :) Tinggal pilih saja mana yang menawarkan harga promo yang paling rendah, haha (curiga nih saya, mendadaknya suami ngajakin travelling karena mungkin dapat notifikasi mendadak juga kalau ada promo :'))


Trawas salah satu rekomendasi saya kalau teman-teman mama mencari tempat dingin dengan suasana pedesaaan selain ke Malang :) Jalanan yang dilewati aman dari macet dengan jarak yang tidak begitu jauh. Satu-satu nya tips mungkin cuma tidak bepergian saat musim pnghujan karena kontur jalan yang dilewati naik turun yang cukup berbahaya saat musim penghujan tiba :)

Oh iya satu lagi, karena banyak nya pilihan penginapan di daerah Trawas, seperti hotel dan villa. Teman-teman mama-mama dapat menyesuaikan akan menginap dimana, sesuai dengan kebutuhan. Kalau ingin mudah mencari makanan dan keramaian, Avila Ketapan Rame Hotel salah satu rekomendasi nya, karena memang jarak nya yang sangat dekat dengan Taman Ghanjaran dan minimarket :)

Anyway, teman-teman ada yang punya pengalaman menginap di Avila Ketapan Rame Hotel juga ga? Atau ada rekomendasi lain di Trawas? Yuk, share sama-sama disini :)

Semoga sharing saya bermanfaat ya :)

Selamat liburan!




Happy Eid Mubarak 1440 H!

| on
June 06, 2019

Halo!

Selamat Idul Fitri 1440 H untuk teman-teman Muslim :) Saya, dan keluarga mohon maaf lahir batin apabila ada salah, baik perkataan, perbuatan, maupun tulisan di blog post saya selama ini :)

Taqobbalallahu minna wa minkum Taqobbal yaa karim, Barakallahu Fiikum :)
Selamat berkumpul dengan keluarga, dan semoga amal ibadah kita semua diterima oleh Allah SWT .

Semoga Allah SWT mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan berikutnya :)

Aamiin Allahumma Aamiin 😊🙏


Ramadhan Kareem: When is my prayer granted by Allah SWT?

| on
May 17, 2019

Halo!

Bagaimana 10 hari pertama bulan Ramadhan teman-teman mama-mama? Semoga lancar ya ibadah puasa, dan ibadah lainnya yang ditunaikan di bulan Ramadhan ini :) Semoga semua amalan ibadah kita  membawa berkah dan diterima oleh Allah SWT. Aamiin.

Beberapa hari terakhir saya sempat off posting tulisan di blog ini cukup lama. Sebenarnya banyak sekali konten di pikiran yang antri untuk ditulis. Tapi karena memang urusan domestik di rumah juga sedang minta perhatian lebih, jadi blog nya baru bisa di update sekarang :)

Tulisan saya kali ini terinspirasi dari postingan IG adik saya yang bercerita tentang ceramah yang ia dengarkan saat solat tarawih. Ustadnya bercerita tentang, bagaimana saat kita bertanya, kapan Allah akan mengabulkan doa-doa kita? Pertanyaan ini juga seringkali melintas di benak saya. Sesekali saya bertanya, Ya Allah kapan doa saya akan dikabulkan? Setiap hari saya panjatkan doa yang sama, berulang dan berulang.

Bagaimana jawaban sang ustadz? Ustadznya memberi perumpaan seperti ketika kita sedang mendengarkan lantunan nyanyian dari seorang pengamen jalanan. Jika pengamennya bernyanyi dengan asal-asalan, biasanya kita segera memberi uang agar pengamen itu segera menghentikan nyanyiannya. Namun, jika pengamennya bernyanyi dengan suara yang yang merdu,  maka dengan senang hati kita akan menunggu untuk membiarkan pengamen itu menyelesaikan lagunya, menikmati setiap alunan suara merdunya, lalu memberi nya uang (bahkan dengan jumlah yang lebih besar biasanya).

Perumpamaan diatas sama seperti lantunan doa-doa yang kita panjatkan kepadaNya. Setiap lantunan doa kita terdengar merdu oleh Allah SWT. Allah SWT sangat senang mendengar setiap lantunan doa yang kita panjatkan. Kita hanya perlu bersabar, karena InsyaAllah doa-doa kita akan dikabulkan oleh Allah SWT, bahkan bisa lebih dari yang kita harapkan. Aamiin InsyaAllah.

Sebelumnya, saya juga pernah membaca cerita yang sama di konten milik @madcatnip. Tentang @madcatnip,  @madcatnip merupakan salah satu akun yang sering memposting konten Islami dengan gambar ilustrasi. Go follow them, InsyaAllah bermanfaat :)

Nah, bercerita tentang doa-doa yang dikabulkan oleh Allah SWT, yang seringkali jawabannya datang dari arah yang tidak pernah kita duga, saya pun pernah mengalaminya. Masih segar dalam ingatan saya, saat bulan Ramadhan tahun lalu, sewaktu saya mengikuti kompetisi blog, dengan hadiah utama uang cash lima juta rupiah. Saya berdoa, memohon kepada Allah SWT, berikthtiar untuk menjadi pemenang utama. Jika menjadi pemenang utamanya, saya berniat untuk membantu kedua orang tua saya, dengan uang hadiah yang saya dapatkan. 

Qadarullah, saya tidak menjadi pemenang utama. Saya menjadi pemenang favorit dengan hadiah voucher belanja. Dengan menangnya saya atas hadiah voucher tersebut, ternyata Allah mengabulkan doa adik saya yang diam-diam menginginkan sepatu baru. Bagaimana dengan orangtua saya? MasyaAllah Alhamdulillah, Allah SWT memberi mereka rezeki, dari jalan yang lain, cash lima juta rupiah, seperti doa yang saya panjatkan.

Allah SWT tidak menjawab doa saya seperti cara yang saya minta. Allah SWT menjawabnya dengan cara yang jauh lebih indah :) Terkadang kita seringkali merasa Allah SWT belum mengabulkan doa-doa kita. Padahal mungkin saja, dari setiap rezeki, nikmat, ujian, kemudahan, kesulitan, di dalamnya ada jawaban atas lantunan doa-doa yang kita panjatkan. Kita hanya diminta untuk lebih bersabar dan bersyukur, menikmati setiap cerita di dalam kehidupan yang kita jalani, karena InsyaAllah selalu ada Allah SWT yang menemani :)

Semoga sharing saya kali ini bermanfaat ya :)

Selamat berpuasa :)



#SARONGISOURLIFESTYLE by TORAJAMELO

| on
April 24, 2019

Halo!

Kita semua pasti sangat bangga jadi orang Indonesia yang sangat kaya akan ragam budaya. Mulai dari ragam suku, bahasa, adat istiadat, kesenian, juga ragam sarung/kain tenun khas tiap daerah di Indonesia.

Salah satu sarung tenun khas milik Indonesia ini bernama kain endek yang berasal dari Bali. Endek berasal dari kata gendekan atau ngendek yang berarti diam/tetap.

Motif sarung endek sangat beragam. Beberapa motif sakral dan digunakan khusus untuk upacara keagamaan. Motif lainnya menggambarkan flora, fauna atau tokoh pewayangan Bali,  serta motif geometri dengan garis lurus, garis lengkung atau garis putus seperti yang saya pakai.

Makin bangga lagi dengan orang Indonesia karena sekarang sangat banyak yang suka pakai sarung tenun tidak cuma untuk acara khusus, tapi juga untuk acara kasual sehari-hari tanpa mengurangi nilai budaya sarung itu sendiri, pokoknya #sarongisourlifestyle :)

Btw, sarung endek yang di foto ini milik Ibu saya. usia nya pun sudah bertahun-tahun. Saya coba jadiin penutup kepala seperti hijab, bagus ga? Hehe.

Kalau teman-teman biasanya sarung tenunnya dipakai gimana? Yuk share sama-sama disini :)

Semoga bermanfaat ya!

#Sarongisourlifestyle
#Torajamelo

Learning to Start Believing

| on
April 15, 2019


Halo!

Tulisan ini sebenarnya sudah ada di postingan Instagram saya sejak bulan maret yang lalu. Walaupun awalnya untuk ikut serta di dalam DarlieXBPN, namun tulisan ini benar-benar menjadi pengingat untuk saya dalam menjalani peran sebagai seorang ibu. Tulisan ini seperti satu bagian diri yang mulai percaya bahwa saya bisa melewati setiap prosesnya bersama dengan Aliyah, dengan segala yang kami miliki, dengan ketidak idealan milik kami. Dan rasanya sangat legaa bisa menulis dari hati seperti ini :') Semoga tulisan ini juga dapat memberi manfaat untuk teman-teman yang membaca :) 

"Menjalani peran sebagai seorang ibu sejak 3,5 th yg lalu dimulai dengan perasaan ragu, apa iya saya bisa melalui segala prosesnya. Diawali dengan baby blues yang melanda dan merasa khawatir serta ketakutan melihat bayi Aliyah, sampai tidak ingin ditinggal suami bekerja karena takut terjadi sesuatu pada si anak bayi. Keraguan itu seperti mendarah daging di tubuh saya. Banyaknya informasi parenting di sosial media dengan segala bentuk ke-'idealan' bagaimana menjadi orangtua justru semakin membuat tinggi gunung keraguan itu. Saya menuntut diri untuk bisa segalanya bagi Aliyah. Saya tidak boleh lelah. Saya harus bisa seperti ini, saya harus bisa seperti itu. Saya ragu dengan diri saya sendiri. Sampai di satu obrolan dengan seorang sahabat, "Jeng, ga apa-apa kalau kamu lelah. Boleh kok kalau kamu bilang ke Aliyah kalau sedang lelah". Sejak obrolan itu, Saya mulai yakin untuk percaya bahwa tidak ada orang tua yang sempurna di dunia ini. Saya boleh merasa lelah. Saya percaya Aliyah sangat mencintai saya seperti saya mencintainya. Aliyah tidak menuntut banyak hal dari saya. Aliyah tidak menuntut mamanya harus bisa melakukan segalanya. Dengan segala keterbatasan kami, dengan segala ketidaksempurnaan milik kami, Aliyah tetap berkata "Mama, sayang. Yaya sayang mama". Ucapannya membuat saya yakin jika Aliyah percaya pada saya. Jika Aliyah percaya pada saya, maka saya harus percaya pada diri sendiri bahwa kami dapat melalui setiap proses kehidupan ini bersama, dengan segala kurang lebihnya. Saya pun juga percaya kepada Aliyah bahwa ia akan tumbuh menjadi anak yang baik-baik saja sesuai dengan fitrah-Nya. Salah satunya seperti saya percaya kepada Aliyah kalau ia dapat mengambil foto ini dengan baik 😊 Terimakasih Yaya ❤️
*Untuk semua ibu yang penuh dengan rasa khawatir, tidak apa-apa, InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja 😊 "
Menjadi orang tua milenial dengan banyaknya informasi parenting terkadang menuntut saya untuk berusaha menjadi orang tua yang 'ideal' sesuai standar akun-akun parenting yang saya ikuti. Padahal, sebenarnya tidak ada yang mengharuskan saya untuk seperti itu, termasuk Aliyah sendiri. Saat merasa kelelahan, ternyata saya saya boleh berkata lelah pada Aliyah. Dan rasanya legaa sekali. Makin kesini, saat saya berkata lelah, "Yaya, mama capek, boleh ya mama tidur dulu sebentar" , Alhamdulillah Aliyah mengerti. "Capek ya mama" "Selamat tidur mama" saya dihadiahi kecupan di pipi. Walaupun tidak selalu juga seperti ini tapi rasanya MasyaAllah, priceless sekali...

Respon Aliyah yang menerima saya apa adanya membuat saya mulai belajar untuk percaya diri, percaya pada Aliyah, percaya pada suami saya bahwa kami dapat melalui kehidupan ini bersama dengan segala kelebihan dan kekurangan milik kami, dengan segala bentuk ketidak idealan milik kami :) Ternyata menerima segala apa yang kita miliki, kemampuan yang kita punya, berusaha untuk percaya diri bahwa we can do it by our own way dapat memberi perasaan yang jauh lebih baik, lebih bahagia dan lebih bersyukur lagi atas segala nikmat dariNya :)

Have nice day!