Showing posts with label QRIS. Show all posts
Showing posts with label QRIS. Show all posts

Cara Milenial Manfaatkan Transaksi Digital Untuk Mendukung UMKM Dan Kemajuan Ekonomi Nasional

| on
January 31, 2021


 

 "Kaum milenial itu kan sangat melek informasi, mereka juga kritis, makanya di masa pandemi ini milenial harus jadi motor perubahan..." -Hetifah Syaifudian

 

Apa yang diungkapkan oleh Ibu Hetifah Syaifudian, Wakil Ketua Komisi X, DPR RI diatas mungkin hanya sebagian dari ciri kaum milenial. Selain dikenal sangat melek informasi dan cukup kritis, kaum yang juga dikenal sebagai Gen Y ini adalah kaum yang sangat akrab dengan dunia digital dan teknologi Bagaimana tidak, 85% dari waktu mereka dihabiskan untuk menggunakan gadget. Update di berbagai media sosial, menambah skill dan mencari ilmu dari mengikuti beragam webinar, sampai gemar berbelanja melalui platform digital ataupun melakukan traksaksi digital lainnya. Tidak heran jika pada akhirnya kaum milenial dijuluki sebagai generasi digital savvy. 

 

Lekatnya generasi milenial dengan dunia digital membawa Indonesia menduduki posisi teratas pengguna internet di Asia Tenggara dengan laju pertumbuhan pengguna internet mencapai lebih dari 40% per tahun dan telah menyentuh angka 196 juta jiwa atau 78% dari seluruh total populasi penduduk di Indonesia. 




Wow, apa iya setinggi itu? Ya, tentu saja. Dari data BPS di tahun 2020, angka populasi generasi milenial di Indonesia sendiri mencapai 69,90 juta jiwa atau 25,87% dari total populasi penduduk Indonesia, sedangkan angka populasi generasi Z  mencapai 27,94% dan jumlah ini diprediksi akan terus bertambah. 

 

Kombinasi dari total kedua populasi yang sama-sama generasi digital savvy inilah yang membuat Indonesia berada di peringkat teratas pengguna internet di Asia Tenggara. Selain itu, besarnya total populasi tersebut membuat Indonesia saat ini mengalami bonus demografi, dimana jumlah populasi penduduk dengan usia produktif cukup tinggi dari total populasi penduduk secara keseluruhan.


Nah, tingginya angka populasi kaum milenial serta keakrabannya dengan dunia digital terutama dalam bertransaksi digital kaum yang konon lahir di antara tahun 1980-1990an ini digadang-gadang dapat menjadi motor atau penggerak pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang cukup signifikan.

 

Coba bayangkan, jika ada 69,90 juta jiwa milenial yang gemar berbelanja melalui platform digital atau melakukan transaksi digital lainnya, lalu menularkan kebiasaan ini kepada generasi lainnya, misalnya ke generasi sebelum mereka, generasi X ataupun baby boomers. Jumlah transaksi digital tentu akan naik berkali lipat. Dampak naiknya jumlah transaksi digital ini tentu saja merupakan perubahan besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. 

 

 Milenial dan Transaksi Digital


Di masa pandemi COVID-19 ini, tidak dapat dipungkiri tren transaksi digital meningkat dengan pesat. Kondisi yang mengharuskan kita untuk lebih membatasi aktivitas di luar rumah, membuat kita lebih sering melakukan transaksi digital untuk berbelanja kebutuhan pokok, membeli pulsa atau sekadar jajan kopi dan makanan kekinian. Simpel saja, berkat kemudahan transaksi digital, kita dapat melakukan beragam transaksi hanya dengan aplikasi dompet digital yang ada di smartphone kita tanpa harus kemana-mana. 


Kemudahan dalam bertransaksi digital ini sangat sesuai dengan ciri khas generasi milenial yang sangat suka dengan dengan kemudahan dan kepraktisan dalam melakukan sesuatu. Mudah dan praktis jugalah yang menggiring kaum milenial lebih menyenangi bertransaksi secara cashless dengan memanfaatkan dompet digital. Belum lagi berbagai tawaran promo yang menggiurkan dari merchant yang bekerjasama dengan aplikasi dompet digital.


Kalau ada pertanyaan, ada kah teman-teman dari kaum milenial yang belum pernah melakukan transaksi digital? Jawabannya mungkin hampir tidak ada. 


Seringnya para milenial melakukan transaksi digital ini juga ditunjukkan dari data Bank Indonesia yang mencatat transaksi digital di e-commerce pada bulan Agustus 2020 mencapai hingga 140 juta transaksi. Data ini menunjukkan peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan bulan Agustus 2019 yang mencapai 80 juta transaksi. Seiring dengan meningkatnya transaksi digital di e-commerce di tahun 2020, penggunaan uang eletronik juga meningkat dengan signifikan mencapai 550 Milyar rupiah.


Saya yang tergolong dalam kaum milenial tidak memungkiri hal ini. Di dalam seminggu, saya bisa melakukan transaksi digital antara 2 sampai 3 kali. Bagaimana tidak, sebagai kaum milenial yang sangat suka dengan kemudahan dan kepraktisan dalam melakukan sesuatu, transaksi digital dengan sistem pembayaran cashless sangat memudahkan saya dalam bertransaksi untuk keperluan sehari-hari. Saya tidak perlu lagi repot-repot menyiapkan uang tunai dalam jumlah besar untuk menyelesaikan berbagai transaksi kebutuhan sehari-hari. Hal ini membuat saya dapat meminimalisir resiko penularan virus COVID-19.


" 68% pengguna dopet digital adalah kalangan milenial" -Ipsos

 

Nah, dari peningkatan tren tranksasi digital inilah, para milenial diharapkan dapat memanfaatkannya untuk ikut berkontribusi dalam memajukan perekonomian nasional, terutama mendukung UMKM (Usaha Kecil Mikro Menengah) guna mempercepat pemulihan ekonomi di masa pandemi. 

 

Mengapa UMKM? Sebab UMKM merupakan tulang punggung bagi perekonomian Indonesia. Menurut Ibu Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, 99% dari unit usaha di Indonesia adalah UMKM dengan nilai kontribusi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) mencapai 61%. Inilah mengapa UMKM memiliki peranan penting bagi perekenomian Indonesia.


Seperti yang kita tahu, pandemi COVID-19 memang memberi dampak terhadap perekonomian nasional Indonesia. Kapasitas produksi, tingkat konsumsi dan investasi terus menurun dan melemah di awal masa pandemi. Syukurlah, pada triwulan ke III tahun 2020, perekonomian nasional tumbuh menjadi -3,49% dari -5,32% pada triwulan ke II di tahun yang sama.


Sebagai kaum milenial, tentu kita ingin ikut berkontribusi untuk bersama-sama memajukan perekonomian nasional. Selain dijuluki sebagai generasi digital savvy dan senang akan segala kemudahan dan kepraktisan, kaum milenial juga dikenal sebagai kaum yang cukup peduli dan gemar memberi kontribusi untuk lingkungan di sekitarnya.


Maka, saat inilah waktu yang tepat untuk kita, para milenial memberi kontribusi untuk kemajuan ekonomi nasional dengan memanfaatkan transaksi digital, khususnya untuk mendukung UMKM di Indonesia. 

  


Seperti Apa Kira-kira Bentuk Kontribusi Yang Dapat Kita Lakukan Sebagai Kaum Milenial Untuk Mendukung UMKM Indonesia?


Mendukung UMKM dengan berbelanja produk buatan lokal melalui transaksi digital


Siapa yang masih senang membeli produk dari merek luar ternama? Tren membeli produk dari merek luar ternama sepertinya kini sudah mukai bergeser. Saat ini, para milenial lebih senang membeli produk buatan lokal dalam negeri yang kualitasnya ternyata sama bagusnya dengan produk buatan luar negeri.

Sebut saja beberapa produk lokal yang tidak kalah dari produk luar negeri, seperti BLP Beauty dari produk kosmetik, Kopi Kenangan dari produk food & beverages, Matoa dari produk fashion jam tangan, dan masih banyak lagi merek lokal yang sudah punya tempat di hati para milenial. Dan rata-rata produk-produk lokal ini sangat mudah didapatkan melalui tranksasi digital.

Kepercayaan para milenial untuk berbelanja produk lokal secara tidak langsung dapat mendongkrak penjualan produk dari UMKM. 

Penjualan produk yang meningkat, secara tidak langsung akan meningkatkan kapasitas produksi UMKM, lalu meningkatnya kapasitas produksi akan mendorong tingkat kebutuhan UMKM akan sumber daya manusia sehingga berdampak pada semakin terbukanya lapangan pekerjaan yang baru. Pada akhirnya, dari rantai yang saling bersambung ini dapat memberi dampak positif dalam pertumbuhan dan kemajuan ekonomi nasional.


Membantu memasarkan produk UMKM yang digunakan melalui dunia digital


Sebagai kaum milenial, saya pun sangat lekat dengan dunia media sosial. Di saat saya merasa terpuaskan saat membeli dan menggunakan produk UMKM terutama dari food & beverages yang saya beli, tanpa diminta saya akan dengan rela dan senang hati membagi informasi atas produk tersebut kepada teman-teman saya yang lain melalui sosial media yang saya miliki. Nah, dari memberikan testimonial positif di media sosial semacam ini secara tidak langsung kita telah membantu memasarkan produk UMKM ke lingkungan di sekitar kita sehingga semakin banyak orang yang mengetahui kualitas produk lokal yang tidak kalah bagusnya dari produk luar.


Mensosialisasikan kemudahan menjual produk dengan transaksi digital kepada UMKM yang belum terkoneksi dengan dunia digital


Meski kita tahu ada begitu banyak produk lokal UMKM yang berseliweran dalam dunia digital, tidak dapat dipungkiri bahwa di luar sana masih banyak yang belum tersentuh dengan digitalisasi. Menurut data dari Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM), hanya ada 4%-10% UMKM yang menjual produknya melalui platform digital. Untuk mendukung UMKM agar melek dunia digital, kita sebagai kaum milenial dapat membantu mensosialisasikan kemudahan menjual produk melalui transaksi digital kepada pemilik UMKM yang ada di lingkungan sekitar kita.


Membangun UMKM milik sendiri dan mengembangkannya secara digital


Sebagai kaum milenial yang senang berpikir kreatif dan kritis, tidak ada salahnya mencoba membangun UMKM milik sendiri di tengah tren transaksi digital yang sedang berkembang pesat. Segala akses informasi yang semakin mudah didapatkan dapat menjadi bekal dalam menemukan ide-ide kreatif untuk usaha yang akan dibangun nantinya. 

Semakin menjamurnya bisnis start-up, online shop, ataupun usaha offline yang telah terkoneksi dengan platform digital dan dompet digital adalah bukti bahwa para kaum milenial memiliki jiwa yang tangguh dalam beriwirausaha. Bisnis UMKM  milik para milenial ini secara tidak langsung memberi dampak positif bagi pertumbuhan dan kemajuan ekonomi nasional. Hingga Juli 2020 yang lalu, tercatat ada penambahan bisnis UMKM online hingga 38% di Indonesia. 


Dukungan Bank Indonesia Dalam Mendorong Transaksi Digital 


Bank Indonesia sebagai satu-satunya lembaga yang memiliki wewenang dalam mengatur dan menjaga sistem pembayaran, memberi dukungan penuh terhadap tren transaksi digital yang berkembang pesat. 




Beberapa bentuk dukungan Bank Indonesia dalam penguatan digitalisasi transaksi di Indonesia diantaranya:


1. Penguatan Ketentuan


Bank Indonesia melakukan penguatan pada tiga ketentuan peraturan yang berkaitan dengan tranksaksi digital diantaranya:

Peraturan Bank Indonesia no.18 /40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran


Surat Edaran Bank Indonesia No.18/22/DKSP perihal Penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital


Peraturan Bank Indonesia No.18/17/PBI/2016 tentang Uang Elektronik


2. Peluncuran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard)


Penyatuan berbagai macam QR Code dari berbagai Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) agar proses transaksi dengan QR Code dapat lebih mudah, cepat dan terjaga keamanannya. QRIS ini telah diluncurkan sejak tahun 2019 yang lalu dan sampai saat ini kurang lebih ada 5 juta merchant yang telah terdaftar menggunakan QRIS sebagai alat transaksi digital. Jika sebelumnya setiap PJSP memiliki QR code asing-masing, maka sejak diluncurkannya QRIS, cukup dengan satu QR Code dapat digunakan oleh PJSP manapun. Transaksi digital pun semakin murah, mudah, aman dan handal.

QRIS UNGGUL

UNiversal: Inkkusif untuk seluruh lapisan masyarakat

GampanG: Transaksi dengan mudah dan aman

Untung: Menguntungkan karena transaksi berlangsung efisien melalui satu QR Code

Langsung: Transaksi dengan QRIS langsung terjadi dengan proses yang cepat dan seketika

 

3. Pencanangan Blueprint Sistem (BSPI) 2025


Blueprint sistem pembayaran Indonesia (BSPI) 2025 untuk mendukung pembentukan ekosistem ekonomi dan keuangan digital yang kondusif.

Nah, ada 3 langkah yang ditempuh dalam pengimplementasian BSPI, diantaranya: 

Memperpanjang kebijakan Merchant Discount Rate QRIS sebesar 0% untuk merchant usaha mikro sampai dengan 31 Maret 2021.

Memperkuat dan memperkuas implementasi elektronifikasi dan digitalisasi baik di pusat maupun di daerah serta otoritas terkait melalui Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah.

Mendorong inovasi dan pemanfaatan teknologi serta kolaborasi perbankan dengan fintech melalui percepatan implementasi Sandbox 2.0 antara lain meliputi regulatory sandbox, industrial test, innovation lab dan start up.


4. Fasilitasi Pembangunan Ekosistem Digitalisasi Ekonomi dan Keuangan


Sebagai pendorong bagi pertumbuhan ekonomi ke depan, digitalisasi UMKM dan ekonomi halal perlu dilakukan sehingga ekonomi nasional lebih tahan dari gejolak global dengan penciptaan lapangan kerja yang besar dan inklusif.


5. Festival Edukasi Bank Indonesia (FESKABI)


Sebagai salah satu upaya mensosialisasikan transaksi digital, Bank Indonesia mengadakan gelaran Festival Edukasi Bank Indonesia (FESKABI) dengan target milenial sebagai target sosialisasi untuk memperkenalkan berbagai inovasi kebijakan untuk mendorong intergrasi ekonomi dan keuangan digital.


Nah, kolaborasi dari peran milenial dalam memanfaatkan transaksi digital untuk mendukung UMKM dan kemajuan ekonomi nasional bersama kebijakan dan produk keuangan dari Bank Indonesia diharapkan dapat mendorong kemajuan ekonomi nasional Indonesia khususnya di masa pandemi COVID-19 ini.  

Bank Indonesia

Twitter | Instagram 

Semoga bermanfaat :)



 




 

 






 

 

 

QRIS (QUICK RESPONSE INDONESIA STANDAR) MEMBUAT TRANSAKSI DIGITAL MENJADI LEBIH PRAKTIS

| on
March 13, 2020
-JAMAN MBIYEN-
(JAMAN DULU)

"Yuk, ngelak aku. Tuku ngombe yuk"
(Mbak, saya haus. Ayo beli minum)
"Yo wis ayuk"
(Ya sudah, ayo)
"Jus semangkanya satu ya mbak"
"Eh, sek sek. Astaghfirullah, Dompetku keri."
(Eh, sebentar sebentar. Astagfirullah. Dompet saya ketinggalan)
"Pean nggowo duwit ga?"
(Kamu bawa uang tidak?)
"Loh aku yo durung njupuk duwit."
(Loh saya juga belum ambil uang)
"Ya wis lah, ga sido tuku jus iki berarti."
(Ya sudah lah, tidak jadi beli jus ini berarti)
"Mbak, maaf ya ga jadi."
"Yo wis ayuk mulih. Ngombe nang omah ae."
(Ya sudah, ayo pulang. Minum di rumah saja)

---------------------------------------------------------

-JAMAN SAIKI -
(JAMAN SEKARANG)

"Yuk, ngelak aku. Tuku ngombe yuk"
(Mbak, saya haus. Ayo beli minum)
"Yo wis ayuk."
(Ya sudah, ayo)
"Jus semangkanya satu ya mbak"
"Eh, sek sek. Astaghfirullah, Dompetku keri."
(Eh, sebentar sebentar. Astagfirullah. Dompet saya ketinggalan)
"Pean nggowo duwit ga?"
(Kamu bawa uang tidak?)
"Loh aku yo durung njupuk duwit."
(Loh saya juga belum ambil uang)
"Oh sek, sek. Ta ndelok i nang hapeku"
(oh sebentar-sebentar. Saya lihatkan di handphone)
"Alhamdulillah ono saldo gopey aku."
(Alhamdulillah, saya ada saldo gopey)
"Mbak, bayarnya pakai QRIS ya!"
"Hah? Opoo iku?"
(Hah? Apa itu)
"Wis ta lah, ngko ta ceritani. Pokoke praktis toh. Ga masalah lek ga nggowo duit cash. Kare nge scan QRIS wis mari"
(Sudahlah, nanti saya cerita. Yang penting praktis kan. Tidak masalah kalau tidak bawa uang cash, tinggal scan QRIS sudah selesai)

Halo!

Siapa nih teman-teman mama yang sangat related dengan kejadian diatas? Dompet pernah tertinggal ketika mau membeli sesuatu, dan berujung tidak jadi? Itu sih jaman dulu ya. Kalau jaman sekarang dompet tertinggal, tinggal cek di aplikasi dompet digital, terus bayar deh pakai QRIS (baca: kris). Eh, QRIS? Apa tuh?

Oke, sebelum saya cerita detail tentang QRIS, rasanya kita perlu berterimakasih kepada teknologi yang semakin hari semakin canggih dan membuat hidup kita, (khususnya hidup saya sebagai ibu-ibu RT yang sukanya rise aka riweuh sendiri :')) menjadi jauh lebih mudah dan praktis. Sekarang apa-apa bisa dilakukan melaui smartphone. Mau simpan uang, ada aplikasinya. Lapar tapi mager, ada caranya. Mau atur keuangan, ada aplikasinya. Cari-cari barang atau belanja keperluan tinggal pencet. Anak minta beli jajan, tinggal order. Cara melakukan transaksinya pun mudah, biasanya bisa pakai cash atau transfer bank, atau yang paling praktis, pakai saldo di dompet digital.

Mau Jajan Roti Pakai QR :)
source: dok. pribadi
Di era digital seperti sekarang ini, dompet digital dengan segala kecanggihannya mulai membentuk masyarakat menjadi cashless society atau masyarakat tanpa tunai. Sebagian besar dari kita pasti punya e-wallet atau dompet digital, aplikasi elektronik yang biasa kita gunakan untuk membayar transaksi secara online, tanpa perlu uang tunai ataupun kartu ATM.  Di Indonesia, ada beberapa contoh aplikasi e-wallet atau dompet digital, sebut saja Gopay, OVO, DANA, Link Aja, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Keberadaan aplikasi e-wallet atau dompet digital di Indonesia tersebut merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan cashless society di Indonesia.  Dengan dompet digital, kita bisa melakukan transaksi secara cashless dan jauh lebih aman karena tidak perlu membawa uang cash berlebih serta dilindungi dengan nomor PIN yang hanya bisa diakses oleh kita sendiri.

Input PIN
source: dok. pribadi

Bertransaksi dengan menggunakan dompet digital menjadi semakin menarik karena aplikasi dompet digital menawarkan berbagai promo cashback setiap kita bertransaksi di setiap merchant. Pastinya familiar dong dengan promo cashback yang terpampang nyata di gerai toko kopi favorit, restoran nasi goreng kesukaan anak, bahkan store brand pakaian andalan. Cara bertransaksi nya pun sangat praktis, kita cukup masuk ke aplikasi dompet digital, scan QR Code yang tersedia di kasir, masukkan nomor PIN, beres! :)

Apa sih QR Code itu?

Teman-teman mama sebagian besar pasti sudah hafal banget dengan wujud si QR Code. Atau ada yang belum nih? Nah untuk yang belum seberapa ngeh, QR Code atau Quick Response Code adalah barcode dua dimensi dengan kombinasi titik hitam dan putih. QR Code sendiri awalnya ditemukan oleh Denso Wave di tahun 1994 dengan tujuan untuk mempercepat proses pemindaian komponen otomotif pada bagian perakitan dan pergudangan.
Konon, QR Code mempunyai kemampuan membaca sampai 10 kali lebih cepat dari kode-kode lainya. Wow!


Seiring berjalannya waktu, QR Code semakin berkembang dan digunakan dengan berbagai tujuan, termasuk dalam transaksi pembayaran yang dikenal sebagai QR Payments. QR Payments atau Quick Response Payment inilah yang kita gunakan pada saat bertransaksi menggunakan dompet digital. Kalau teman-teman mama cukup sering bertransaksi dengan QR Payment, pasti pernah deh melakukan dua cara scanning yang berbeda.

Scanning QR Code
source: dok.pribadi
QR Payment memang terbagi di dalam dua tipe yatu Statis QR Payment dan Dinamis QR Payment. Lalu apa beda keduanya? Yuk lah kita cekidot...
  • Statis QR Payment: Kita tinggal scan QR Code yang ada di merchant, lalu input jumlah transaksi beserta nomor PIN. Saldo dompet digital kita akan langsung berkurang sesuai dengan jumlah transaksi yang kita input tadi. Statis QR Payment ini sesuai untuk merchant dengan level usaha kecil dan mikro dengan omzet Rp 300 JT - Rp 2,5 M per tahun.
Dinamis QR Payment
Source: dok. pribadi

  • Dinamis QR Payment
    : Merchant akan menginput jumlah transaksi kita lalu mencetak QR Code sesuai dengan nominal transaksi kita. Nantinya print out QR Code tersebut tinggal kita scan dengan aplikasi dompet digital, masukkan PIN dan selesai. Dinamis QR Payment ini sesuai untuk merchant dengan level usaha mengenah dan besar dengan omzet Rp 2,5 M - Rp 50 M per tahun.
Transaction Done :)
source: dok pribadi

Bervariasi nya aplikasi dompet digital di Indonesia, membuat merchant perlu menyediakan beberapa QR Payment. Sering kan kita melihat merchant dengan papan yang berjejer rapi di kasirnya? Kalau merchant bekerja sama dengan 3 aplikasi dompet digital, maka ada 3 papan QR Payment berjejer rapi di kasir. Bagaimana kalau 4 atau 5? Bisa dibayangkan kasirnya akan penuh dengan papan QR Payment :')

QR Payment di Indonesia

Tren penggunaan QR Payment di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang cukup masif dari tahun ke tahun. Sepanjang semester tahun 2019, Bank Indonesia mencatat transaksi uang elektronik senilai lebih dari Rp 69 Triliun, dengan volume traksaksi sampai 2,7 miliar. Jumlah ini meningkat pesat dibandingkan dengan transaksi uang elektronik tahun 2018 sebesar Rp 47 Triliun, dengan volume transaksi 2,9 miliar sepanjang tahun dan tahun 2017 yang hanya Rp 12 Triliun dengan volume transaksi 943,3 juta. Wow!


Sebenarnya alasan utama meningkatnya transaksi elektronik di Indonesia adalah keterkaitan antara angka kepemilikan smartphone yang meningkat serta ketersediaan dompet digital untuk mendukung transaksi dengan menggunakan smartphone.
Dari data di tahun 2017, kepemilikan smartphone penduduk Indonesia mencapai angka 64,8% sedangkan penduduk yang mempunyai rekening bank hanya sebesar 48,9%. 
Aplikasi dompet digital dan penggunaan QR Payment menjadi jawaban untuk masyarakat dalam melakukan transaksi secara cashless dengan mudah meski tidak memiliki rekening bank.

Fenomena penggunaan QR Payment yang semakin marak ini membuat Bank Indonesia (BI) sebagai pemangku kebijakan keuangan di Indonesia merancang dan menetapkan standarisasi sistem pembayaran berbasis QR di Indonesia. Upaya ini juga sekaligus sebagai wujud sosialisasi kepada semua kalangan masyarakat mengenai sistem pembayaran yang menggunakan QR. Jadi, penggunaan QR Payment di Indonesia ada standarnya, yang disebut dengan QRIS atau Quick Response Indonesia Standar.

QRIS



QRIS (Quick Response Indonesia Standar) dirancang oleh Bank Indonesia untuk memudahkan kita, sebagai konsumen maupun merchant dalam melakukan transaksi dengan menggunakan QR Payment. Seperti yang sudah saya tulis diatas, sebelum adanya QRIS, setiap aplikasi dompet digital mempunyaki QR Code nya masing-masing atau dapat dikatakan QR Code yang bersifat ekslusif yang hanya dapat terbaca oleh penerbitnya. Nah, dengan QRIS, QR Code tersebut menjadi bersifat inklusif. Cukup dengan satu QR Code saja, dapat terbaca oleh semua aplikasi dompet digital. Semakin mudah dan praktis kan? :)

Sebagai pedoman implementasi QRIS di Indonesia, Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) No.21/18/PADG/2019 tentang Implementasi Standar Nasional Quick Response Code untuk Pembayaran pada tanggal 16 Agustus 2019 yang lalu. Adanya peraturan ini bertujuan untuk memastikan layanan pembayaran yang menggunakan QRIS di Indonesia dapat berjalan dengan baik. Sedangkan untuk implementasi QRIS sendiri mulai berlaku efektif sejak 1 Januari 2020 yang lalu. Kalau untuk ATM ada GPN (Gerbang Pembayaran Nasional) sebagai standarnya, maka untuk QR Payment ada QRIS (Quick Response Indonesia Standar) :)

Tagline QRIS

Peluncuran QRIS ini juga merupakan salah satu implementasi dari Visi Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025 yang telah dicanangkan sejak Mei 2019 yang lalu oleh Bank Indonesia sebagai dukungan terhadap integrasi ekonomi keuangan digital nasional dan digitalisasi perbankan.

Nah, bagaimana teman-teman mama sudah mulai dapat wangsit gambaran kan tentang QRIS? :)

Apa saja sih manfaat yang bisa didapatkan dengan menggunakan QRIS dalam bertransaksi?

Sejak adanya aplikasi dompet digital, saya pun tidak ketinggalan untuk menggunakannya, baik untuk berbelanja ataupun membeli makanan saat sedang berjalan-jalan bersama suami dan anak kebetulan memang saya hobi jajan sih :P


Contoh EDC dengan QRIS
source: dok. pribadi

Sepertinya, sejak adanya QRIS saya akan lebih sering menggunakan QR Payment untuk berbelanja ataupun membeli makanan dan kebutuhan lainnya, tentu saja karena segudang manfaat yang bisa saya dapatkan saat menggunakan QRIS, seperti:
  • QRIS sangat praktis. Bertransaksi dengan menggunakan QRIS jelas jauh lebih praktis karena cukup dengan scanning satu QR Code untuk semua aplikasi dompet digital, lalu masukkan nominal transaksi dan PIN selesai deh. Meski hanya punya satu aplikasi dompet digital, tetap bisa menggunakan QRIS.
  • Sangat aman. QRIS hanyalah alat yang digunakan untuk bertukar informasi. Setiap data yang ditransfer melalui QR Code dienkripsi sehingga proses bertransaksi pun menjadi sangat aman. Selain itu, kita tidak lagi perlu membawa uang tunai secara berlebihan saat akan keluar rumah, apalagi saya yang sering bepergian dengan kendaraan umum. Bye-bye lah tengak tengok kiri kanan sepanjang jalan karena takut jadi korban kriminal di jalanan. Naudzubillah...
  • Banyaaak Promo. Naluri ibu-ibu memang tidak bisa dibohongi apalagi soal promo, hehehe. Aplikasi dompet digital saling berlomba-lomba memberi promo cashback, buy 1 get 1, ataupun promo lainnya kepada para penggunanya. Eits, meski kadang cashbacknya 10%-20% padahal ngarepnya 50% :P kalau dikumpul-kumpul lumayan sekali loh, bisa buat jajan lagi atau beli pulsa. Jatuhnya juga menjadi jauh lebih hemat saat bertransaksi dengan QRIS.
  • Membantu mengatur anggaran rumah tangga. Masih soal naluri ibu-ibu, dengan QRIS saya jadi bisa mengontrol anggaran pengeluaran rumah tangga. Misalnya nih, untuk jajan-jajan di mall, tinggal top up saldo dompet digital sesuai dengan budget saat itu. Tapi, kalau sudah habis, tetap harus disiplin dong, jangan diisi lagi, nanti malah overbudget dan berujung boncos alias rugi.. yaah... Selain itu, transaksi yang tercatat pada histori pembayaran dengan QRIS dapat memudahkan kita untuk mengontrol pengeluaran. Kita tidak perlu lagi repot-repot mencatat pengeluaran dengan cara konvensional. Dari histori tersebut bisa ketahuan deh pengeluaran yang paling besar dimana, sehingga bisa dikontrol untuk kedepannya :)
  • Bisa top saldo dimana saja. Top up saldo dompet digital dapat kita lakukan dimana saja, bisa melalui rekening bank, ATM, supermarket, minimarket bahkan di driver taksi online juga bisa :))
  • Bisa digunakan oleh semua kalangan. Seperti yang saya tulis diatas, transaksi dengan QRIS dapat dilakukan oleh siapa saja meski tidak mempunyai rekening bank sekalipun. Cukup dengan smartphone, aplikasi digital dan sinyal internet juga saldo yang terisi transaksi dengan QRIS dapat dilakukan dengan ringkas dalam waktu yang singkat :)
  • Menjadi penolong saat lupa membawa uang cash. Ilustrasi singkat saya diatas adalah contoh nyata kalau QRIS bisa menjadi penolong disaat kita lupa membawa uang cash apalagi jika keperluannya sangat mendesak. Coba dibayangkan, pas ada keperluan mendesak, ternyata lupa bawa uang cash, terus masih harus muter-muter lagi cari mesin ATM untuk cari uang cash. Dengan QRIS, ceritanya akan jadi beda, tinggal mengeluarkan smartphone, scanning QRIS, masukkan nominal dan PIN, selesai.
  • Lebih aman untuk menjaga kebersihan tangan. Di musim virus seperti sekarang ini, pilihan bertransaksi dengan QRIS menjadi salah satu pilihan tepat untuk mengurangi resiko tangan kita terkontaminasi bakteri dari uang cash. Punya uang cash tetap penting, tetapi mengurangi frekuensi penggunaannya untuk saat ini adalah salah satu keputusan yang tepat demi menjaga kesehatan bersama :)
Cukup banyak kan manfaat yang bisa kita dapatkan dengan bertransaksi menggunakan QRIS? :)

Salah satu papan QRIS di merchant Wisata Rasa Sidoarjo
source: dok. pribadi

Selain manfaat untuk kita sebagai konsumen, QRIS juga punya segudang manfaat bagi merchant yang menggunakannya loh. Lalu, apa saja sih manfaat QRIS bagi merchant?

Manfaat QRIS bagi merchant:
  • Mengikuti tren pembayaran secara non-tunai-digital dan potensi cakupan penjualan semakin luas karena tersedia alternatif pembayaran selain kas.
  • Meningkatkan penjualan karena cakupan yang semakin luas.
  • Mengurangi kebutuhan akan uang tunai, seperti tidak lagi memerlukan uang kembalian.
  • Mempermudah dalam memonitor uang hasil penjualan karena uang hasil penjualan dari QRIS langsung tersimpan di rekening bank dan bisa dilihat setiap saat.
  • Mengurangi resiko uang hilang/dicuri.
  • Menguragi resiko kerugian karena menerima pembayaran dengan uang palsu.
  • Transaksi tercatat secara otomatis dengan histori transaksi yang dapat dilihat sewaktu-waktu.
  • Membangun credit profile bagi bank sehingga peluang untuk mendapatkan modal kerja menjadi lebih besar.
  • Memudahkan dalam melakukan pembayaran tagihan, retribusi ataupun pembelian barang secara non tunai tanpa meninggalkan toko.
  • Sebagai wujud keiikutsertaan dalam program pemerinta (Bank Indonesia, kementrian dan Pemda).
Semakin yakin ya kalau QRIS punya berjuta manfaat untuk kita :) Berdasarkan pengalaman saya sejauh ini, dengan QRIS transaksi digital menjadi jauuh lebih praktis. Kalau pun ada yang perlu diperbaiki hanyalah sosialisasi yang perlu dilakukan secara menyeluruh ke seluruh lapisan masyarakat, termasuk juga karyawan merchant yang langsung terlibat di dalam proses bertransaksi dengan konsumen, sebab beberapa dari mereka sepertinya belum begitu mengerti tentang manfaat QRIS :) Serta pencatuman logo aplikasi dompet digital pada papan QRIS yang sepertinya tidak lagi perlu, karena hanya dengan satu QRIS bisa digunakan untuk semua aplikasi dompet digital :)

After all, segala kemudahan dan kepraktisan QRIS tentu harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tidak juga menjadi berlebihan namun tetap di dalam kontrol dan kedisiplinan dengan harapan kita menjadi cashless society yang cerdas secara financial dan digital :)


Nah, dalam rangka sosialisasi QRIS, Bank Indonesia secara serentak menyelenggarakan Pekan QRIS Nasional di seluruh Indonesia mulai dari tanggal 9 Maret - 15 Maret 2020. Untuk teman-teman mama di daerah Surabaya dan sekitarnya, puncak acara Pekan QRIS Nasional akan diadakan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Surabaya Jalan Pahlawan no.105 Surabaya pada tanggal 15 Maret 2020 mulai dari pukul 06.00 - 11.00 WIB. Yuk, podo-podo ngerameni Pekan QRIS Nasional :)

Nah, untuk teman-teman mama diluar Surabaya, silakan bisa cek ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia di daerah teman-teman mama ya :)

Semoga bermanfaat ya :)

#ArtikelNggaweQRISRek #PekanQRISNasional

Bank Indonesia
Twitter: @bank_indonesia | Instagram: @bank_indonesia | Website: www.bi.go.id


Referensi:
Foto dan Infografis: Ajeng Natassia
www.bi.go.id