Pandemic, Anxiety & Feeling Better

| on
April 04, 2020

Halo!

Bagaimana kabarnya teman-teman mama setelah masuk hitungan puluhan hari #dirumahaja? (last post nanya kabar, sekarang nanya kabar lagi?) Nanya kabar terus karena saya menyadari, dan mungkin kita semua menyadari basa basi ini feel better di tengah kondisi pandemi yang masih melanda. Semoga teman-teman mama semua sehat selalu ya :) Kalaupun ada yang sedang kurang sehat, semoga lekas fit lagi badannya :) Aamiin

ALSO READ: THIS TOO SHALL PASS, INSYALLAH...

Sebenarnya saya ingin sharing ini di instagram story, tapi entah kenapa IG story saya error, dan saya putuskan untuk menulisnya di blog post agar tidak keburu lupa. Sebenarnya masih tentang pandemi covid-19. Kemarin saya sempat mengobrol dengan suami saya. 

"Aku lega, aku habis unfollow beberapa portal berita di instagram" kata saya waktu itu. 
"Lho kenapa?" tanya suami saya. 
"Ga apa-apa, aku suka baca komen dan komennya negatif semua. Terus jadinya aku kebawa emosi" kata saya. 
"Oh kamu tipe yang mudah terpengaruh ya?" kata suami saya. 
"Engga sih sebenarnya. Hanya itu seperti masuk ke dalam bawah sadar dan membawa energi negatif ke aku. Aku percaya kalau kita suka liat/baca yang negatif, pikiran kita pasti negatif. Ya kan?" kata saya lagi.
"Hmmmm" suami saya hanya menjawab itu (sebenarnya ada sedikit debat diantara kami, karena kami beda persepsi soal ini. Tapi it's oke. Kami bisa saling menerima persepsi masing-masing dan tidak saling memaksakan satu sama lain.

Saya sendiri tidak tahu apakah langkah yang saya lakukan sudah tepat atau belum. Apakah termasuk denial atau tidak. Tetapi, soal pandemi ini memang sudah cukup banyak menguras tenaga dan pikiran kita kan? Di blog post sebelumnya saya sempat menulis hal positif atau hikmah dibalik pandemi ini. Bukan untuk denial, tapi memang sejatinya selalu ada kebaikan dari apa-apa yang Allah SWT kehendaki untuk kita semua. Saya sendiri memutuskan untuk mengurangi mengonsumsi berita tentang pandemi covid-19 karena yah selain memang kadang saya gabut dan secara tidak sadar suka baca-baca komen tidak jelas, saya punya kenderungan mudah gelisah atas sesuatu. Kemudian berujung cemas dan sulit tidur. Walaupun kalau dipikir atau ditanya apa yang membuat saya cemas dan gelisah, pasti jawabannya tidak tahu. Dan i feel so much better setelah me-unfollow beberapa portal berita tersebut. Saya memutuskan untuk akan mencari informasi saat saya merasa siap dan perlu, dalam kondisi emosi dan perasaan yang jauh lebih baik dengan intensitas yang mungkin hanya sesekali saja. Sisanya, saya melakukan semaksimal mungkin yang saya bisa untuk membantu pemerintah, para dokter dan orang sekitar saya dengan tetap diam di rumah dan tetap menjaga kesehatan dan kebersihan.

Kita semua punya cara masing-masing dalam menghadapi dan menyikapi pandemi ini. Ada yang merasa sangat berat karena Qadarullah merasakan langsung kondisi terjangkit atau sanak keluarga ada yang terjangkit. Ada yang mungkin masih biasa-biasa saja karena belum merasakan, Naudzubillah. Saya sangat mengerti hal ini, karena hal ini membawa saya kepada kejadian 6-8 tahun yang lalu disaat kami sekeluarga berjuang menemani rahimahullah adik melawan kankernya. Sampai pada akhirnya Allah berkehendak lain, dan adik berpulang. Sejak itu saya menjadi tau bagaimana sakitnya perasaan seseorang yang kehilangan. Sejak itu pula saya menjadi mudah cemas dan gelisah. Aliyah sakit sedikit, pikiran saya sudah bercabang kemana-mana. Dan rasanya sangat tidak enak. Kita memang tidak pernah tau bagaimana rasanya mengalami satu  kejadian yang tidak enak sampai kita benar-benar mengalaminya sendiri.

Pengalaman kita di masa lalu membuat masing-masing dari kita punya cara tersendiri menyikapi pandemi ini. Mungkin yang sedikit bercanda belum tentu benar-benar bermaksud untuk bercanda. Bisa jadi itu adalah bentuk pertahanannya melawan kegelisahan. Yang memposting hal lain yang menyenangkan belum tentu tidak peduli. Yang ingin merasa lari dari rumah, belum tentu 'suasana' rumahnya  sama nyamannya dengan yang lain. Tidak semua bisa leluasa berbelanja online. Ada yang masih ketar-ketir harus pergi ke pasar setiap hari. Yang mulai merasa bosan di rumah, belum tentu benar-benar bosan, karena kalau di swicth harus keluar rumah terus tanpa henti, pasti juga belum tentu siap kan? Kalau sebelum pandemi, bermain media sosial semakin menantang dan membuat kita harus benar-benar bijak menyaring setiap informasi yang kita terima, selama pandemi ini menjadi lebih semakin menantang lagi karena kita benar-benar harus jaauhhh lebih bijak menyerap informasi dan menyesuaikannya dengan keadaan dan kondisi kita in real life.

Kita tidak harus mengikuti gaya influencer how they spent #dirumahaja kalau memang kita punya kondisi #dirumahaaja yang sedikit berbeda. Kita tidak harus ikutan bikin mainan anak-anak kalau memang kita tidak ada passion ke sana, karena setiap ibu juga unik dan punya bakatnya masing-masing. Selalu ada cara versi kita sendiri untuk menemani anak-anak main di rumah :) Kalau terbiasa dengan yang ribet, go.. keep it ribet kalau kita bahagia dengan itu (ada ya orang suka ribet? ada, adik perempuan saya buktinya hehehe). Then keep it simple kalau kita tidak suka yang ribet-ribet. The point is, di tengah pandemi seperti sekarang ini, dimana semua rasanya serba sulit, kita punya hak untuk memilih mana yang saja yang sesuai dengan kondisi dan keadaan kita sekarang dan paling tidak membuat kita merasa sedikit lebih baik (meski merasa cemas dan gelisah luar dalam). 

Sebagian dari kita sangat aware terhadap pandemi ini. Namun, di sisi lain, ternyata sebagaian lagi mulai ada yang berani hanging out kumpul-kumpul sampai harus diamankan polisi atau orang-orang di daerah kecamatan saya misalnya, dengan masih cueknya berjualan makanan tanpa masker dan mengambil makanan dengan tangan telanjang, tangan yang habis digunakan memegang uang kertas. It's hard. Saya tidak membela pemerintah yang bagaimana-bagaimana tapi memang tidak mudah mengatur 200 juta lebih kepala dengan pola pikirnya masing-masing. Memang langkah yang diambil tidak boleh lempeng, tapi apapun itu semoga membawa dampak yang baik untuk kita semua. 

Overall, saya percaya kita semua bisa melalui ini sesulit apapun kondisinya saat ini. Mengingat pengalaman sulit dimasa yang lalu (walaupun sebenarnya perlu berbesar hati untuk mencoba mengingatnya) yang berhasil dilewati ternyata cukup membantu untuk menguatkan di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini.



Oh iya, untuk teman-teman mama yang terkadang merasa anxiety seperti saya, ternyata ada doanya untuk membantu kita merasa lebih baik:) Saya sempat baca di IG @yaqeeninstitute sebuah doa dari Al-Hadist, Abu Dawud. Doa nya bisa dibaca sebanyak 7 kali saat sedang merasa cemas dan gelisah.

InsyaAllah kita senantiasa disabarkan dan dikuatkan ya :)

Allah Maha Baik 💙










Be First to Post Comment !
Post a Comment