Showing posts with label RAMADHAN KAREEM. Show all posts
Showing posts with label RAMADHAN KAREEM. Show all posts

#CERITAKUDARIRUMAH Tentang Kebaikan, Ramadhan dan Covid-19

| on
May 20, 2020

Halo!

"Suatu hari, di dalam perjalanan saat bapak mengantar saya pulang ke rumah, bapak pernah bercerita tentang sesuatu. Sebuah pesan tentang kebaikan. Pesan yang InsyaAllah akan selalu teringat dan tersimpan di hati sampai nanti, saat nafas terhenti."

Waktu itu, di dalam sebuah perjalanan di dalam pesawat menuju ke Lombok bersama rahimahullah adik, Bapak duduk bersebelahan dengan seorang pria. Seseorang yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Dari cerita bapak, meski baru saja kenal di dalam pesawat, mereka mengobrol sangat akrab. Sebut saja namanya Pak Ali. Begitu tiba di Lombok, Pak Ali menawarkan diri untuk mengantarkan Bapak dan adik ke hotel tempat mereka menginap. Lalu, keesokan harinya Pak Ali kembali menjemput Bapak dan mengajak Bapak memancing bersama, kebetulan saat itu Bapak memang sendirian saja di hotel, karena adik harus ke kantor menyelesaikan pekerjaannya

Kepada saya, Bapak berkata kalau tidak pernah menyangka ada orang yang baru dikenal bisa berbuat sebaik itu kepada Bapak. Kejadian ini membuat Bapak teringat rahimahullah mbak Kakung, ayah Bapak. Dulu, sewaktu Bapak masih kecil, mbah Kakung sangat sering menawari tentara yang kelelahan dan kebetulan lewat di depan rumahnya untuk singgah. Meski keadaan keluarga saat itu sedang  pas-pasan, mbah Kakung dengan senang hati menawari sang tentara untuk  beristirahat sejenak di rumahnya. Biasanya, mbah Kakung akan meminta mbah Uti menyiapkan suguhan cemilan dan teh hangat, ataupun sepiring nasi dengan lauknya jika memang ada untuk disuguhkan kepada sang tentara sebagai pengusir lelah.

Cerita berbagi kebaikan yang dilakukan oleh mbah Kakung, diceritakan oleh Bapak kepada saya, sebagai pesan bahwa kebaikan yang menghampiri kita setiap saat bisa jadi karena kebaikan di masa lalu yang dilakukan oleh orang tua, kakek nenek, bahkan buyut kita.

"Orang baik kepada kita itu belum tentu buah dari kebaikan yang kita tanam sekarang. Bisa jadi, kebaikan itu buah dari kebaikan yang ditanam oleh orang tua kita sejak dulu. Berbuat baik sekarang bisa saja berbuah nanti, buah yang bisa dipanen oleh anak cucu kita nanti. Pokoknya, kebaikan itu dilakukan saja, untuk diri sendiri, untuk keluarga, untuk anak dan cucu, untuk orang lain yang membutuhkan bantuan kita. Dibalasnya kapan, cukuplah Allah yang Maha Mengetahui"

Lain cerita dengan rahimahullah adik saya, Ario. Empat tahun yang lalu, tepatnya 11 Maret 2020, adik saya, Ario berpulang setelah tiga tahun berjuang melawan kanker tiroid. Patah hati saya kala itu. Salah satu yang menjadi kekuatan untuk mengikhlaskan adalah sewaktu satu-persatu petakziah datang, yang ternyata beberapa diantaranya tidak kami sangka-sangka kehadirannya. Semua sama, bercerita tentang kebaikan yang pernah dilakukan oleh rahimahullah adik. Adik saya telah pergi, tapi kebaikan yang pernah dilakukannya akan selalu terkenang sampai nanti.


Dari kejadian ini saya kembali belajar. Kebaikan semasa kita masih diberi nafas menjadi satu-satunya yang akan dikenang saat jasad tak lagi bisa bersama.

Dua bulan berlalu sejak masa physical distancing diberlakukan, sejak itu pula saya belum lagi mengunjungi bapak, mama dan adik perempuan saya. Mungkin sama dengan teman-teman lainnya, saya sangat rindu saat-saat berkumpul dengan keluarga, apalagi di bulan Ramadhan seperti sekarang ini, bulan yang dipenuhi dengan berkah dan kebaikan dariNya.

Kalau ingin melihat lebih dekat, sesungguhnya Allah Maha Baik, memberi kita kesempatan menjalani bulan Ramadhan di tengah pandemi COVID-19 ini. Allah memberi ribuan jalan kepada kita untuk bersibuk menebar kebaikan, bahkan ketika keadaan memaksa kita untuk tetap di rumah saja. Meski tidak lagi bebas kemana-mana, ruang gerak seolah terbatas, namun kesempatan untuk berbagi selalu tanpa batas. Inpirasi berbagi kebaikan datang tanpa henti. Ternyata, banyak sekali orang baik diluar sana yang masih saling peduli.

Semua orang saling bergerak melakukan apa yang bisa dilakukan. Ada yang membuka donasi untuk membantu para petugas kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam pandemi COVID-19 ini, ada yang mengumpulkan bahan makan untuk masyarakat yang terdampak pandemi, ada yang jajan di aplikasi ojek online dan membeli porsi ekstra untuk dibagi kepada abang ojek nya, ada yang di satu kota namun memesan makanan di lain kota via aplikasi online untuk dibagi ke keluarga di lain kota yang pemasukannya sedang menurun terkena dampak pandemi COVID-19. Ada juga yang berbagi kebaikan dengan berbagi ilmu melalui kelas-kelas virtual. Masyarakat umum, lembaga amal ataupun yayasan sosial semua bergerak untuk saling membantu. Semua ini menjadi hikmah yang Allah beri dibalik pandemi COVID-19. 

Di Ramadhan kali ini, meski belum berkesempatan berbuka puasa bersama orangtua dan adik, melangkahkan kaki bersama untuk sholat tarawih di masjid, menikmati peristiwa subuh dengan jalan beriringan dari masjid, namun masih banyak hal yang patut disyukuri. Hikmah dari pandemi COVID-19 mengajarkan banyak hal kepada saya. Belajar untuk lebih banyak berbagi karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi nanti. Lebih menghargai waktu dan silaturahmi karena waktu bisa saja tiba-tiba terhenti. 

Dari rumah, inpirasi kebaikan dari bapak, adik dan teman-teman dicoba dilakukan bersama suami dan anak, semampu kami. Ketika memasak untuk takjil berbuka puasa, kami mencoba membuat sedikit berlebih agar bisa saling berbagi dengan tetangga ataupun security di kompleks kami. Ternyata dari berbagi makanan, rindunya momen berbuka puasa bersama orangtua dapat terobati, Alhamdulillah.

Di kesempatan yang lain, keadaan ekonomi yang cenderung menurun karena pandemi COVID-19 membuat kami yang saling bertetangga berusaha saling mendukung satu sama lain. Saling membeli produk jualan tetangga adalah salah satu usaha yang dilakukan untuk mendukung perekonomian keluarga agar dapat tetap berputar. Kami pun menjadi lebih guyub dari biasanya meski adanya jarak aman diantara kami, Alhamdulillah.

Berbagi kebaikan di lingkungan yang terdekat tidak berarti  berbagi kebaikan kepada yang sedang berjauhan menjadi terlupakan. Terinspirasi dari adik perempuan saya yang suka mengirimkan makanan kepada sanak saudara di luar pulau, sesekali kami mencoba melakukan hal yang sama. Rasanya senang sekali saat ibu mertua di luar kota menelepon karena terkejut mendapatkan kiriman makanan. Di saat satu kebaikan dilakukan, ada rasa bahagia disana. Tanpa kita sadari, hormon serotonin di dalam tubuh meningkat, rasa stres dan depresi hilang, imunitas tubuh menjadi meningkat dan InsyaAllah tubuh kita menjadi jauh lebih sehat. Bahagia dari sebuah kebaikan yang dilakukan juga bisa datang dengan cara yang lain seperti tiba-tiba ada rejeki makanan yang dikirim oleh tetangga disaat kami sedang berusaha berhemat untuk mencukupi kebutuhan. MasyaAllah, ternyata banyak sekali kebaikan yang kembali kepada kita disaat kita berbagi kebaikan kepada yang lainnya. Seperti janji Allah di dalam Al-Qur'an Surat Ar-Rahman:60

Ù‡َÙ„ْ جَزَاءُ الْØ¥ِØ­ْسَانِ Ø¥ِÙ„َّا الْØ¥ِØ­ْسَانُ


"Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan pula"
(QS. Ar-Rahman:60)

Kebaikan Tanpa Batas

Di bulan suci Ramadhan ini, Allah senantiasa membukakan kita pintu kebaikan dari berbagai arah. Kesempatan untuk berbagi kebaikan seolah tanpa batas. Tanpa mengenal tempat dan waktu. Tidak hanya berbagi kepada yang dikenal saja, namun juga kepada yang lain, yang ternyata sedang membutuhkan bantuan kita, meski kita tidak saling tahu satu sama lain.

"Di luar sana, banyak sekali yang ternyata membutuhkan bantuan kita tanpa kita sadari. "

Adalah lembaga amil zakat Dompet Dhuafa sebagai salah satu lembaga amil zakat yang amanah sejak tahun 1993 sebagai perantara kita untuk berbagi kebaikan kepada yang lain. Tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, Dompet Dhuafa memiliki beragam program berbagi kebaikan di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial budaya, dan dakwah.

Masih segar di dalam ingatan saya ketika saya meendapatkan rejeki dari tulisan saya di blog, Bapak langsung mengingatkan "jangan lupa zakatnya ya, Jeng". Alhamdulillah, saya diingatkan oleh Allah melalui Bapak untuk tidak lupa berbagi kebaikan kepada yang lain. Melalui Dompet Dhuafa, zakat dari rejeki tersebut saya salurkan. Saya titipkan kepada suami untuk diteruskan ke akun Dompet Dhuafa di salah satu e-commerce. Dari pengalaman tersebut, saya baru mengerti ternyata berbagi kebaikan saat ini menjadi jauh lebih mudah tanpa harus kemana-mana, cukup dilakukan dari rumah saja.

Banyak sekali program yang dimiliki oleh Dompet Dhuafa sebagai pintu berbagi kebaikan untuk kita. Di masa pandemi COVID-19 ini, Dompet Dhuafa, khususnya Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan punya banyak program berbagi kebaikan untuk para petugas kesehatan ataupun masyarakat yang terdampak pandemi.  Kebaikan yang dibagi dapat dilakukan cukup dari rumah saja, bahkan petugas dari Dompet Dhuafa siap sedia menjemput zakat kita dengan datang ke rumah lengkap dengan prosedur kesehatan yang diberlakukan saat ini. MasyaAllah, sungguh Allah memudahkan kita dalam berbagi kebaikan ya :) Selama bulan Ramadhan, Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan juga mengadakan Ramadhan Virtual Festival yang merupakan program-program virtual yang digagas oleh Dompet Dhuafa untuk menyemarakkan bulan suci Ramadhan di tengah pandemi COVID-19. Harapannya, kemeriahan program Ramadhan Dompet Dhuafa di tahun-tahun sebelumnya, dapat tetap terasa oleh masyarakat meski di tengan kondisi pandemi COVID-19. Beragam program virtual diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa diantaranya:
  • Tarrib Ramadan
  • Kelas Tafsir
  • Kelas Appilajara
  • Kelas Tahsin
  • Arabic Class
  • Sirah Nabawi
  • Ngabu-Bookread
  • Humanitalk,
dan masih banyak lagi yang lainnya yang bisa teman-teman cek di akun instagram Ramadan Virtual Festival @ramadanvirfest. MasyaAllah, semoga Allah selalu melimpahkan berkah dan rahmatNya untuk teman-teman yang senantiasa berbagi kebaikan, Aamiin Allahumma Amiin.

Semoga bermanfaat ya :)




Disclaimer: "Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition "Ceritaku dari Rumah" yang diselengggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan" 










Ramadhan Kareem: When is my prayer granted by Allah SWT?

| on
May 17, 2019

Halo!

Bagaimana 10 hari pertama bulan Ramadhan teman-teman mama-mama? Semoga lancar ya ibadah puasa, dan ibadah lainnya yang ditunaikan di bulan Ramadhan ini :) Semoga semua amalan ibadah kita  membawa berkah dan diterima oleh Allah SWT. Aamiin.

Beberapa hari terakhir saya sempat off posting tulisan di blog ini cukup lama. Sebenarnya banyak sekali konten di pikiran yang antri untuk ditulis. Tapi karena memang urusan domestik di rumah juga sedang minta perhatian lebih, jadi blog nya baru bisa di update sekarang :)

Tulisan saya kali ini terinspirasi dari postingan IG adik saya yang bercerita tentang ceramah yang ia dengarkan saat solat tarawih. Ustadnya bercerita tentang, bagaimana saat kita bertanya, kapan Allah akan mengabulkan doa-doa kita? Pertanyaan ini juga seringkali melintas di benak saya. Sesekali saya bertanya, Ya Allah kapan doa saya akan dikabulkan? Setiap hari saya panjatkan doa yang sama, berulang dan berulang.

Bagaimana jawaban sang ustadz? Ustadznya memberi perumpaan seperti ketika kita sedang mendengarkan lantunan nyanyian dari seorang pengamen jalanan. Jika pengamennya bernyanyi dengan asal-asalan, biasanya kita segera memberi uang agar pengamen itu segera menghentikan nyanyiannya. Namun, jika pengamennya bernyanyi dengan suara yang yang merdu,  maka dengan senang hati kita akan menunggu untuk membiarkan pengamen itu menyelesaikan lagunya, menikmati setiap alunan suara merdunya, lalu memberi nya uang (bahkan dengan jumlah yang lebih besar biasanya).

Perumpamaan diatas sama seperti lantunan doa-doa yang kita panjatkan kepadaNya. Setiap lantunan doa kita terdengar merdu oleh Allah SWT. Allah SWT sangat senang mendengar setiap lantunan doa yang kita panjatkan. Kita hanya perlu bersabar, karena InsyaAllah doa-doa kita akan dikabulkan oleh Allah SWT, bahkan bisa lebih dari yang kita harapkan. Aamiin InsyaAllah.

Sebelumnya, saya juga pernah membaca cerita yang sama di konten milik @madcatnip. Tentang @madcatnip,  @madcatnip merupakan salah satu akun yang sering memposting konten Islami dengan gambar ilustrasi. Go follow them, InsyaAllah bermanfaat :)

Nah, bercerita tentang doa-doa yang dikabulkan oleh Allah SWT, yang seringkali jawabannya datang dari arah yang tidak pernah kita duga, saya pun pernah mengalaminya. Masih segar dalam ingatan saya, saat bulan Ramadhan tahun lalu, sewaktu saya mengikuti kompetisi blog, dengan hadiah utama uang cash lima juta rupiah. Saya berdoa, memohon kepada Allah SWT, berikthtiar untuk menjadi pemenang utama. Jika menjadi pemenang utamanya, saya berniat untuk membantu kedua orang tua saya, dengan uang hadiah yang saya dapatkan. 

Qadarullah, saya tidak menjadi pemenang utama. Saya menjadi pemenang favorit dengan hadiah voucher belanja. Dengan menangnya saya atas hadiah voucher tersebut, ternyata Allah mengabulkan doa adik saya yang diam-diam menginginkan sepatu baru. Bagaimana dengan orangtua saya? MasyaAllah Alhamdulillah, Allah SWT memberi mereka rezeki, dari jalan yang lain, cash lima juta rupiah, seperti doa yang saya panjatkan.

Allah SWT tidak menjawab doa saya seperti cara yang saya minta. Allah SWT menjawabnya dengan cara yang jauh lebih indah :) Terkadang kita seringkali merasa Allah SWT belum mengabulkan doa-doa kita. Padahal mungkin saja, dari setiap rezeki, nikmat, ujian, kemudahan, kesulitan, di dalamnya ada jawaban atas lantunan doa-doa yang kita panjatkan. Kita hanya diminta untuk lebih bersabar dan bersyukur, menikmati setiap cerita di dalam kehidupan yang kita jalani, karena InsyaAllah selalu ada Allah SWT yang menemani :)

Semoga sharing saya kali ini bermanfaat ya :)

Selamat berpuasa :)