Aliyah sedang belajar mengenal hari dan tanggal. Dia lagi suka-sukanya menandai hari Sabtu dan Minggu dimana dia punya screen time untuk menonton Youtube atau bermain game, atau hari dimana saya punya janji mengajak dia ke supermarket misalnya. Hihi. Lucu jadinya.
Akhirnya saya kepikiran untuk mengenalkan kalender padanya. Saya pun mencoba mencari-cari kalender anak di e-commerce. Kalender yang saya temukan di e-commerce kebanyakan bentuknya seperti kalender umum namun disertai aktivitas anak-anak. Kalender yang saya cari sebenarnya kalender yang lebih sederhana karena Aliyah baru saja mau memulai mengenal hari, tanggal dan bulan.
Setelah scorlling up down di e-commerce akhirnya saya menemukan satu toko yang menjual kalender dengan bentuk yang sederhana. Kalendernya dibuat dengan mengadaptasi pendekatan Montessori. Ah, saya kepincut bener dengan kalender tersebut. Sedihnya, harga kalendernya ternyata cukup pricey bagi saya hehehe.
At the end, saya putuskan untuk mencoba membuat kalender sendiri untuk Aliyah. Kebetulan sudah lama saya tidak bikin bikin sesuatu untuk Aliyah. Saya pun mencoba membuat kalender sederhana untuk anak-anak yang sedang belajar hari, tanggal dan bulan. Kalender yang saya buat hanyalah berisi info hari, tanggal dan bulan yang sebenarnya akan lebih bagus jika disertai info cuaca, dan emosi anak. Namun saya masih kesulitan menemukan gambar yang pas dan selaras. Jadi, yah bentuknya seperti ini dulu :)
Kalender ini saya buat di Canva. Desainya sangat basic namun untuk aplikasinya saya sedikit mengadaptasi dari metode Montessori. Di kalender buatan saya belum ada tanggal merah dan lain-lain. Harapannya, anak-anak dapat belajar mengenal waktu secara pelan-pelan dan lebih mudah. Cara menggunakan kalender ini cukup mudah, anak-anak tinggal melingkari tanggal, hari dan bulannya. Di bagian bawah dapat ditulis lagi hari, tanggal, bulan dan tahunnya.
Teman-teman dapat melihat video cara pakainya disini ya :)
(yang divideo saya kelupaan tidak ada kolom tanggal di bawah, tapi sudah saya edit di file nya :)))
Omong-omong kalender ini saya buat dalam dua versi, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, teman-teman dapat mengunduhnya di link berikut :)
Setelah berhasil print file, jangan lupa untuk langsung melaminating kalendernya ya :) Agar nantinya dapat dihapus tulis oleh anak-anak :) Bagian atas kalender juga dapat dilubangi jika ingin digantung (milik Aliyah saya tempelkan di kulkas, karena kulkas adalah tempat yang paling sering Aliyah singgahi di dalam rumah, hahaha)
Oh iya, sebelum menulis, pastikan untuk menggunakan spidol boardmarker agar tulisannya dapat dihapus dan tulis ulang. Di video saya pakai spidol dari @deliindonesia :)
A little notes and tips:
Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengenalkan anak pada konsep waktu :) Berikut beberapa tips mengenalkan anak konsep waktu yang dapat saya bagi dari pengalaman saya dan Aliyah juga dari beberapa referensi :)
1. Pada usia lebih dini, kita dapat mengenalkan anak mengenai konsep waktu, seperti hari dan bulan melalui nyanyian. Banyak sekali lagu yang mengandung konsep waktu pada liriknya seperti:
Lagu nama-nama hari, lagu nama-nama bulan, lagu Naik Delman, lagu Pagiku Cerahku, Libur Telah Tiba, lagu hari-hari besar keagamaan seperti Marhaban Ya Ramadhan, Selamat Hari Lebaran, dan lain-lain.
2. Mengenalkan rutinitas harian pada anak. Dengan membuat rutinitas harian anak, anak dapat mulai belajar mengenal konsep pagi hari, siang hari, dan malam hari. Kita dapat membagi aktivitas anak kedalam tiga waktu tersebut dan menjelaskan pada anak seperti saat pagi hari ia akan bangun tidur, minum air, sarapan, mandi, dan seterusnya.
3. Menandai hari yang spesial bagi anak seperti hari ulang tahunnya atau hari ulang tahun ayah ibu, kakek nenek atau kerabat dekat. Kita dapat menghitung mundur hari spesial yang ditunggu dengan menggunakan kalender.
4. Menyebutkan hari dan waktu yang detail saat membuat janji tertentu dengan anak misalnya saat mengajak anak untuk main di playground. Misalnya seperti, "InsyaAllah nanti hari minggu siang mama ajak ke mall ya, kita main di playground".
5. Membacakan anak buku cerita yang berhubungan dengan konsep waktu.
6. Bagi teman-teman mama yang muslim, mengenalkan konsep waktu pada anak juga dapat melalui waktu sholat kita. Saat kita sholat, kita dapat mengajak serta anak, ataupun kalau anak belum mau atau belum bisa, paling tidak saat akan sholat kita dapat mengatakan pada anak, "Mama mau sholat subuh/dhuhur/ashar/maghrib/isya dulu ya nak" :)
Kurang lebih inilah kelima tips yang dapat digunakan untuk mengenalkan konsep waktu pada anak :) InsyaAllah semoga nantinya anak-anak kita dapat tumbuh menjadi individu yang dapat memanfaatkan dan menghargai waktunya dengan baik di jalan yang sesuai dengan ridhoNya. Aamiin :)
Kalau teman-teman mama, ada yang juga punya cerita tentang mengenalkan konsep waktu kepada anak? Atau mungkin punya tips lain untuk mengenalkan konsep waktu pada anak? Yuk cerita sama-sama disini :)
Saya sadar saya bukan ibu yang sempurna. Saya masih seringkali kelepasan marah ke anak. Sekali waktu saya marah besar ke Aliyah. Hari-hari berlalu, ternyata ia masih mengingat kejadian itu. Satu hal yang selalu ditanyakannya, "Mama, kenapa waktu itu mama marah sekali ke Yaya?" Saya terdiam. Hati saya patah mendengar ucapannya. Pengalaman masa lalu saya terulang kembali"
Halo!
Bagaimana kabarnya teman-teman mama? Semoga sehat selalu ya :) Cerita saya diatas adalah satu dari cerita yang cukup menyedihkan bagi saya dalam menjalankan peran sebagai orangtua.
Saya percaya tidak ada orangtua yang senang memarahi anaknya, bahkan sampai membuat anaknya trauma dan meninggalkan bekas di dalam ingatan sang anak. Saya pun demikian. Saya sangat sedih ketika sekali waktu saya marah kepada Aliyah, ternyata peristiwa itu meninggalkan bekas di dalam ingatannya. Saya mungkin telah menjadi penyebab trauma masa kecil yang kurang baik bagi Aliyah :'(
Kondisi ini semakin diperburuk dengan pola pikir saya yang menyalahkan pola asuh kedua orang tua saya di masa lalu yang membentuk saya menjadi ibu yang mudah marah.
"Tidak salah saya menjadi seperti ini, karena dulu orang tua saya mendidik saya seperti ini" pikir saya waktu itu.
Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai sadar kalau saya tidak boleh terus-terusan seperti ini. Saya merasa ada yang salah dengan pola pikir saya. Tidak seharusnya saya membenarkan tindak amarah saya kepada Aliyah. Apalagi sampai meninggalkan trauma baginya.
Tindak amarah saya kepada Aliyah adalah tanda kalau saya belum bisa memutus mata rantai pola asuh yang kurang baik di masa lalu.
Saya merasa harus melakukan sesuatu. Memperbaiki apa yang telah terjadi, sebelum benar-benar terlambat. Saya ingin belajar untuk menjadi ibu yang jauh lebih baik untuk Aliyah.
Belajar Berdamai dengan Inner Child
Sebagai orang awam saya tidak tahu pasti apa istilah untuk trauma masa kecil yang kurang baik. Karena ketidaktahuan ini, maka saya putuskan untuk mencoba mencari tahu apa dan bagaimana cara mengatasi trauma masa kecil.
Saya lalu membuka situs Ibupedia, sebuah platform dimana saya biasanya mendapatkan berbagai informasi tentang dunia parenting, keluarga, kesehatan anak, bayi dan info seputar kehamilan. Siapa tau ada artikel yang membahas tentang mengatasi trauma masa kecil disini, pikir saya waktu itu.
"Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan petunjuk bagaimana cara mengatasi trauma masa kecil seperti yang saya alami selama ini setelah membaca artikel tentang inner child di Ibupedia "
Trauma masa kecil yang saya alami ternyata adalah inner child yang terluka yang tersimpan di dalam diri saya.
Ya, menurut pakar, inner child adalah pengalaman di masa lalu, tidak hanya di masa kecil melainkan di semua tahap kehidupan yang telah kita lalui.
Pengalaman ini yang kemudian tersimpan menjadi memori positif ataupun negatif di dalam diri kita, yang tanpa kita sadari ternyata mempengaruhi diri kita dalam mengekspresikan diri saat dewasa.
Saat menjalankan peran sebagai orangtua, inner child saya yang tersimpan selama ini menjadi sering muncul ke permukaan.
Misalnya seperti, saya menjadi ibu yang mudah marah, karena saya merasa sering dimarahi sewaktu kecil dulu, yang mungkin dapat membuat Aliyah juga tumbuh menjadi orang yang mudah marah.
Atau, trauma lain seperti tidak ingin memiliki anak dengan kelahiran jarak dekat karena khawatir Aliyah kurang mendapatkan perhatian seperti yang saya rasakan dulu sebagai anak sulung dari 3 bersaudara dengan jarak kelahiran yang berdekatan. Padahal, mungkin disisi lain, keputusan ini dapat membuat Aliyah merasa kesepian karena tidak ada saudara yang dapat diajak bermain bersama di rumah.
Jika saya tidak berusaha berdamai dengan trauma-trauma saya diatas, mungkin saja tanpa saya sadari saya menurunkan trauma tersebut kepada Aliyah. Dan mata rantai trauma masa kecil saya akan terus terjalin bahkan mungkin bisa sampai ke cucu saya kelak.
Pada akhirnya, saya mencoba belajar untuk berdamai dengan inner child saya agar dapat memutus mata rantai trauma masa lalu yang kurang enak ini.
Apa saja sih yang sebenarnya menjadi penyebab inner child kita terluka?
Sebelum memulai untuk berdamai dengan trauma masa kecil, saya lebih dulu mencoba memahami lebih dalam apa yang kira-kira menjadi penyebab seseorang mengalami trauma di masa kecil nya. Apakah benar pola asuh orang tua dan pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan dapat menjadi penyebab inner child dalam diri saya terluka?
Pada gambar adalah beberapa kemungkinan kejadian di dalam hidup yang menjadi penyebab inner child dalam diri yang terluka dilansir dari Ibupedia dan Better Help,
Kejadian-kejadian diatas mungkin pernah dialami sebagian dari kita yang tanpa kita sadari ternyata bisa jadi menjadi penyebab trauma masa kecil. Mengetahui penyebab dari trauma masa kecil yang dialami adalah langkah awal untuk berdamai dengan trauma masa kecil. Saya sendiri berusaha belajar untuk menerima bahwa kejadian di masa lalu yang meninggalkan trauma bagi saya merupakan bagian dari perjalanan hidup saya.
Sama seperti memori masa kecil yang menyenangkan yang seringkali dianggap sebagai pengalaman yang berharga, saya pun belajar untuk mengganggap trauma di masa kecil saya sebagai pengalaman yang sama berharganya :) Harapannya, dengan belajar menerima, langkah saya untuk berdamai dengan trauma masa kecil saya menjadi lebih mudah.
Lalu, bagaimana cara untuk berdamai dengan trauma masa kecil?
Saya salah satu yang percaya bahwa setiap orang memiliki "waktu" nya masing-masing untuk dapat berdamai dan pulih dari traumanya di masa kecil :) Meski mungkin tidak secepat apa yang diharapkan, perlahan tapi pasti, tentu usaha untuk berdamai dengan trauma masa kecil ini akan berbuah manis, InsyaAllah :)
Di artikel Ibupedia, 7 Cara Mengelola Inner Child Dalam Mengasuh Anak yang saya baca, ada beberapa tips yang diberikan yang bisa kita lakukan untuk mulai berdamai dengan inner child yang terluka. Apa saja ketujuh tips nya? Saya sharing garis besarnya saja ya :) Untuk detailnya, teman-teman dapat langsung klik di judul artikelnya ya :)
Berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu terlebih dulu.
Mencoba memaafkan kesalahan pola asuh orang tua di masa lalu.
Memberi perhatian penuh dengan tulus kepada anak kita sebagai bentuk self healing dari inner child yang terluka.
Mengindentifikasi inner child yang kita miliki. Inner child yang negatif yang kita miliki sebaiknya tidak diturunkan ke pola asuh kita ke anak, sebaliknya inner child yang positif dapat kita adaptasi di dalam pola asuh kita.
Mengurangi intensitas berada di dalam lingkungan yang menjadi penyebab trauma di masa kecil.
Mengapresiasi diri sendiri atau melakukan re-parenting sebagai wujud mencintai diri sendiri.
Berbagi cerita kepada orang terdekat yang dapat dipercaya, atau berkonsultasi dengan ahli seperti psikolog.
Oh iya, saya juga membaca artikel lain yang terkait dengan inner child di Ibupedia. Artikelnya berjudul Berdamai Dengan Inner Child, Atasi Luka Yang Tertinggal Tips untuk berdamai dengan inner child di kedua artikel di Ibupedia inilah yang kemudian saya gunakan untuk pelan-pelan belajar berdamai dengan trauma masa kecil, ditambah juga dengan beberapa referensi lain dari jurnal tentang inner child.
Pada intinya saya perlu merangkul inner child saya dan membangun koneksi dengannya agar saya dapat lebih mudah untuk berdamai dengan inner child saya yang terluka.
Tips dari Ibupedia ini menjadi awal bagi saya untuk akhirnya bisa menerima inner child yang terluka sebagai bagian dari diri saya. Ia telah bertumbuh bersama bagian dari diri saya yang lain. Belajar menerima kenyataan ini membuat saya merasa jauh lebih baik :)
Lalu bagaimana caranya saya dapat berdamai dengan trauma di masa kecil?
Selama ini ada beberapa cara saya coba lakukan untuk mencoba berdamai dengan trauma masa kecil saya.
Pertama, seperti cerita saya diatas saya mencoba untuk menerima pengalaman masa lalu sebagai bagian dari perjalanan hidup, baik itu pengalaman yang menyenangkan ataupun yang kurang menyenangkan seperti trauma di masa kecil. Saya benar-benar berterimakasih pada Allah atas apa-apa yang sudah saya lalui selama ini, dan dari ini rasa ikhlas atas apa yang telah terjadi mulai tumbuh di dalam hati saya.
Kedua, memaafkan kejadian masa lalu yang telah terjadi. Setelah dapat menerima pengalaman masa lalu sebagai bagian dari perjalanan hidup saya, pelan-pelan saya mulai dapat memaafkan kejadian di masa lalu yang meninggalkan trauma bagi saya.
Dari pengalaman saya, untuk dapat lebih legowo dalam memaafkan, mencoba untuk bercerita dari hati ke hati dengan orang-orang terdekat yang ada di sekitar saya seperti suami, orang tua dan adik saya sangat membantu proses ini.
Dari bercerita dengan orang terdekat, saya menjadi lebih mengerti dan memahami jika apa yang menjadi trauma di masa kecil saya bukan sepenuhnya kesalahan dari kedua orang tua saya. Kedua orang tua saya bahkan tidak pernah berniat untuk melukai perasaan saya.
Yang sebenarnya terjadi adalah mata rantai pola asuh di masa lalu (dari kakek nenek) yang diturunkan kepada kedua orang tua saya, lalu orang tua saya menurunkan pola asuh yang kurang lebih sama kepada saya dan kedua adik saya.
Inilah kenapa, saat ini menjadi penting untuk belajar memutus pola asuh di masa lalu yang kurang baik agar kita tidak menurunkannya ke anak-anak kita, agar tidak menjadi trauma masa kecil anak kita. Mungkin memang bukan hal yang mudah, tapi jika kita mencoba semampu kita, InsyaAllah akan berbuah manis di kemudian hari, Aamiin :)
Ketiga, menulis jurnal tentang apa yang menjadi trauma masa kecil saya, atau apa yang sebenarnya saya rasakan selama ini. Menulis jurnal sebenarnya bukan kebiasaan yang biasa saya lakukan. Namun, setelah mencoba menulis jurnal untuk lebih mengenali diri sendiri, ternyata saya dapat lebih mengerti apa yang saya rasakan. Meski sebelumnya saya sudah mencoba untuk mengerti diri saya dengan cara berpikir dan merenung, namun ternyata dengan menulis jurnal, rasanya menjadi jauh lebih baik dan lebih menyentuh.
Jika teman-teman mama juga ingin mencoba untuk mulai menulis jurnal, berikut beberapa hal yang dapat ditulis di jurnal yang disadur dari Ibupedia dan artikel di Phsychology Today.com, yang juga saya coba aplikasikan dalam proses berdamai dengan inner child :)
Mulai menulis dari hal yang sederhana untuk mengenal diri sendiri seperti aku pencemas karena...
Menulis sebuah surat untuk sosok anak kecil yang ada di dalam diri kita. Isinya dapat berupa ucapan terima kasih, atau pernyataan kalau kita sayang padanya.
Menulis tentang apa yang kita rasakan dan apa yang menjadi penyebab dari perasaan tersebut.
Menuliskan apa yang sebenarnya kita inginkan.
Menulis tentang apa yang sebenarnya ingin kita ubah dan bagaimana langkah yang dapat kita tempuh untuk mencapai perubahan itu.
Keempat,belajar mencintai diri sendiri dan berterima kasih ke diri sendiri karena sudah melalui kejadian di masa lalu dan masih mau berjuang sampai sekarang. Tadinya saya tidak begitu tahu bagaiamana cara untuk mencintai diri sendiri.
Dari tips di artikel Ibupedia, saya mencoba mengaplikasikan bentuk mencintai diri sendiri dengan berbicara kepada diri kalau saya mencintainya dan mau mendengarkan apa yang dirasakannya. Biasanya dilakukan sembari memeluk diri sendiri sambil berbicara dari hati :)
Bentuk lain mencintai diri sendiri juga bisa dengan melakukan 'me time' dan mengisinya dengan hal-hal yang kita senangi agar tangki cinta kita terisi penuh hingga cukup untuk dibagi ke diri sendiri dan orang lain, seperti suami dan anak :)
Apa perubahan yang dirasakan dan manfaat yang didapatkan setelah belajar berdamai dengan trauma masa kecil?
Saya sangat menyadari kalau tiap-tiap individu memiliki trauma masa kecilnya masing-masing dan membutuhkan waktu untuk pulih yang tidak sama satu dengan yang lainnya :) Versi saya, setelah berberapa bulan terakhir mencoba belajar berdamai dengan trauma masa kecil saya dengan keempat cara yang saya sebutkan diatas, saya merasa ada perubahan yang cukup berarti di dalam diri saya dan orang-orang di sekitar saya. Beberapa perubahan yang saya rasakan diantaranya;
Menjadi tidak mudah marah kepada anak
Saya tidak lagi membenarkan tindakan marah saya kepada Aliyah sebagai bentuk dari akibat pola asuh orangtua saya di masa lalu. Saya sadar jika saya perlu belajar untuk mengelola emosi dengan lebih baik lagi agar tidak mudah marah kepada Aliyah.
Hubungan dengan keluarga menjadi lebih hangat dari sebelumnya.
Belajar tentang inner child membuat saya menjadi lebih mengerti jika orang lain pun punya inner child dan trauma nya masing-masing.
Saya menjadi lebih sering berbagi cerita dengan suami tentang trauma masa kecil yang ia rasakan dan saya rasakan. Kami tidak lagi mudah untuk bertengkar dan menjadi lebih mengerti satu sama lain.
Begitu pula dengan kedua orang tua saya. Sekali waktu, Bapak saya bercerita bagaimana kerasnya pola asuh kakek terhadap bapak sewaktu kecil. Dari cerita ini lah saya jadi mengerti kalau orang tua saya tidak pernah benar-benar sengaja untuk membuat saya merasa trauma.
Dan dari adik saya, yang biasanya diantara kami ada siblings rivalvy, setelah kami melakukan pillow talk dan berbagi cerita pengalaman di masa kecil masing-masing, kami akhirnya menyadari siblings rivalvy tidak seharusnya ada diantara kami. Hubungan kami yang tadinya lebih sering diisi dengan pertengkaran, belakangan menjadi lebih hangat karena kami mencoba belajar untuk saling mengerti satu sama lain :)
Belajar memperbaiki pola asuh untuk menjadi orang tua yang lebih baik
Setelah belajar berdamai dengan trauma di masa kecil, saya belajar untuk memperbaiki pola asuh saya kepada Aliyah. Sekali waktu saya dan suami mengobrol santai dan saling berbagi tentang hal yang tidak kami harapkan dari pola asuh orang tua kami di masa lalu terjadi kepada Aliyah, misalnya trauma masa kecli suami yang dulu jarang diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan perasaannya, dari sini kami belajar untuk menjadi orang tua yang terbuka bagi Aliyah untuk berbagi cerita ataupun tentang apa yang sedang dirasakannya.
Tidak mudah menjudge atas sikap atau keputusan yang diambil oleh orang lain
Karena mulai memahami jika setiap individu punya pengalaman di masa lalu yang berbeda, maka saya percaya setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang sedikit banyak dipengaruhi oleh pengalamannya di masa lalu. Tidak ada yang salah atau benar dalam setiap obrolan atau berbagi pendapat :)
Lebih sering mengajak anak mengobrol dan memahami apa yang dirasakannya
Lebih sering mengajak Aliyah mengobrol dan memahami apa yang dirasakannya menjadi pembelajaran yang sangat berarti bagi saya setelah belajar berdamai dengan trauma masa kecil. Karena pengalaman yang kurang menyenangkan bisa saja muncul di dalam kehidupan Aliyah sampai ia dewasa kelak, yang bisa datang dari mana saja seperti lingkungan pertemanannya atau sekolahnya.
Sejak peristiwa marah saya kepada Aliyah tempo hari, saya jadi lebih sering mengajaknya mengobrol dan bertanya apa kejadian yang kira-kira selalu ia ingat dan membuatnya merasa sedih. Dari obrolan ini paling tidak, ia tahu ada saya yang menjadi tempat ia berbagi cerita. Harapannya, peristiwa yang kurang menyenangkan yang ia alami tidak meninggalkan trauma yang mendalam baginya.
Pada akhirnya, inilah cerita parenting versi saya, belajar berdamai dengan inner child yang terluka dari membaca artikel di Ibupedia. Ibupedia telah membantu saya belajar tidak hanya untuk menjadi ibu yang lebih baik, tapi juga menjadi istri, anak dan kakak yang InsyaAllah lebih baik :)
Cerita saya semata-mata berdasarkan pengalaman pribadi. Saya bukanlah seorang ahli di bidang inner child maupun psikologi. Teman-teman dapat menghubungi ahli untuk mendapatkan penanganan trauma masa kecil lebih lanjut. :)
Kalau lagi-lagi saya membuka cerita dengan kehidupan yang serba online masa pandemi, teman-teman mama yang kemarin-kemarin membaca tulisan saya mungkin ada yang mulai ngebatin nih, "hmm.. ga ada opening lain apa selain membahas kehidupan di masa pandemi yang lebih sering berjalan secara online?' hehehe.
Maunya sih mencoba opening yang lain tapi apa dayaku, hidupku memang seperti itu adanya :') Tapi so far, sebagian besar dari kita memang menjalaninya, kan? :) Bahkan mungkin sudah mulai terbiasa dengan segala rutinitas yang serba online. Walaupun di sisi lain, kehidupan yang sebagian besar dijalankan secara online tidak sepenuhnya dapat menggantikan hangatnya untuk saling berinteraksi secara langsung, namun menjalankan aktivitas secara online juga tidak dapat lepas begitu saja dari keseharian kita, apalagi kita masih di dalam masa pandemi seperti sekarang.
Nah, melengkapi kehidupan saya yang sekarang lebih banyak online nya, beberapa waktu yang lalu (rahasia aja ya waktunya, takut jiwa prokrastinasi saya terlalu terekspos :'D) saya dan Aliyah berkesempatan melakukan Deteksi Dini Tumbuh Kembang pada Aliyah secara online! Yaiy! Wah, seperti apa tuh Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak dilakukan secara online?
Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak (DDTK)
Sebagian besar teman-teman mama tentu sudah sangat familiar dengan deteksi dini tumbuh kembang anak atau bahasa lainnya "screening tumbuh kembang anak". Biasanya deteksi dini tumbuh kembang ini dilakukan oleh para orangtua bersama para ahli seperti psikolog dan dokter anak untuk memonitor tumbuh kembang anak sehingga nantinya apabila terdapat penyimpangan tumbuh kembang pada anak, dapat sesegera mungkin dilakukan intervensi dini, khususnya di dalam masa perkembangan emas saraf anak.
Deteksi dini tumbuh kembang anak ini menjadi penting untuk dilakukan karena dari sini akan mudah untuk mengindentifikasi apabila ada keterlambatan di dalam tahapan tumbuh kembang anak kita. Anak yang segera mendapatkan penanganan atau terapi atas keterlambatan tumbuh kembangnya, di masa depan akan tumbuh menjadi anak yang cenderung lebih siap saat ia di usia taman kanak-kanak atau di seluruh aspek kehidupannya di masa depan nantinya.
Kapan & Dimana Sebaiknya Kita Melakukan DDTK ?
Deteksi dini tumbuh kembang sendiri dapat dilakukan secara personal dengan berkonsultasi langsung bersama para ahli ataupun dapat dilakukan secara online. Kalau ditanya kapan waktu yang tepat untuk kita melakukan DDTK anak jawabannya ya sedini mungkin, hehe,. DDTK sendiri dapat dilakukan sejak anak masih bayi, dan sebaiknya dilakukan secara intens sampai anak masuk usia sekolah karena tahapan tumbuh kembang anak semakin berkembang seiring dengan usia anak yang semakin bertambah :)
Lalu dimana sebaiknya kita melakukan DDTK anak? Saat ini sudah banyak sekali tersedia klinik khusus tumbuh kembang anak baik klinik mandiri ataupun yang tergabung dengan rumah sakit umum. Nantinya tinggal kita nya nih yang perlu pintar-pintar cari-cari referensi bisa dari rekomendasi, testimonial ataupun browsing di internet untuk membantu kita menentukan klinik atau RS mana yang akan kita tuju untuk melakukan DDTK anak :)
Pengalaman Melakukan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak
Saya masih ingat betul saat pertama kali melakukan DDTK anak pada Aliyah. Waktu itu Aliyah masih berusia 20 bulan. DDTK pertama kami dilakukan di Klinik Anakku Surabaya. Dari DDTK pertama kali inilah akhirnya terdeteksi kalau sedikit ada keterlambatan pada kemampuan bicara Aliyah.
Dari DDTK pertama ini, saya bawa pulang PR yang banyak sekali untuk dilakukan di rumah guna menstimulasi kemampuan bicara Aliyah. Apakah akhirnya dilakukan terapi pada Aliyah? Waktu itu tidak, karena psikolog dari Klinik Anakku waktu itu, Ibu Sherly, menyarankan agar saya banyak-banyak memberi stimulasi untuk Aliyah di rumah.
DDTK selanjutnya dilakukan saat Aliyah berusia 2 tahun lebih,. Kami tetap melakukan DDTK di klinik yang sama, Klinik Anakku Surabaya. Alhamdulillah di DDTK kedua ini, Aliyah sudah mulai menujukkan perkembangan dalam kemampuan bicara nya. Meski begitu saya tetap membawa pulang beberapa catatan saran stimulasi yang sebaiknya dilakukan di rumah untuk memaksimalkan tumbuh kembang Aliyah agar sesuai dengan tahapan usianya.
Menginjak usia 3,5 tahun lebih (menjelang 4 tahun), kami kembali ke Klinik Anakku Surabaya untuk kembali melakukan DDTK. Alhamdulillah tumbuh kembang Aliyah di usia ini sudah sesuai dengan usianya. Menurut dokter yang mendampingi DDTK Aliyah, artikulasi bicara pada Aliyah tergolong sangat jelas jika dibandingkan dengan anak-anak sesuai Aliyah. Alhamdulilah, MasyaAllah perasaan saya senang sekali waktu itu :)
Deteksi Dini Tumbuh Kembang Online
Saat ini Aliyah menginjak usia 5 tahun. Tentu tahapan tumbuh kembangnya juga semakin berkembang seiring bertambahnya usia Aliyah. Berhubung masih dalam masa pandemi, DDTK terakhir yang kami lakukan pada Aliyah dilakukan secara online. DDTK yang dilakukan masih bersama Klinik Anakku Surabaya karena yang simple saja, Klinik Anakku telah menemani Aliyah bertumbuh sejak kecil, dan tentu sudah mengenal Aliyah dengan dekat, hehe.
Jadi DDTK online kami lakukan di rumah via Google Meets. Sebelumnya, tim psikolog dari Klinik Anakku mengirimi kami sekotak mainan yang nantinya akan dijadikan sebagai alat tes untuk DDTK Aliyah. Mainan-mainan tersebut dapat kita kirimkan kembali lagi setelah selesai DDTK. Opsi lainnya, mainan dapat dijadikan hak milik namun tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, hehe.
Oke, DDTK online dilakukan tepat jam 10 siang. Ibu Sherly psikolog dari Klinik Anakku Surabaya mengarahkan Aliyah untuk mengikuti beberapa arahan seperti menyusun balok, melompat, berdiri satu kaki, mengajak Aliyah bercerita dan bertanya dan beberapa hal lain untuk mengukur tumbuh kembang Aliyah.
Aliyah sendiri sempat sedikit drama dalam DDTK online ini, namun Alhamdulillah tim psikolog dari Klinik Anakku Surabaya sangat pengertian dan memberi jeda untuk Aliyah agar mood nya kembali baik lagi :)
Beberapa hari setelah DDTK online, saya menerima email dari Klinik Anakku Surabaya untuk hasil DDTK Aliya serta beberapa saran stimulasi yang dapat kami lakukan di rumah untuk mendukung tahapan tumbuh kembang Aliyah di usianya yang sudah 5 tahun. Dari hasil DDTK kali ini, jadi ketahuan deh, ternyata lagi-lagi dalam aspek bicara nya Aliyah ada sedikit keterlambatan khususnya untuk membedakan arah depan dan belakang. Namu di sisi lain, kemampuannya bercerita menunjukkan perkembangan yang cukup positif, Alhamdulillah :)
Secara keseluruhan bagi saya, DDTK online ini sangat membantu di tengah pandemi seperti sekarang ini. Kalau pun kita memutuskan untuk menunda melakukan DDTk sampai masa pandemi reda, tidak apa-apa juga, namu satu hal yang tidak dapat menunggu untuk ditunda adalah usia anak kita yang semakin bertambah :) DDTK online benar-benar hadir sebagai solusi di tengah kegalauan kita akan tumbuh kembang anak namun keadaan masih belum memungkinkan untuk berinteraksi secara langsung :)
Kalaupun ada tips yang dapat saya bagi untuk teman-teman mama yang ingin melakukan DDTK online, satu-satunya tips dari saya adalah sebaiknya DDTK online di rumah dilakukan dengan melibatkan lebih dari 1 orang dewasa sebagai antisipasi karena anak-anak biasanya belum begitu bisa duduk dengan tenang dan lebih senang berlarian kesana kemari hihi.. Jadi ada 1 orang yang dapat membantu memegang gadget untuk DDTK online, sehingga orangtua dapat menemani anak bermain sambil berinteraksi dengan psikolog dari klinik tumbuh kembang :)
Klinik Anakku Surabaya
Nah, sebagai bahan referensi teman-teman mama, saya ingin cerita sedikit tentang Klinik Anakku Surabaya. Klinik Anakku Surabaya sendiri termasuk di dalam 10 rekomendasi klinik tumbuh kembang anak Surabaya versi The Asian Parent Indonesia.
Klinik Anakku Surabaya yang sudah ada sejak tahun 2014 ini berlokasi di Ruko ICON 21, Jl Dr. Ir. H. Sokearno no.48 Sukolilo, Surabaya.
Sepanjang perjalanan saya berkolaborasi bersama Klinik Anakku Surabaya dalam membersamai tumbuh kembang Aliyah, Alhamdulillah saran-saran stimulasi yang diberikan sangat mudah untuk dipalikasikan di rumah, dan selalu disertai dengan beragam ide-ide permainan sederhana yang dapat dimainkan hanya dengan bermodal barang-barang yang tersedia di rumah :)
Belakangan, Klinik Anakku Surabaya sering mengadakan kelas-kelas online yang tidak hanya terkait dengan tumbuh kembang anak, namun juga dunia pengasuhan lain seperti perjalanan dalam menjalankan peran sebagai ibu/orangtua, dll. Topik-topik yang dibahas di dalam kelas onlinenya sangat membantu kita dalam menjalankan peran sebagai orangtua :) Saya sendiri sempat ikut serta beberapa kelas online dari Klinik Anakku Surabaya, dan banyak sekali insight yang saya dapat dari mengikuti kelas-kelas tersebut :)
Nah, untuk teman-teman mama yang ingin mencari tahu lebih detail tentang Klinik Anakku Surabaya, silakan langsung cek dan follow instagram @anakku_sby ya :)
Bagaimana kabarnya teman-teman mama di awal bulan Oktober ini? Semoga sehat dan senang selalu ya :) Semoga segala urusan rumah tangga, suami, anak, pekerjaan berjalan dengan lancar :) Masih di masa pandemi, rasanya doa-doa sederhana diatas dapat membantu menenangkan hati dan memberi semangat dalam menjalani hari :) Kita semua tentu sedang berjuang dengan cara masing-masing dalam menjalani kehidupan di tengah pandemi.
Kebiasaan-kebiasaan normal yang baru membuat kita mau tidak mau mulai beradaptasi dengan kondisi saat ini. Begitu pula dengan peran yang dijalankan sebagai seorang mama. Menjalankan kegiatan seperti #dirumahaja, work from home, school from home, workout at home, buying stuffs online yang awalnya tidak terbayang sebelumnya, lama-lama menjadi kebiasaan dan kita pelan-pelan mulai dapat beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru tersebut :) Meski mulai terbiasa, namun tantangan kehidupan tentu akan selalu datang silih berganti. Satu hal yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan diri agar kita dapat melalui bebagai tantangan kehidupan di tengah pandemi bahkan mungkin sampai setelah masa pandemi selesai nanti.
Lalu, apa saja nih yang perlu kita persiapkan dalam menghadapi tantangan di masa pandemi?
Sebenarnya ada banyak aspek yang perlu kita persiapkan dalam menghadapi tantangan di masa pandemi. Mulai dari lebih cermat dalam mengatur keuangan keluarga, menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makan sehat dan berolahraga, menjaga kesehatan mental diri sendiri dan keluarga sampai membuka diri untuk belajar hal baru dan saling berbagi ilmu dengan siapapun. Nah, yang terakhir, membuka diri untuk belajar hal baru dan saling berbagi ilmu adalah satu yang lumayan sering saya lakukan di rumah.
"Eh, kau ndak belajar kah?" kata ibu saya dengan logat Sulawesi nya yang khas jika melihat saya sedang bersantai di satu kesempatan, hahaha. Mungkin karena saya sebanci itu mengikuti kelas-kelas parenting, jadi kalau saya sedang senggang, ibu saya malah bingung :'))
Meski belum bisa kemana-kemana dan bertemu dengan orang lain secara intens, namun kesempatan untuk belajar dan mendapatkan ilmu baru terutama tentang pengasuhan dan komunikasi dalam keluarga tenyata tetap terbuka lebar. Inilah yang patut disyukuri sebagai mama-mama yang hidup di era milenial. Beragam informasi sangat mudah kita akses melalui berbagai media secara digital.
PopMama.com , media Belajar, Berbagi dan Bertukar Pikiran bagi Mama Milenial
Teman-teman mama sebagian mungkin sudah sangat familiar dengan popmama.com, salah satu platform media digital di bawah IDN Media. Nah, untuk teman-teman mama yang baru mengetahui popmama.com, popmama.com ini adalah satu platform media digital di bawah IDN Media yang diluncurkan pada tahun 2018 dengan tujuan untuk menyajikan ragam informasi parenting bagi milenial mama di seluruh Indonesia. Jadi, melalui platform popmama.com teman-teman dapat mengakses beragam informasi maupun artikel yang terkait dengan parenting dan kehidupan berkeluarga. Saya sendiri sangat senang membaca artikel-artikel di popmama.com karena artikelnya sangat beragam dan informatif.
Ada 5 kategori yang dapat teman-teman mama akses di popmama.com yaitu, Pregnancy, Baby, Kid, Big Kid, dan Life. Selain itu ada juga tersedia tools seperti Due Date Calculator, Ovulation Calculator, Baby Names Finder, dan Pregnancy Weight Gain Calculator. Di popmama.com kita juga berkonsultasi dengan ahli tentang parenting dengan memanfaatkan kolom Tanya Ahli. Saling bertukar informasi dan berbagi pengalaman sesama mama milenial juga dapat kita lakukan popmama.com dengan adanya kategori Community. Teman-teman mama hanya perlu sign in dengan email ataupun akun Facebook, untuk bergabung di Community popmama.com. Rasanya jadi semakin mudah ya menjalankan peran mama di era milenial dengan mudahnya akses informasi di platform popmama.com :)
POPAC. Pop Mama Parenting Academy
Nah, ada yang berbeda nih dari popmama.com jika dibandingkan dengan platform digital lainnya. Setia dengan tujuannya, yaitu sebagai platform yang menyajikan ragam informasi parenting bagi milenial mama, popmama.com punya acara yang tahunan bernama Pop Mama Parenting Academy. Pop Mama Parenting Academy yang diadakan setiap tahun ini diharapkan dapat menjadi solusi satu atap bagi para orangtua milenial yang mencari hiburan, pendidikan, pengalaman menyenangkan dan pengalaman berbelanja.
Di Pop Mama Parenting Academy kita dapat menemukan semua yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan pengasuhan di masa depan, termasuk termasuk tantangan pengasuhan terbesar saat ini, yaitu bagaimana memanfaatkan internet dengan bijak di era Internet Of Things.
Dari pengalaman mengikuti Pop Mama Parenting Academy, diharapkan dapat membuat kita semakin mudah untuk memahami apa yang sedang terjadi di dunia, bagaimana hal tersebut dapat terjadi sehingga kita dapat mempersiapkan diri menghadapi tantangan dalam menjalankan peran sebagai orangtua di era milenial.
Pop Mama Parenting Academy (POPAC) 2020 with Tokopedia
Oh iya, di tahun 2020 ini Pop Mama Parenting Academy diadakan untuk kali ketiga setelah dua tahun sebelumnya, tahun 2018 dan 2019 telah sukses diadakan secara offline dan dihadiri kurang lebih 7000 orangtua dari seluruh Indonesia, wow! Sedikit berbeda di tahun ini, berhubung masih di tengah kondisi pandemi dimana adanya anjuran untuk disiplin melakukan phisycal distancing demi menjaga kesehatan bersama, Pop Mama Parenting Academy diadakan secara online melalui platform website, Zoom, Whatsapp dan Youtube dan berlangsung dari tanggal 28 September - 3 Oktober 2020.
Meski diadakan secara online, POPAC 2020 tetap konsisten menyajikan beragam hiburan, pendidikan, pengalaman menyenangkan dan pengalaman berbelanja. Dengan meggandeng Tokopedia sebagai partner utama, POPAC 2020 kali ini mengsusung tema "Nurturing the Future-Ready Family" yang dilatar belakangi oleh kondisi pandemi yang membuat kita lebih melek teknologi dan agar kita siap menghadapi tantangan pengasuhan di masa depan :) Tidak main-main, ada 40 orang experts dari beragam bidang yang diundang sebagai pembicara di kelas-kelas POPAC 2020. Bagi saya, POPAC 2020 yang diadakan secara online kali ini ada hikmahnya, karena saya yang notabene berdomisili di luar Jabodetabek juga bisa ikutan, yaiy!
Serunya POPAC 2020 with Tokopedia
Seperti yang sudah saya ceritakan diaas, POPAC 2020 with Tokopedia diadakan selama 6 hari beturut-turut, mulai dari tanggal 28 September sampai tanggal 3 Oktober 2020. Rundown acara setiap harinya cukup padat, dari siang sampai malam. Kita benar-benar dimudahkan untuk bisa memilih topik dan jam kelas yang sesuai dengan jadwal harian kita. Topik yang dibahas juga sangat beragam dan benar-benar mencakup semua kategori yang ada di platform popmama.com, mulai dari kelas untuk ibu hamil, bayi, balita, dan anak. Teman-teman mama bisa lihat contekan rundownnya dibawah :)
Alhamdulillah saya sempat mengikuti keseruan POPAC 2020 with Tokopedia ini. Dari hari pertama saya sudah pasang ancang-ancang ingin ikut kelas yang mana saja. Ini benar-benar kesempatan emas sih bagi saya si banci kelas, hehe. Gimana engga, biasanya saya ikut kelas parenting berbayar, namun kali ini saya bisa ikutan kelas secara GRATIISSS (maaf capslocknya tiba-tiba jebol :P) dengan para pembicara nya dari salah satu akun psikolog idola saya, comboga tuh happy nya saya :) Di hari pertama ini saya juga sempat berbagi di instagram story saya kepada teman-teman mama tentang Pop Mama Parenting Academy 2020 ini. Saya sendiri rasanya ingin mengikuti semua kelas di POPAC 2020 with Tokopedia namun tidak bisa karena berbenturan dengan jadwal saya yang lain :(
Sedikit cerita dari serunya kelas yang saya ikuti. Di hari pertama, saya ikutan live streaming di Youtube, dengan menyaksikan Opening dari CEO IDN Media, Winston Utomo dan Editor In Chief Popmama.com, Sandra Ratnsari, serta Strategic Initiative Senior Lead - Mom baby & Home Living Category Tokopedia, Rizky Widyastuti. Lalu, saya lanjutkan dengan menyaksikan live streaming oleh Niesa Handayani S.Psi, PGD tentang Play Therapy Untuk Solusi Tepat Atasi Stress Pada Anak Saat Di Rumah Aja.
Dari topik Play Therapy ini saya jadi dapat insight kalau anak-anak juga bisa stress meski mereka belum bisa mengungkapkannya. Tanda-tanda stress pada anak menurut mbak Niesa, biasanya ditunjukkan dengan adanya perubahan perilaku pada anak seperti mudah marah/rewel, atau nafsu makan yang menurun.
Lalu, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti salah dua dari kulwhap POPAC 2020 yang sesuai dengan kebutuhan saya dan anak saya yang saat ini berusia 5 tahun :) Nah, di kulwhap ini lumayan seru nih karena popmama.com juga bagi-bagi rejeki vouvher belanja dari Toys Kingdom. Kulwhap yang sempat saya ikuti adalah Kuwhap '1001 Strategi untuk Generasi Unggul: Membangun Mental Pantang Menyerah" oleh Fathya Artha Utami, M.Psi, Psikolog. Di kulwhap ini kita dapat banyak tips dari Mama Fathya dalam membangun mental pantang menyerah pada anak. Saya juga sempat mengajukan pertanyaan pada Mama Fathya tentang apakah sifat pantang menyerah dapat diturunkan, dan sejak anak usia berapa dapat mulai diarahkan untuk mempunyai sifat pantang menyerah. Surprisingly, pertanyaan saya terpilih sebagi 5 pertanyaan terbaik, wohooo. Tapi kali ini belum rejeki nya saya nih untuk dapat voucher Toys Kingdom karena yang terpilih untuk mendapatkan voucher hanya 3 pertanyaan saja, hehe.
Kulwhap selanjutnya yang sempat saya ikuti adalah Tips dan Trik Keluarga Sehat Mental di Masa Penuh Tantangan 4.0 oleh Putu P.D Andani M.Psi, Psikolog. Dari sharing mama Putu di kulwhap ini, saya dapat insight bagaimana cara kita mereduce stress, melakukan self management sehingga dapat memahami child behaviour management, lalu yang terakhir adalah tentang time management yang baik selama di rumah saja. Saya juga sempat ikutan webinar Workshop DIY Toys For Toddlers di hari ke-5 dan webinar Nusaa is Back: Edukasi Digital untuk Keluarga di hari ke-6.
Oiya, setiap pukul 19.30-20.30 setiap harinya selalu ada Exclusive Deals dari Tokopedia x Pop Mama Parenting Academy di aplikasi Tokopedia. Disana ada banyaak sekali produk ibu dan anak serta kebutuhan rumah tanga, yang dibanderol dengan satu harga hanya Rp 99,000 saja. Best Deal banget sih ini buat saya.
Gimana, teman-teman mama seru banget ya POPAC 2020 with Tokopedia? :)
Terus, apa nih manfaat dan kelebihannya Pop Mama Parenting Academy 2020?
Kalau bicara tentang apa manfaat dan kelebihan Pop Mama Parenting Academy 2020 with Tokopedia jelas banyak sekali manfaatnya bagi saya. Saya coba jabarkan satu persatu ya :)
Dari POPAC 2020 saya bisa dapat ilmu langsung dari para experts
Saya jadi bisa berhemat dan dapat mengalokasikan dana untuk mengikuti kelas online yang saya punya ke pos yang lain karena, ilmu yang saya dapatkan GRATIS hehe
Saya dapat mengikuti rangkaian acara POPAC 2020 dengan flkesibel karena diadakan secara online. Ini juga menjadi kelebihan POPAC 2020 karena diadakan secara online, maka lebih banyak orangtua yang dapat saling belajar bersama seolah tanpa jarak.
Saya bisa belajar tentang pengasuhan sekaligus menikmati hiburan juga sambil berbelanja dengan cermat hanya melalui satu platform Pop Mama Parenting Academy 2020 with Tokopedia.
Dari ilmu yang saya dapatkan di POPAC 2020, saya merasa jauh lebih siap menghadapi tantangan pengasuhan di masa depan :)
Lumayan sekali ya pengalaman saya mengikuti Pop Mama Parenting Academy 2020 with Tokopedia :) Gimana teman-teman mama, ada yang mulai merasa menyesal karena belum sempat ikutan keseruannya POPAC 2020? hehe. Tenaang, jangan sedih karena teman-teman mama masih dapat mengakses artikel-artikel dari kelasnya di website Pop Mama Parenting Academy dan untuk live streaming di Youtube juga bisa ditonton di Youtube Channel Pop Mama :) Teman-teman mama juga dapat mengikuti akun instagram Pop Mama dan Pop Parenting Academy serta Facebook Pop Mama agar tidak ketinggalan update terbaru dari popmama.com :)
Apa kabar teman-teman mama? Semoga sehat selalu ya :) Di blog post sebelumnya saya sempat berbagi cerita tentang Belajar Membaca Dengan Makna dari Buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja, yang di dalam nya ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menemani anak-anak dalam belajar membaca dengan makna, salah satunya adalah dengan mengenalkan bentuk huruf kepada anak melalui sand paper letter.
Tadinya saya tidak terlalu ngeh juga apa itu sand paper letter, hehe. Lalu setelah mencari tau, ternyata sand paper letter adalah huruf alfabet yang terbuat dari kertas amplas. Basically, karena anak-anak lebih mudah mengenal hal secara konkret dan nyata, maka sand paper letter ini dapat digunakan oleh anak untuk meraba dan menyentuh bentuk huruf alfabet sehingga bagi mereka huruf-huruf tersebut tampak konkret dan nyata. Sedangkan tulisan huruf diatas kertas ternyata bagi anak-anak adalah hal yang cukup abstrak. Oleh karena itu, harapannya dengan mengenalkan sand paper letter pada anak, anak-anak menjadi lebih mudah paham dan mengerti bentuk dari beragam huruf :)
Saya pun mencoba membuat sand paper letter untuk Aliyah di rumah karena sebelumnya sempat kebingungan mencari dimana yang menjual sand paper letter ini hehe. Yo wis lah, daripada bingung nyari-nyari yang jualan (belum lagi biasanya aparatus nya Montessori tuh agak pricey bagi saya imho :P) lebih baik dibikin sendiri saja di rumah. Tidak perlu yang super duper rapi banget yang penting dapat fungsi dan tujuannya (sebuah pembenaran dari orang yang ga bisa bikin apa-apa dengan rapi, :')) Nah, kalau teman-teman mama ingin mencoba membuat juga di rumah, saya coba sharing step by step nya versi saya yah :) Silakan bisa dimodifikasi sendiri sesuka hati setenang jiwa :)
DIY SAND PAPER LETTER
Bahan:
1 lembar kertas amplas
2 lembar kertas karton warna
lem
Alat:
Penggaris
Pensil
Penghapus
Gunting
Cutter (opsional)
Step by Step:
Siapkan bahan dan alat yang diperlukan. Untuk kertas amplas nya saya menggunakan kertas amplas dengan merek TOHO (saya sebenarnya kurang mengerti merek kertas amplas dan se-dikasihnya sama bapak yang jualan hehe, hanya menurut saya merek ini teksturnya pas, tidak terlalu kasar dan tidak terlalu halus juga, dan ketebalannya tidak begitu tebal jadi InsyaAllah lebih mudah untuk digunting). Menurut saya kertas amplas yang berwarna hitam lebih baik daripada yang berwarna merah karena huruf alfabet yang dibuat akan lebih eye catching bagi anak jika hurufnya berwarna hitam :)
Balik bagian belakang kertas amplas. Nah, di bagian belakan kertas amplas ini yang kemudian akan kita gambar huruf alfabetnya :) Sebelumnya, bagi kertas amplas menjadi kotak-kotak kecil berukuran 3,5cm X 3,5 cm agar besar huruf nantinya kurang lebih sama. Oh iya, kertasnya sebaiknya tidak digunting dulu yah, agar nantinya kita lebih mudah menggambar hurufnya satu persatu :)
Setelah gambar kotak selesai, sekarang mulai deh buat tulisan huruf alfabetnya satu persatu. Disini akan agak tricky nih karena kita menggambarnya harus secara terbalik, jadi misalnya huruf a kecil yang menghadap ke kiri harus digambar dengan menghadap ke kanan, dan begitu seterusnya untuk huruf-huruf lainnya :) Saya sendiri sempat salah juga menggambarnya hehe, untungnya karena pakai pensil jadi mudah untuk dihapus dan diambar ulang.
Cek n ricek semua huruf apakah sudah benar tulisannya atau belum. Kalau sudah langsung deh digunting satu persatu (ini bagian yang agak minta sabaarnya banyakan dikit :'D) Hasilnya nanti akan seperti pada gambar :)
Terus, siapkan kertas karton warna 2 lembar (warna nya bisa dipilih yang sesuai dengan warna favorit anak. Sama dengan kertas amplas yang dibagi kotak-kotak, kertas kartonnya juga dibagi kota-kotak. Versi saya, dibuat dengan ukuran 5,5cm X 6,5 cm atau 5 kotak mendatar dan 3 kotak menurun (lah macam TTS nih hahaha). Kalau sudah digambar kotak-kotaknya, langsung deh digunting :)
Sekarang tinggal menempelkan huruf alfabetnya ke atas kertas karton. Menempel hurufnya bisa agak di pinggir sedikit dengan tujuan anak-anak dapat leluasa membedakan tekstur yang kasar dari kertas amplas dan tekstur halus dari kertas karton :) Untuk menempel, versi saya, saya suka pakai lem Fox karena beneran multipurpose glue banget, daya rekatnya untuk kertas lebih rekat jika dibandingkan dengan lem kertas biasanya yang bening-bening itu. Untuk menempel kayu seperti stik es krim ataupun biji-bijan untuk anak-anak belajaran jauh lebih rekat juga kalau pakai lem Fox :)
Kalau sudah ditempel semua hurufnya, jadi deh sand paper letter nya :)
TIPS BERMAIN SAND PAPER LETTER
Dari buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja, cara main sand paper letter sederhana saja. Jadi kita bisa pelan-pelan mengenalkan hurufnya ke anak sedikit demi sedikit, misalnya 3 huruf saja dulu. Kita bisa meminta anak untuk meraba dan merasakan tekstur kasar dari hurufnya, mengarahkan jari nya mengikuti bentuk hurufnya, lalu meminta anak untuk menyebutkan huruf yang disentuhnya. Jika diantara huruf yang disebutkan ada yang salah, kita bisa membantu anak untuk mengingatnya dan mengulangnya lagi keesokan harinya :)
Sand paper letter ini nantinya juga dapat manjeadi tahapan pra menulis bagi anak, karena anak secara tidak langsung mengenal alur bentuk dari sebuah huruf :) Oiya, untuk versi video DIY Sand Paper Letter ini teman-teman bisa main-main ke instagram saya @ajengnatassia disana saya highlight story sandpaperletter :)
Selesai deh sharingnya tentang DIY Sand Paper Letter. Btw, ada teman-teman mama yang pernah buat sand paper letter juga kah? Yuk, share sama-sama disini :)
Rasanya sudah lama sekali saya tidak berbagi cerita dari buku yang dibaca (yaah ketahuan deh kalau akhir-akhir ini jarang baca buku :')) Terakhir cerita tentang buku yang saya bagi di blog post adalah buku Montessori Play and Learn. Sebenarnya ada lagi buku yang saya saya baca setelah Montessori Play and Learn, namun baru sempat saya bagi di instagram story saja, belum sempat di posting di blog post hehehe.
Nah, tahun ini, sebenarnya ada satu buku yang belum selesai saya baca di awal tahun, lalu tiba-tiba pandemi masuk ke Indonesia, membuyarkan minat baca saya (alesan lagii kan) diiringi dengan sekolah dari rumah, alhasil menambah jauh jarak saya dengan si buku :') Namun, baru-baru ada satu buku yang memaksa saya harus cepat membaca nya karena memang sangat berhubungan dengan aktivitas persekolahan Aliyah.
Oh iya, tahun ini Aliyah Alhamdulillah resmi menjadi murid taman kanak-kanak yang notabene level belajarnya tentu saja meningkat satu level dari saat kelompok bermain. Mungkin sama kebanyakan dengan sekolah lainnya, sekolah Aliyah pun mulai mengenalkan huruf dan teknis membaca kepada anak-anak di usia taman kanak-kanak. Saya sendiri secara personal kurang sepakat, namun ya sudah lah mau mencari alternatif sekolah di tengah pandemi sepertinya kurang memungkinkan, jadi pilihannya masih dicoba dijalani dulu, toh juga masih sekolah dari rumah. Sempat terpikir untuk postpone Aliyah sekolah sementara waktu, namun pada akhirnya saya dan suami sampai di titik nothing to lose, uang pendaftaran lanjut ke taman kanak-kanak yang sudah terbayar membuat kami memutuskan untuk lanjut saja dulu sambil jalan. Kalau ternyata ditengah-tengah kurang efektif, saya dan suami sudah siap untuk mendaftarkan ulang Aliyah kembali menjadi murid taman kanak-kanak di tahun depan.
Kembali ke belajar membaca, seiring berjalannya waktu, kami belajar untuk menerima Aliyah bertumbuh sesuai dengan 'waktunya' sendiri :) Kami, InsyaAllah akan dengan senang hati menanti setiap pencapaian barunya sebagai dirinya sendiri apa adanya :) Begitu pun dengan belajar membaca. Kami berusaha menahan diri untuk tidak memaksa Aliyah agar segera bisa membaca :) Oleh karena itu, belakangan kami jadi suka dengan pendekatan Dr. Montessori di dalam membersamai tumbuh kembang anak, walaupun dalam aplikasinya kami pilih yang paling sesuai dengan kemampuan dan kondisi kami di rumah :)
Baru-baru ini saya membeli buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja karya Vidya Dwina Paramita, seorang Montessorian dan Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini. Dari buku ini banyak sekai insight yang didapat tentang bagaiamana membangun minat baca pada anak dan membuat mereka membaca dengan makna :) Buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja ini terhitung masih baru sekali, karena baru saja diterbitkan di bulan Maret tahun ini. Lalu bagaimana gambaran isi bukunya secara garis besar?
Mbak Vidya, penulis buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja menjabarkan proses bagaimana mengenalkan membaca kepada anak secara detail di dalam bukunya. Diawali dengan cerita tentang latar belakang "tradisi" masa lalu yang membuat anak dapat membaca namun tidak paham akan makna apa yang dibacanya. Setelah membaca bagian ini membuat saya tersadar kalau sangatlah penting untuk memperhatikan tahapan pra membaca pada anak sebelum mereka benar-benar memulai proses belajar membaca itu sendiri.
Di bagian selanjutnya, Mbak Vidya menjabarkan bagaimana tantangan pengajaran baca tulis yang dihadapi pengajar, orangtua dan anak saat ini. Menurut Mbak Vidya, ada "jembatan yang hilang" di dalam proses pengajaran baca tulis saat ini. Di satu sisi ada pendapat bahwa anak tidak boleh diajarkan baca tulis di usia pra sekolah, namun di sisi lain materi pengajaran di sekolah dasar menuntut anak membutuhkan kemampuan membaca dan menulis. Saya jadi teringat sewaktu saya kecil dulu, saya baru mulai belajar membaca saat menduduki kelas 1 SD. Namun, saat ini, anak kelas 1 SD paling tidak sudah memiliki kemampuan baca tulis. Sungguh, zaman telah berubah begitu cepat ya :')
Pada bagian berikutnya, secara berturut-turut mbak Vidya menjelaskan tentang mengapa kemampuan baca tulis anak usia dini menjadi primadona, lalu bagaimana persepsi dan definisi belajar yang sesungguhnya, kemudian tentang makna membaca yang sebenarnya sampai bagaimanan tahapan belajar membaca pada anak. Dari penjelasan mbak Vidya pada bagian-bagian tersebut, kita benar-benar bisa mendapatkan insight tentang makna membaca yang sesungguhnya. Proses dan tahapan yang kita lalui bersama anak tidak serta merta langsung mengenalkan huruf dan mengeja, namun ada proses panjang di dalamnya yang ternyata dimulai dari aktivitas anak sehari-hari. Rutin membacakan buku dan mengajak anak bercerita adalah salah satu kegiatan yang dapat dilakukan sebagai proses pra membaca pada anak.
Tahapan stimulasi sensorik dan motorik sewaktu anak masih usia bayi sampai balita ternyata juga mempunyai peran yang penting di dalam proses pra membaca. Kesemuanya menjadi penting untuk membuat anak cinta pada proses membaca sehingga ia dapat membaca dengan penuh makna, paham akan makna tulisan yang dibaca, tidak sekadar "ini ibu budi". Pemahaman akan hal ini sebenarnya sangat dibutuhkan bagi kita para orang tua anak "zaman now" dimana anak bisa mendapatkan informasi dengan mudah dari segala akses. Menumbuhkan minat baca pada anak menjadi penting agar setiap kali anak mendapatkan informasi singkat, diharapkan mereka akan dengan sadar mencari tahu lebih dulu kebenaran informasi tersebut dengan membaca, lalu pada akhirnya anak dapat memutuskan apakah informasi tersebut baik dan benar bagi mereka atau tidak :)
Di bagian selanjutnya dari buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja ini, mbak Vidya memberi tips tahap membaca pada anak yang dapat kita lakukan di rumah, seperti bagaimana awal mula mengenalkan huruf pada anak sampai cara anak dapat membaca sebuah cerita. Dari sini saya kembali mendapatkan insight kalau ternyata anak-anak akan lebih mudah mengenal hal yang konkret lebih dulu daripada hal yang abstrak. Tulisan huruf A diatas kertas merupakan hal yan abstrak bagi anak. Oleh karena itu di dalam metode Montessori, mengenalkan huruf pada anak dimulai dengan bentuk dan raba, seperti membuat sand paper letter (sudah dicoba dibuat untuk Aliyah, Alhamdulillah Aliyah mengajdi lebih mudah mengerti, untuk tip membuat sand paper letter InsyaAllah di blog post berikutnya ya hehe).
Pada bagian terakhir mbak Vidya menjabarkan tentang bagaimana lima area Montessori adalah sebuah benang merah yang saling terhubung satu dengan yang lain. Beragam aktivitas sensorik dan motorik yang sederhana yang dilakukan oleh anak (yang terkadang kita anggap sepele) ternyata merupakan bekal besar bagi anak untuk melakukan tahapan baca tulis. Meraba, menyentuh, menggenggam, menarik, mendorong, melihat, membedakan bentuk besar dan kecil, membedakan warna, menarik garis, dan lain-lain kesemuanya adalah tahapan awal anak mengumpulkan bekal untuk belajar membaca dan menulis. Last but not least, ada rangkuman tanya jawab dan testimonial mengajarkan membaca pada anak yang didapat berdasarkan pengalaman dari para orangtua :)
Secara keseluruhan, buku ini benar-benar sangat membantu kita para orangtua untuk memahami makna membaca yang sebenarnya, tidak hanya anak, namun juga pada diri kita sendiri. Di saat kita ingin anak jatuh cinta pada kegiatan membaca, maka kita pun juga sebaiknya jatuh cinta pada kegiatan membaca :) Bagi saya, hal ini benar-benar membuat saya tersadar kalau memang benar sejatinya orangtua akan selalu menjadi teladan pertama bagi anak :)
Judul Buku: Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja
Ibu mana yang tidak senang hatinya saat mendengar pinta itu, pinta yang keluar dari bibir kecil dan disampaikan dengan mata berbinar dan rasa ingin tahu yang besar. Tentu, hal ini tidak terjadi begitu saja. Layaknya orang yang sedang jatuh cinta dan ingin saling mengenal lebih dekat, menumbuhkan rasa ingin tahu dengan membaca buku juga diawali dengan berkenalan, lalu sering bertemu dan bercerita, yang lama-kelamaan membuat jatuh cinta pada kegiatan membaca buku.
"I Love You, Honey Bunny" adalah judul buku pertama milik Aliyah. Buku ini dibeli dengan rasa obsesi saya untuk mengenalkan buku kepada Aliyah kecil, yang saat itu berusia 1 tahun. Rasa obsesi itu tumbuh setelah saya membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa kegiatan membaca buku untuk anak di usia 1 tahun adalah salah satu stimulasi yang dapat dilakukan untuk merangsang kecerdasan otak anak, sekaligus mengembangkan daya imajinasi dan kemampuan berpikirnya. "I Love You, Honey Bunny" , buku dengan ornamen telinga kelinci dipilih dengan harapan Aliyah tertarik dengan telinga kelinci dan gambar berwarna di dalamnya. Paling tidak, meski kala itu Aliyah belum dapat membaca (ya iya, kan masih 1 tahun hehe) Aliyah sudah dapat mengenal bentuk dari sebuah buku. Buku, benda yang kelak menjadi jendelanya untuk melihat dunia lebih dekat.
Buku Pertama Aliyah
Bersama buku tentang petani sapi (yang setiap bagiannya sudah habis disobek oleh Aliyah) "I Love You, Honey Bunny" menjadi alat perekat bonding saya dengan Aliyah kecil. Rasanya, waktu itu menjadi sangat berharga dan selalu terkenang hingga sekarang. Sampai sekarang "I Love You Bunny" masih tersimpan dengan baik dengan kucel sedikit serta warna yang tak lagi cemerlang, namun Aliyah masih sangat sayang. Sesekali kami masih membukanya, memegang telinganya yang mulai usang, dan saling bercerita tentang isi bukunya yang sangat manis.
Aliyah saat berusia 1 tahun
Di suatu malam, masih di saat Aliyah berusia 1 tahun lebih, secara random saya mengajak Aliyah ke sebuah toko buku di kota kami. Suami saya sampai tidak habis pikir mengapa saya mengajak Aliyah kecil ke toko buku, malam hari pula. Tapi, keinginan untuk memberi Aliyah bahan bacaan baru tak terbendung, karena di rumah Aliyah sudah mulai suka membolak-balik lembaran buku yang tipis yang sebenarnya belum sesuai untuk usianya.
Aliyah saat membaca buku di toko buku
Malam itu Aliyah kecil yang sudah berpiyama sangat bersemangat meski belum begitu mengerti tempat yang dikunjunginya. Ia duduk di sebuah kursi kuning kecil sambil membuka lembar demi lembar buku warna warni pilihannya. Masih dalam obsesi saya untuk mengenalkan buku kepada Aliyah, kami mulai melihat-lihat buku yang pas untuknya. "Aku bisa bilang, Masya Allah" menjadi pilihan kami waktu itu, sebuah board book berwarna orange dengan gambar kartun gadis kecil bernama Naura yang menjadi covernya.
Di sebuah artikel yang saya baca tentang buku untuk anak memang menuliskan bahwa untuk anak yang berusia 1 tahun, buku berwarna dengan halaman yang lebih tebal atau buku kain dapat menjadi salah satu pilihan yang tepat agar buku tidak mudah rusak. Sebuah studi yang dilakukan oleh sekelompok psikolog di Florida, Amerika Serikat terhadap balita usia dibawah 1 tahun sampai dengan usia 1 tahun menunjukan bahwa balita yang dibacakan buku dengan karakter tertentu akan lebih mudah fokus dan mengingat cerita yang dibacakan kepadanya. Dengan membacakan cerita dari buku "Aku bisa bilang, Masya Allah" kami berharap Aliyah dapat mulai belajar mengenal penciptaNya dan mengingat bahwa setiap melihat keindahan akan sekitarnya, ia tidak lupa untuk mengucap Masya Allah sama seperti Naura, karakter gadis kecil di dalam buku tersebut. Sampai sekarang, buku "Aku bisa bilang, Masya Allah" masih tersimpan rapi dengan kondisi yang sangat baik.
Buku Ketiga Aliyah
Sewaktu Aliyah menginjak usia 2 tahun, Aliyah terindikasi mengalami sedikit keterlambatan dalam kemampuan berbicaranya. Loh kok bisa, padahal kan sudah dikenalkan dengan buku sejak usia 1 tahun? Iya betul, ternyata sebelumnya saya suka mengenalkan buku kepada Aliyah, namun dalam praktik membacakan bukunya belum saya lakukan dengan intens. Atas saran dari terapis dari sebuah klinik tumbuh kembang anak di kota kami, tempat kami berkonsultasi mengenai kemampuan berbicara Aliyah, saya mencoba untuk lebih sering membacakan buku cerita untuk Aliyah di waktu siang hari ataupun menjelang tidur di malam hari. Saya sendiri bukan tipikal orang yang senang bercerita atau mengobrol. Oleh karena itu, membacakan Aliyah sebuah buku menjadi alat bagi saya dan Aliyah untuk saling bercerita sekaligus memberi stimulasi kepadanya agar kemampuan berbicaranya dapat berkembang sesuai dengan yang kami harapkan.
Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya banyak momen-momen penting di keluarga kami yang melibatkan momen membaca buku selain untuk sekedar mengenalkan buku ataupun mengkhususkan untuk memberi stimulasi pada Aliyah. Diantaranya adalah ketika saya akan menyapih Aliyah di saat usianya 2 tahun lebih 2 bulan. Membacakan Aliyah sebuah buku menjadi salah satu cara untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak minta menyusu di malam hari. Alhamdulillah cara tersebut berhasil. Sampai sekarang, saya masih sangat ingat momen bergadang selama seminggu dalam rangka menyapih itu.
Membaca buku di dalam kereta api
Membaca buku juga menjadi penyelamat Aliyah dari rasa bosan di setiap perjalanan kami keluar kota. Berhubung kami suka bepergian dengan menggunakan moda transportasi kereta api, maka membaca buku menjadi hal yang menyenangkan untuk dilakukan di dalam kereta. Biasanya kami membawa 2 sampai 3 bahan bacaan atau kadang sampai satu tas berukuran sedang karena Aliyah ingin membawa lebih banyak :D. Buku-buku yang dibawa adalah buku-buku yang sedang menjadi favorit Aliyah waktu itu. Kebiasaan membawa buku saat bepergian terus berlanjut sampai sekarang.
Mencari buku di bazar
Seiring bertumbuhnya Aliyah, jenis buku yang kami kenalkan kepadanya pun semakin bervariasi dan disesuaikan dengan kebutuhan usianya saat itu. Suatu kali, di kota kami sedang dibuka bazar buku terbesar di Indonesia. Tentu saja, saya dan Aliyah tidak ingin ketinggalan. Dengan budget yang sudah dipersiapkan dari rumah kami berangkat ke bazar tersebut. Waktu itu budget kami tidak banyak karena kami juga perlu menyisihkan untuk keperluan lainnya. Pikir saya, ah tidak apalah, yang penting bisa dapat satu atau dua buku yang bagus untuk Aliyah sudah Alhamdulillah. Beberapa list jenis buku yang akan dibeli juga sudah dibuat. List tersebut dibuat sesuai dengan kebutuhan Aliyah di usianya saat itu, agar sampai di bazar kami tidak kalap dan tidak bingung mencari bukunya. Diantara list tersebut tentu saja ada list kosong, yang bisa diisi oleh Aliyah dengan buku pilihannya sendiri.
Menurut kami, melibatkan anak dalam memilih bahan bacaannya juga salah yang penting untuk membuatnya cinta membaca. Salah satu yang berkesan dari bazar buku ini, adalah karena bazar yang diadakan setiap satu tahun sekali, setiap itu pula saya dan Aliyah turut serta, namun tiap tahunnya kami selalu membawa pulang buku-buku yang berbeda :)). Misalnya tahun ini kami membawa buku stiker yang dilengkapi dengan cerita untuk menstimulasi motorik Aliyah. Tahun berikutnya kami bisa membawa pulang buku pop-up yang bercerita tentang anak yang berulang tahun sambil belajar mengenal angka dan berhitung sederhana.
Koleksi buku Aliyah di rumah sebenarnya tidak begitu banyak. Yah itu tadi, rata-rata adalah buku yang dibeli dari toko buku atau bazaar (yang dibeli dengan budget tertentu) ataupun yang dibeli saat kami sedang berjalan-jalan santai di car free day. Harga buku yang dibeli juga rata-rata masih cukup terjangkau oleh kami. Pernah kami membeli buku cerita dengan diskon lumayan di sebuah supermarket. Waktu itu bukunya dibanderol dengan harga 6 ribu rupiah saja, hehehe. Majalah anak-anak terbitan lama namun masih dalam kemasan plastik dengan harga 10 ribu rupiah dapat 3 juga selalu menjadi incaran kami saat sedang berjalan santai di car free day. Kesemuanya tentu saja dibeli atas kesepakatan saya dan Aliyah dalam memilih bersama. Saya percaya, buku yang dipilih oleh Aliyah akan membuat Aliyah selalu bersemangat menunggu saat saya membaca buku pilihannya.
Beberapa buku yang dipinjam secara online
Lalu, apakah bahan bacaan untuk Aliyah semuanya adalah hasil membeli? Tentu saja tidak :) Sekali waktu kami pernah membaca di perpustakaan keliling yang ada di alun-alun kota kami saat akhir pekan. Belakangan, kami cukup sering meminjam buku secara online yang Alhamdulillah masih satu provinsi dengan kota kami, yang berarti ongkos kirim yang perlu kami bayar juga tidak begitu besar. Dengan modal yang tidak besar, Aliyah sudah bisa mendapatkan bahan bacaan baru yang lebih bervariasi.
Cerita saya diatas sepertinya hanya berputar-putar tentang cara saya mendapatkan buku dan obsesi saya mengenalkan buku kepada Aliyah ya? hehehe. Namun ternyata, kebiasaan yang saya dan Aliyah lakukan sejak ia di usia 1 tahun manfaatnya sangat terasa sampai sekarang ia menginjak usia hampir 5 tahun. Dari kebiasaan-kebiasaan tersebut, ternyata pelan-pelan dapat menumbuhkan minat baca yang begitu besar kepada Aliyah. Ia akan selalu penasaran saat sebuah paket buku pinjaman tiba di rumah kami, dan langsung meminta saya agar membacakan buku tersebut untuknya. Aliyah yang dulunya sempat mengalami keterlambatan dalam berbicara, menjadi kaya akan kosakata karena mendengar saya membacakan buku cerita dengan nyaring untuknya. Belum lagi kebiasaan lain seperti sholat, menjaga kebersihan, berpuasa, mengenal kuman dan virus yang semuanya diketahui dan dipahami oleh Aliyah dari hasil membaca buku yang berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Jika ingin belajar atau mengenalkan suatu kebiasaan pada Aliyah, maka kami akan mulai dengan membaca buku yang berkaitan dengan kebiasaan tersebut :)
Banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dari kebiasaan membacakan anak sebuah buku, apalagi jika dilakukan dengan suara nyaring. Dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh AAP (American Academy Of Pediatrics) menunjukkan bahwa kualitas dan kuantitas membaca buku bersama antara orangtua dan anak pada masa awal bayi sampai balita dapat memperkaya kosakata anak hingga 4 tahun kemudian. Kualitas membaca buku pada balita dapat menumbuhkan keterampilan membaca awal sedangkan kuantitas dan kualitas membaca pada balita juga sangat terkait dengan keterampilan literasi yang muncul di kemudian hari seperti keterampilan menuliskan namanya sendiri saat anak berusia 4 tahun. Percaya atau tidak, hal ini juga terjadi kepada Aliyah. Aliyah mulai dapat menuliskan namanya sendiri, meski masih sedikit terbalik :))
Menumbuhkan Minat Baca pada Anak
Semakin kesini, saya semakin menyadari bahwa menumbuhkan minat baca dan budaya membaca kepada anak sangatlah penting dan tidak boleh terlewatkan di dalam pola pengasuhan. Apalagi di era sosial media seperti sekarang dimana segala informasi dapat tersebar dengan sangat cepat, dan diringi pula dengan gerak jempol yang tidak kalah cepat, yang kadang saking cepatnya, tidak lagi sempat berpikir untuk mencari kebenaran informasi tersebut dengan membaca dan mencari tahu.
Dari data Kementrian Pendidikan dan Kebudayan Indonesia, angka buta aksara di Indonesia semakin berkurang namun tidak diiringi dengan tumbuhnya budaya membaca. Ini membuktikan bahwa tingkat literasi di Indonesia masih tergolong rendah. Sedangkan data dari UNESCO menunjukkan tingkat literasi Indonesia menduduki peringkat ke-70 dari 165 negara di dunia.
Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kecakapan, akses, alternatif dan budaya. Rata-rata indeks Alibaca nasional adalah 37,32% yang masih tergolong rendah, - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan-
Tingkat literasi di Indonesia yang masih tergolong rendah ini patut menjadi fokus kita, para orangtua, untuk menumbuhkan minat baca anak dan membentuk pola pikir anak kalau membaca itu menyenangkan.
Beragam penelitian telah membuktikan bahwa membacakan anak buku sedini mungkin mempunyai banyak manfaat bagi anak di kemudian hari. Berdasarkan cerita pengalaman saya diatas, ada beberapa tips yang dapat saya bagi untuk teman-teman mama yang ingin memulai untuk menumbuhkan minat baca anak, membangun budaya membaca dan membentuk pola pikir anak kalau membaca itu menyenangkan.
Berikut beberapa tips dalam menumbuhkan minat baca pada anak:
Mengenalkan anak kepada buku dapat dimulai sedini mungkin sejak anak masih bayi/balita. Pada poin ini penting untuk tidak sekedar obsesi belaka namun minim praktika seperti saya yang terobsesi mengenalkan buku kepada Aliyah, namun membacakannya hanya sesekali (yang saya lakukan kepada Aliyah di saat Aliyah berusia 1 tahun). Membacakan anak buku secara intens akan jauh lebih terasa manfaatnya di kemudian hari :) Kalau versi saya dan Aliyah, waktu yang tepat untuk membaca buku adalah di siang hari di sela-sela waktu bermain santai dan di malam hari pada saat menjelang tidur. Lama durasinya pun bervariasi antara 15 - 30 menit.
Memilih buku yang sesuai dengan usia dan tahap tumbuh kembang anak. Buku yang sesuai untuk anak yang masih bayi tentu akan berbeda dengan buku untuk anak di usia balita, anak-anak, hingga remaja. Berikut rekomendasi buku untuk anak yang disesuaikan dengan usia anak:
Usia bayi sampai 2 tahun: Di rentang usia ini, buku berisi gambar yang berukuran besar dengan warna yang cerah, serta cerita dengan karakter tertentu yang terbuat dari boardbook tebal atau kain/busa dapat agar buku tidak mudah rusak dapat menjadi pilihan teman-teman mama.
Usia 3 sampai 5 tahun: Di rentang usia ini, biasanya anak sudah mulai mengenal huruf, angka dan bentuk. Buku yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari, liburan, bersekolah, kehidupan binatang juga akan menarik minat baca anak usia 3-5 tahun.
Usia 5 sampai 8 tahun: Buku dengan alur cerita yang cukup kuat dengan tokoh yang menarik dapat menarik minat baca anak di rentang usia ini. Daya imajinasi anak yang mulai terbentuk akan membuatnya tertarik dengan tokoh dan alur cerita dari buku yang dibacanya. Poin pentingnya adalah, meski anak sudah mulai dapat membaca bukunya sendiri, kita sebagai orangtua tetap perlu menemani anak dalam membaca, menjelaskan maksud dari cerita di bukunya dan pelajaran apa yang dapat diambil dari cerita di buku tersebut :)
Usia 9 sampai 11 tahun: Di rentang usia ini, buku tanpa gambar sudah dapat dipilih sebagai bahan bacaan untuk anak. Buku dengan cerita yang detail namun tanpa gambar dapat mengembangkan imajinasi anak yang kelak dapat meningkatkan daya pikir dan kreatifitasnya di kemudian hari.
Usia 12 tahun keatas: Anak di usia menjelang remaja umumnya mulai tertarik dengan buku seperti novel yang mempunyai alur cerita tentang keseharian dengan tokoh dalam novel yang memiliki pengalaman yang serupa dengan kehidupan anak sehari-hari. Buku sejenis ensiklopedia juga dapat menarik minat baca anak di usia ini.
Membacakan anak buku dengan suara nyaring secara rutin. Kecintaan anak terhadap budaya membaca tentu tidak serta merta tumbuh begitu saja. Rutinitas membaca buku yang dilakukan sehari-hari lama-kelamaan akan membuat anak jatuh cinta terhadap buku dan menganggap kalau kegiatan membaca itu menyenangkan. Di sisi lain, berbagai penelitian telah dilakukan oleh para ahli seperti psikolog anak maupun dokter anak yang menunjukkan bahwa membacakan anak sebuah buku dengan suara nyaring mempunyai banyak manfaat bagi anak dan orangtua.
Orang-orang akan rela mengantri selama berhari-hari dan membayar ratusan dollar jika ada pil yang dapat melakukan segalanya bagi anak-anak seperti yang halnya yang dilakukan dengan membaca nyaring. Membaca nyaring akan memperluas minat mereka terhadap buku, kosakata, pemahaman, tata bahasa dan rentang perhatian. Sederhananya, membaca nyaring adalah 'oral vaksin' bagi literasi -Jim Trelease, The Read-Aloud Handbook-
Jika kita rutin membersamai anak dalam membaca buku secara nyaring, maka akan banyak manfaat yang kelak dirasakan oleh kita dan anak di kemudian hari. Nah, apa saja sih manfaat yang kita dapat dari membacakan buku secara nyaring?
Membaca buku secara nyaring akan membangun bonding yang erat antara orangtua dan anak melalui aktifitas membaca buku bersama. Buku dapat menjadi perantara antara orangtua dan anak untuk saling berkomunikasi secara dekat dan intens.
Melalui kegiatan membaca nyaring, anak akan mendapatkan pengalaman untuk merasakan kegembiraan dari kisah cerita yang dibacakan. Hal ini akan membuat anak dapat dengan mudah menyukai cerita dari buku yang dibacakan.
Dengan membaca nyaring, kita dapat memberi contoh model membaca lancar dengan benar kepada anak yang kelak dapat mengasah kemampuan membaca anak.
Kegiatan membaca dengan nyaring akan memperkaya kosakata anak karena kosakata dari membaca buku tentu akan berbeda dengan kosakata yang digunakan di dalam bahasa sehari-hari.
Secara tidak langsung akan membangun kesadaran dan empati serta pemahaman anak-anak kita tentang kemanusiaan dan dunia sekitar.
Dalam jangka panjang, membaca nyaring juga dapat meingkatkan kemampuan membaca pada anak.
Kalau kita rutin membacakan anak buku dengan nyaring, lama-kelamaan kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan tersebut dapat menumbuhkan minat baca anak dikemudian hari.
Anak yang dibacakan cerita dengan nyaring mempunyai aktivitas otak yang lebih signifikan di area asosiasi visualnya, dengan kata lain daya imajinasi anak akan lebih terasah dan membuat mereka menjadi pembaca yang lebih baik di kemuadia hari karena telah terlatih untuk melihat apa yang terjadi di dalam cerita dari sebuah buku.
Buku yang dibaca dengan nyaring akan mendukung kemampuan akademis anak di masa depan karena telah terbiasa membaca kisah dari sebuah buku.
Saya sempat mengobrol dengan seorang sahabat yang berprofesi sebagai psikolog anak di salah satu klinik tumbuh kembang anak tentang manfaat membacakan buku secara nyaring bagi aspek psikologis anak. Dari obrolan tersebut saya jadi tahu kalau ternyata efek suara dari ibu atau ayah yang membacakan buku dapat membuat anak menghayati nuansa emosi dari kisah atau cerita dari buku yang dibacakan. Anak akan lebih mudah peka pada tanda-tanda emosi, lebih peka pada situasi sosial-emosional orang lain dan dapat memberi contoh kepada anak untuk mengekspresikan emosi mereka secara terbuka. Menurut sahabat saya lagi, aktivitas membacakan buku secara nyaring menjadi penting karena sekarang banyak kasus anak bisa membaca dengan baik namun hanya sekedar membaca atau membunyikan kata namun tidak memahami makna dari kata tersebut. Hal senada juga dijelaskan oleh Vidya Dwina Paramita seorang Montessorian di dalam bukunya yang berjudul "Montessori: Kejaiban Membaca Tanpa Mengeja", bahwa penting untuk mengajarkan anak untuk tidak sekedar membaca namun juga paham akan makna apa yang dibacanya.
Menurut aku, membacakan buku secara nyaring itu banyak manfaatnya. Jadi efek suara (intonasi, volume, kecepatan) ketika kita membacakan buku membuat anak menghayati nuansa emosi dari kisah atau cerita yang sedang dibaca itu. Selain membangun emosi antara anak dan orangtua, anak juga bisa lebih peka pada tanda-tanda emosi, peka pada situasi sosial-emosional orang lain, dan tentu saja memberi contoh juga kepada anak untuk mengekspresikan emosi secara terbuka -Bonifacia Sherlince Lau,M.Psi (psikolog anak di salah satu klinik tumbuh kembang anak Surabaya)
Menata buku anak dengan cara tertentu untuk menarik minat baca anak. Di dalam buku Montessori Play and Learn, Lesley Britton menjabarkan cara menata buku anak di rumah ala Montessori agar anak tertarik untuk membaca buku, yaitu dengan meletakkan buku di sebuah rak yang dapat dijangkau dengan mudah oleh anak dengan judul buku menghadap ke depan untuk memudahkan anak mengambil buku yang ingin dibacanya. Kalau pun tidak ada rak khusus, kita dapat menyusun bukunya di sebuah meja kecil yang mudah terlihat oleh anak :)
Mengajak serta anak dalam memilih buku yang akan dibacanya. Dari pengalaman saya bersama Aliyah dalam mencari bahan bacaan, tidak semua buku yang kami baca harus didapatkan dengan cara membeli. Itupun kalau dengan membeli, kami mempunyai budget yang telah ditetapkan sebelumnya agar tidak mudah kalap, khususnya saat sedang berkunjung di bazar buku murah. Alternatif lain bagi kami dalam mendapatkan buku untuk Aliyah yaitu dengan sesekali membaca di perpustakaan keliling yang ada di alun-alun kota kami. Alternatif lainnya, biasanya kami meminjam buku secara online di tempat peminjaman online langganan kami. Biasanya saya akan meminta Aliyah untuk memilih buku mana yang membuat tertarik untuk kami beli atau pinjam. Kami akan diskusi mengenai isi buku yang dipilih dan memutuskan yang mana yang akan kami beli atau pinjam.
Berikut beberapa alternatif dalam menambah variasi buku untuk dibaca oleh anak selain dengan membeli:
Mengajak anak mengunjungi perpustakaan daerah atau perpustakaan keliling di kota tempat kita tinggal. Selain mendapatkan variasi buku baru untuk dibaca, suasan yang perpustakaan yang berbeda juga dapat membuat anak lebih antusias dalam membaca buku yang dipilihnya.
Tukar pinjam dengan teman sebaya. Kalau teman-teman mama mempunyai anak yang usia nya sebaya dengan anak sendiri, dan juga sama-sama suka membaca buku, tukar pinjam dapat menjadi alternatif untuk mendapatkan variasi bahan bacaan bagi anak. Tapi tentu saja karena bukan milik sendiri, kita perlu menjelaskannya kepada anak kalau buku tersebut adalah pinjaman dan digunakan dengan hati-hati :)
Meminjam buku secara online. Saat ini, meminjam buku secara online telah menjadi tren di kalangan ibu-ibu jagad instragram. Saya pribadi sangat terbantu dengan adanya pinjam buku online ini. Biasanya kita tinggal membayar iuran keanggotaan untuk satu tahun (rata-rata iuran ini cukup terjangkau jika dibandingkan dengan membeli buku baru). Sama seperti tukar pinjam, kita perlu menjelaskan kepada anak kalau buku yang dipinjam online bukanlah buku milik sendiri, jadi perlu kehati-hatian dalam menggunakannya :)
Mengunduh aplikasi perpustakaan digital. Aplikasi perpustakaan digital salah satu alternatif yang paling praktis dan paling hemat bagi yang ingin mendapatkan ragam bahan bacaan baru. Kalau teman-teman membuka Play Store ataupun App Store dan memasukkan kata kunci 'perpustakaan digital' maka nantinya akan keluar beragam aplikasi perpustakaan digital yang dapat diunduh oleh teman-teman mama. Di tengah kondisi pandemi yang masih serba terbatas seperti sekarang ini, rasanya perpustakaan digital menjadi sangat pas untuk kita dalam mendapatkan bahan bacaan baru, khususnya dalam hal ini bahan bacaan untuk anak.
Dari kesemua tips dalam menumbuhkan minat baca pada anak, ada satu poin penting yang juga tidak boleh terlewat bagi kita para orangtua. Kita adalah orang pertama yang akan selalu diteladani, ditiru dan dicontoh oleh anak. Jika kita ingin menumbuhkan minat baca pada anak kita, maka kita pun perlu memberi contoh kepada anak kalau kita juga mempunyai minat baca yang begitu besar. Kalaupun belum begitu terbiasa, kita dapat memulainya dengan pelan-pelan. Kita dapat memilih buku bacaan yang sesuai dengan minat kita. Bukunya tidak harus tebal, bisa dimulai dengan buku yang tipis lebih dulu. Kita dapat membaca buku di depan anak, dan menunjukkan kepada anak kalau ibu atau ayahnya suka membaca karena membaca adalah kegiatan yang menyenangkan.
Aplikasi Perpustakaan Digital "Let's Read"
Satu bulan yang lalu, saya baru saja mengetahui kalau ada aplikasi perpustakaan digital yang khusus berisikan buku cerita digital bagi anak-anak. Aplikasi tersebut adalah Let's Read (Ayo Membaca), aplikasi perpustakaan digital yang diprakarsai oleh Books for Asia dari The Asia Foundation sejak tahun 2017. Bagi saya, Let's Read menjadi sedikit berbeda dengan aplikasi perpustakaan digital lainnya, karena ragam buku cerita digital di dalamnya sangat kaya unsur budaya, kearifan lokal dan budi pekerti. Oleh karena itu, jika membaca buku di Let's Read kita dapat memilih bahasa yang ingin kita gunakan mulai dari bahasa Indonesia, Inggris sampai bahasa daerah seperti Jawa dan Bali.
Buku-buku cerita digital yang ada di Let's Read sebagian besar merupakan hasil kolaborasi dengan para pegiat literasi dan masyarakat umum yang memiliki tujuan yang sama yaitu mengembangkan buku cerita yang kaya akan nilai budaya bangsa. Kolaborasi tersebut telah melibatkan penulis, ilustrator, desainer, penerbit serta organisasi dari beberapa negara di dunia seperti Amerika Serikat, Denmark, Korea, India, Kamboja, Filipina, Myanmar, Vietnam, Nepal, Jordania, Belanda, Panama, Afrika Selatan, Thailand, Singapura dan ibu pertiwi kita, Indonesia.
Saya mengunduh Let's Read secara gratis dari Play Store sebagai alternatif untuk mendapatkan variasi buku cerita bagi Aliyah dalam rangka menumbuhkan minat baca dan budaya membaca kepada Aliyah. Syukurlah ukuran file dari aplikasinya tidak begitu besar, hanya 2,8 MB, sehingga tidak memakan ruang penyimpanan pada gawai milik saya yang telah penuh sesak :') Meski ukuran file nya tidak begitu besar, namun ragam buku cerita di dalamnya ternyata lumayan banyak. Dengan mengunduh aplikasi Let's Read saya merasa sangat terbantu dalam mendapatkan variasi bahan bacaan untuk Aliyah di tengah pandemi yang serba terbatas seperti sekarang ini.
Pengalaman Membaca Buku Cerita di Let's Read
Setelah mengunduh aplikasi Let's Read, saya kemudian menunjukkannya kepada Aliyah di saat waktu membaca bersama kami tiba. Aliyah sangat antusias saat kali pertama saya mengajaknya membaca buku cerita digital di Let's Read. Seperti kebiasaan kami yang sudah-sudah, saya meminta Aliyah untuk memilih cerita mana yang ia inginkan untuk saya bacakan. Pilihan Aliyah jatuh pada buku yang berjudul COVIBOOK karya Manuela Molina. Buku ini bercerita tentang si virus Corona dengan cara yang lucu dan khas anak-anak. Aliyah yang sebelumnya juga sudah pernah membaca cerita tentang virus Corona, sangat menyukai isi cerita dari COVIBOOK. "Ma, mama.. koronanya jalan-jalan pakai tas, hihihi" katanya waktu itu sambil tertawa karena ia gemas sendiri dengan ilustrasi bukunya, hahaha. Bagian yang juga seru dari COVIBOOK, ada satu halaman dimana anak diminta menggambar ekspresinya saat mengetahui tentang virus korona. Bagian ini menjadi salah satu favorit Aliyah karena ia dapat mengungkapkan ekspresinya melalui gambar sederhana. Bagi saya, buku cerita ini sangat komunikatif dengan alur cerita korona yang seolah mengajak anak kita mengobrol bersama si korona.
Buku cerita digital lain di Let's Read yang menjadi favorit Aliyah adalah buku yang berjudul Lihat Ke Atas. Buku Lihat Ke Atas bertemakan alam dan lingkungan sekitar namun disertai dengan aktivitas melibatkan anak untuk mencari perbedaan yang ada pada gambar ilustrasinya. Misalnya di halaman pertama yang bercerita tentang sekelompok burung, dan meminta anak untuk mencari burung mana yang telah membawa cacing di mulutnya. Bagi saya dan Aliyah, membaca sambil menggambar ataupun mencari perbedaan adalah hal yang sangat seru. Kami dapat tertawa bersama, saling menuangkan ide dan pikiran bersama, dan saling bercerita. Momen membaca buku seperti ini yang kelak akan membuat bonding kami sebagai ibu dan anak terasa semakin erat, InsyaAllah. Omong-omong, Aliyah saking sukanya Aliyah dengan buku ini, ia selalu meminta saya untuk membacakannya berulang kali, bisa 3 sampai 4 kali dalam sekali waktu :'))
Tidak hanya Aliyah yang sangat suka dengan cerita dari buku-buku digital yang ada di Let's Read. Saya sendiri yang notabene adalah orang dewasa sangat suka membaca buku cerita di Let's Read, hehehe. Ilustrasi dari buku-bukunya sangat bagus sih menurut saya, belum lagi cerita nya yang mengusung kearifan lokal, budaya, dan bahasa daerah. Salah satu buku cerita yang menjadi favorit saya adalah buku yang berjudul Jarit Yang Mana? Dari judulnya sudah kelihatan jelas ya kalau buku cerita ini mengusung budaya dari Jawa :) Jarit yang biasanya di Jawa digunakan untuk menggendong anak bayi atau balita menjadi isi dari cerita di buku ini. Kita juga dapat memilih opsi membaca dalam bahasa Jawa di buku cerita ini. Bagi saya, opsi pilihan bahasa daerah di Let's Read sangat membantu dalam mengenalkan budaya dan bahasa daerah kepada anak. Hal ini juga memungkinkan Let's Read menjadi mudah dijangkau bagi anak-anak di pelosok daerah yang lebih sering menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-harinya. Para aktivis pegiat literasi ataupun pendongeng di yang ada di daerah akan semakin mudah menyampaikan cerita kepada anak dengan adanya opsi bahasa daerah ini.
Di Let's Read, ragam buku cerita yang tersedia sangat banyak dan variatif. Judul buku cerita favorit saya lainnya adalah Mencari Pluto. Buku yang bercerita tentang planet Pluto yang hilang ini menyisipkan pengetahuan akan alam semesta dengan cara yang ringan bagi anak. Berhubung tingkat kesulitan bacaan Mencari Pluto di tingkat 5, jadi saya belum membacakannya untuk Aliyah, hehehe. Eh, iya saya belum cerita ya kalau di Let's Read, setiap halaman pertama bukunya selalu berisikan beberapa informasi yang dapat membantu kita untuk mengetahui detail tentang buku cerita tersebut. Mulai dari label buku seperti science, nature, animals, adventure, health, family, friendship, critical thingking dan masih banyak lagi. Label ini akan memudahkan kita untuk mengetahui tema yang akan kita pilih sebagai pesan pembelajaran bagi anak kita.
Lalu ada informasi tingkat kesulitan bacaan yang memudahkan kita untuk memilih buku cerita yang sesuai dengan usia anak kita saat ini. Kalau versi Aliyah sih, tingkat kesulitan bacaannya masih di tingkat 2, hihi. Setelah informasi mengenai tingkat kesulitan bacaan, ada informasi tentang karya asli seperti siapa penerbitnya, pengarang cerita, ilustrator, lisensi dan url yang terkait. Buku-buku di Let's Read dapat kita unduh secara gratis sehingga meski dalam keadaan offline pun, kita tetap dapat membacakan bukunya untuk anak kita :)
Fitur bahasa, tingkat kesulitan bacaan dan label juga dapat teman-teman temukan dengan menyentuh simbol search yang ada di bagian pojok kanan atas aplikasi. Nantinya, kita tinggal menyaring buku yang sesuai dengan minat dan usia anak kita :)
Berhubung aplikasi Let's Read dalam penggunaaanya perlu menggunakan gawai, ada baiknya tetap memperhatikan durasi, tingkat kecerahan layar dan tetap mendampingi anak dalam membaca agar anak tetap nyaman dan aman dalam bergawai :) Lama durasi bergawai sangat bervariatif tergantung kebijakan teman-teman mama masing-masing ataupun bisa mengacu pada anjuran lama durasi bergawai sesuai dengan rentang usia anak :)
Secara keseluruhan bagi saya dan Aliyah, membaca buku cerita digital di Let's Read sangat menyenangkan. Aliyah dengan tipikal anak yang mudah bosan jadi punya beragam bahan bacaan yang kelak akan membantunya untuk semakin cinta dengan budaya membaca karena baginya membaca itu menyenangkan.
Teman-teman mama dapat mengunduh aplikasi Let's Read di Play Store secara gratis dan mari mulai membacakan cerita secara nyaring untuk anak-anak kita :) Jangan lupa follow juga akun Let's Read @letsread.indonesia di sosial media instagram untuk mendapatkan informasi terbaru dari Let's Read :)
Semoga anak-anak kita kelak tumbuh menjadi anak-anak yang cinta dengan budaya membaca :)
Aamiin.
Semoga bermanfaat ya :)
Disclaimer: Tulisan ini adalah tulisan yang ditulis berdasarkan pangalaman pribadi dan diikutsertakan di dalam lomba blog Let's Read x Blogger Perempuan "Pengalaman Pribadiku dalam Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak". Semua tulisan dan konten di dalamnya adalah di luar tanggung jawab Let's Read Indonesia dan Blogger Perempuan.
Foto dan Infografis: Ajeng Natassia
Referensi:
https://reader.letsreadasia.org
https://sahabatkeluarga.kemendikbud.go.id
https://databoks.katadata.co.id
https://www.melbournechildpsychology.com
Taylor, Melisa. The Important To Big Kids Reading Aloud
Britton, Lesley. Montessori Play and Learn
Paramita, Vidya Dwina. Montessori Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja