Apa yang ada di benak teman-teman mama kalau diminta membayangkan tentang hutan dan seisinya? Kalau saya sendiri pasti langsung terbayang aroma pepohonan dengan udara yang cenderung hangat dan lembab dipadu dengan sayup-sayup suara serangga sekaligus kicauan burung yang merdu. Teringat pengalaman masa lalu saya ketika menjelajah hutan untuk kali pertama. Saya seorang anak ABG yang saat itu adalah anggota PMR dibawa orientasi oleh kakak-kakak senior ke sebuah hutan di daerah Manado, Sulawesi Selatan. Rasanya sangat campur aduk, antara berusaha menjadi pemberani (karena sebenarnya cukup takut) dan takjub akan indahnya alam di dalam hutan.
Pengalaman penjelajahan saya ke hutan terus berlanjut saat saya duduk di bangku SMA, saya dan teman-teman sekelas mengikuti program pelestarian lingkungan hidup di daerah Trawas, Mojokerto. Lalu, saat menjadi mahasiswa, saya pernah kembali masuk ke hutan dalam rangka orientasi sebagai calon panitia Masa Orientasi Bersama (semacam Ospek kala itu). Ketika bekerja di sebuah perusahaan asuransi pun, saya pernah hash bersama teman-teman sekantor, dan kembali menjelajah hutan di daerah Trawas, Mojokerto. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya sangat menyukai saat-saat menjelajah ke dalam hutan.
![]() |
| Salah satu sudut di hutan Trawas, Mojokerto source: dok. pribadi |
Pengalaman penjelajahan saya ke hutan terus berlanjut saat saya duduk di bangku SMA, saya dan teman-teman sekelas mengikuti program pelestarian lingkungan hidup di daerah Trawas, Mojokerto. Lalu, saat menjadi mahasiswa, saya pernah kembali masuk ke hutan dalam rangka orientasi sebagai calon panitia Masa Orientasi Bersama (semacam Ospek kala itu). Ketika bekerja di sebuah perusahaan asuransi pun, saya pernah hash bersama teman-teman sekantor, dan kembali menjelajah hutan di daerah Trawas, Mojokerto. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya sangat menyukai saat-saat menjelajah ke dalam hutan.
Atmosfir udara di dalam hutan masih sangat bersih. Pepohonan yang rindang, suara-suara kicauan burung dan satwa liar lainnya berpadu dengan gemericik air bening yang mengalir menyusuri sungai-sungai kecil di dalam hutan, MasyaAllah indahya.
Hutan di Indonesia
Hutan di Indonesia sendiri sangat luas hingga mencapai 120,601,155,73 hektare (Badan Pusat Statistik, 2017) yang menyimpan banyak potensi energi mikrobiologi yang sangat diperlukan dunia. Hutan tropis di Indonesia juga sangat kaya akan keanekaragaman hayati yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Ratusan gigaton karbon yang tersimpan di dalam hutan Indonesia memegang peranan penting dalam menjaga kestabilan iklim di dunia. Hutan Indonesia adalah tempat bergantungnya kehidupan dari jutaan bahkan puluhan juta masyarakat Indonesia. Baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ataupun yang bekerja di sektor pengolahan kayu. Beragam hasil hutan dikonsumsi untuk kebutuhan pangan sehari-hari ataupun untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Sedihnya, di 50 tahun terakhir hutan di Indonesia semakin berkurang hingga puluhan juta hektar. Deforestasi adalah salah satu penyebab utamanya. Penebangan liar untuk keperluan industri sampai pembakaran untuk membuka lahan perkebunan seperti kelapa sawit adalah wujud dari deforestasi hutan di Indonesia.
Hutan sebagai Sumber Pangan
Rusaknya hutan di Indonesia membuka mata kita untuk lebih peduli akan kelestarian alam hutan. Beberapa tahun belakangan, kita sebagai generasi milenial, mulai sadar akan pentingnya pola hidup yang berkelanjutan (sustainable living) yang lebih ramah terhadap lingkungan dan alam sekitar. Salah satunya dengan mengonsumsi makanan yang lebih sehat dan padat gizi. Berhubung saya adalah seorang ibu, hal ini juga tentu menjadi perhatian saya terutama dalam menyediakan makanan untuk keluarga di rumah.
Penerapan pola hidup bekelanjutan dan beragamnya sumber pangan yang berasal dari hutan adalah dua hal yang saling berkaitan dan berkesinambungan. Sadarnya kita untuk hidup yang lebih sehat tentu dapat seiring dengan sadarnya kita untuk menjaga kelestarian alam hutan karena beragam sumber pangan sehat dapat kita konsumsi dari hutan. Ragam sumber pangan yang dapat kita konsumsi tersebut diantaranya seperti umbi-umbian, tepung-tepungan, jamur, tumbuhan paku-pakuan, biji-bijian, kacang-kacangan, rempah-rempah, sumber protein hewani seperti ikan dan daging, sampai tanaman obat tradisional yang kesemuanya dapat kita olah menjadi menu makan sehat untuk dikonsumsi sehari-sehari.
Semanggi, Salah Satu Bahan Pangan dari Hutan
Di dalam hutan Indonesia, kita akan sangat mudah menemukan beragam tumbuhan paku-pakuan. Nah, salah satu diantara tumbuhan paku-pakuan tersebut adalah semanggi. Semanggi (Marsilea Crenata), si rumput kecil berbentuk hati ini biasanya tumbuh di bawah tanah atau di pinggiran aliran sungai.
Populasi semanggi dapat dengan mudah kita temukan di kaki gunung ataupun sekitar persawahan bergantung dari jenisnya. Semanggi dengan tipe daun mengapung (floating leaves) dan tenggelam (submerged leaves) biasanya hidup di air, sedangkan semanggi yang hidup di daratan adalah semanggi dengan tipe daun aerial leaves. Semanggi yang juga dikenal dengan clover ini sangat mudah ditemukan di hutan Indonesia karena tergolong kosmopolit dan merupakan salah satu alternatif bahan makanan yang dapat kita konsumsi seandainya kita sedang tersesat di dalam hutan. Sedangkan untuk konsumsi sehari-hari, semanggi dapat dibuat lalapan ataupun pecel. Meski terlihat sebagai tumbuhan yang kecil, ternyata semanggi punya segudang manfaat untuk kesehatan tubuh kita karena mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi.
Beberapa kandungan gizi pada semanggi yang bermanfaat bagi tubuh kita, antara lain:
Pecel Semanggi
Di Surabaya, Jawa Timur ada salah satu makanan khas yang menjadi favorit saya yang bahan baku nya berasal dari semanggi. Adalah pecel semanggi yang menjadi salah satu ikon kuliner di Surabaya. Saya pribadi sangat suka karena pecel semanggi agak berbeda dengan pecel lain pada umumnya. Di Surabaya, pecel semanggi biasanya dijual oleh ibu-ibu paruh baya lengkap dengan jarit dan selendangnya.
Kali pertama saat saya mencicipi pecel semanggi adalah ketika saya masih bekerja di daerah Surabaya Kota, kira-kira 7 tahun yang lalu. Waktu itu, seorang ibu paruh baya datang menjajakannya ke kantor tempat saya bekerja.
Pertama kali mencicipi semanggi jujur saya agak kaget dengan rasanya yang unik. Saya pikir bumbu pecel yang berwarna coklat cenderung pekat serupa dengan bumbu rujak cingur. Namun ternyata rasanya sangat berbeda, mungkin karena memang bumbu pecelnya dibuat dari ubi yang dihaluskan. Rasanya enak juga, pikir saya saya waktu itu.
Biasanya seporsi pecel semanggi tradisional disajikan dengan menggunakan pincuk (daun pisang yang dibentuk kerucut). Nah, kalau pecel pada umumnya disajikan bersama rempeyek sebagai pelengkap, pecel semanggi disajikan bersama kerupuk puli (kepuruk dari beras) dengan ukuran persegi yang cukup lebar.
Sangat unik karena meski tanpa sendok pun, kita tetap dapat menikmati pecel semanggi dengan kerupuk sebagai sendoknya. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, pecel semanggi sempat menjadi langka. Konon karena bahan baku daun semanggi yang semakin sulit untuk didapatkan. Bisa menikmati seporsi pecel semanggi adalah sebuah privilege kala itu.
Menyadari semakin langkanya pecel semanggi yang merupakan ikon kuliner Surabaya, pemerintah kota Surabaya bersama masyarakat Surabaya bekerja sama untuk menjaga kelestarian pecel semanggi. Di Surabaya ada satu kampung khusus bernama kampung Semanggi, Benowo dimana sebagian besar warganya berjualan pecel semanggi. Sekarang tidak lagi sulit untuk menemukan penjual pecel semanggi di Surabaya dan sekitarnya. Terkadang ibu-ibu penjaja pecel semanggi dapat dengan mudah kita temukaan saat car free day di Surabaya. Rasa pecel semanggi yang khas dan unik patut dicoba jika teman-teman mama sedang berkunjung ke Surabaya.
Membuat Pecel Semanggi
Tidak harus dengan membeli untuk menikmati uniknya rasa seporsi pecel semanggi, teman-teman mama juga dapat membuat pecel semanggi sendiri di rumah :) Cara membuatnya pun cukup mudah hanya cukup dengan merebus sayuran dan menghaluskan bumbu pecelnya. Penasaran bagaimana cara membuatnya? Yuk disimak :)
Bahan-bahan Pecel Semanggi:
Cara membuat:
Menjaga Kelestarian Bahan Pangan Sekaligus Menjaga Kelestarian Alam Hutan
Agar pengalaman sempat langkanya menemukan pecel semanggi di Surabaya tidak kembali terulang, tentunya kita sebagai masyarakat perlu berkontribusi untuk menjaga kelestarian bahan pangan, dalam hal ini tidak hanya semanggi, tetapi juga bahan pangan lainnya terutama bahan pangan dari hutan. Hal ini tentu juga berkaitan dengan kepedulian kita untuk ikut menjaga kelestarian alam hutan. Saat ini, untuk berkontribusi menjaga kelestarian alam hutan pun tak lagi sulit. Beberapa organisasi lingkungan hidup berperan sangat aktif dalam menjaga kelestarian alam hutan. Salah satunya adalah WALHI atau Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.
Tentang WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)
WALHI adalah organisasi independen, non-profit dan terbesar di Indonesia. WALHI terbentuk atas gagasan Emil Salim (Menteri Lingkungan Hidup di tahun 1980) dan lahir tepat pada bulan Oktober 1980 melalui pertemuan beberapa tokoh dari lembaga yang fokus terhadap lingkungan hidup di sebuah forum nasional. Forum tersebut disponsori oleh Yayasan Pembinaan Suaka Alam dan Margawatsa Indonesia/ World Wirldlife Fund (WWF) yang diketuai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Nama Wahan Lingkungan Hidup dipilih kala itu karena bersifat netral tidak berpihak pada satu organisasi politik ataupun pemerintahan.
Seiring berjalannya waktu, WALHI mulai menyadari bahwa perjuangan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan adalah hal yang berat dan tidak mudah. Belum lagi kekuatan politik dalam negeri yang semakin berpihak kepada kepentingan ekonomi global. Karenanya, WALHI membutuhkan dukungan dari masyarakat luas untuk bersama-sama terlibat dan mengambil peran dalam upaya penyelamatan lingkungan hidup.
Nah, kita semua dapat mengambil peran untuk mendukung penyelamatan atau pelestarian lingkungan hidup dengan menjadi anggota WALHI ataupun dengan menjadi donatur terhadap kegiatan-kegiatan penyelamatan dan pelestarian lingkungan. WALHI kini telah tersebar di 28 provinsi di seluruh Indonesia. Untuk menjadi anggota WALHI kita dapat menghubungi organisasi WALHI yang ada di provinsi kita masing-masing :) Sedangkan untuk menjadi donatur, kita dapat mengunjungi website WALHI. Disana nanti kita dapat menekan banner donasi untuk detail berdonasi dan kampanye apa saja yang sedang dibuka untuk donasi :)
Teman-teman mama juga bisa follow akun media sosial WALHI di Instragram @walhi.nasional dan Facebook Page WALHI untuk mendapatkan berbagai update tentang kampanye WALHI ataupun isu-isu lingkungan hidup lainnya :)
Semoga kita semua semakin sadar untuk menjaga kelestarian alam, terutama alam hutan, agar sumber pangan padat gizi yang kaya manfaat tetap tersedia untuk kita bahkan sampai anak cucu kita kelak :) Yuk, jaga hutan kita!
Semoga bermanfaat ya :)
Disclaimer: Tulisan ini diikutsertakan di dalam Forest Cuisine Blog Competition yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.
Referensi:
Foto dan Infografis: Ajeng Natassia
Data Hutan dan Semanggi: www.google.com
Info WALHI: www.walhi.or.id
![]() |
| Hutan di daerah Prigen, Jawa Timur source: dok. pribadi |
Ratusan gigaton karbon yang tersimpan di dalam hutan Indonesia memegang peranan penting dalam menjaga kestabilan iklim di dunia. Hutan Indonesia adalah tempat bergantungnya kehidupan dari jutaan bahkan puluhan juta masyarakat Indonesia. Baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ataupun yang bekerja di sektor pengolahan kayu. Beragam hasil hutan dikonsumsi untuk kebutuhan pangan sehari-hari ataupun untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Sedihnya, di 50 tahun terakhir hutan di Indonesia semakin berkurang hingga puluhan juta hektar. Deforestasi adalah salah satu penyebab utamanya. Penebangan liar untuk keperluan industri sampai pembakaran untuk membuka lahan perkebunan seperti kelapa sawit adalah wujud dari deforestasi hutan di Indonesia.
Setiap tahun Indonesia harus kehilangan hutan hingga jutaan hektar akibat deforestasi.Hilangnya hutan tentu seiring dengan hilangnya keanekaragaman hayati di dalamnya serta beragam sumber pangan yang padat gizi yang berasal dari hutan. Ekosistem tak lagi seimbang, masyarakat pun mulai lupa akan fungsi hutan :(
Hutan sebagai Sumber Pangan
Rusaknya hutan di Indonesia membuka mata kita untuk lebih peduli akan kelestarian alam hutan. Beberapa tahun belakangan, kita sebagai generasi milenial, mulai sadar akan pentingnya pola hidup yang berkelanjutan (sustainable living) yang lebih ramah terhadap lingkungan dan alam sekitar. Salah satunya dengan mengonsumsi makanan yang lebih sehat dan padat gizi. Berhubung saya adalah seorang ibu, hal ini juga tentu menjadi perhatian saya terutama dalam menyediakan makanan untuk keluarga di rumah.
Hutan-hutan di Indonesia sangat kaya akan sumber pangan yang dapat kita konsumsi untuk kebutuhan sehari-hari.
Penerapan pola hidup bekelanjutan dan beragamnya sumber pangan yang berasal dari hutan adalah dua hal yang saling berkaitan dan berkesinambungan. Sadarnya kita untuk hidup yang lebih sehat tentu dapat seiring dengan sadarnya kita untuk menjaga kelestarian alam hutan karena beragam sumber pangan sehat dapat kita konsumsi dari hutan. Ragam sumber pangan yang dapat kita konsumsi tersebut diantaranya seperti umbi-umbian, tepung-tepungan, jamur, tumbuhan paku-pakuan, biji-bijian, kacang-kacangan, rempah-rempah, sumber protein hewani seperti ikan dan daging, sampai tanaman obat tradisional yang kesemuanya dapat kita olah menjadi menu makan sehat untuk dikonsumsi sehari-sehari.
Semanggi, Salah Satu Bahan Pangan dari Hutan
Di dalam hutan Indonesia, kita akan sangat mudah menemukan beragam tumbuhan paku-pakuan. Nah, salah satu diantara tumbuhan paku-pakuan tersebut adalah semanggi. Semanggi (Marsilea Crenata), si rumput kecil berbentuk hati ini biasanya tumbuh di bawah tanah atau di pinggiran aliran sungai.
![]() |
| Semanggi daratan source: dok.pribadi |
Populasi semanggi dapat dengan mudah kita temukan di kaki gunung ataupun sekitar persawahan bergantung dari jenisnya. Semanggi dengan tipe daun mengapung (floating leaves) dan tenggelam (submerged leaves) biasanya hidup di air, sedangkan semanggi yang hidup di daratan adalah semanggi dengan tipe daun aerial leaves. Semanggi yang juga dikenal dengan clover ini sangat mudah ditemukan di hutan Indonesia karena tergolong kosmopolit dan merupakan salah satu alternatif bahan makanan yang dapat kita konsumsi seandainya kita sedang tersesat di dalam hutan. Sedangkan untuk konsumsi sehari-hari, semanggi dapat dibuat lalapan ataupun pecel. Meski terlihat sebagai tumbuhan yang kecil, ternyata semanggi punya segudang manfaat untuk kesehatan tubuh kita karena mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi.
![]() |
| Manfaat Semanggi source: dok. pribadi |
Beberapa kandungan gizi pada semanggi yang bermanfaat bagi tubuh kita, antara lain:
- Mengandung mineral seperti fosfor dan kalium yang bermanfaat untuk kesehatan tulang dan mencegah osteoporosis.
- Mengandung Vitamin C dan Beta karoten yang berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan menjaga kesehatan kulit.
- Mengandung alkaloid yang berfungsi sebagai antioksidan di dalam tubuh.
- Mengandung flavonoid yang berfungsi untuk kesehatan jantung dan menurunkan kadar gula darah.
- Mengandung streoid yang berfungsi sebagai anti bakteri dan dapat digunakan untuk membantu meredakan rasa sakit.
- Mengandung isovlavon yang berfungsi untuk meningkatkan fungsi hormon estrogen pada wanita.
Pecel Semanggi
Di Surabaya, Jawa Timur ada salah satu makanan khas yang menjadi favorit saya yang bahan baku nya berasal dari semanggi. Adalah pecel semanggi yang menjadi salah satu ikon kuliner di Surabaya. Saya pribadi sangat suka karena pecel semanggi agak berbeda dengan pecel lain pada umumnya. Di Surabaya, pecel semanggi biasanya dijual oleh ibu-ibu paruh baya lengkap dengan jarit dan selendangnya.
Bumbu pecel semanggi sangat khas karena terbuat dari singkong yang dihaluskan bersama terasi, petis, cabai, kacang tanah dan bumbu lainnya. Rasanya sangat unik, cenderung manis, berbeda dengan bumbu pecel pada umumnya yang terbuat dari kacang tanah.
Kali pertama saat saya mencicipi pecel semanggi adalah ketika saya masih bekerja di daerah Surabaya Kota, kira-kira 7 tahun yang lalu. Waktu itu, seorang ibu paruh baya datang menjajakannya ke kantor tempat saya bekerja.
![]() |
| Pecel Semanggi dengan Pincuk source: dok. pribadi |
![]() |
| Semanggi Disiram dengan Bumbu source: dok.pribadi |
Pertama kali mencicipi semanggi jujur saya agak kaget dengan rasanya yang unik. Saya pikir bumbu pecel yang berwarna coklat cenderung pekat serupa dengan bumbu rujak cingur. Namun ternyata rasanya sangat berbeda, mungkin karena memang bumbu pecelnya dibuat dari ubi yang dihaluskan. Rasanya enak juga, pikir saya saya waktu itu.
![]() |
| Seporsi Pecel Semanggi source: dok. pribadi |
Biasanya seporsi pecel semanggi tradisional disajikan dengan menggunakan pincuk (daun pisang yang dibentuk kerucut). Nah, kalau pecel pada umumnya disajikan bersama rempeyek sebagai pelengkap, pecel semanggi disajikan bersama kerupuk puli (kepuruk dari beras) dengan ukuran persegi yang cukup lebar.
![]() |
| Menyendok Pecel Semanggi dengan Kerupuk source: dok.pribadi |
Sangat unik karena meski tanpa sendok pun, kita tetap dapat menikmati pecel semanggi dengan kerupuk sebagai sendoknya. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, pecel semanggi sempat menjadi langka. Konon karena bahan baku daun semanggi yang semakin sulit untuk didapatkan. Bisa menikmati seporsi pecel semanggi adalah sebuah privilege kala itu.
![]() |
| Ibu Isniah, Penjual Pecel Semanggi dari Kampung Benowo Surabaya source: dok. pribadi |
Menyadari semakin langkanya pecel semanggi yang merupakan ikon kuliner Surabaya, pemerintah kota Surabaya bersama masyarakat Surabaya bekerja sama untuk menjaga kelestarian pecel semanggi. Di Surabaya ada satu kampung khusus bernama kampung Semanggi, Benowo dimana sebagian besar warganya berjualan pecel semanggi. Sekarang tidak lagi sulit untuk menemukan penjual pecel semanggi di Surabaya dan sekitarnya. Terkadang ibu-ibu penjaja pecel semanggi dapat dengan mudah kita temukaan saat car free day di Surabaya. Rasa pecel semanggi yang khas dan unik patut dicoba jika teman-teman mama sedang berkunjung ke Surabaya.
Selain mendapatkan pengalaman mencicipi rasa unik dari pecel semanggi, teman-teman mama juga pastinya akan mendapatkan segudang manfaat untuk kesehatan tubuh dengan mengonsumsi seporsi pecel semanggi. Selain dari kandungan gizi daun semanggi itu sendiri, pecel semanggi juga kaya akan serat karena selain daun semanggi, pecel semanggi juga dihidangkan bersama kecambah, dan bunga turi dan kacang panjang.Cara masak sayuran dengan direbus dan komposisi beragam sayuran di dalam pecel semanggi menjadikan kuliner ini sebagai salah satu pilihan kuliner sehat yang kaya manfaat :) Jadi, no guilty feeling ya saat teman-teman mama menikmati seporsi pecel semanggi :)
Membuat Pecel Semanggi
![]() |
| Seporsi Pecel Semanggi Buatan Sendiri source: dok. pribadi |
Bahan-bahan Pecel Semanggi:
- Daun Semanggi secukupnya
- 1 cup kecambah/tauge
- 1/2 cup kacang panjang
- 1/2 cup bunga turi
![]() |
| Semanggi dan Sayuran Lain source: dok. pribadi |
Bumbu Pecel:
- 50 gram kacang tanah yang sudah digoreng
- 50 gram singkong kukus
- 50 gram gula merah
- 1 sdm air asam jawa
![]() |
| Bahan Bumbu Pecel source: dok. pribadi |
Bumbu Halus:
- 3 buah cabai rawit (ini sesuai selera ya :))
- 2 lembar daun jeruk
- seruas kecil kencur
- 2 siung bawang putih goreng
- petis secukupnya
- terasi secukupnya
- garam secukupnya
- air matang secukupnya
![]() |
| Bumbu Halus Pecel Semanggi source: dok. pribadi |
Cara membuat:
- Pertama-tama haluskan bumbu halus lebih dulu. Lalu sisihkan.
- Haluskan singkong bersama gula merah dan air asam jawa. Campurkan bumbu halus yang telah dibuat dengan singkong halus. Ulek sampai merata sambil tambahkan air sedikit demi sedikit. Jangan lupa tes rasa ya.
- Rebus air hingga mendidih, lalu kecilkan api. Rebus secara berturut-turut daun semanggi, kecambah/tauge, kacang panjang dan bunga turi. Tips merebusnya cukup sebentar saja ya agar sayuran tidak terlalu matang dan kandungan gizinya tetap terjaga :) Kalau perlu,setelah diangkat dari air panas, teman-teman mama dapat melakukan proses blansir dengan merendam sayuran matang ke dalam air es :)
- Tata daun semanggi bersama sayuran lainnya diatas piring lalu siram dengan bumbu pecelnya. Jangan lupa disajikan bersama dengan kerupuk pulinya. Hmmm..nikmatnya :)
Menjaga Kelestarian Bahan Pangan Sekaligus Menjaga Kelestarian Alam Hutan
Agar pengalaman sempat langkanya menemukan pecel semanggi di Surabaya tidak kembali terulang, tentunya kita sebagai masyarakat perlu berkontribusi untuk menjaga kelestarian bahan pangan, dalam hal ini tidak hanya semanggi, tetapi juga bahan pangan lainnya terutama bahan pangan dari hutan. Hal ini tentu juga berkaitan dengan kepedulian kita untuk ikut menjaga kelestarian alam hutan. Saat ini, untuk berkontribusi menjaga kelestarian alam hutan pun tak lagi sulit. Beberapa organisasi lingkungan hidup berperan sangat aktif dalam menjaga kelestarian alam hutan. Salah satunya adalah WALHI atau Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.
Tentang WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)
WALHI adalah organisasi independen, non-profit dan terbesar di Indonesia. WALHI terbentuk atas gagasan Emil Salim (Menteri Lingkungan Hidup di tahun 1980) dan lahir tepat pada bulan Oktober 1980 melalui pertemuan beberapa tokoh dari lembaga yang fokus terhadap lingkungan hidup di sebuah forum nasional. Forum tersebut disponsori oleh Yayasan Pembinaan Suaka Alam dan Margawatsa Indonesia/ World Wirldlife Fund (WWF) yang diketuai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Nama Wahan Lingkungan Hidup dipilih kala itu karena bersifat netral tidak berpihak pada satu organisasi politik ataupun pemerintahan.
![]() |
| Fakta WALHI source: dok. pribadi |
Seiring berjalannya waktu, WALHI mulai menyadari bahwa perjuangan untuk mempertahankan kelestarian lingkungan adalah hal yang berat dan tidak mudah. Belum lagi kekuatan politik dalam negeri yang semakin berpihak kepada kepentingan ekonomi global. Karenanya, WALHI membutuhkan dukungan dari masyarakat luas untuk bersama-sama terlibat dan mengambil peran dalam upaya penyelamatan lingkungan hidup.
| Website Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) source: dok. pribadi |
![]() |
| Media Sosial WALHI source: dok. pribadi |
Teman-teman mama juga bisa follow akun media sosial WALHI di Instragram @walhi.nasional dan Facebook Page WALHI untuk mendapatkan berbagai update tentang kampanye WALHI ataupun isu-isu lingkungan hidup lainnya :)
Semoga kita semua semakin sadar untuk menjaga kelestarian alam, terutama alam hutan, agar sumber pangan padat gizi yang kaya manfaat tetap tersedia untuk kita bahkan sampai anak cucu kita kelak :) Yuk, jaga hutan kita!
Semoga bermanfaat ya :)
Disclaimer: Tulisan ini diikutsertakan di dalam Forest Cuisine Blog Competition yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.
Referensi:
Foto dan Infografis: Ajeng Natassia
Data Hutan dan Semanggi: www.google.com
Info WALHI: www.walhi.or.id















