Bikin-bikin di Taman Seminar: Memilih Sekolah untuk Anak

| on
March 20, 2018

Hari Sabtu yang lalu, tepatnya tanggal 17 Maret 2018 saya mengikuti Bikin-bikin di Taman: Seminar Memilih Sekolah di Graha Prodia Surabaya. Seminar ini diadakan oleh Mbak Putri Sari (@iburakarayi) dan teman-teman tim Bikin-bikin di Taman. Saya memutuskan untuk ikut seminar ini karena beberapa bulan terakhir saya sedang bingung mencari sekolah untuk Aliyah. Tidak hanya bingung mencari sekolahnya, tapi bahkan basic keputusan apakah Aliyah sudah siap untuk bersekolah pun, saya juga masih bingung. Pengalaman menyekolahkan anak saya belum punya. Saya hanya berbekal pengalaman saya  bersekolah di masa lalu saat masih kecil, beberapa input dari teman, dan pengetahuan seadanya tentang kesiapan anak bersekolah.

Saat ini Aliyah berumur 2 tahun 7 bulan. Awalnya saya berencana untuk menyekolahkan Aliyah di PAUD, dengan pertimbangan Aliyah dapat lebih mandiri dan semakin baik dalam bersosialisasi. Saya pun mulai melihat-lihat alternatif sekolah yang pas untuk Aliyah. Mulai dari yang dekat dari rumah, sampai yang agak jauh tapi dekat dengan rumah orangtua saya. Mulai dari yang biayanya masih dapat terjangkau oleh kami sampai yang biayanya ulalalalalala :') 

Lalu, apa saja yang saya dapatkan dari Seminar Memilih Sekolah? Saya akan cerita detail nya di tulisan ini. Semoga tulisan ini bisa membantu Ibu-Ibu yang mengalami kebingungan seperti saya :)

Seminar Memilih Sekolah menghadirkan Bapak Bukik Setiawan sebagai narasumber. Pak Bukik adalah penulis buku "Panduan Memilih Sekolah Anak Zaman Now" (ini buku Pak Bukik yang ketiga, sebelumnya ada buku Anak Bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir), sekaligus dosen kampus guru Cikal (Sekolah Cikal didirikan oleh Ibu Najeela Shihab). Dulunya, Pak Bukik juga sempat menjadi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya. Jadi seminar-nya benar-benar menghadirkan narasumber yang tepat menurut saya.  


Sebelum seminar oleh Pak Bukik, acara dibuka lebih dulu oleh Mbak Dian Tantri. Senang sekali karena mbak Dian adalah senior saya sewaktu kuliah dulu. Lalu, dilanjutkan dengan presentasi dari pihak tempat acara diadakan, Laboratorium Prodia. 




Prodia mengenalkan Prodia Child Lab (Prodia Children's Health Centre), yaitu Laboratorium khusus anak-anak. Saya baru tahu juga ternyata ada Lab khusus untuk anak-anak dan didesain dengan sangat menarik sesuai dengan kebutuhan anak. Fasilitas yang disediakan antara lain:


1. Ruang pemeriksaaan Fisik dan Pengambilan Darah didesain khusus agar lebih menyenangkan dan tidak menakutkan.



2. Tersedia Playground, Nursery room dan Toilet khusus anak.





3. Pengambilan Darah anak dilakukan oleh pertugas yang dilatih khusus untuk anak untuk mengurangi rasa sakit ketika anak diambil darahnya.


Sangat recommended menurut saya untuk memeriksakan anak kita di Prodia Child ini.





Setelah presentasi dari pihak Laboratorium Prodia, Seminar Memilih Sekolah pun dimulai oleh Pak Bukik. Bagaimana memilih sekolah yang tepat untuk anak zaman now, agar kita tidak merasa salah memilih sekolah bagi anak? Menurut Pak Bukik, sebelum memilih sekolah, sebaiknya kita memahami lebih dulu karakter anak zaman now, yang jelas berbeda karakternya dengan zaman kita orangtuanya. 




Ada lima langkah yang lebih dulu harus kita pahai sebelum memilih sekolah untuk anak, yaitu:

1. Memahami anak zaman now.
Anak kita anak generasi zaman now, bahkan ada yang ketika lahir pun sudah langsung bertemu dengan gawai/gadget. Kita orangtuanya, yang mengenal gawai/gadget mulai saat usia SMP sampai kuliah termasuk anak zaman milenial.
2. Memahami cara belajar anak zaman now.
3. Memahami sekolah anak zaman now.
4. Memilih sekolah untuk anak zaman now.
5. Strategi Alternatif

Apa saja ciri-ciri anak zaman now? Menurut Pak Bukik, dari hasil riset ciri-ciri anak zaman now antara lain:

1. Otonomi mengelola diri.
2. Peka terhadap perubahan.
3. Mudah mengalihkan fokus.
Gaya hidup yang dekat dengan gawai/gadget membuat anak mudah mengalihkan fokusnya. Misalnya saat anak sedang mengerjakan PR, lalu sebentar-sebentar cek notifikasi di gawai/gadget nya. Lalu lanjut lagi mengerjakan PR. Mengapa? Karena bagi anak PR mereka cenderung membosankan, dalam kasus ini PR yang dikerjakan adalah seperti hanya menyalin apa yang ada di buku bacaan ke buku tulis anak.
4. Kebutuhan teman bicara.
Bagi anak zaman now, segala sesuatu butuh dikonfirmasikan. Misalnya saja gaya berpakaian mereka, mereka akan memikirkan apa yang saya pakai ini bagus/tidak menurut teman-teman saya. Hal ini biasanya karena cenderung pengaruh dari sosial media.



Dari hasil riset di Amerika Serikat dan diadaptasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, anak-anak zaman now perlu memiliki empat keterampilan penting antara lain:

1. Berpikir kritis
Saya teringat salah satu peserta seminar yang bertanya tentang "Apakah kemampuan anak menyelesaikan soal matematika dan logika, membuat anak dapat berpikir kritis?" Ternyata jawabannya belum tentu. Berdasarkan hasil penelitian, anak-anak di Indonesia memiliki kemampuan berpikir kritis cenderung lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain.
2. Kreativitas
Di masa depan, berbagai pekerjaan manusia akan mudah digantikan oleh robot. Dua hal yang tidak dimiliki oleh robot adalah kreativitas dan kecerdasan emosional. Oleh karena itu, anak kita perlu memiliki kreativitas karena kelak mereka akan bersaing dengan robot. Memiliki kemampuan yang tidak bisa dilakukan oleh robot adalah salah satu kunci untuk mendapatkan pekerjaan di masa depan.
3. Komunikasi
4. Kolaborasi
Saat ini banyak sekolah-sekolah yang mengklaim bahwa mengajarkan kolaborasi ke anak, namun ujung-ujungnya adalah kompetisi. Terus-terusan berkompetisi juga ternyata kurang baik dampaknya bagi anak. Anak menjadi cenderung suka membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain, padahal sebaiknya anak membandingkan dirinya dengan dirinya sendiri, sudah melakukan hal yang lebih baik dari sebelumnya atau belum.

Tentang dunia perkerjaan anak zaman now pun menurut Pak Bukik telah mengalami pergeseran. Di masa depan akan punah beberapa pekerjaan lama yang akan digantikan oleh robot. Lalu beberapa pekerjaan baru akan lahir, contoh saat ini adalah misalnya manajer media sosial. Terjadi pula pergeseran makna karir, yang dulunya karir adalah loyalitas di tempat kerja, di masa depan karir adalah kesetiaan terhadap passion


Lalu bagaiamana memilih sekolah untuk anak zaman now? Saat ini masih sering terjadi salah kaprah dalam memilih sekolah untuk anak. Umumnya orangtua akan memilih sekolah berdasarkan fasilitas bukan pada penggunaannya. Meilih berdasarkan piala bukan pada suasana belajar. Memilih berdasarkan kesempurnaan tampilan dan memilih berdasarkan gengsi bukan berdasarkan kebutuhan anak. Sekolah yang terlalu rapi tampilannya misalnya, umumnya dikelola oleh manajemen sehingga guru dan murid tidak punya kesempatan untuk kreatif terhadap ruang kelas. Paling sederhana biasanya kita meilih sekolah cukup yang dekat dengan rumah dan 'terjangkau' oleh kondisi ekonomi kita.



Tampilan,  praktik dan prinsip nilai sangat perlu kita perhatikan jika akan memilih sekolah untuk anak. Dari segi tampilan misalnya,  apakah dinding kelas dipenuhi dengan hasil karya anak sekalipun karya tersebut tidak sempurna?  Jika ya, menurut pak Bukik berarti ada pembelajaran di dalam sekolah itu . Bagaimana dengan praktiknya ? Kita sebaiknya lebih dulu melakukan observasi bagaimana para guru dan murid beraktifitas.  Lalu kemudian kita melihat prinsip nilai yang diterapkan di sekolah tersebut apakah 'menanamkan atau menumbuhkan'. Sekolah yang menanamkan adalah cenderung mengajarkan dengan pendekatan direct instructions (di dikte), sedangkan sekolah yang menumbuhkan adalah sekolah yang melakukan pendekatan konstruktif yang melakukan aktifitas kreatif yang melibatkan anak. Contoh sederhananya, Aliyah yang sedang belajar mengenal huruf. Pendekatan direct instructionnya adalah saya langsung mendikte Aliyah untuk menghafalkan huruf A,B,C, dan seterusnya. Sedangkan dengan pendekatan konstrufktif, saya mengenalkan Aliyah huruf A,B,C melalui bernyanyi, menempelkan huruf di benda-benda yang ada di rumah, seperti huruf M di meja. 

Para peserta seminar juga sempat berdiskusi membentuk kelompok untuk belajar melakukan observasi terhadap sekolah. Seru sekali diskusi nya karena saya bertemu dengan para orangtua yang benar-benar sudah terbuka pikirannya :)







Beberapa tips lain dari Pak Bukik dalam memilih sekolah anak, antara lain:


1. Jangan terjebak dengan mahal atau murah. Jauh atau dekat. Sekolah yang mahal tidak selalu bagus, sekolah yang murah tidak selalu kurang bagus. Banyak sekolah yang terjangkau yang sangat peduli untuk 'menumbuhkan' anak.

2. Jika tidak ada sekolah yang sepenuhnya menumbukan paling tidak pilih yang paling sedikit menanamkan.
3. Selalu ada pilihan sekolah untuk anak kita. Tidak perlu khawatir tidak ada sekolah yang menumbuhkan. Jika anak sudah terlanjur sekolah di sekolah yang menanamkan, paling tidak kita sebagai orang tua sudah mengerti konsekuensinya, sehingga di rumah kita mengajarkan anak dengan cara menumbuhkan. Jadi beban anak di sekolah tidak telalu berat.

Lalu tentang kesiapan anak bersekolah, kapan anak siap untuk bersekolah?


1. Perhatikan usia anak

Ada seorang ibu, peserta seminar juga yang bertanya kepada Pak Bukik (yang sebenarnya juga pertanyaan saya), usia berapa anak sudah siap untuk bersekolah. Menurut Pak Bukik, usia anak di psikologi terbagi dua, yaitu usia kronologis (pada Aliyah yaitu 2 tahun 7 bulan) dan usia psikologis (pada Aliyah usia 2 tahun harusnya sudah bisa berbicara 2 kata). Jadi sebaiknya kita melihat usia psikologis anak. Jika ada tahapan tumbuh kembang di usia nya yang belum selesai, maka sebaiknya diselesaikan lebih dulu. 

2. Perhatikan kemandirian anak

Agar anak mandiri dan mau ditinggal saat sekolah nanti, sebaiknya latihan berpisah dengan anak 1-2 jam beberapa kali dalam seminggu misalnya. Guru di sekolah biasanya lebih menyukai anak yang mandiri. Anak mandiri yang sering diperhatikan oleh guru akan tumbuh menjadi anak yang lebih mudah fokus. Selain itu, di usia sekolah paling tidak anak sudah menguasai toilet training dengan baik, dapat makan dan minum sendiri dengan baik.

3. Harus mencoba trial class

Saran dari Pak Bukik, sebelum memlih sekolah, sebaiknya anak mencoba trial class lebih dulu di sekolah yang menjadi pilihan kita. Kemudian setelah trial class, kita sebaiknya bertanya kepada anak, bagaimana tadi sekolahnya? Gurunya baik atau tidak? Teman-temannya bagaimana? Ada yang menarik menurut kamu tidak? Saya sempat bertanya pada Pak Bukik, anak saya masih 2 tahun lebih pak, bagaimana cara saya bertanya kepada Aliyah? Masukan dari Pak Bukik, saya sebaiknya bertanya ke Aliyah dengan menggunakan emoticon. Misalnya, Aliyah senang tidak tadi di sekolah? Gurunya senyum tidak sama Aliyah? Temannya Aliyah ada yang lucu tidak? Kurang lebih seperti itu tipe pertanyaannya.

4. Melakukan tes kesiapan sekolah di kilnik tumbuh kembang anak.




Nah, kurang lebih seperti diatas gambaran memilih sekolah anak zaman now dari Pak Bukik. Detailnya katanya sih bisa dibaca di bukunya Pak Bukik 'Panduan Memilih Sekolah Anak Zaman Now' yang senangnya kita semua peserta seminar dapat bukunya. Yeiy!


Oiya satu lagi pesan dari Pak Bukik, saat anak lulus SD sebaiknya anak paling tidak sudah menguasai satu keterampilan khusus, karena saat menginjak usia remaja, masuk masa puber anak cenderung suka pamer atau menunjukkan keterampilannya di depan teman-temannya atau bahkan lawan jenisnya. Hal ini penting agar anak dapat menunjukkan hal positif yang dimiliki. Jika tidak memiliki keterampilan khusus, dikhawatirkan anak akan cenderung menunjukan hal yang negatif. Semoga tidak terjadi pada anak-anak kita ya Aamiin :)


Seminarnya dapat apa lagi selain ilmu? Alhadulilah dapat banyak! Selain dapat buku 'Panduan Memilih Sekolah Anak Zaman Now' karya Pak Bukik, dkk, kita yang ikut seminar juga dapat goodie bag lucu!





Ini punya saya dapat gambar kucing, senang sekali karena favorit Aliyah. Goodie bag nya bisa diwarnai juga. Gemas ya! Goodie bag nya dikasih sama @ruangdolanan :)

Di dalam goodie bag nya ada apa?




Ada voucher check up dari Lab Prodia yang potongannya lumayan sekali.


Ada voucher juga dari Klinik Anakku Surabaya untuk tes kesiapan anak sekolah. Yeiy!





Eh, ternyata ada bonus lagi buat saya, dapat rejeki doorprize juga. Alhamdulillah! 


Asupan gizi para peserta seminar juga terjamin sekali sabtu kemarin. Sebelum seminar dimulai kita boleh cicip-cicip snack enak-enak for FREE! Pulangnya masih dibekali nasi bakar pula! Senangnya..




Sayang sekali saya tidak ajak Aliyah untuk ikut padahal mbak Iput dan tim Bikin-bikin di taman menyediakan ruang khusus playground untuk anak. Playgroundnya dari Smart Shin's House (Childrens Day Care and Learning Center ) Seminarnya benar-benar paket lengkap. :) Pulang ke rumah saya senang sekali karena saya telah dapat jawaban dari kebingungan saya tentang bagaimana memilih sekolah untuk Aliyah nanti. Well done untuk mbak Iput dan tim Bikin-bikin di taman :) Terimakasih banyak! 


Next time ingin ikut lagi kalau ada seminar lagi,  In Syaa Allah. Ibu juga ikut yuk! Follow saja IG nya mbak Iput @iburakarayi supaya dapat info terus :)


Semoga sharingnya bermanfaat ya Ibu!


Have a nice day :)












Belajar Warna, Bentuk, dan Menempel dengan kertas Origami

| on
March 13, 2018

Akhir-akhir ini saya sering bingung akan bermain apa lagi dengan Aliyah di rumah. Setiap hari Aliyah semakin aktif,  semakin menuntut untuk melakukan berbagai aktifitas,  indoor maupun outdoor. Terinspirasi dari acara televisi bayi yang mengenalkan bentuk dan warna,  saya kepikiran membuat juga. Kali ini dari bahan murah meriah kertas origami.  Selain Aliyah lebih mengenal warna dan bentuk,  melalui permainan ini Aliyah juga melakukan aktifitas menempel (karena Aliyah suka sekali menempel,  dan kalau beli buku stiker melulu,  bisa tekor mamanya :D).
Permainan ini juga membuat saya dan Aliyah saling berkomunikasi dengan cara sederhana. 
Selain itu,  aktifitas ini juga dapat melatih anak untuk lebih siap ketika masuk usia sekolah nanti,  karena kurang lebih aktifitas seperti ini juga diajarkan di sekolah. 

Berikut step by step membuatnya ya Ibu,  siapa tahu bisa dicoba juga dirumah :) Saya rekomendasikan aktifitas ini untuk anak usia pra sekolah :)

1. Siapkan bahan kertas origami berbagai warna. Saya membuat bentuk buah,  jadi saya pilih warna-warna sesuai buah-buahan saja.  Kertas origami yang saya gunakan ukuran 16x16 cm. 

2. Siapkan pensil,  gunting dan lem kertas. 

3. Lipat kertas origami menjadi 4 bagian, lalu digunting. Tujuannya sederhana,  supaya lebih hemat saja pakainya.  Haha. 



4. Gambar bentuk buah sesuai keinginan. Gambar juga detail daunnya ya.  

5. Beri lem di balik kertas untuk ditempel anak di media yang telah Ibu sediakan. Saya dan Aliyah menempel di tembok supaya Aliyah bisa lihat terus hasil karyanya. Kalau pakai lem kertas In Syaa Allah mudah untuk dilepas kembali.  Tapi kalau Ibu merasa sayang di tembok boleh juga di buku gambar atau papan tulis :)

6. Biarkan anak yang memberi lem,  dan menempel sesuai dengan keinginannya.  Miring sedikit juga tidak apa-apa :)




7. Beri titik-titik dengan spidol pada gambar buah agar lebih terkesan real.  Biarkan anak yang melakukannya :).

Jadi deh buah-buahan dari kertas origami nya. Jangan lupa, mainnya sambil bercerita ya Ibu, agar sekalian dapat mengembangkan daya imajinasi anak :) 

Semoga sharingnya memberi manfaat ya Ibu. 

Selamat bermain :)