MEMILIH SEKOLAH UNTUK ALIYAH

| on
October 04, 2019

Halo!

Beberapa hari yang lalu saya sempat ingin berbagi cerita bagaimana pengalaman kami, saya dan suami saya, saat akan memilih sekolah Aliyah di instagram story, namun karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk membagi cerita ini ke teman-teman mama-mama melalui blog post ini lebih dulu :) Tadinya saya sempat sedikit ragu untuk membagi cerita pengalaman kami memilih sekolah untuk Aliyah, karena mungkin untuk beberapa orang, memilih sekolah sebenarnya hal yang sederhana saja, tidak perlu banyak pertimbangan apalagi jika usia anak baru saja mau duduk di bangku pra sekolah ataupun taman kanak-kanak. Dan, mungkin dulu saya juga termasuk salah satu orangtua yang berpikiran sama, sampai saat saya mengikuti Seminar Memilih Sekolah yang diadakan oleh tim #bikinbikinditaman milik mbak Iput @iburakarayi. 
Karena beberapa hari belakangan sangat ramai tentang survey biaya sekolah yang diadakan oleh The Urban Mama di instagram story, akhirnya saya semakin yakin untuk berbagi cerita memilih sekolah versi keluarga kami. Siapa tau ada sedikit informasi yang bisa didapat dari cerita kami untuk teman-teman mama-mama yang juga sedang mencari sekolah untuk anaknya :)

Oh iya, sebelum memulai, saya ingin menyamakan persepsi terlebih dulu dengan teman-teman, bahwa setiap kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga pasti berbeda, termasuk juga dalam hal memilih sekolah anak :) Dalam konteks ini, kebetulan kondisi keluarga kami adalah tipikal yang "on budget" dalam memilih sekolah untuk Aliyah. Tidak ada yang dikurangi, dan tidak ada yang dipaksakan :) Dan ini menjadi salah satu alasan, kenapa oh kenapa sepertinya cara kami memilih sekolah untuk Aliyah terlihat lebih "ribet" dibandingkan dengan yang lain. On budget dan banyak maunya, ya mestii berujung jadi beribet sendiri, kan akhirnya :')

Oke, kembali ke cerita pengalaman kami dalam memilih sekolah untuk Aliyah. Tahun ini Aliyah tepat berusia 4 tahun, dan sudah waktunya Aliyah untuk bersekolah menurut saya atas pengalaman membaca beberapa buku dan pengalaman berbagi dengan para sahabat. Mengapa Aliyah tidak bersekolah sejak usia 3 tahun? Sebenarnya, usia bukan merupakan tolak ukur yang utama untuk anak bersekolah. Semua kembali bergantung dari kebijakan masing-masing orangtua dan yang paling utama adalah bagaimana kesiapan anak itu sendiri untuk mulai bersekolah. 

Belajar dari masa lalu saya dan adik-adik saya yang mulai bersekolah di usia yang masih muda (yang kini saya sadari bahwa sungguh itu terlalu muda :')) Dari pengalaman masa kecil yang cukup traumatis bagi saya dan adik-adik tersebut, membuat saya berpikir bahwa, hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak, jika anak belum benar-benar siap untuk bersekolah. Pada akhirnya dapat berpengaruh pada kemampuan/kematangan cara berpikir anak, kondisi emosional, dan kemampuan menghadapi masalah (walaupun juga terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi ketiga hal diatas) di masa depan. Dan, saya tidak ingin kejadian tersebut berulang kembali pada Aliyah. 

Kembali kepada bagaimana kesiapan anak untuk bersekolah. Dari beberapa buku dan artikel yang saya baca, salah satunya dari Buku Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, anak dikatakan dapat mulai bersekolah beberapa diantaranya adalah ketika: 

1. Anak sudah selesai dengan toilet trainingnya, 
2. Kemampuan sosial anak yang semakin berkembang
3. Kemampuan berbahasa anak yang semakin berkembang
4. Sudah bisa makan dan minum sendiri
5. Sudah menujukkan tanda-tanda kemandirian.
Pada saat Aliyah berusia 3 tahun, saya pernah mencoba untuk mengajaknya bermain-main ke sekolah yang cukup dekat dengan rumah kami. Hasilnya, saat itu, Aliyah hanya tertarik ke sekolah untuk bermain perosotan :') Aliyah belum mau masuk ke kelas dan berinteraksi dengan guru dan teman-temannya. Aliyah memang tipikal anak yang butuh waktu beradaptasi yang cukup lama, tidak hanya hitungan jam, bahkan bisa sampai hitungan hari ataupun minggu :') Saya juga sempat mengajak Aliyah ke tempat les bahasa Inggris, dengan pikiran mungkin saja waktu les yang hanya sebentar dapat melatih Aliyah untuk terbiasa  berada di dalam kelas, namun hasilnya, sekedar untuk trial class saja Aliyah menangis dan menolak ikut masuk kelas. Dari trial and error ini, saya akhirnya bisa menerima pesan dari Aliyah bahwa ia belum siap untuk bersekolah ataupun sejenisnya :)

Sembari menunggu Aliyah siap untuk bersekolah, saya mulai mengajaknya untuk lebih sering bermain dengan orang lain (Aliyah anak rumahan yang seringnya bermain dengan saya, atau keluarga inti yang lain). Aliyah mulai berkenalan dengan anak tetangga, dan belajar untuk bermain bersama. Setiap sore saya mengajaknya untuk bermain di taman kompleks rumah, bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Semua yang kenal dengan Aliyah akan tau banget kalau belum pernah bertemu, Aliyah pasti akan menolak itu mendekat bahkan sekedar untuk cium tangan, hehehe. Saya tidak memaksanya karena saya percaya Aliyah punya waktunya sendiri, dan memang tipe temperamennya seperti itu. 

Memasuki usia 3,5 tahun Aliyah mulai menujukkan tanda-tanda perkembangan dalam kemampuan sosialnya. Aliyah mulai kebingungan mencari teman bermain kalau sedang di rumah dan senang jika rumah kami ramai karena kunjungan dari keluarga dan kerabat. Dari sini saya seperti mendapat pesan dari Aliyah kalau ia sudah  siap untuk bersekolah :)

Tentang Memilih Sekolah untuk Aliyah

Memilih sekolah untuk Aliyah gampang-gampang susah bagi kami karena ya itu tadi, seperti yang sudah saya ceritakan diatas, kalau kami tipikal yang "on budget" tapi banyak maunya, hehehe. Pertanyaannya kemudian, apakah semua kriteria yang diinginkan terpenuhi? Tentu saja tidak, mengingat "on budget" tadi dan memang pilihan yang tersedia di kota kami juga tidak banyak jika dibandingkan dengan kota lain. Waktu itu kami sempat survey ke 6 sampai 7 sekolah pra sekolah dan taman kanak-kanak, hihihi. 

Beberapa pertimbangan kami dalam mencari sekolah untuk Aliyah:

1. Sekolah yang dekat dari rumah, walaupun kami juga sempat survey ke sekolah yang berjarak 5-6 km dari rumah. Memilih sekolah yang dekat dari rumah sebagai antisipasi anak akan lelah/ kehabisan waktu di jalan, sehingga tidak semangat untuk bersekolah.
2. Berbasis agama 
3. Rasio guru dan anak yang cukup berimbang, dengan jumlah anak per kelas tidak lebih dari 10 murid. Dari standar NAEYC (National Association for the Education of Young Children) yang dikutip dari Buku Panduan Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, paling tidak untuk anak usia 0-2 tahun, 1 guru mewakili 4 murid, usia 2-4 tahun, 1 guru mewakili 6 murid dan usia 4-6 tahun, 1 guru mewakili 10 murid.
4. Sistem kelas sentra/ moving class untuk menghindari anak merasa bosan.
5. Kelas yang luas tanpa meja dan tempat duduk yang tertata rapi (kalaupun ada tempat duduk dan meja, sebaiknya ditata secara melingkar atau saling berhadapan) sebagai tanda bahwa setiap anak dapat saling berinteraksi satu sama lain, serta berinteraksi dengan gurunya dengan porsi yang seimbang.
6. Sekolah yang concern dengan kebersihan sebagai tanda bahwa menjaga kebersihan juga merupakan bagian dari pendidikan
7. Tersedia sarana dan alat belajar yang cukup untuk anak bermain dan belajar yang diletakkan secara rapi di rak rendah serta dilengkapi dengan tulisan untuk mempermudah anak mengambil dan mengembalikannya.
8. Hasil karya semua anak yang dipajang di tembok kelas sebagai tanda bahwa setiap karya mendapat apresiasi yang sama tanpa harus menjadi yang paling sempurna.
9. Jam masuk sekolah yang tidak terlalu pagi, bahkan cenderung siang sebagai antisipasi anak trauma berangkat ke sekolah karena terpaksa bangun pagi. Bukannya tidak ingin melatih Aliyah untuk bangun pagi, namun Aliyah adalah tipikal anak yang cukup 'moody' dan selalu membutuhkan waktu sejak ia bangun pagi sampai mood nya benar-benar bagus dan siap untuk berangkat ke sekolah. Saya salah satu yang percaya kalau dengan mood yang bagus anak akan lebih mudah menjalani harinya di sekolah :) Hal ini juga untuk menghindari Aliyah terlambat berangkat ke sekolah jika jam belajarnya terlalu pagi (in case, Aliyah masih dalam tahap belajar dan menyesuaikan diri dengan ritme aktivitasnya yang berubah karena sekolah) :)
10. Guru-guru yang cukup terbuka, ramah pada anak secara natural, dan komunikatif dengan orangtua murid.
11. Jadwal sekolah yang tidak terlalu padat mengingat Aliyah masih akan masuk usia pra sekolah. Kami lebih memilih sekolah yang jadwalnya selang seling antara sekolah-libur-sekolah atau sederhananya hanya 3-4 hari sekolah/minggu, daripada yang full senin-jumat.

Step by step dalam memilih sekolah untuk Aliyah

1. Sebelum survey fisik, saya dan suami mencari informasi lebih dulu dengan browsing di internet kira-kira sekolah mana saja yang akan kami kunjungi untuk memperkecil lingkup survey kami.
2. Kami survey setiap hari sabtu, yang rata-rata di beberapa sekolah sedang berlangsung kegiatan belajar-mengajar. Kami juga mengajak serta Aliyah untuk ikut survey sekolah karena paling tidak Aliyah punya gambaran seperti 
sekolah yang sebenarnya. Rata-rata Aliyah suka di sekolah karena ada playgroundnya, hahaha.
3. Saat survey, kami berusaha berkomunikasi dengan pihak sekolah secara terbuka, baik guru ataupun kepala sekolah. Menanyakan tentang apa saja kegiatan di sekolah, jam belajar anak, berapa jumlah murid per kelas dan jumlah guru yang mengajar per kelasnya, serta program lain seperti kegiatan keagamaan, ekstrakulikuler, outbond, studi tur, dll yang mendukung kegiatan belajar mengajar.
4. Kondisi fisik dan lingkungan sekitar sekolah juga diperhatikan. Saya selalu bertanya tentang bagaimana jika anak ingin ke toilet, melihat kondisi kebersihan toiletnya, memperhatikan bagaimana guru menghandle anak yang tantrum atau bertengkar,  serta memperhatikan bagaimana keamanan anak saat orangtua terlambat menjemput.
5. Sebisa mungkin kami mengikutkan Aliyah pada program trial class jika pihak sekolah menyediakan program tersebut. Saya juga selalu berusaha mendampingi agar dapat melihat langsung bagaimana gambaran kegiatan di sekolah berlangsung.
6. Karena kami 'on budget', kami selalu berusaha realistis saat membaca rincian-rincian biaya yang ditetapkan dari masing-masing sekolah. Oleh karena nya sangat penting untuk survey fisik dan bertanya-tanya sebanyak mungkin informasi yang ingin kami ketahui tentang sekolah yang di survey agar kami dapat membandingkan apakah biaya yang tertera di brosur sesuai dengan kegiatan, fasilitas,  dan sarana belajar atau tidak. Jujur, dari survey kami, beberapa sekolah tidak cukup relevan antara biaya dengan kegiatan, fasilitas serta sarana belajarnya.

Tentang keputusan memilih sekolah

Pada akhirnya kami memutuskan memilih sekolah untuk Aliyah yang tidak begitu jauh dari rumah kami, berjarak sekitar -/+ 1,5 km. Tadinya kami tidak tahu bahwa ada sekolah ini di dekat rumah kami. Setelah suami saya browsing dan mencari di Google, kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi sekolah Aliyah. Sejatinya bahwa tidak ada satu pun yang sempurna di dunia ini, sama halnya dengan sekolah Aliyah. Tidak semua kriteria kami diatas dapat terpenuhi, tapi paling tidak sebagian besar sudah mewakili kebutuhan kami. Yang paling utama sebenarnya adalah karena sistem kelas di sekolah Aliyah adalah sistem sentra yang dinamis. Jadi Aliyah belajar di sentra yang berbeda setiap harinya.


Berikut beberapa hal yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk Aliyah bersekolah di sekolahnya saat ini:

1. Sistem kelas sentra/moving class. Di sekolah Aliyah terdapat 6 kelas sentra yang terdiri dari, Sentra Balok, Sentra Peran, Sentra Musik dan Olah Tubuh, Sentra Alam, Sentra Seni & Kreatifitas, dan Sentra Keaksaraan.
2. Sarana dan alat belajar cukup variatif dan lengkap yang semuanya diletakkan di rak rendah dengan dilengkapi keterangan tulisan untuk memudahkan anak mengambil dan mengembalikannya.
3. Perbandingan guru dan murid per kelas nya -/+ 1:2. Jumlah murid per kelas tidak lebih dari 10, dengan jumlah guru -/+ 3 orang, (wali kelas, guru sentra dan guru pendamping).
4. Tersedia pilihan jam masuk sekolah, pagi atau siang dengan jadwal sekolah 3-4 hari/minggu.
5. Tidak begitu berbasis agama, tapi setiap pagi sebelum mulai belajar, ada kegiatan religion lebih dulu seperti mengaji, membaca surat-surat pendek, besholawat, dll.
6. Guru-guru yang ramah dan komunikatif secara natural dengan anak dan orangtua anak.
7. Tersedia beberapa kegiatan yang mendukung kegiatan belajar seperti ekstrakulikuler, keagamaan, outbond dan studi tur.


Kalau diatas adalah kebutuhan kami dan Aliyah yang dapat terpenuhi di sekolah Aliyah saat ini, berikut beberapa kebutuhan kami dan Aliyah yang tidak dapat terpenuhi di sekolah Aliyah saat ini:

1. Playground yang mumpuni. Aliyah merupakan tipikal anak kinestetik yang sangat aktif dan selalu butuh sarana untuk menggerakkan bagian tubuhnya. Di sekolahnya tidak tersedia plyaground yang cukup aman dan mumpuni untuk Aliyah bermain. Untuk hal ini dapat saya maklumi, karena saya pikir toh Aliyah masih dapat bermain di taman kompleks rumah kami setiap sore, atau sesekali bermain di playground mall.
2. Ekstrakulikuler yang tersedia sangat basic, seperti menari, mewarnai, fashion, dll. Tidak tersedia ekstrakulikuler olahraga seperti panahan, atau science seperti robotic, dll. Untuk ekskul yang agak canggih-canggih ini sebenarnya tersedia di sekolah yang diatas budget kami. Namun karena tidak ingin memaksakan juga, saya coba untuk ambil jalan tengah dengan mencari tempat les diluar sambil melihat potensi bakat dan minat Aliyah. Sejauh ini sepertinya minat Aliyah lebih ke olah tubuh seperti menari balet.
3. Walaupun sistem kelasnya sentra, pola belajar dan mengajar di sekolah Aliyah masih semi konvensional menurut saya, imho :) Hal ini saya coba siasatin saat bermain dengan Aliyah di rumah. Apa yang diajarkan gurunya di sekolah, saya ulang kembali di rumah dengan cara yang berbeda. Harapan saya, paling tidak tujuan saya dan gurunya seiringan, masih bisa memenuhi kebutuhan Aliyah, di sisi lain Aliyah juga tetap merasa nyaman dan tidak mudah bosan :)

Sejauh ini, proses Aliyah menjalani hari-hari si sekolah nya Alhamdulillah tidak ada hambatan yang berarti, walaupun seminggu pertama memang ada drama karena Aliyah masih perlu beradaptasi :) Tapi sejauh ini cukup oke, pagi hari  Aliyah dilalui dengan semangat untuk ketemu guru dan main dengan teman-teman :)

Pada intinya, setiap kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga pasti berbeda dalam memilih sekolah. Versi kebutuhan kami, belum tentu sama dengan versi kebutuhan teman-teman mama-mama :) Kalaupun sama, pasti ada satu dan lain hal yang berbeda :) Saya masih selalu ingat pesan dari Pak Bukik Setiawan, salah satu penulis Buku Panduan Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, bila tidak ada sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan kita dan anak 100%,  orangtua punya pilihan untuk memenuhi kebutuhan anak dengan cara yang lain :)

Anyway, bagaimana menurut teman-teman mama-mama? Yuk share sama-sama di sini :)

Semoga sharing saya bermanfaat ya :)

Disclaimer: Tulisan diatas semata-mata atas dasar referensi dan pengalaman pribadi. Kebutuhan dan kondisi setiap anak dan keluarga bisa saja berbeda dalam memilih sekolah sesuai dengan referensi dan pengalaman masing-masing :)

*mohon maaf untuk keterbatasan foto yang ditampilkan mengingat informasi mengenai sekolah dan atributnya adalah privasi anak yang perlu kita jaga bersama :)