BELAJAR SERU DI POP MAMA PARENTING ACADEMY 2020

| on
October 10, 2020


Halo!

Bagaimana kabarnya teman-teman mama di awal bulan Oktober ini? Semoga sehat dan senang selalu ya :) Semoga segala urusan rumah tangga, suami, anak, pekerjaan berjalan dengan lancar :) Masih di masa pandemi, rasanya doa-doa sederhana diatas dapat membantu menenangkan hati dan memberi semangat dalam menjalani hari :) Kita semua tentu sedang berjuang dengan cara masing-masing dalam menjalani kehidupan di tengah pandemi. 

Kebiasaan-kebiasaan normal yang baru membuat kita mau tidak mau mulai beradaptasi dengan kondisi saat ini. Begitu pula dengan peran yang dijalankan sebagai seorang mama. Menjalankan kegiatan seperti #dirumahaja, work from home, school from home, workout at home, buying stuffs online yang awalnya tidak terbayang sebelumnya, lama-lama menjadi kebiasaan dan kita pelan-pelan mulai dapat beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru tersebut :) Meski mulai terbiasa, namun tantangan kehidupan tentu akan selalu datang silih berganti. Satu hal yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan diri agar kita dapat melalui bebagai tantangan kehidupan di tengah pandemi bahkan mungkin sampai setelah masa pandemi selesai nanti.

Lalu, apa saja nih yang perlu kita persiapkan dalam menghadapi tantangan di masa pandemi? 

Sebenarnya ada banyak aspek yang perlu kita persiapkan dalam menghadapi tantangan di masa pandemi. Mulai dari lebih cermat dalam mengatur keuangan keluarga, menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makan sehat dan berolahraga, menjaga kesehatan mental diri sendiri dan keluarga sampai membuka diri untuk belajar hal baru dan saling berbagi ilmu dengan siapapun. Nah, yang terakhir, membuka diri untuk belajar hal baru dan saling berbagi ilmu adalah satu yang lumayan sering saya lakukan di rumah. 

"Eh, kau ndak belajar kah?" kata ibu saya dengan loga Sulawesi nya yang khas jika melihat saya sedang bersantai di satu kesempatan, hahaha. Mungkin karena saya sebanci itu mengikuti kelas-kelas parenting, jadi kalau saya sedang senggang, ibu saya malah bingung :'))
Meski belum bisa kemana-kemana dan bertemu dengan orang lain secara intens, namun kesempatan untuk belajar dan mendapatkan ilmu baru terutama tentang pengasuhan dan komunikasi dalam keluarga tenyata tetap terbuka lebar. Inilah yang patut disyukuri sebagai mama-mama yang hidup di era milenial. Beragam informasi sangat mudah kita akses melalui berbagai media secara digital. 

PopMama.com , media Belajar, Berbagi dan Bertukar Pikiran bagi Mama Milenial

Teman-teman mama sebagian mungkin sudah sangat familiar dengan popmama.com, salah satu platform media digital di bawah IDN Media. Nah, untuk teman-teman mama yang baru mengetahui popmama.com, popmama.com ini adalah satu platform media digital di bawah IDN Media yang diluncurkan pada tahun 2018 dengan tujuan untuk menyajikan ragam informasi parenting bagi milenial mama di seluruh Indonesia. Jadi, melalui platform popmama.com teman-teman dapat mengakses beragam informasi maupun artikel yang terkait dengan parenting dan kehidupan berkeluarga. Saya sendiri sangat senang membaca artikel-artikel di popmama.com karena artikelnya sangat beragam dan informatif.


Ada 5 kategori yang dapat teman-teman mama akses di popmama.com yaitu, Pregnancy, Baby, Kid, Big Kid, dan Life. Selain itu ada juga tersedia tools seperti Due Date Calculator, Ovulation Calculator, Baby Names Finder, dan Pregnancy Weight Gain Calculator. Di popmama.com kita juga berkonsultasi dengan ahli tentang parenting dengan menfaatkan kolom Tanya Ahli. Saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman sesama mama milenial juga dapat kita lakukan popmama.com dengan adanya kategori Community. Teman-teman mama hanya perlu sign in dengan email ataupun akun Facebook, untuk bergabung di Community popmama.com. Rasanya jadi semakin mudah ya menjalankan peran mama di era milenial dengan mudahnya akses informasi di platform popmama.com :)

POPAC. Pop Mama Parenting Academy

Nah, ada yang berbeda nih dari popmama.com jika dibandingkan dengan platform digital lainnya. Setia dengan tujuannya, yaitu sebagai platform yang menyajikan ragam informasi parenting bagi milenial mama, popmama.com punya acara yang tahunan bernama Pop Mama Parenting Academy. Pop Mama Parenting Academy yang diadakan setiap tahun ini diharapkan dapat menjadi solusi satu atap bagi para orangtua milenial yang mencari hiburan, pendidikan, pengalaman menyenangkan dan pengalaman berbelanja. 

Di Pop Mama Parenting Academy kita dapat menemukan semua yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan pengasuhan di masa depan, termasuk termasuk tantangan pengasuhan terbesar saat ini, yaitu bagaimana memanfaatkan internet dengan bijak di era Internet Of Things. 

Dari pengalaman mengikuti Pop Mama Parenting Academy, diharapkan dapat membuat kita semakin mudah untuk memahami apa yang sedang terjadi di dunia, bagaimana hal tersebut dapat terjadi sehingga kita dapat mempersiapkan diri menghadapi tantangan dalam menjalankan peran sebagai orangtua di era milenial. 

Pop Mama Parenting Academy (POPAC) 2020 with Tokopedia

Oh iya, di tahun 2020 ini Pop Mama Parenting Academy diadakan untuk kali ketiga setelah dua tahun sebelumnya, tahun 2018 dan 2019 telah sukses diadakan secara offline dan dihadiri kurang lebih 7000 orangtua dari seluruh Indonesia, wow! Sedikit berbeda di tahun ini, berhubung masih di tengah kondisi pandemi dimana adanya anjuran untuk disiplin melakukan phisycal distancing demi menjaga kesehatan bersama, Pop Mama Parenting Academy diadakan secara online  melalui platform website, Zoom, Whatsapp dan Youtube dan berlangsung dari tanggal 28 September - 3 Oktober 2020. 

Meski diadakan secara online, POPAC 2020 tetap konsisten menyajikan beragam hiburan, pendidikan, pengalaman menyenangkan dan pengalaman berbelanja. Dengan meggandeng Tokopedia sebagai partner utama, POPAC 2020 kali ini mengsusung tema "Nurturing the Future-Ready Family" yang dilatar belakangi oleh kondisi pandemi yang membuat kita lebih melek teknologi dan agar kita siap menghadapi tantangan pengasuhan di masa depan :) Tidak main-main, ada 40 orang experts dari beragam bidang yang diundang sebagai pembicara di kelas-kelas POPAC 2020. Bagi saya, POPAC 2020 yang diadakan secara online kali ini ada hikmahnya, karena saya yang notabene berdomisili di luar Jabodetabek juga bisa ikutan, yaiy!

Serunya POPAC 2020 with Tokopedia

Seperti yang sudah saya ceritakan diaas, POPAC 2020 with Tokopedia diadakan selama 6 hari beturut-turut, mulai dari tanggal 28 September sampai tanggal 3 Oktober 2020. Rundown acara setiap harinya cukup padat, dari siang sampai malam. Kita benar-benar  dimudahkan untuk bisa memilih topik dan jam kelas yang sesuai dengan jadwal harian kita. Topik yang dibahas juga sangat beragam dan benar-benar mencakup semua kategori yang ada di platform popmama.com, mulai dari kelas untuk ibu hamil, bayi, balita, dan anak. Teman-teman mama bisa lihat contekan rundownnya dibawah :) 





Alhamdulillah saya sempat mengikuti keseruan POPAC 2020 with Tokopedia ini. Dari hari pertama saya sudah pasang ancang-ancang ingin ikut kelas yang mana saja. Ini benar-benar kesempatan emas sih bagi saya si banci kelas, hehe. Gimana engga, biasanya saya ikut kelas parenting berbayar, namun kali ini saya bisa ikutan kelas secara GRATIISSS (maaf capslocknya tiba-tiba jebol :P) dengan para pembicara nya dari salah satu akun psikolog idola saya, combo ga tuh happy nya saya :) Di hari pertama ini saya juga sempat berbagi di instagram story saya kepada teman-teman mama tentang Pop Mama Parenting Academy 2020 ini. Saya sendiri rasanya ingin mengikuti semua kelas di POPAC 2020 with Tokopedia namun tidak bisa karena berbenturan dengan jadwal saya yang lain :(



Sedikit cerita dari serunya kelas yang saya ikuti. Di hari pertama, saya ikutan live streaming di Youtube, dengan menyaksikan Opening dari CEO IDN Media, Winston Utomo dan Editor In Chief Popmama.com, Sandra Ratnsari, serta Strategic Initiative Senior Lead - Mom baby & Home Living Category Tokopedia, Rizky Widyastuti. Lalu, saya lanjutkan dengan menyaksikan live streaming oleh Niesa Handayani S.Psi, PGD tentang Play Therapy Untuk Solusi Tepat Atasi Stress Pada Anak Saat Di Rumah Aja.  



Dari topik Play Therapy ini saya jadi dapat insight kalau anak-anak juga bisa stress meski mereka belum bisa mengungkapkannya. Tanda-tanda stress pada anak menurut mbak Niesa, biasanya ditunjukkan dengan adanya perubahan perilaku pada anak seperti mudah marah/rewel, atau nafsu makan yang menurun.

Lalu, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti salah dua dari kulwhap POPAC 2020 yang sesuai dengan kebutuhan saya dan anak saya yang saat ini berusia 5 tahun :) Nah, di kulwhap ini lumayan seru nih karena popmama.com juga bagi-bagi rejeki vouvher belanja dari Toys Kingdom. Kulwhap yang sempat saya ikuti adalah Kuwhap '1001 Strategi untuk Generasi Unggul: Membangun Mental Pantang Menyerah" oleh Fathya Artha Utami, M.Psi, Psikolog. Di kulwhap ini kita dapat banyak tips dari Mama Fathya dalam membangun mental pantang menyerah pada anak. Saya juga sempat mengajukan pertanyaan pada Mama Fathya tentang apakah sifat pantang menyerah dapat diturunkan, dan sejak anak usia berapa dapat mulai diarahkan untuk mempunyai sifat pantang menyerah. Surprisingly, pertanyaan saya terpilih sebagi 5 pertanyaan terbaik, wohooo. Tapi kali ini belum rejeki nya saya nih untuk dapat voucher Toys Kingdom karena yang terpilih untuk mendapatkan voucher hanya 3 pertanyaan saja, hehe.

Kulwhap selanjutnya yang sempat saya ikuti adalah Tips dan Trik Keluarga Sehat Mental di Masa Penuh Tantangan 4.0 oleh Putu P.D Andani M.Psi, Psikolog. Dari sharing mama Putu di kulwhap ini, saya dapat insight bagaimana cara kita mereduce stress, melakukan self management sehingga dapat memahami child behaviour management, lalu yang terakhir adalah tentang time management yang baik selama di rumah saja. Saya juga sempat ikutan webinar Workshop DIY Toys For Toddlers di hari ke-5 dan webinar Nusaa is Back: Edukasi Digital untuk Keluarga di hari ke-6.

Oiya, setiap pukul 19.30-20.30 setiap harinya selalu ada Exclusive Deals dari Tokopedia x Pop Mama Parenting Academy di aplikasi Tokopedia. Disana ada banyaak sekali produk ibu dan anak serta kebutuhan rumah tanga, yang dibanderol dengan satu harga hanya Rp 99,000 saja. Best Deal banget sih ini buat saya.

Gimana, teman-teman mama seru banget ya POPAC 2020 with Tokopedia? :)


Terus, apa nih manfaat dan kelebihannya Pop Mama Parenting Academy 2020?

Kalau bicara tentang apa manfaat dan kelebihan Pop Mama Parenting Academy 2020 with Tokopedia jelas banyak sekali manfaatnya bagi saya. Saya coba jabarkan satu persatu ya :)
  • Dari POPAC 2020 saya bisa dapat ilmu langsung dari para experts
  • Saya jadi bisa berhemat dan dapat mengalokasikan dana untuk mengikuti kelas online yang saya punya ke pos yang lain karena, ilmu yang saya dapatkan GRATIS hehe
  • Saya dapat mengikuti rangkaian acara POPAC 2020 dengan flkesibel karena diadakan secara online. Ini juga menjadi kelebihan POPAC 2020 karena diadakan secara online, maka lebih banyak orangtua yang dapat saling belajar bersama seolah tanpa jarak.
  • Saya bisa belajar tentang pengasuhan sekaligus menikmati hiburan juga sambil berbelanja dengan cermat hanya melalui satu platform Pop Mama Parenting Academy 2020 with Tokopedia.
  • Dari ilmu yang saya dapatkan di POPAC 2020, saya merasa jauh lebih siap menghadapi tantangan pengasuhan di masa depan :)
Lumayan sekali ya pengalaman saya mengikuti Pop Mama Parenting Academy 2020 with Tokopedia :) Gimana teman-teman mama, ada yang mulai merasa menyesal karena belum sempat ikutan keseruannya POPAC 2020? hehe. Tenaang, jangan sedih karena teman-teman mama masih dapat mengakses artikel-artikel dari kelasnya di website Pop Mama Parentin Academy dan untuk live streaming di Youtube juga bisa ditonton di Youtube Channel Pop Mama :) Teman-teman mama juga dapat mengikuti akun instagram Pop Mama dan Pop Parenting Academy serta Facebook Pop Mama agar tidak ketinggalan update terbaru dari popmama.com :)

Semoga bermanfaat :)

MENGENAL DEMENSIA ALZHEIMER DAN DETEKSI DINI DEMENSIA ALZHEIMER DENGAN E-MEMORY SCREENING

| on
September 23, 2020



"Kita pasti tua

Kita pasti tua

Lemah dan tak bertenaga

Mulai rentan berkelana

Di balik rambut putihku

Kita pasti tua

Mulai pelan dan pelupa

Rabun sudah bola mata

Ada yang tak berubah

Kita pasti tua..."

Halo!

Ada yang familiar dengan lirik lagu di atas? Atau baru pertama kali tau kalau ada lirik lagu semacam ini? Ini adalah lirik lagu Kita Pasti Tua dari sebuah band indie Fourtwnty. Saya sendiri cukup sering mendengarkan lagu Kita Pasti Tua, karena selain iramanya yang nyaman sekali di telinga, sebagaimana ciri khas lagu-lagu dari Fourtwnty, liriknya pun menjadi pengingat bagi saya, kalau kelak jika diberi umur panjang olehNya, suatu saat saya akan menua, mulai rentan dan menjadi pelan atau bahkan pelupa. Kalau teman-teman mama penasaran dengan lagunya coba deh dengerin dan kasih tau saya ya enak apa engga lagunya :) 

Ngomong-ngomong kali ini kita ga akan membahas tentang lagu Kita Pasti Tua, tapi tentang tua yang mulai pelupa atau kadang disebut pikun. Jadi, pada hari Minggu 20 September 2020 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti webinar dalam rangka Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia yang diselengggarakan oleh PT Eisai Indonesia dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). Festival Digital Bulan Alzheimer ini merupakan bagian dari Program Kampanye Edukatif #ObatiPikun yang ditujukan untuk para dokter dan masyakarat awam. Dari webinar yang berlangsung dari pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang tersebut, saya mendapatkan banyak sekali insight tentang demensia Alzhaimer/pikun antara lain tentang gejala, penyebab, penanganan sampai dengan pencegahan demensia Alzheimer yang dapat dilakukan dengan aplikasi E-Memory Screening. Nah, melalui blog post ini saya ingin berbagi apa saja yang saya dapatkan dari Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia kepada teman-teman mama :)

Tentang Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia

Seperti yang sudah sempat saya sebutkan di atas, Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia diselenggarakan oleh PT Eisai Indonesia dan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) sebagai bagian dari Program Kampanye Edukatif #ObatiPikun. PT Eisai Indonesia sendiri merupakan sebuah perusahaan farmasi dengan filosofi human health care (hhc) yang telah berkontribusi untuk industri kesehatan di Indonesia selama 50 tahun. 

Webinar Festival Digital Bulan Alzheimer ini menghadirkan narasumber dari kalangan para dokter, antara lain:

1. dr. Siti Khalimah, Sp.KJ MARS, selaku direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

2. DR. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K), Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PERDOSSI 

3. dr. Iskandar Linardi selaku President Director PT Eisai Indonesia (PTEI)

4. dr. S.B Rianawati SpS(K), Pokdi Neurobehaviour Cabang Malang

5. dr. Junita Maya Pertiwi SpS(K) Kelompok Neurobehavior PERDOSSI

Oh iya, karena Program Kampanye Edukatif #ObatiPikun ditujukan untuk para dokter dan masyakarat awam, maka di pertengahan webinar, room di break out menjadi room untuk kalangan dokter dan room untuk masyarakat awam karena materi yang disampaikan tentu sedikit berbeda :) Nah, untuk narasumber yang saya sebutkan seperti dr. Rianawati dan dr. Maya adalah narasumber untuk materi di room masyarakat awam :)

Tentang Demensia dan Demensia Alzheimer

Pikun atau di dalam dunia medis disebut dengan demensia merupakan penurunan fungsi otak seperti menurunya daya ingat dan kecepatan berpikir dan berperilaku. Disini terdapat sedikit perbedaan nih antara pelupa dan pikun, karena ternyata pelupa belum tentu dapat disebut pikun.



Sebagian besar dari kita sering menganggap kalau pikun adalah hal yang wajar dialami di saat tua. Namun ternyata, pikun dapat berisiko menjadi menjadi demensia loh teman-teman mama. Demensia sendiri banyak macamnya, ada demensia yang disebabkan penyakit tertentu (seperti tumor otak, kalau ini bisa saja dialami saat usia muda hingga tua), atau dapat juga dialami saat usia tua (yang ini lebih dikenal dengan demensia Alzheimer). Beberapa klasifikasi dari demensia diantaranya:

1. Demensia Alzheimer

2. Demensia Vaskuler

3. Demensia Vaskuler

4. Demensia Frontotemporal

5. Demensia Penyakit Parkinson

Dari data Kementerian Kesehatan Indonesia, di negara tercinta kita, Indonesia, prevelensi demensia pada tahun 2016 mencapai 1,2 juta jiwa, yang diprediksi dapat terus meningkat menjadi 1,9 juta jiwa di tahun 2030 dan hampir 4 juta jiwa di tahu  2050. Sedangkan data dari Alzheimer's Disease International dan WHO mencatat setidaknya lebih dari 50 juta orang mengalami demensia, dan sebanyak 60-70% nya adalah penderita demensia Alzheimer. 

Bagaimana sih Gejala Demensia Alzheimer dan Apa Saja Penyebab Demensia Alzheimer?

Sebagai bentuk awareness kita terhadap penyakit demensia Alzheimer tentu kita perlu mengetahui apa saja gejala dan faktor penyebab demensia Alzheimer. Beberapa gejala demensia Alzheimer diantaranya seperti:

1. Gangguan daya ingat atau sering lupa. 

2. Disorientasi, bingung akan waktu (hari dan tanggal), tidak tahu jalan pulang.

3. Menarik diri dari pergaulan

4. Perubahan perilaku kepribadian

5. Sulit melakukan pekerjaan yang familier di kehidupan sehari-hari seperti mengemudi atau mengatur keuangan.

6. Kesulitan memahami visuo-spatial, seperti membedakan warna, mengukur jarak, dll.

7. Sulit fokus

8. Mengalami gangguan berkomunikasi atau kesulitam dalam berbicara.

9. Salah membuat keputusan.

10. Menaruh barang tidak pada tempatnya.

Menurut dr.Rianawati Sp.S (K), jika ada salah satu saja dari gejala demensia Alzheimer yang ditunjukkan maka sebaiknya kita langsung melakukan deteksi dini sebagai bentuk pencegaham awal agar tidak semakin parah di kemudian hari.




Lalu, apa saja sih sebenarnya yang menjadi penyebab demensia Alzheimer? Menurut dr. Rianawati Sp.S (K) ada beragam faktor yang dapat menjadi penyebab dari demensia Alzheimer seperti gaya hidup sehari-hari yang kurang sehat misalnya merokok, minum minuman beralkohol, malas bergerak, aktivitas otak yang kurang terstimulasi, stres, ataupun rasa sedih yang berkepanjangan. Beberapa orang dengan penyakit bawaan seperti diabetes melitus yang tidak terkendali, hipertensi, stroke dan jantung koroner, obesitas, disfungsi thyroid, depresi, dan kekurangan vitamin B12 juga rentan terkena demensia Alzheimer. Demensia Alzheimer juga dapat diderita karena faktor keturunan. Secara garis besar, agar dapat terhindar dari demensia Alzheimer sebisa mungkin kita menjalankan pola hidup yang sehat ya teman-teman mama :)

Mencegah dan Mengobati Demensia Alzheimer

Seperti yang saya sebutkan diatas, kita dapat mencegah demensia Alzheimer dengan menerapkan pola hidup sehat dengan rajin berolahraga dan makan makanan yang sehat. Sebisa mungkin kita menghindari konsumsi fast food ataupun  makanan cepat saji lainnya :) Sedangkan untuk menstimulasi otak, dapat dilakukan dengan melatih otak untuk berpikir produktif dari segi fisik, mental ataupun spiritual. Melakukan permainan seperti catur juga dapat membantu otak kita terstimulasi dengan baik :) Mengonsumsi coklat dan mendengarkan musik juga dapat membantu kita dalam mencegah demensia Alzheimer.

Pencegahan juga dapat dilakukan dengan melakukan deteksi dini penyakit demensia Alzheimer. Orang dengan usia 60 tahun sangat disarankan untuk melakukan deteksi dini ini. Salah satu deteksi dini demensia Alzheimer dapat dilakukan dengan aplikasi E-Memory Screening :)

Sedangkan, jika sudah terlanjur menderita gejala demensia Alzheimer, maka dapat dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan tujuan:

1. Meringankan gejala demensia Alzheimer

2. Memperlambat penyakitnya

3. Membuat penderita dapat hidup semandiri mungkin

Langkah-langkah pengobatan seperti  mengatasi penyebab pikun, mengonsumsi obat-obatan untuk meringankan gejala, menjalani terapi stimulasi kognitif, dan melakukan perawatan paliatif dapat kita lakukan untuk mengobati demensia Alzheimer. Lalu, bagaimana penjelasan langkah-langkah pengobatan tersebut menurut dr. Rianawati Sp.S (K)?

Mengatasi penyebab pikun, jika pikun diderita karena penyakit lain seperti tumor otak, maka langkah yang dapat dilakukan adalah dengan mengobati tumor otaknya lebih dulu seperti dengan prosedur operasi atau kemoterapi. Sedangkan jika karena kurangnya nutrisi tubuh, maka kita perlu menyeimbangkan nutrisi dengan makan makanan yang bergizi dan mengonsumsi suplemen :)

Mengonsumsi obat-obatan untuk memperbaiki gejala pikun dan meningkatkan fungsi otak.

Menjalani terapi Stimulasi Kognitif untuk memperbaiki fungsi kognitif seperti berolahraga, bermain kata atau angka, membaca buku cerita, menggambar, mewarnai, membuat karya seni, memasak serta berkreasi. Saya jadi teringat ragam stimulasi kognitif untuk anak yang kurang lebih sama :)

Perawatan Paliatif dilakukan jika keadaan sudah terlanjur parah seperti kanker stadium akhir dengan demensia, ma yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas hidup di sisa usia, mengurangi rasa sakit dan membina kondisi psikis serta melakukan konseling dan meminta dukungan penuh dari teman dan keluarga. 

Deteksi Dini Demensia Alzheimer dengan Aplikasi E-Memory Screening

Dari tulisan saya diatas teman-teman mungkin telah berulang kali membaca deteksi dini demensia Alzheimer dapat dilakukan dengan aplikasi E-Memory Screening. Sebenarnya apa sih E-Memory Screening ini? Bagaimana sih cara pengaplikasiannya untuk deteksi dini demensia Alzheimer? E-Memory Screening adalah aplikasi milik PERDOSSI yang didukung oleh PT Eisai Indonesia (PTEI). EMS sendiri dikembangkan dengan tujuan sebagai alat edukasi untuk masyarakat umum untuk mengetahui tentang penyakit demensia juga sebagai alat deteksi dini untuk penyakit demensia.



Ada 3 fitur utama EMS yang dapat kita manfaatkan dan gunakan untuk mengenal demensia secara lebih dekat.

Fitur Artikel Demensia, pada fitur ini kita dapat menemukan beragam artikel tentang demensia.

Fitur ADB-INA Skrinning (Deteksi Dini), di fitur ini kita dapat melakukan deteksi dini demensia Alzheimer dengam menginput data diri lalu menjawab 8 pertanyaan yang terkait dengan gejala demensia. Kita diharapkan untuk jujur 100% dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut agar nantinya dapat diambil kesimpulan apakah kita mengalami gejala demensia atau tidak :)

Fitur Daftar RS dan Sp Neurologis, nah setelah menjawab beberapa pertanyaan di fitur Deteksi Dini, kita kemudian akan dibantu untuk menemukan daftar rumah sakit ataupu  dokter spesialis neurologis yang terdekat dengan  jarak sampai maksimal 50 kilometer dari tempat tinggal kita sebagai upaya penanggulangan atau pencegahan demensia Alzheimer :)

Oh iya Aplikasi EMS ini sudah bisa teman-teman mama unduh di Playstore dengan nama EMS Sahabat Otak Keluarga. Untuk di Appstore sementara masih dalam proses approved, dan semoga segera bisa diunduh juga dalam waktu dekat :)

Merawat Penderita Demensia Alzheimer di Masa Pandemi

Kita tentu akan sangat mengerti dan memahami bagaimana pentingnya mencurahkan segenap perhatian kita pada penderita demensia Alzheimer. Jika di masa normal saja kita perlu memperhatikan mereka 100% maka, di masa pandemi seperti saat ini, perhatian yang dibutuhkan dari kita tentunya akan meningkat sampai 110% atau bahkan lebih. Bukan hal yang mudah, namun juga bukan hal yang tidak mungkin umtuk dilakukan. Menurut dr. Maya, kunci dalam merawat penderita demensia Alzheimer adalah dengan penuh cinta dan kasih sayang. Karena kondisi pandemi, maka mungkin aktivitas keseharian penderita demensia Alzheimer menjadi sedikit lebih terbatas. Misalnya saja, ketika dalam masa normal yang biasanya sering berjalan-jalan di taman, menjadi tidak bisa dilakukan karena sedang dalam masa pandemi. 

Perubahan-perubahan yang dialami tentu saja sedikit banyak membawa dampak psikis bagi penderita demensia Alzheimer sehingga kita sebagai caregiver diharapkan dapat jauh lebih sabar dan mengalah, sebisa mungkin memberi bantuan, meghindari memaksa penderita untuk melakukan sesuatu, dan berusaha masuk ke dunia mereka agar kita dapat memahami apa yang mereka rasakan. Pada intinya, menurut dr.Maya, kita perlu menciptakan rasa senang dan tenang pada penderita demensia Alzheimer agar hari-hari yang dilalui terasa lebih menyenangkan bagi mereka :)

Bagaimana teman-teman mama? Lumayan sekali ya insight yang saya dapatkan dari mengikuti webinar Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia :) 

Semoga bermanfaat dan sehat selalu ya :)



























Hello August!

| on
August 05, 2020

 


Halo!

Di awal bulan Agustus ini kami sekeluarga sempat memberanikan diri untuk keluar rumah yang agak jauhan sedikit. Tujuannya ke daerah pegunungan tempat biasa kami 'kabur' sebentar sewaktu dulu sebelum pandemi. Jaraknya tidak begitu jauh dari rumah kami, kurang lebih sekitar 1 jam perjalanan. Meski ke daerah pegunungan yang tidak begitu ramai, kami tetap pakai APD dan yaah, rasanya ada yang beda saat jalan-jalan di masa pandemi seperti sekarang ini. Jujur saya tidak menikmati perjalanan ini sepenuhnya. Masih merasa sedikit was-was dan heem yaah udara pegunungan yang sangaat alami dan menyegarkan, kurang dapat begitu dinikmati karena ada masker yang menutupi jalan masuknya udara segar itu ke tubuh ini.


Seketika saya langsung teringat “Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan” ? 😢 Dulu, bisa menghirup udara dengan bebas yang we take for granted namun kadang suka lupa untuk disyukuri 😢 Sepulangnya, saya benar-benar merasa sangat 'cukup'. Sungguh apa-apa yang diberikan olehNya lebih dari cukup. Sungguh rasa 'kurang' itu datang dari hati yang kadang lupa kata syukur ini. Sungguh nikmatNya senantiasa tidak dapat didustakan. Semoga, di keadaan yang cukup strunggling seperti sekarang ini, kita semua senantiasa diluaskan rasa sabar dan syukur olehNya, Aamiin :)

Have a nice August teman-teman mama :)



 

DIY SAND PAPER LETTER

| on
July 31, 2020


Halo!

Apa kabar teman-teman mama? Semoga sehat selalu ya :) Di blog post sebelumnya saya sempat berbagi cerita tentang Belajar Membaca Dengan Makna dari Buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja, yang di dalam nya ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menemani anak-anak dalam belajar membaca dengan makna, salah satunya adalah dengan mengenalkan bentuk huruf kepada anak melalui sand paper letter.

Tadinya saya tidak terlalu ngeh juga apa itu sand paper letter, hehe. Lalu setelah mencari tau, ternyata sand paper letter adalah huruf alfabet yang terbuat dari kertas amplas. Basically, karena anak-anak lebih mudah mengenal hal secara konkret dan nyata, maka sand paper letter ini dapat digunakan oleh anak untuk meraba dan menyentuh bentuk huruf alfabet sehingga bagi mereka huruf-huruf tersebut tampak konkret dan nyata. Sedangkan tulisan huruf diatas kertas ternyata bagi anak-anak adalah hal yang cukup abstrak. Oleh karena itu, harapannya dengan mengenalkan sand paper letter pada anak, anak-anak menjadi lebih mudah paham dan mengerti bentuk dari beragam huruf :)

Saya pun mencoba membuat sand paper letter untuk Aliyah di rumah karena sebelumnya sempat kebingungan mencari dimana yang menjual sand paper letter ini hehe. Yo wis lah, daripada bingung nyari-nyari yang jualan (belum lagi biasanya aparatus nya Montessori tuh agak pricey bagi saya imho :P) lebih baik dibikin sendiri saja di rumah. Tidak perlu yang super duper rapi banget yang penting dapat fungsi dan tujuannya (sebuah pembenaran dari orang yang ga bisa bikin apa-apa dengan rapi, :')) Nah, kalau teman-teman mama ingin mencoba membuat juga di rumah, saya coba sharing step by step nya versi saya yah :) Silakan bisa dimodifikasi sendiri sesuka hati setenang jiwa :)

DIY SAND PAPER LETTER 

Bahan:

1 lembar kertas amplas
2 lembar kertas karton warna
lem 

Alat:

Penggaris
Pensil
Penghapus
Gunting
Cutter (opsional)

Step by Step:

Siapkan bahan dan alat yang diperlukan. Untuk kertas amplas nya saya menggunakan kertas amplas dengan merek TOHO (saya sebenarnya kurang mengerti merek kertas amplas dan se-dikasihnya sama bapak yang jualan hehe, hanya menurut saya merek ini teksturnya pas, tidak terlalu kasar dan tidak terlalu halus juga, dan ketebalannya tidak begitu tebal jadi InsyaAllah lebih mudah untuk digunting). Menurut saya kertas amplas yang berwarna hitam lebih baik daripada yang berwarna merah karena huruf alfabet yang dibuat akan lebih eye catching bagi anak jika hurufnya berwarna hitam :)


Balik bagian belakang kertas amplas. Nah, di bagian belakan kertas amplas ini yang kemudian akan kita gambar huruf alfabetnya :) Sebelumnya, bagi kertas amplas menjadi kotak-kotak kecil berukuran 3,5cm X 3,5 cm agar besar huruf nantinya kurang lebih sama. Oh iya, kertasnya sebaiknya tidak digunting dulu yah, agar nantinya kita lebih mudah menggambar hurufnya satu persatu :)


Setelah gambar kotak selesai, sekarang mulai deh buat tulisan huruf alfabetnya satu persatu. Disini akan agak tricky nih karena kita menggambarnya harus secara terbalik, jadi misalnya huruf a kecil yang menghadap ke kiri harus digambar dengan menghadap ke kanan, dan begitu seterusnya untuk huruf-huruf lainnya :) Saya sendiri sempat salah juga menggambarnya hehe, untungnya karena pakai pensil jadi mudah untuk dihapus dan diambar ulang.


Cek n ricek semua huruf apakah sudah benar tulisannya atau belum. Kalau sudah langsung deh digunting satu persatu (ini bagian yang agak minta sabaarnya banyakan dikit :'D) Hasilnya nanti akan seperti pada gambar :)



Terus, siapkan kertas karton warna 2 lembar (warna nya bisa dipilih yang sesuai dengan warna favorit anak. Sama dengan kertas amplas yang dibagi kotak-kotak, kertas kartonnya juga dibagi kota-kotak. Versi saya, dibuat dengan ukuran 5,5cm X 6,5 cm atau 5 kotak mendatar dan 3 kotak menurun (lah macam TTS nih hahaha). Kalau sudah digambar kotak-kotaknya, langsung deh digunting :)


Sekarang tinggal menempelkan huruf alfabetnya ke atas kertas karton. Menempel hurufnya bisa agak di pinggir sedikit dengan tujuan anak-anak dapat leluasa membedakan tekstur yang kasar dari kertas amplas dan tekstur halus dari kertas karton :) Untuk menempel, versi saya, saya suka pakai lem Fox karena beneran multipurpose glue banget, daya rekatnya untuk kertas lebih rekat jika dibandingkan dengan lem kertas biasanya yang bening-bening itu. Untuk menempel kayu seperti stik es krim ataupun biji-bijan untuk anak-anak belajaran jauh lebih rekat juga kalau pakai lem Fox :)


Kalau sudah ditempel semua hurufnya, jadi deh sand paper letter nya :)

TIPS BERMAIN SAND PAPER LETTER

Dari buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja, cara main sand paper letter sederhana saja. Jadi kita bisa pelan-pelan mengenalkan hurufnya ke anak sedikit demi sedikit, misalnya 3 huruf saja dulu. Kita bisa meminta anak untuk meraba dan merasakan tekstur kasar dari hurufnya, mengarahkan jari nya mengikuti bentuk hurufnya, lalu meminta anak untuk menyebutkan huruf yang disentuhnya. Jika diantara huruf yang disebutkan ada yang salah, kita bisa membantu anak untuk mengingatnya dan mengulangnya lagi keesokan harinya :) 

Sand paper letter ini nantinya juga dapat manjeadi tahapan pra menulis bagi anak, karena anak secara tidak langsung mengenal alur bentuk dari sebuah huruf :) Oiya, untuk versi video DIY Sand Paper Letter ini teman-teman bisa main-main ke instagram saya @ajengnatassia disana saya highlight story sandpaperletter :)

Selesai deh sharingnya tentang DIY Sand Paper Letter. Btw, ada teman-teman mama yang pernah buat sand paper letter juga kah? Yuk, share sama-sama disini :)

Semoga bermanfaat :)








SUP IKAN MUJAIR KESUKAAN ANAK

| on
July 23, 2020


Halo!

Bagaimana kabarnya teman-teman mama? Semoga sehat selalu ya :) Di blog post sebelumnya, saya sempat menulis review buku yang setelah sekian lama tidak saya lakukan. Kali ini saya kembali mengulang ke-sekian lama-an tersebut, yaitu menulis resep masakan sendiri di blog post hehehe. Nah, kali ini saya ingin berbagi resep sup ikan yang menjadi kesukaan Aliyah. Sebelumnya saya sudah pernah berbagi resep sup ikan yang komposisi bahannya hampir sama, namun di resep ini ada beberapa bahan yang tidak saya pakai, namun ternyata rasanya juga tidak kalah enaknya :) Rasa kuah dari sup ini cenderung manis yang didapatkan dari rasa manis alami wortel, bawang bombay dan ikan mujair yang masih segar :) 


SUP IKAN MUJAIR


Bahan-bahan:

2-3 potong Ikan mujair segar 

2 buah wortel, potong sesuai selera

2-3 siung bawang merah , diiris tipis

1/2 buah bawang bombay  diiris memanjang

-/+ 2 cm jahe digeprek

1-2 batang daun bawang, diiris

3-4 lembar daun jeruk 

Garam secukupnya


Cara membuat:

  1. Bersihkan ikan, lalu beri perasan air jeruk nipis agar ikan tidak amis saat dimasak.
  2. Didihkan -/+ 750 - 1000 ml air lalu masukkan wortel bersama jahe dan bawang merah.
  3. Kemudian masukkan ikan mujair bersama daun jeruk.
  4. Setelah wortel agak lunak, masukkan bawang bombay bersama tomat dan daun bawang.
  5. Rebus sebentar sampai ikan agak matang serta tomat dan daun bawang layu.
  6. Bumbui sup dengan garam, kalau ada kaldu bubuk alami juga boleh ditambahkan namun better yang rasa ayam :)

Nah, mudah sekali kan membuat sup ikan mujairnya, hehe. InsyaAllah sup ikan mujair ini kaya akan nutrisi yang dibutuhkan oleh anak-anak. Ikannya bisa diganti dengan jenis ikan yang lain seperti ikan gurami atau kakap, namun saya pribadi lebih merekomendasikan ikan mujair karena rasanya cenderung lebih manis (apalagi yang masih segar) dibandingkan dengan ikan gurami :)


Semoga bermanfaat ya :)


Selamat memasak!



BELAJAR MEMBACA DENGAN MAKNA DARI BUKU MONTESSORI: KEAJAIBAN MEMBACA TANPA MENGEJA

| on
July 21, 2020

Halo!

Rasanya sudah lama sekali saya tidak berbagi cerita dari buku yang dibaca (yaah ketahuan deh kalau akhir-akhir ini jarang baca buku :')) Terakhir cerita tentang buku yang saya bagi di blog post adalah buku Montessori Play and Learn. Sebenarnya ada lagi buku yang saya saya baca setelah Montessori Play and Learn, namun baru sempat saya bagi di instagram story saja, belum sempat di posting di blog post hehehe.
 
Nah, tahun ini, sebenarnya ada satu buku yang belum selesai saya baca di awal tahun, lalu tiba-tiba pandemi masuk ke Indonesia, membuyarkan minat baca saya (alesan lagii kan) diiringi dengan sekolah dari rumah, alhasil menambah jauh jarak saya dengan si buku :') Namun, baru-baru ada satu buku yang memaksa saya harus cepat membaca nya karena memang sangat berhubungan dengan aktivitas persekolahan Aliyah. 



Oh iya, tahun ini Aliyah Alhamdulillah resmi menjadi murid taman kanak-kanak yang notabene level belajarnya tentu saja meningkat satu level dari saat kelompok bermain. Mungkin sama kebanyakan dengan sekolah lainnya, sekolah Aliyah pun mulai mengenalkan huruf dan teknis membaca kepada anak-anak di usia taman kanak-kanak. Saya sendiri secara personal kurang sepakat, namun ya sudah lah mau mencari alternatif sekolah di tengah pandemi sepertinya kurang memungkinkan, jadi pilihannya masih dicoba dijalani dulu, toh juga masih sekolah dari rumah. Sempat terpikir untuk postpone Aliyah sekolah sementara waktu, namun pada akhirnya saya dan suami sampai di titik nothing to lose, uang pendaftaran lanjut ke taman kanak-kanak yang sudah terbayar membuat kami memutuskan untuk lanjut saja dulu sambil jalan. Kalau ternyata ditengah-tengah kurang efektif, saya dan suami sudah siap untuk mendaftarkan ulang Aliyah kembali menjadi murid taman kanak-kanak di tahun depan. 

Kembali ke belajar membaca, seiring berjalannya waktu, kami belajar untuk menerima Aliyah bertumbuh sesuai dengan 'waktunya' sendiri :) Kami, InsyaAllah akan dengan senang hati menanti setiap pencapaian barunya sebagai dirinya sendiri apa adanya :) Begitu pun dengan belajar membaca. Kami berusaha menahan diri untuk tidak memaksa Aliyah agar segera bisa membaca :) Oleh karena itu, belakangan kami jadi suka dengan pendekatan Dr. Montessori di dalam membersamai tumbuh kembang anak, walaupun dalam aplikasinya kami pilih yang paling sesuai dengan kemampuan dan kondisi kami di rumah :) 

Baru-baru ini saya membeli buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja karya Vidya Dwina Paramita, seorang Montessorian dan Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini. Dari buku ini banyak sekai insight yang didapat tentang bagaiamana membangun minat baca pada anak dan membuat mereka membaca dengan makna :) Buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja ini terhitung masih baru sekali, karena baru saja diterbitkan di bulan Maret tahun ini. Lalu bagaimana gambaran isi bukunya secara garis besar?

Mbak Vidya, penulis buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja menjabarkan proses bagaimana mengenalkan membaca kepada anak secara detail di dalam bukunya. Diawali dengan cerita tentang latar belakang "tradisi" masa lalu yang membuat anak dapat membaca namun tidak paham akan makna apa yang dibacanya. Setelah membaca bagian ini membuat saya tersadar kalau sangatlah penting untuk memperhatikan tahapan pra membaca pada anak sebelum mereka benar-benar memulai proses belajar membaca itu sendiri.

Di bagian selanjutnya, Mbak Vidya menjabarkan bagaimana tantangan pengajaran baca tulis yang dihadapi pengajar, orangtua dan anak saat ini. Menurut Mbak Vidya, ada "jembatan yang hilang" di dalam proses pengajaran baca tulis saat ini. Di satu sisi ada pendapat bahwa anak tidak boleh diajarkan baca tulis di usia pra sekolah, namun di sisi lain materi pengajaran di sekolah dasar menuntut anak membutuhkan kemampuan membaca dan menulis. Saya jadi teringat sewaktu saya kecil dulu, saya baru mulai belajar membaca saat menduduki kelas 1 SD. Namun, saat ini, anak kelas 1 SD paling tidak sudah memiliki kemampuan baca tulis. Sungguh, zaman telah berubah begitu cepat ya :')

Pada bagian berikutnya, secara berturut-turut mbak Vidya menjelaskan tentang mengapa kemampuan baca tulis anak usia dini menjadi primadona, lalu bagaimana persepsi dan definisi belajar yang sesungguhnya, kemudian tentang makna membaca yang sebenarnya sampai bagaimanan tahapan belajar membaca pada anak. Dari penjelasan mbak Vidya pada bagian-bagian tersebut, kita benar-benar bisa mendapatkan insight tentang makna membaca yang sesungguhnya. Proses dan tahapan yang kita lalui bersama anak tidak serta merta langsung mengenalkan huruf dan mengeja, namun ada proses panjang di dalamnya yang ternyata dimulai dari aktivitas anak sehari-hari. Rutin membacakan buku dan mengajak anak bercerita adalah salah satu kegiatan yang dapat dilakukan sebagai proses pra membaca pada anak. 


Tahapan stimulasi sensorik dan motorik sewaktu anak masih usia bayi sampai balita ternyata juga mempunyai peran yang penting di dalam proses pra membaca. Kesemuanya menjadi penting untuk membuat anak cinta pada proses membaca sehingga ia dapat membaca dengan penuh makna, paham akan makna tulisan yang dibaca, tidak sekadar "ini ibu budi". Pemahaman akan hal ini sebenarnya sangat dibutuhkan bagi kita para orang tua anak "zaman now" dimana anak bisa mendapatkan informasi dengan mudah dari segala akses. Menumbuhkan minat baca pada anak menjadi penting agar setiap kali anak mendapatkan informasi singkat, diharapkan mereka akan dengan sadar mencari tahu lebih dulu kebenaran informasi tersebut dengan membaca, lalu pada akhirnya anak dapat memutuskan apakah informasi tersebut baik dan benar bagi mereka atau tidak :)

Di bagian selanjutnya dari buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja ini, mbak Vidya memberi tips tahap membaca pada anak yang dapat kita lakukan di rumah, seperti bagaimana awal mula mengenalkan huruf pada anak sampai cara anak dapat membaca sebuah cerita. Dari sini saya kembali mendapatkan insight kalau ternyata anak-anak akan lebih mudah mengenal hal yang konkret lebih dulu daripada hal yang abstrak. Tulisan huruf A diatas kertas merupakan hal yan abstrak bagi anak. Oleh karena itu di dalam metode Montessori, mengenalkan huruf pada anak dimulai dengan bentuk dan raba, seperti membuat sand paper letter (sudah dicoba dibuat untuk Aliyah, Alhamdulillah Aliyah mengajdi lebih mudah mengerti, untuk tip membuat sand paper letter InsyaAllah di blog post berikutnya ya hehe). 

Pada bagian terakhir mbak Vidya menjabarkan tentang bagaimana lima area Montessori adalah sebuah benang merah yang saling terhubung satu dengan yang lain. Beragam aktivitas sensorik dan motorik yang sederhana yang dilakukan oleh anak (yang terkadang kita anggap sepele) ternyata merupakan bekal besar bagi anak untuk melakukan tahapan baca tulis. Meraba, menyentuh, menggenggam, menarik, mendorong, melihat, membedakan bentuk besar dan kecil, membedakan warna, menarik garis, dan lain-lain kesemuanya adalah tahapan awal anak mengumpulkan bekal untuk belajar membaca dan menulis. Last but not least, ada rangkuman tanya jawab dan testimonial mengajarkan membaca pada anak yang didapat berdasarkan pengalaman dari para orangtua :)

Secara keseluruhan, buku ini benar-benar sangat membantu kita para orangtua untuk memahami makna membaca yang sebenarnya, tidak hanya anak, namun juga pada diri kita sendiri. Di saat kita ingin anak jatuh cinta pada kegiatan membaca, maka kita pun juga sebaiknya jatuh cinta pada kegiatan membaca :) Bagi saya, hal ini benar-benar membuat saya tersadar kalau memang benar sejatinya orangtua akan selalu menjadi teladan pertama bagi anak :) 

Judul Buku: Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja
Penulis: Vidya Dwina Paramita
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal Buku: 192 halaman
Harga: Rp 69,0000


Semoga sharing saya kali ini bermanfaat ya :)

Selamat membaca :)




TIPS MEMBUAT RUTINITAS HARIAN UNTUK ANAK

| on
July 19, 2020


Halo!

Apa kabar teman-teman mama? Satu minggu berlalu sejak tahun ajaran baru sekolah anak-anak dimulai, dan masih dengan kondisi yang sama, anak-anak masih bersekolah dari rumah, semoga teman-teman mama masih senantiasa setroong dan semangaat yaa *pelukan virtual kita ya*. Menyambut tahun ajaran baru kali ini, saya dan Aliyah sedang mencoba untuk lebih teratur (mau bilang disiplin tapi kok ya belum sesuai realita :')) dalam menjalani hari-hari kami berdua di rumah. Tekad bulat untuk mencoba menjalani hari dengan lebih teratur kali ini diwujudkan dengan membuat daily activities plan untuk Aliyah yang secara tidak langsung juga merupakan daily activities plan saya sehari-hari.

Ide membuat daily acitivites plan ini sebenarnya sudah sejak...... disaat Aliyah masih berusia 3 tahun, namun tertunda hingga baru terealisasi tahun ini (wow, sebuah penundaan yang bisa disambi gedein anak yang baru lahir sampai anaknya bisa lari-larian :')) Iya, begitu lah ceritanya, karena memang sewaktu Aliyah berusia 3 tahun, saya pernah mengikuti kelas membuat kesepakatan dari Keluarga Kita dan daily activities plan ini sedikit banyak merupakan hasil belajar dari kelas tersebut (meski sedikit berbeda, karena membuat kesepakatan lebih ke arah membuat aturan yang disepakati di rumah untuk membangun disiplin positif dalam keluarga :))

Saya dan Aliyah sehari-hari di rumah sebenarnya sudah mempunyai rutinitas, namun terkadang masih sangat acak, dan Aliyah juga belum begitu mengerti banyak tentang rutinitas harian. Aktivitas sekolah di rumah membuat saya yang sangat kurang disiplin ini tersadar kalau sebaiknya saya tidak menurunkan 'ke kurang disiplin an' saya pada Aliyah. Oleh karena itu, akhirnya dicoba membuat rutinitas harian bersama Aliyah dengan format yang disesuaikan dengan kemampuannya saat ini. 

Rutinitas harian yang kami buat berjudul daily activities plan, karena bagi kami ini merupakan panduan awal untuk membangun rutinitas harian yang lebih teratur. Kata 'plan' ditujukan untuk proses belajar tentang rutinitas harian yang baru dimulai dan untuk mengondisikan anak-anak yang terkadang mood nya masih suka berubah-ubah.


Pada 18 Juli 2020 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti kelas online dari Klinik Anakku Surabaya tentang Motivation & Dicipline, Strategi Belajar dari Rumah. Di dalam materi tersebut, tante psikolog dari Klinik Anakku juga menyarankan untuk membuat rutinitas harian untuk anak selama di rumah saja, karena paling tidak, rutinitas harian dapat mengurangi stres pada anak selama masa pandemi sekaligus mendukung proses sekolah dari rumah. 

Oke, sepertinya cerita pendahuluannya sudah agak (ke)panjang(an) hehe, langsung saja, saya ingin berbagi sedikit tips dalam menyusun rutinitas harian untuk anak di rumah. Semoga tips ini dapat sedikit membantu teman-teman mama yang juga ingin mencoba membuat rutitinas harian di rumah bersama anak :)



Tips Membuat Rutinitas Harian (Daily Activities Plan)
  • Poin penting dalam membuat rutinitas harian adalah menyesuaikannya dengan usia dan kemampuan anak saat ini. Versi Aliyah, berhubung Aliyah belum bisa membaca dan juga belum bisa melihat jam, jadi rutinitas yang kami buat berdasarkan gambar :) Untuk waktu nya dibuat juga dengan gambar yang dibagi dalam 4 waktu, yaitu pagi, siang, sore dan malam :) Banyak sedikitnya aktivitas yang dilakukan juga disesuaikan dengan usia anak :) Untuk adik-adik yang berusia 3 tahun misalnya, rutinitas nya bisa dimulai dari 3-4 aktvitas saja. Untuk kakak-kakak yang sudah sekolah dasar mungkin bisa lebih kompleks dengan jam dan tulisan yang detail. Oh iya, rutinitas yang dibuat dengan banyak gambar konon akan lebih mempermudah anak karena sejatinya anak-anak lebih mudah menerima hal yang bersifat konkret seperti gambar, daripada bentuk tulisan yang bagi mereka merupakan hal yang cukup abstrak  :)
  • Melibatkan anak dalam proses membuat rutinitas harian. Saya dan Aliyah membuat daily activites plan bersama-sama agar Aliyah dapat lebih memaknai setiap proses dan tujuannya. Saya hanya menjelaskan kepadanya kalau ini adalah gambar yang biasanya dilakukan Aliyah setiap hari, mulai pagi hingga malam hari. Membuat bersama-sama akan membuat anak lebih bersemangat, merasa terlibat dan bertanggung jawab atas rutinitas harian yang dibuat bersama :)
  • Daftar rutinitas dibuat berdasarkan kesepakatan bersama. Untuk kakak-kakak hal ini akan lebih mudah karena dapat dilakukan sambil mengobrol dan diskusi bersama. Sedangkanguntuk adik-adik atau anak seusia Aliyah juga sudah mulai bisa diajak berdiskusi dengan bercerita, seperti "Aliyah setiap pagi biasanya ngapain aja". Mulai dari sini kita dapat merunut aktivitas yang biasa dilakukan oleh anak sehari-hari. 
  • Setelah jadi, daftar rutinitas hariannya dapat ditempel di tempat yang 'sangat terlihat' agar anak-anak dapat selalu 'mengintip' apa saja yang perlu dilakukan hari ini, apa yang terlewat/belum dan apa yang sudah dilakukan. Kalau misalnya masih tersedia ruang kosong pada daftar rutinitas harian anak, boleh juga dibuat tempat untuk tanda 'check' untuk aktivitas yang sudah dilakukan. Untuk tanda 'check' dapat menggunakan pensil sehingan dapat dihapus tulis lagi untuk keesokan harinya :)
  • Rutinitas harian diusahakan dilakukan secara konsisten dan sambil tetap memberi kesempatan pada anak untuk terus mencoba secara pelan-pelan dan tanpa terburu-buru. Tentunya karena masih dalam tahap belajar, diawal akan sangat banyak realita yang tidak sesuai dengan ekspektasi, jadii keep calm mama :)
Apa saja sih manfaat dari membuat rutinitas harian?

Dari kelas Motivation, Discipline: Strategi belajar dari Rumah, Klinik Anakku Surabaya yang saya ikuti, ada beberapat manfaat rutinitas harian bagi anak, diantaranya:

  • Rutinitas harian dapat membantu untuk membentuk jam biologis yang konsisten pada anak.
  • Dapat menciptakan rasa aman karena rutinitas yang terpola.
  • Membantu mengurangi stres pada anak, terutama selama pandemi dan sekolah dari rumah.
  • Menumbuhkan kedisiplinan
  • Mengajarkan tanggung jawab
  • Melatih kemandirian
Lumayan juga ya manfaat dari membuat rutinitas harian untuk anak :) Lalu bagaimana aplikasinya pada saya dan Aliyah selama 2 minggu terakhir? Alhamdulillah, Aliyah mulai belajar tentang rutinitas harian yang perlu dilakukan oleh nya sehari-hari. Aliyah mulai menyadari kalau setiap pagi "saya harus ngapain", siang "ngapain lagi ya" dan seterusnya. Terkadang Aliyah malah yang mengingatkan saya, "mama Yaya belum ini, belum itu" hehehe. Namun, namanya masih tahap belajar, terkadang juga masih ada saja yang terlewat :) 

Oh iya, membuat rutinitas harian ini bagi saya secara personal sebenarnya jadi gampang-gamang susah, karena secara tidak langsung membuat saya yang 'kurang disiplin' mau tidak mau jadi ikutan belajar dan lebih "berupaya" lagi dalam melakukan rutinitas sehar-hari. Misalnya setiap pagi harus sarapan, dari yang sebelum saat belum menyusun rutinitas harian, jam makan pagi Aliyah biasanya agak siang menuju 'brunch' sekarang menjadi lebih pagi yang berarti saya harus bergerak lebih cepat lagi. Tapi tentunya ini lebih ke arah positif bagi saya. Kalau pun sedikit kelelahan dan kewalahan, berarti waktunya beristirahat :)

Bagi teman-teman mama yang juga ingin mulai menyusun rutinitas harian untuk anak, berikut attahcment file PDF Daily Activities Plan versi saya dan Aliyah :) 


Beberapa aktivitas nya disesuaikan dengan aktivitas Aliyah sehari-hari, dan mohon maaf kebetulan ini versi nya untuk anak perempuan hehehe. Kalau ingin  membuat sendiri, untuk gambarnya bisa teman-teman mama download dari Google atau pakai aplikasi Canva :) Di dalam daily activities plan versi Aliyah ini ada beberapa aktivitas seperti sholat, mengaji, minum susu, mandi, makan, sekolah di rumah, bermain, dan lain-lain yang detail dan proses membuatnya bisa dilihat disini yaa :)


Semoga sharing saya kali ini bermanfaat ya teman-teman :)




#WETHEHEALTH DAN PENTINGNYA KESEHATAN MENTAL DI TENGAH PANDEMI

| on
June 28, 2020

Halo!

Apa kabarnya teman-teman mama? Omong-omong weekend kemarin sibuk apa nih di rumah? Semoga selalu seru ya meski masih #dirumahaja :) Selama pandemi ini, rasanya ada saja yang bisa kita lakukan untuk berkegiatan di rumah dan tetap produktif :) Selain menjalankan tugas wajib "ibu rumah tangga" banyak sekali pilihan kegiatan yang dapat kita lakukan untuk mengisi waktu di rumah. Salah satu yang lagi happening sekali adalah dengan mengikuti kelas, seminar sampai konferensi yang diselenggarakan secara online. Saya sendiri sangat suka mengikut kegiatan yang sejenis, karena tentunya bisa menambah ilmu dan wawasan kita, yang untuk saya pribadi kelak menjadi bekal saya untuk menjadi lebih baik lagi secara personal dan juga bekal untuk menemani Aliyah bertumbuh, InsyaAllah :)


Nah, Sabtu kemarin, Alhamdulillah saya berkesempatan untuk ikutan We The Health, Konferensi Kesehatan Digital Pertama di Indonesia. Wow!  Jadi, We The Health ini terselanggara atas kolaborasi jovee.id @jovee.id, sebuah aplikasi personalisasi vitamin dan suplemen bersama lifepack.id @lifepack.id, aplikasi yang memudahkan kita untuk menebus resep obat dari dokter :) Bagi saya, We The Health yang dihelat secara digital kemarin benar-benar dikemas dengan profesional karena melibatkan para expert di bidangnya masing-masing sebagai narasumber yang mengisi sesi webinar. Belum lagi fasilitas free entry bagi kita yang ingin mengikuti setiap sesinya, rasanya kesempatan seperti ini sangat jarang terjadi, iya ga sih? FREE ENTRY untuk bisa ikutan sesi dari para expert! (mulai nyesel nih buat yang ketinggalan infonya dan belum sempat ikutan We The Health :P)

Memang apa saja sih yang dibahas di We The Health?

We The Health berlangsung selama satu hari saja, pada Sabtu, 27 Juni 2020 dimulai dari pukul 09.00 - 16.00. Berhubung namanya juga konferensi, jadi memang diadakan dengan rundown yang cukup padat namun sangat bermartabat. Teman-teman mama bisa lihat gambar di bawah untuk contekan rundownnya :)



Nah saya sendiri sempat mengikuti sesi special tracks, dengan topik Peran Swasta dalam Peningkatan Kualitas Pelayanan Sektor Kesehatan di Daerah, plus dari Lifepack Track yang memang sudah menjadi incaran saya sedari awal, yaitu sesi webinar dengan Topik Kesehatan Mental: Pentingnya Mengelola Stress Saat Pandemi oleh mas Ade Binarko, founder dari @sehatmental.id. Saya sangat menyadari selama pandemi yang sudah berjalan lebih dari 3 bulan ini sangat rentan dengan stress dan gangguan kesehatan mental. Saya sendiri juga mengalaminya, namun belum tau pasti bagaimana harus mengatasinya. Dari sesi webinar We The Health kemarin, banyak sekali insight yang saya dapat dari sharing mas Ade dan saya ingin mencoba membaginya dengan teman-teman mama melalui blog post ini :)

Kesehatan Mental: Pentingnya Mengelola Stress Saat Pandemi


Mas Ade Binarko @elmology.id adalah founder @sehatmental.id yang juga seorang penyintas masalah gangguan kesehatan mental. Menurut saya, We The Health memilih narasumber yang sangat tempat untuk topik ini karena benar-benar dapat berbagi pengalamannya langsung yang notabene sangat related dengan apa yang saya rasakan, yang mungkin juga dirasakan sama oleh beberapa teman-teman mama yang lain. Menurut mas Ade, ada banyak gejala awal yang dirasakan saat kita mengalami gangguan kesehatan mental, terutama ke fisik kita seperti rasa leher yang tercekik, gangguan sesak nafas, jantung yang berdebar, gangguan pencernaan (ini pengalaman saya). Banyak dari kita yang masih suka denial akan hal tersebut, dan menganggapnya hal biasa dan ah ya sudah lah, lalu memutuskan untuk membiarkan yang ternyata akan menjadi semakin berlarut dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi bom waktu di kemudian hari. 

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Pertama, kita perlu belajar untuk menerima dan mencintai diri kita apa adanya, termasuk segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Self Accpetance dan Self Love is a key. Tentang ini, saya merasa mendapatkan jalan keluar atas apa yang saya rasakan belakangan. Saya yang kadang terlalu memaksa diri sendiri untuk menjadi 'lebih baik' dengan cepat yang kadang membuat diri saya menjadi abai atas alarm dari dalam diri yang meminta  saya untuk pelan-pelan karena semua butuh proses dan butuh waktu. Dari sini saya mulai belajar untuk bisa menerima diri saya, apa adanya dengan tanpa menyakiti :) 


Pelajaran lain dari sharing mas Ade, bahwa jika kita merasa mengalami gangguan kesehatan mental, maka berani berbicara bisa jadi salah satu jalan untuk kesembuhan. Kita perlu menyuarakan apa yang kita rasakan, tentunya dengan cara-cara yang baik, agar orang lain pun dapat menerima kita dengan baik. Keluarga yang menjadi kerabat terdekat pun terkadang tidak dapat langsung memahami apa yang kita alami dan rasakan, oleh karenanya kita juga perlu mengerti bahwa mereka butuh waktu untuk menerima kita sama halnya dengan diri kita yang juga butuh waktu untuk itu. @sehatmental.id adalah contoh bentuk suara dari mas Ade. Selain itu, jika memang kita perlu berbagi dengan orang lain, selain dengan orang terdekat, ada baiknya kita menghubungi ahli di bidang kesehatan mental seperti psikolog ataupun psikiater untuk berbagi tentang apa yang kita rasakan. Dan ternyata saat ini sudah banyak puskesmas yang menyediakan konsultasi dengan psikolog bagi kita yang bingung harus menghubungi siapa dan kemana. 

Menjalani hidup di tengah pandemi memang menjadi tantangan tersendiri bagi kita semua. Masalah kecil satu persatu mulai bermunculan, terutama yang berkaitan dengan kondisi ekonomi. Pesan dari mas Ade, penting bagi kita untuk menyelesaikan masalah ekonomi namun, kita juga tidak boleh melupakan kesehatan mental kita. Dikala keduanya datang secara beriringan, masalah ekonomi dan masalah kesehatan mental, maka ada baiknya kita coba untuk menyelesaikan keduanya karena ekonomi tidak bisa pulih dengan cepat jika kita mengalami gangguan kesehatan mental. Keduanya sama pentingnya. Saya sendiri percaya dengan apa yang disampaikan oleh mas Ade. Bagaimana bisa kita berpikir dengan jernih kalau kita sendiri mengalami gangguan dengan kesehatan mental kita. Versi saya, meluaskan sabar dan syukur bisa menjadi salah satu obat untuk mengurangi rasa stress atau gangguan pada mental kita. Diiringi dengan doa dan usaha InsyaAllah semua akan baik-baik saja :)


Tidak hanya tentang kesehatan mental untuk kita para orang dewasa di tengah pandemi, mas Ade juga berbagi tentang bagaimana menjaga kesehatan bagi anak-anak di tengah pandemi. Lagi-lagi hal ini sangat related dengan saya dan Aliyah. Aliyah mulai 'rungsing' karena terlalu lama di rumah saja. Sharing dari mas Ade, untuk anak-anak kita dapat memulai dengan memperhatikan kegiatan-kegiatan yang menjadi kesukaan mereka. Nantinya, kegiatan tersebut yang dapat kita lakukan bersama dengan anak di rumah, atau kalaupun mereka butuh untuk bersosialisasi dan bermain di luar, menurut mas Ade rasanya masih cukup aman untuk bermain di luar rumah yang notabene masih di dalam kompleks, namun tetap dengan menjaga keamanan diri anak, seperti tetap menggunakan APD dan mencuci tangan setelah bermain. Pada intinya, bermain diluar rumah dapat dilakukan namun tetap di dalam koridor protokol kesehatan yang berlaku :)

Pada intinya kesehatan mental kita di tengah pandemi menjadi penting untuk kita jaga agar kita tidak mudah merasa stress yang akhirnya psikis dan fisik bagi tubuh kita :) Caranya, ya dengan melakukan hal-hal yang di share oleh mas Ade diatas :) Gimana teman-teman mama? Lumayan sekali kan hasil ikut sesi webinar dari We The Health? Saya sendiri berharap semoga akan ada event We The Health kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya yang diselenggarakan oleh jovee.id dan lifepack.id, karena saya agak sedih sih belum sempat ikut sesi yang lainnya, padahal rangkaian sesinya sangat seru dan benar-benar bermanfaat :(

Nah, supaya tidak ketinggalan next eventnya, teman-teman mama dapat mengikuti akun sosial media We The Health di instagram @wethehealth dan twitter @wethehealth serta sosial media Jovee @jovee.id dan Lifepack @lifepack.id di instagram :)

Semoga bermanfaat , dan sehat selalu ya :)