TRAVELLING BY TRAIN WITH TOODLERS

| on
December 28, 2017

Halo! Sebelum saya mulai cerita,  ada Ibu yang lagi punya planning dalam waktu dekat buat travelling naik kereta api dengan toodlers ga?  Kalau iya,  pas sekali dengan cerita blog saya kali ini :) Semoga bisa memberi manfaat yaa

Saya,  suami dan Aliyah suka sekali bepergian dengan kereta api.  Mulai dari kereta api lokal seperti komuter line,  kereta lokal kelas ekonomi, kereta jarak jauh kelas bisnis,  dan juga eksekutif.  Bisa dibilang hampir semua jenis kereta sudah pernah dicobain sama Aliyah :D Masing-masing kereta juga memberi pengalaman tersendiri. Mulai dari pengalaman Aliyah rewel dan kurang nyaman,  sampai pengalaman yang saking nyamannya ga berasa udah nyampe aja :D Sejauh ini pengalaman Aliyah naik kereta paling jauh ke Banyuwangi,  kurang lebih 5 jam perjalanan dari Surabaya. Nah,  kebetulan saya punya seorang sahabat,  Riri,  yang juga suka travelling naik kereta berdua saja dengan anaknya, Zian,  3 tahun. Riri lebih expert lagi karena travellingnya dari Surabaya ke Jakarta :D (orangtua Riri tinggal di Bekasi, jadi tiap beberapa bulan sekali Riri mudik berdua dengan Zian) 

Berikut beberapa tips yang bisa saya bagi untuk Ibu yang punya planning mau bepergian dengan kereta api for the very first time berdasarkan pengalaman saya dan Riri:

1. Pilih jadwal kereta yang ramah anak
Ada beberapa jadwal keberangkatan yang bisa kita pilih jika kita mau travelling ke satu tujuan dengan menggunakan kereta api. Biasanya saya memilih jadwal dimana jam-jam nya adalah jam tidur Aliyah,  dengan harapan Aliyah tidur di sebagian atau sepanjang perjalanan. Sejauh ini hal ini cukup efektif untuk saya dan Aliyah. Terkecuali jika kondisinya diluar ekpekstasi misalnya AC kereta nya kurang dingin atau kereta terlalu penuh-untuk kereta kelas ekonomi-, Aliyah pasti ga bisa tidur :D Kalau perjalanannya jauh sekali seperti Riri dan Zian,  Riri memilih untuk naik kereta malam hari dan lama perjalanan yang lebih pendek. Kereta Surabaya-Jakarta yang dipilih Riri adalah Agro Anggrek dengan lama perjalanan -/+ 9 jam,  lebih pendek jika dibandingkan dengan kereta Bima yang -/+ 12 jam. 

2. Bawa bekal makanan
Makanan merupakan salah satu senjata untuk menjaga mood anak tetap aman terkendali,  termasuk mood ibunya juga :D. Lebih baik kalau sebelum berangkat disempatkan untuk makan lebih dulu,  jadi di kereta tinggal bawa cemilan saja-pilih cemilan yang jadi favorit anak-.  Hindari minuman yang terlalu berasa,  lebih baik susu atau cukup air putih saja supaya anak juga tidak gampang eneg,  atau bisa memicu mual. Kalau tidak sempat makan,  roti, pastri,  atau makanan karbo praktis lain bisa jadi pilihan buat bekal di jalan. Di kelas eksekutif kita juga bisa memesan beberapa macam menu yang disediakan oleh bagian restorasi kereta api. 

3. Pilih kursi yang nyaman untuk kita dan anak
Saat membeli tiket kereta, sebaiknya kita bertanya ke petugas tiket untuk ketersediaan nomor kursi. Di beberapa kereta, nomor kursi kecil biasanya ada di deretan agak belakang. Lebih baik pilih yang lebih dekat dengan pintu keluar gerbong agar kita tidak jalan terlalu jauh jika mau turun dari kereta –bawa barang dan bawa anak sambil bilang permisi-permisi adalah hal yang agak ribet :’)- Berdasarkan pengalaman Riri, lebih enak membeli kursi yang single – kursi ini cuma satu, tidak ada kursi di sebelahnya dan biasanya ada di deretan paling belakang- jadi kita bisa menaruh stroller anak tepat disebelahnya karena tempat kosongnya masih cukup luas. Kalau saya biasanya membeli kursi ekstra untuk Aliyah berjaga-jaga kalau Aliyah tidur, jadi bisa lurus enak badannya. Beberapa kereta juga mengklasifikasi tiket nya ke beberapa kelas dan sub kelas seperti eksekutif A, H, I, J, X – detailnya bisa Ibu lihat di sini-

4. Bawa barang-barang untuk entertaining anak.
Supaya Aliyah tidak cepat bosan selama perjalanan, saya juga membawa beberapa mainan dan buku bacaan favorit Aliyah. Ibu bisa memilih ukuran mainan yang tidak terlalu besar, dan beberapa buku yang tidak terlalu tebal. Kertas gambar dan spidol warna warni juga bisa dibawa J

5. Pakai pakaian yang nyaman
Kita semua pasti sudah tau sekali kalau setiap travelling lebih baik memakai pakaian yang nyaman. Apalagi untuk anak, pakaian yang nyaman bisa menjaga mood anak tetap bagus sepanjang perjalanan. Cukup pakai t-shirt (bisa t-shirt lengan panjang jika malam hari) dan celana jegging yang longgar. Dress dengan bahan kaos juga bisa jadi salah satu pilihan untuk anak perempuan. Dengan pakaian yang nyaman, walaupun anak tertidur mereka akan tetap merasa aman dan nyaman, dan tidurnya bisa jauh lebih nyenyak J

6. Bawa selimut dan bantal kecil
Selimut dan bantal kecil bisa digunakan sebagai alas untuk anak jika tertidur di dalam perjalanan. Sebaiknya selimut tidak terlalu tebal dan juga tidak telalu tipis. Biasanya selimut bayi cukup ideal untuk dibawa travelling. Jika anak tidur di stroller boleh juga kita sediakan bantal leher.

7. Gunakan ransel untuk membawa barang
Akan lebih mudah jika kita menggunakan ransel untuk membawa barang bawaan. Kita tidak perlu repot lagi menenteng sambil menggendong anak,.Tinggal pakai ranselnya, anak kita gendong dan selesai, deh. Memakai ransel juga bisa mengurangi resiko barang tertinggal J

8. Seeding anak dengan cerita
Sebelum melakukan perjalanan dengan naik kereta, ada baiknya kalau kita cerita-certia dulu ke anak kalau kita mau travelling dengan menggunakan kereta api. Kita bisa cerita kalau naik kereta api itu menyenangkan, bisa lihat banyak pemandangan, bisa ketemu banyak teman, dan lain-lain. Ibu bisa menciptakan cerita yang membuat anak tertarik dan akan merasa senang sekali kalau naik kereta api. Jadi pada saat waktunya tiba, anak akan menikmati perjalanannya J

Selesai deh sharing beberapa tips untuk travelling by train with toodlersnya.
Semoga bisa memberi manfaat yaa, Ibu J

Hati-hati di jalan dan have a great holiday! J

notes: Terimakasih mama Riri sudah mau sharing ceritanya :)


ALIYAH'S BREASTFEEDING STORY

| on
December 19, 2017
Setiap Ibu diberi rahmat oleh Allah SWT dengan cara yang berbeda-beda. Bisa memberi ASI atau pun susu formula, keduanya adalah sama-sama rahmat dari Allah SWT. Atas ijin Allah SWT saya dan Aliyah diberi rahmat dan kesempatan untuk memberi dan mendapatkan ASI. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi cerita pengalaman saya menyusui Aliyah selama 2 tahun 2 bulan. Ibu juga boleh banget berbagi pengalaman menyusui nya disini jadi kita bisa saling mendukung bahwa kita tidak berjuang sendirian :) 

Waktu hamil Aliyah saya sudah siapkan tekad untuk memberi ASI. Seorang teman dokter (terimakasih dokter Putri :)) meminjami saya buku "Breast Friends,InspirASI22" karya mbak Adenita. Buku ini dibawah naungan AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia)  dan berisi beberapa cerita suka duka dan perjuangan menyusui dari beberapa Ibu yang kebetulan juga anggota pengurus AIMI. Buku ini sangat recommended untuk para calon ibu :) 

Kembali ke cerita saya, saya melahirkan Aliyah melalui proses persalinan caesar.  Rumah sakit tempat saya melahirkan waktu itu sangat mendukung ibu menyusui walaupun bukan khusus RS Ibu dan Anak.  Saya dan Aliyah juga sempat melalui proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini)-yang sayangnya cuma sebentar :(-. Setelah melahirkan, ASI saya tidak langsung keluar. Saya panik dan bingung sekali waktu itu karena Aliyah menangis terus karena haus. Aliyah lahir dengan berat 3,8 kg yang menurut dokter dia harus segera minum- sebenarnya saya mau bertahan beberapa hari untuk coba pendekatan dulu dengan Aliyah supaya ASI saya keluar-.  Dan akhirnya selama di RS Aliyah dikasih susu formula dengan cara disendokin –supaya Aliyah tidak bingung puting-

Pulang ke rumah Aliyah juga masih minum susu formula. Minumnya dengan disendokin,  sering juga tersedak. Kadang sampai tumpah-tumpah ke baju Aliyah. Susunya disiram siramin ke payudara saya pun juga pernah supaya Aliyah bisa sambil belajar ngenyot dari puting. Berat badannya langsung turun waktu itu. Orangtua saya sampai ikutan bingung dan menyarankan untuk mecoba pakai dot. Saya coba bertahan dulu supaya Aliyah tidak bingung puting. Sering juga saya menangis hampir putus asa karena ASI saya belum juga keluar.  Obat dari dokter untuk pelancar ASI sudah saya minum.  Bapak saya juga membantu mencarikan jamu untuk pelancar ASI.  Alhamdulillah ada,  waktu itu semacam ramuan daun-daunan dan akar tumbuhan -belinya didaerah pecinan Genteng, Surabaya- yang direbus lama dan rasanya tidak enak :D. Akhirnya kurang lebih semingguan, payudara saya mulai mengencang sakit. Tapi puting saya juga belum terlalu keluar dan Aliyah juga belum bisa ngenyot

Saya lalu mencoba memompa payudara saya supaya ASI dan puting saya keluar. ASI saya keluar tapi Aliyah tetap belum bisa ngenyot, padahal puting saya juga sudah keluar karena dipompa.  Tetap saya coba kasih ASI pakai sendok. Saya coba lagi pakai siram-siraminin ASInya ke puting saya supaya Aliyah belajar ngenyot. Waktu itu saya cuma yakin saya dan Aliyah pasti bisa. Saya percaya Aliyah,  dan saya juga yakin Aliyah percaya sama saya.  

Alhamdulillah saya dan Aliyah akhirnya bisa. Aliyah bisa ngenyot dengan posisi saya harus menyangga kepala dengan tangan saya. Ga apa-apa lah yang penting Aliyah bisa ngenyot. Pelan-pelan Aliyah akhirnya bisa menyusu sambil saya tiduran,  atau sambil saya duduk. Alhamdulillah sekali. 

Saya juga sempat mengalami mastitis laktasi,  payudara saya sakit sekali,  bahkan puting yang cuma kena kain baju aja rasanya sakit sekali.  Tapi saya tetap kasih Aliyah ASI karena dari referensi yang saya baca justru tetap memberi ASI adalah obatnya (dalam kasus yang cukup berat harus dikonsultasikan segera ke dokter).

Di awal menyusui saya juga masih dalam kondisi bekerja. Setelah 1,5 bulan cuti melahirkan,  saya kembali bekerja. Kebetulan kantornya di sebelah rumah orangtua saya- selama hamil besar sampai melahirkan saya menumpang di rumah orangtua-.  Tapi karena Aliyah tidak bisa pakai dot,  jadi tiap waktu Aliyah menangis,  saya pulang sebentar,  menyusui. Sesekali juga Aliyah saya bawa ke kantor. Klimaksnya adalah ketika orangtua saya pindah rumah.  Jadi saya juga tidak bisa lagi pulang sebentar-sebentar untuk menyusui.  Aliyah juga tidak bisa sering-sering saya ajak karena saya takut orang-orang terganggu dengan tangisan Aliyah. Jarak rumah baru orangtua saya -/+ 2 km dari tempat saya bekerja,  jadi saya bawa pompa asi.  Waktu itu Aliyah sudah bisa pakai dot -setelah berganti ganti karet dot, dia akhirnya cocok pakai Pigeon Peristaltic Wide Neck-.  Saya juga tidak punya freezer khusus ASI di rumah. Jadi sebelum berangkat saya pompa dulu ASI saya untuk stok Aliyah selama -/+ 2-3 jam.  Nanti bapak saya atau suami saya akan mampir ke kantor untuk ambil ASI yang saya pompa untuk stok Aliyah sampai saya pulang. Pernah juga saya kirim ASI pakai ojek online :D.  Kadang stok ASI 100 ml,  kadang cuma 60-80 ml padahal Aliyah sudah umur 4 bulan waktu itu. Aliyah juga kadang-kadang menolak pakai dot. 

Saya pun berdiskusi dengan suami dan kami sepakat saya ambil resign supaya Aliyah bisa menyusui. Saya resign tepat Aliyah umur 4 Bulan,  dan kami pulang ke rumah sendiri.  Jadi setiap siang hari hanya saya dan Aliyah berdua di rumah dan dia bisa menyusu sesuka dia. Saya senang sekali. Oh iya untuk suplemen saya sempat minum Blackmores Pregnancy and Breastfeeding Gold dan Alhamdulillah it worth. :)

Dari pengalaman saya menyusui mungkin ini beberapa tips yang bisa saya sharing untuk Ibu :) 
  • Pasrahin semuanya ke Allah SWT
Proses memulai menyusui bukan hal yang mudah untuk ibu yang ASI nya telat keluar. Tapi pasrah atas apa yang jadi kehendakNya bisa bikin kita lebih rmudah menjalani semua prosesnya. Bersyukur atas banyak atau sedikitnya ASI yang keluar karena semua adalah rejeki dariNya.
  • Jangan stres
Jujur saya sangat stres waktu itu dan sedikit kena baby blues juga. Ini bisa jadi salah satu faktor tidak keluarnya ASI.
  •  Berkomunikasi dengan keluarga dan lingkungan sekitar
Dukungan dari keluarga juga sangat kita perlukan dalam proses menyusui. Sharing dengan suami, bapak, ibu dan mertua tentang apa yang menjadi harapan kita supaya mereka juga bisa mengerti dan menghargai segala keputusan kita.
  • . Berkomunikasi dengan bayi kita
Saya meyakini bahwa bonding antara bayi dan ibu sudah terbentuk secara alami selama 9 bulan kehamilan. Sering berbisik ke bayi, kasih semangat ke bayi kita bisa jadi cara berkomunikasi kita ke si bayi. Walaupun pendengaran, penglihatan mereka belum sempurna tapi mereka pasti bisa mengerti apa yang disampaikan ibunya karena ibunya berbicara dengan ‘hati’ :)
  • .   Cari referensi sebanyak mungkin tentang menyusui
Sangat sedikit referensi yang saya punya waktu menyusui Aliyah. Pegangan saya saat itu hanyalah dari membaca buku dan cerita pengalaman menyusui kerabat dan teman-teman saya- in case pengalaman mereka juga berbeda dari apa yang saya alami-
  • .   Tetap semangat dan pantang menyerah
Tips terakhir ini seperti mau maju ke medan perang ya? hahaha. Tapi semangat dan pantang menyerah lah yang bisa membuat kita melalui setiap detil proses menyusui. Liat wajah bayi dan in second, pasti kita langsung semangat lagi deh!

Untuk asupan makanan dan suplemen, atau printilan pompa memompa saya yakin Ibu sudah banyak tau sekali. Tinggal memilih yang pas dan sesuai dengan kondisi dan keadaan kita saja :) Semoga sharing saya ini bisa memberi manfaat ya Ibu :)



Enjoy! :)

Disclaimer: Saya bukan ahli laktasi dan psikologi, saya hanya sekedar ingin berbagi pengalaman :)











A HEALTHY MOMMY'S BODY AND SOUL

| on
December 11, 2017

Halo, sebelum bercerita kenalkan saya Ajeng, full time mom  dengan anak 1,Aliyah,  berumur 2 tahun 4 bulan. Halaman ini adalah tulisan pertama saya di blog :)) Dan setelah melewati berbagai penundaan dan banyak alasan plus typing-delete-typing akhirnya keluar lah tulisan ini :)). Awalnya saya juga bingung mau mulai cerita dari mana, dan mengisi blog ini dengan apa. Tapi tujuannya sebenarnya hanya ingin saling berbagi, mau senang sedih, atau pengalaman sederhana. Tanpa maksud apa-apa selain untuk niat siapa tau ada yang mengalami hal yang sama, dan disini lah kita bisa saling berbagi :) Jadi komentar,  saran, dan masukan ibu akan sangat berarti untuk saya, dan juga ibu-ibu lainnya. 

Saya adalah seorang ibu rumah tangga tanpa ART.  Ada ga ibu yang sama seperti saya? Saya yakin cukup banyak ibu yang sama-sama full time mom tanpa ART. Jadi ibu rumah tangga tanpa ART itu gampang-gampang susah sebenarnya (menurut saya pribadi). Kita dituntut untuk punya tubuh dan jiwa yang sehat dan kuat, karena peran kita sangat dibutuhkan oleh anak-anak kita, oleh suami kita. Berbagai pekerjaan rumah tangga harus bisa kita handle sendiri. Pokoknya harus jadi mama yang strong lah. 

Tapi sesekali tubuh dan  jiwa kita juga bisa melemah, karena kita juga manusia biasa, iya ga? Kalau sudah begini saya jadi lebih mudah stres, merasa sangat kelelahan dan ujung ujungnya daya tahan tubuh juga menurun. Rutinitas yang berulang setiap hari,  bisa memicu datangnya stres di dalam diri saya. Kalau sudah stres bawaannya emosi melulu dan ujung-ujungnya kadang orang sekitar saya juga yang kena :( .

Jadi,  supaya saya tubuh dan  jiwa saya tetap sehat dan kuat saya cari cari referensi untuk menjaga kedua hal tersebut. Nah, beberapa hal ini sering saya lakukan untuk menjaga tubuh dan jiwa supaya tetap sehat dan kuat. Siapa tau juga bisa jadi referensi ibu-ibu dan bisa dicoba di rumah :)

1. Kuatin batin dengan banyak ibadah dan banyak bersyukur.
Saya muslim, cara saya yang paling utama supaya jiwa dan tubuh tetap sehat dan kuat adalah ya bercerita kepadaNya. Berusaha berdoa lebih rajin dan lebih banyak. Istighfar lebih sering. Bersyukur lebih banyak. Dan Alhamdulillah, batin bisa lebih damai dan tenang. Banyak beribadah dan melakukan kebaikan InsyaAllah lahir batinnya damai dan tenang.

2. Dengarkan musik
Saya punya aplikasi musik di handphone, -yang makan memori banyak banget-. Walaupun bikin memori full, tapi saya pertahankan karena sambil ngapa-ngapain plus musik itu rasanya lebih ringan dilakukan. Jadi pilih lagu favorit kita dan simpan di playlist supaya mudah untuk kita dengarkan sewaktu-waktu.

3. Me Time
Me time tidak harus pergi ke salon, meni-pedi, atau shopping ke mall.  Makan di rumah dengan nikmat, tidak  terburu-buru,  sesekali nambah :P,  begini sudah me time sekali buat saya. Dibawain terang bulan coklat keju dan bisa habis banyak,  juga me time buat saya wkwkwk (-yang lagi on diet ini jangan ditiru ya, sesat! :D). Intinya sih melakukan hal yang jadi favorit kita di rumah :). Boleh banget minta tolong sama suami nemenin anak sebentar buat kita punya waktu me time

4. Share dengan suami. 
Saya biasanya share dengan suami kalau lagi stres :D.  Biasanya saya to the poin,  saya langsung bilang 'saya lagi stres nih'.  InsyaAllah suami bisa paham dan mengerti.  Daripada kita tunjukkan dengan marah2 tidak jelas -kadang saya begini juga,  tapi kesini saya sadar lebih baik saya ngomong baik-baik dan lebih enak buat suami nerimanya-.  Basicly,  komunikasi dengan suami berusaha saya jaga.  Enak atau tidak enak saya share. Kasian juga sih suami,  sudah di kantor kerjaaan bikin pikiran,  pulang ke rumah juga ketemu istri tambah pikiran :')) Tapi saya yakin,  sosok laki laki yang dasarnya suka melindungi,  tidak akan keberatan dengan hal hal seperti ini :). 




5. Piknik
Sudah umum ya,  kalau kita ketemu orang yang 'aneh-suka marah gitu' pasti kita komennya kurang piknik kali tuh. :)) Tapi memang piknik sesekali perlu.  Tidak perlu sering sering banget juga karena sungguh piknik juga menguras tenaga apalagi dompet :') Piknik paling gampang -dan murah,eh malah gratis sih- biasanya saya ke taman main di komplek rumah sama Aliyah plus suami juga.  Cuma jalan kaki,  beberapa meter aja.  Tapi kalau kita bisa menikmati waktunya,  jadi berasa kayak lagi piknik. 

6. Social Media Detox
Tidak bisa dipungkiri social media needs jaman sekarang udah sama dengan kebutuhan makan yang 3 kali sehari. Kalau tidak buka socmed rasa nya hampa gitu. Saya juga begitu.  Apalagi saya yang full time mom,  dan ga punya teman di rumah.  Tapi setelah baca baca salah satu artikel di blog nya mbak AndraAlodita yang punya screen time buat dia dan anaknya Aura.  Jadi saya juga memutuskan untuk punya waktu dimana saya tidak buka socmed sama sekali. Menurut mbak Andra,  terlalu banyak informasi yang masuk ke kita kalau kita terlalu sering buka socmed- in case sebenarnya mbak Andra juga lifestyle blogger yang pasti juga sangat bergantung dengan socmed- Banyaknya informasi yang masuk ke kita sedikit banyak bisa mempengaruhi pikiran kita, keadaan emosional kita -yang kadang tanpa kita sadari-.  Dalam satu minggu,  saya pasti punya hari dimana saya tidak buka socmed sama sekali.  Kalau pun buka pasti cuma sebentar banget untuk balas komen atau DM aja.  Alhamdulillah ini efektif untuk saya.  Emosi saya jadi lebih stabil. :) 

7. Spread Positive Vibes
Saya lagi belajar banget untuk berbagi hal dan aura positif ke lingkungan di sekitar saya.  Ini masih jadi PR banget untuk saya karena sesekali juga saya bisa bad mood dan jadi ketus :'( Saya juga sedang belajar untuk berbagi hal positif ke sesama ibu lain.  Saya dapat inspirasi ini dari @haloibu.id bahwa menjadi ibu juga bukan kompetisi, tapi harus saling mendukung dan menguatkan :). Saya juga pernah liat di ig story nya mbak Andien Aisyah upload halaman buku karya mbak Najeela Shihab. Menurut mbak Najeela,  tidak ada ibu yang sempurna di dunia ini.  Jadi ceramahin ibu lain tentang cara menjaga anak yang baik itu sebenarnya tidak perlu -sebenarnya seneng kalau komentarnya positif, tapi makin kesini rata-rata esensinya bukan karena benar-benar peduli-.  Karena setiap ibu pasti sudah punya standar yang tinggi tentang bagaimana menjaga anaknya. Lagi pula kesempurnaan hanya milikNya :) Mengakui bahwa saya bukan ibu yang sempurna untuk Aliyah bikin saya merasa lebih lega,  lebih plong. Yang pasti kita selalu berusaha kasih yang terbaik untuk anak.  Jadi,  setiap hari tidak ada beban buat harus seperti ini atau seperti itu :).




8. Bikin bikin mainan
Mainan Aliyah di rumah sebenarnya tidak terlalu banyak.  Rata-rata boneka nya adalah lungsuran dari jaman mamanya,  ontiknya,  bundanya (kakak suami saya)  atau kakak Kay-nya (sepupunya), beberapa ada yang dibelikan anangnya juga (bapak saya). Sisanya yang saya belikan biasanya buku,  puzzle atau masak-masakan - yang ujung-ujungnya Aliyah lebih suka pakai wajan dan sutil beneran :')- Jadi kadang saya dan Aliyah suka bikin bikin mainan sendiri di rumah.  Inspirasinya bisa darimana saja.  Dari nonton HI-5 tiba2 jadilah pesawat antik dari kotak kardus :D Atau mainan tempel2 bentuk.  Sesekali main pakai terigu -kalau saya lagi rajin banget beberesnya :D- Sering juga saya dapat referensi bikin mainan dari @iburakarayi. Basicly,  bikin mainan dengan Aliyah juga hiburan bagi saya.  Kenangan masa kecil saya terulang, kreativitas saya sebagai ibu juga diuji dan terbukti saya ga kreatif-kreatif amat :D. 

9. Bergerak
Banyak bergerak bisa bikin tubuh kita lebih sehat.  Metabolisme tubuh akan berjalan dengan baik. Saya sangat salut kepada ibu -ibu yang konsisten dan punya waktu khusus untuk berolahraga.  Saya sendiri tidak punya waktu khusus untuk berolahraga. Namun saya selalu berusaha untuk bergerak. Melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga,  seperti,  menyapu, ngepel, menyapu halaman, mencabuti rumput, dan lain-lain. Semua biasanya saya kerjakan sampai keringetan. Diyakinin aja banyak bergerak bisa bikin badan kita jauh lebih sehat.

10. Balancing what you eat.
Makanan yang masuk kedalam tubuh kita juga sangat berpengaruh bagi kesehatan tubuh kita. Saya tipikal orang yang juga suka jajan sebenarnya, jadi saya perlu menjaga keseimbangan antara jajanan dan makan makanan yang sehat. Ibu juga yang doyan jajan seperti saya ga?  Kalau sudah merasa agak “kebanyakan” maka saya berusaha mengatur untuk lebih banyak makan buah dan sayuran, dan minum air putih lebih banyak. Berpuasa untuk mengistirahatkan usus dari aktifitas mencerna makanan juga bisa dilakukan :)

Nah, kurang lebih beberapa hal diatas yang selalu saya jaga agar tubuh dan jiwa saya tetap sehat dan kuat sebagai full time mom. Semoga beberapa tips diatas bermanfaat ya!
Ibu-ibu lain ada yang punya cara juga ga untuk menjaga tubuh dan jiwa tetap sehat dan kuat? Yuk share disini! :)

Have a nice day :)