ALIYAH'S BREASTFEEDING STORY

| on
December 19, 2017
Setiap Ibu diberi rahmat oleh Allah SWT dengan cara yang berbeda-beda. Bisa memberi ASI atau pun susu formula, keduanya adalah sama-sama rahmat dari Allah SWT. Atas ijin Allah SWT saya dan Aliyah diberi rahmat dan kesempatan untuk memberi dan mendapatkan ASI. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi cerita pengalaman saya menyusui Aliyah selama 2 tahun 2 bulan. Ibu juga boleh banget berbagi pengalaman menyusui nya disini jadi kita bisa saling mendukung bahwa kita tidak berjuang sendirian :) 

Waktu hamil Aliyah saya sudah siapkan tekad untuk memberi ASI. Seorang teman dokter (terimakasih dokter Putri :)) meminjami saya buku "Breast Friends,InspirASI22" karya mbak Adenita. Buku ini dibawah naungan AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia)  dan berisi beberapa cerita suka duka dan perjuangan menyusui dari beberapa Ibu yang kebetulan juga anggota pengurus AIMI. Buku ini sangat recommended untuk para calon ibu :) 

Kembali ke cerita saya, saya melahirkan Aliyah melalui proses persalinan caesar.  Rumah sakit tempat saya melahirkan waktu itu sangat mendukung ibu menyusui walaupun bukan khusus RS Ibu dan Anak.  Saya dan Aliyah juga sempat melalui proses IMD (Inisiasi Menyusui Dini)-yang sayangnya cuma sebentar :(-. Setelah melahirkan, ASI saya tidak langsung keluar. Saya panik dan bingung sekali waktu itu karena Aliyah menangis terus karena haus. Aliyah lahir dengan berat 3,8 kg yang menurut dokter dia harus segera minum- sebenarnya saya mau bertahan beberapa hari untuk coba pendekatan dulu dengan Aliyah supaya ASI saya keluar-.  Dan akhirnya selama di RS Aliyah dikasih susu formula dengan cara disendokin –supaya Aliyah tidak bingung puting-

Pulang ke rumah Aliyah juga masih minum susu formula. Minumnya dengan disendokin,  sering juga tersedak. Kadang sampai tumpah-tumpah ke baju Aliyah. Susunya disiram siramin ke payudara saya pun juga pernah supaya Aliyah bisa sambil belajar ngenyot dari puting. Berat badannya langsung turun waktu itu. Orangtua saya sampai ikutan bingung dan menyarankan untuk mecoba pakai dot. Saya coba bertahan dulu supaya Aliyah tidak bingung puting. Sering juga saya menangis hampir putus asa karena ASI saya belum juga keluar.  Obat dari dokter untuk pelancar ASI sudah saya minum.  Bapak saya juga membantu mencarikan jamu untuk pelancar ASI.  Alhamdulillah ada,  waktu itu semacam ramuan daun-daunan dan akar tumbuhan -belinya didaerah pecinan Genteng, Surabaya- yang direbus lama dan rasanya tidak enak :D. Akhirnya kurang lebih semingguan, payudara saya mulai mengencang sakit. Tapi puting saya juga belum terlalu keluar dan Aliyah juga belum bisa ngenyot

Saya lalu mencoba memompa payudara saya supaya ASI dan puting saya keluar. ASI saya keluar tapi Aliyah tetap belum bisa ngenyot, padahal puting saya juga sudah keluar karena dipompa.  Tetap saya coba kasih ASI pakai sendok. Saya coba lagi pakai siram-siraminin ASInya ke puting saya supaya Aliyah belajar ngenyot. Waktu itu saya cuma yakin saya dan Aliyah pasti bisa. Saya percaya Aliyah,  dan saya juga yakin Aliyah percaya sama saya.  

Alhamdulillah saya dan Aliyah akhirnya bisa. Aliyah bisa ngenyot dengan posisi saya harus menyangga kepala dengan tangan saya. Ga apa-apa lah yang penting Aliyah bisa ngenyot. Pelan-pelan Aliyah akhirnya bisa menyusu sambil saya tiduran,  atau sambil saya duduk. Alhamdulillah sekali. 

Saya juga sempat mengalami mastitis laktasi,  payudara saya sakit sekali,  bahkan puting yang cuma kena kain baju aja rasanya sakit sekali.  Tapi saya tetap kasih Aliyah ASI karena dari referensi yang saya baca justru tetap memberi ASI adalah obatnya (dalam kasus yang cukup berat harus dikonsultasikan segera ke dokter).

Di awal menyusui saya juga masih dalam kondisi bekerja. Setelah 1,5 bulan cuti melahirkan,  saya kembali bekerja. Kebetulan kantornya di sebelah rumah orangtua saya- selama hamil besar sampai melahirkan saya menumpang di rumah orangtua-.  Tapi karena Aliyah tidak bisa pakai dot,  jadi tiap waktu Aliyah menangis,  saya pulang sebentar,  menyusui. Sesekali juga Aliyah saya bawa ke kantor. Klimaksnya adalah ketika orangtua saya pindah rumah.  Jadi saya juga tidak bisa lagi pulang sebentar-sebentar untuk menyusui.  Aliyah juga tidak bisa sering-sering saya ajak karena saya takut orang-orang terganggu dengan tangisan Aliyah. Jarak rumah baru orangtua saya -/+ 2 km dari tempat saya bekerja,  jadi saya bawa pompa asi.  Waktu itu Aliyah sudah bisa pakai dot -setelah berganti ganti karet dot, dia akhirnya cocok pakai Pigeon Peristaltic Wide Neck-.  Saya juga tidak punya freezer khusus ASI di rumah. Jadi sebelum berangkat saya pompa dulu ASI saya untuk stok Aliyah selama -/+ 2-3 jam.  Nanti bapak saya atau suami saya akan mampir ke kantor untuk ambil ASI yang saya pompa untuk stok Aliyah sampai saya pulang. Pernah juga saya kirim ASI pakai ojek online :D.  Kadang stok ASI 100 ml,  kadang cuma 60-80 ml padahal Aliyah sudah umur 4 bulan waktu itu. Aliyah juga kadang-kadang menolak pakai dot. 

Saya pun berdiskusi dengan suami dan kami sepakat saya ambil resign supaya Aliyah bisa menyusui. Saya resign tepat Aliyah umur 4 Bulan,  dan kami pulang ke rumah sendiri.  Jadi setiap siang hari hanya saya dan Aliyah berdua di rumah dan dia bisa menyusu sesuka dia. Saya senang sekali. Oh iya untuk suplemen saya sempat minum Blackmores Pregnancy and Breastfeeding Gold dan Alhamdulillah it worth. :)

Dari pengalaman saya menyusui mungkin ini beberapa tips yang bisa saya sharing untuk Ibu :) 
  • Pasrahin semuanya ke Allah SWT
Proses memulai menyusui bukan hal yang mudah untuk ibu yang ASI nya telat keluar. Tapi pasrah atas apa yang jadi kehendakNya bisa bikin kita lebih rmudah menjalani semua prosesnya. Bersyukur atas banyak atau sedikitnya ASI yang keluar karena semua adalah rejeki dariNya.
  • Jangan stres
Jujur saya sangat stres waktu itu dan sedikit kena baby blues juga. Ini bisa jadi salah satu faktor tidak keluarnya ASI.
  •  Berkomunikasi dengan keluarga dan lingkungan sekitar
Dukungan dari keluarga juga sangat kita perlukan dalam proses menyusui. Sharing dengan suami, bapak, ibu dan mertua tentang apa yang menjadi harapan kita supaya mereka juga bisa mengerti dan menghargai segala keputusan kita.
  • . Berkomunikasi dengan bayi kita
Saya meyakini bahwa bonding antara bayi dan ibu sudah terbentuk secara alami selama 9 bulan kehamilan. Sering berbisik ke bayi, kasih semangat ke bayi kita bisa jadi cara berkomunikasi kita ke si bayi. Walaupun pendengaran, penglihatan mereka belum sempurna tapi mereka pasti bisa mengerti apa yang disampaikan ibunya karena ibunya berbicara dengan ‘hati’ :)
  • .   Cari referensi sebanyak mungkin tentang menyusui
Sangat sedikit referensi yang saya punya waktu menyusui Aliyah. Pegangan saya saat itu hanyalah dari membaca buku dan cerita pengalaman menyusui kerabat dan teman-teman saya- in case pengalaman mereka juga berbeda dari apa yang saya alami-
  • .   Tetap semangat dan pantang menyerah
Tips terakhir ini seperti mau maju ke medan perang ya? hahaha. Tapi semangat dan pantang menyerah lah yang bisa membuat kita melalui setiap detil proses menyusui. Liat wajah bayi dan in second, pasti kita langsung semangat lagi deh!

Untuk asupan makanan dan suplemen, atau printilan pompa memompa saya yakin Ibu sudah banyak tau sekali. Tinggal memilih yang pas dan sesuai dengan kondisi dan keadaan kita saja :) Semoga sharing saya ini bisa memberi manfaat ya Ibu :)



Enjoy! :)

Disclaimer: Saya bukan ahli laktasi dan psikologi, saya hanya sekedar ingin berbagi pengalaman :)











Be First to Post Comment !
Post a Comment