Showing posts with label PARENTING. Show all posts
Showing posts with label PARENTING. Show all posts

MENGENALKAN KUMAN & PENTINGNYA MENJAGA KEBERSIHAN KEPADA ANAK MELALUI BUKU, AKTIFITAS DAN TAYANGAN #3

| on
April 20, 2020

Halo!

Nah, ini adalah blog post terakhir dari trilogi (ya kali trilogi hahaha) blog post mengenalkan kuman dan pentingnya menjaga kebersihan kepada anak. Kali ini tentang beberapa tayangan di channel Youtube yang memberi edukasi kepada anak tentang kuman dan pentingnya menjaga kebersihan. Perihal memberi screen time pada anak, tentunya teman-teman mama punya kebijakannya masing-masing dan disini saya sebatas memberi rekomendasi tayangan yang biasa saya dan Aliyah tonton bersama :)

Sepengetahuan saya tidak banyak channel Youtube anak-anak yang memberi edukasi tentang mengenalkan kuman dan pentingnya menjaga kebersihan kepada anak, dan beberapa channel berikut adalah channel yang memberi pengalaman kepada saya dan Aliyah tentang hal tersebut. Kalau teman-teman mama ada rekomendasi yang lain, plis share di kolom komen ya :)


  • NUSSA

Siapa sih yang ga suka dengan Nussa dan Rara si anak sholeh dan sholehah yang menggemaskan? Dulu awalnya Aliyah kurang begitu suka dengan Nussa. Alhamdulillah semakin Aliyah bertumbuh, Aliyah semakin suka dengan Nussa dan Rara. Melalui tayangan Nussa dan Rara, Aliyah dapat belajar berperilaku dengan akhlak yang baik (Aamiin, InsyaAllah) seperti Nussa dan Rara. Nussa pun tidak ketinggalan memberi tayangan yang mengedukasi anak tentang kuman dan pentingnya menjaga kebersihan. Meski tergolong sponsored post, namun tayangan nya bagus banget untuk mengajarkan anak pentingnya mencuci tangan agar terhindar dari kuman. Dengan ciri khas Nussa, pastinya ada nilai-nilai agama dari ayat Al Quran dan Al Hadits yang tersirat yang berkaitan dengan tayangannya :)

Cuci Tangan Yuk




  • BABY BUS
Baby Bus adalah salah satu channel Youtube favorit anak-anak, terutama anak balita. Tayangan di channel Baby Bus ada yang berbahasa Inggris ada pula yang berbahasa Indonesia. Nah, untuk tayangan mengenalkan kuman dan pentingnya menjada kebersihan kepada anak, saya share yang berbahasa Inggris ya :) Baby Bus punya banyak banget tayangan edukasi untuk anak-anak dan sejauh ini rasanya Baby Bus paling punya banyak stok tayangan edukasi untuk mengenalkan kuman dan pentingnya menjaga kebersihan pada anak. Beberapa judul tayangannya diantara lain:

Germs On Baby Kitten's Hand



Germs in My Nose


Germs Are Making A Mess in Baby Panda's


Go Away Bad Germs



  • BABY FIRST
Baby First adalah salah satu tontonan favorit saat Aliyah masih berusia 1-2 tahun. Saya sendiri juga suka dengan channel Baby First karena gerak gambarnya tidak terlalu cepat dan cukup nyaman untuk ditonton anak-anak. Untuk tayangan Baby First yang mengedukasi tentang kuman dan menjaga kebersihan, saya hanya punya satu rekomendasinya :)

Wash Your Hands



  • UPIN DAN IPIN
Upin dan Ipin si kembar tak seiras dari negeri seberang juga menjadi salah satu tayangan favorit yang ditonton kami di rumah (termasuk saya dan suami saya hehe) karena selalu ada unsur komedi di dalamnya, hihi. Ternyata Upin dan Ipin pun punya episode tentang kuman dan virus namun dalam konteks pentingnya vaksinasi sebagai upaya menjaga tubuh agar terhindar dari virus. Pesan yang disampaikan juga sangat bagus, saya dan Aliyah bisa sangat relate dengan pesannya, mungkin karena episode Upin dan Ipin yang ini kami tonton di tengah #dirumahaja dalam masa pandemi. Selain itu, episode ini juga mengedukasi anak agar berani pergi ke dokter untuk mendapatkan vaksin :)

Hapuskan Virus


  • COCOMELON
Cocomelon juga menjadi salah satu channel tontonan favorit Aliyah di rumah. Jika beberapa channel diatas lebih menyajikan tontonan dengan alur cerita, berbeda dengan Cocomelon yang lebih banyak menyajikan tontonan dengan nyanyian. Untuk adik-adik yang berusia lebih kecil biasanya suka banget dengan Cocomelon. Nah, Cocomelom juga punya nih nyanyian untuk mengenalkan kuman dan pentingnya menjaga kebersihan kepada anak :) 

Wash Your Hands Song



Nah, kurang lebih kelima channel diatas yang menjadi rekomendasi versi saya dan Aliyah untuk belajar mengenal kuman dan pentingnya menjaga kebersihan. Tentunya juga diiringi dengan penggunaan waktu untuk menonton dengan bijak :) Kalau versi teman-teman mama apa nih tontonan yang seru yang biasanya ditonton bersama anak di rumah? Yuk, share di komen yaa :)

Semoga bermanfaat ya dan sehat selalu ya :)

MENGENALKAN KUMAN & PENTINGNYA MENJAGA KEBERSIHAN KEPADA ANAK MELALUI BUKU, AKTIFITAS DAN TAYANGAN #2

| on
April 17, 2020

Halo!

Setelah di blog post sebelumnya saya sharing beberapa rekomendasi buku untuk mengenalkan kuman dan pentingnya menjaga kebersihan kepada anak, kali ini di bagian dua saya akan sharing beberapa aktifitas sederhana yang dapat dicoba di rumah untuk mengenalkan kuman dan pentingnya menjaga kebersihan kepada anak :) Semua aktifitas ini sudah dicoba juga dilakukan bersama Aliyah di rumah dan ternyata dapat membuat Aliyah paham pentingnya menjaga kebersihan dan mencuci tangannya terutama dengan menggunakan sabun. 

  • Hus-Hus Kuman Pergi

Aktifitas ini sebenarnya sudah banyak banget di sharing di media sosial, dan teman-teman mama mungkin juga sudah banyak yang tau ya :) Melalui aktifitas ini, Aliyah jadi punya bayangan wujud dari kuman di tangannya kira-kira sekecil apa (lebih kecil dari serbuk lada/ glitter) dan bagaimana sabun pencuci tangan dapat bekerja mengusir kuman dari tangannya :) Kita hanya perlu menyiapkan serbuk lada/ glitter yang ditaburkan di atas air yang sudah dituang pada piring makan serta sabun cuci tangan. Piring makan yang digunakan sebaiknya yang cenderung lebar dan rata agar serbuk lada/glitter akan lebih jelas terlihat saat menyebar :)

Jadi step by step nya adalah pertama celupkan jari tangan anak kedalam piring yang berisi serbuk lada/glitter. Setelah serbuk lada/glitter menempel di jari, celupkan jari anak ke dalam cairan sabun pencuci tangan. Lalu celupkan kembali jari anak ke dalam piring. Nanti akan terlihat serbu lada/glitter yang diumpakam sebagai kuman akan menyebar menjauhi jari anak karena cairan sabun pencuci tangan :)

Oh iya setelah dicoba, ternyata aktifitas ini hanya dapat dilakukan satu kali. Saat saya dan Aliyah mencoba mencelupkan jari kembali untuk kali kedua, ternyata sudah ga ngefek apa-apa hehehe, jadi kami kembali menyiapkan step by step nya dari awal lagi :) Efeknya bagaimana untuk Aliyah? Aliyah jadi lumayan paham banget pentingnya mencuci tangan menggunakan sabun :)

  • Germs Puppets

Sebenarnya aktifitas ini berawal hanya dari mewarnai gambar kuman. Saya coba search gambar kuman yang agak gemas untuk diwarnai oleh Aliyah. Berhubung kami tidak ada printer di rumah, jadi saya coba gambar sendiri (Alhamdulillah gambarnya sederhana, jadi ga seberapa bikin pusing pala mamak :')) Aliyah suka sekali dengan gambar kumannya dan sangat antusias saat mewarnai. lalu tiba-tiba dia punya ide dengan mengambil beberapa stik ice cream, meminta saya untuk membantunya menggunting gambar lalu ia menempelkan si kuman gemas ini pada stik ice cream yang diambilnya.

Ternyata jadilah Germs Puppets, hihi. Nah, daripada Germs Puppets nya cuma dipegang-pegang begitu saja, akhirnya saya buat cerita ke Aliyah. Ceritanya sih sederhana saja, karena saya juga ga bakat mendongeng hehe. Kurang lebih intinya ada segerombolan kuman yang sedang berjalan-jalan mencari  tangan yang kotor. Lalu, kumannya menempel ke tangan Aliyah karena tangan Aliyah kotor (dilakukan dengan menempelkan puppetsnya ke tangan Aliyah).

Cerita setelahnya, Aliyah mencuci tangan dan kuman-kuman nya jadi ketakutan dan pergi (dengan pelan-pelan menurunkan puppets nya dari tangan Aliyah). Aliyah sendiri ternyata cukup menikmati cerita sederhanya dari Germs Puppets buatannya, hihihi. Oh iya puppetsnya sampai diberi nama sesuai bentuk/warnanya, ada kuman ulat, kuman stroberi, kuman durian, kuman kacang dan kuman cicak hahaha.

  • Germs Straw Blow Painting Art

Masih seputar aktifitas yang berhubungan dengan seni, kali ini kami mencoba membuat lukisan kuman. Dari contohnya, seharusnya aktifitas ini bisa diberi gambar mata dan tangan untuk lucu-lucuan tapi malah menjadi lukisan semi abstrak karya Aliyah, haha. Kalau melukis biasanya langsung dengan kuas dan cat, di aktifitas ini agak sedikit berbeda karena melukis dengan menggunakan sedotan :) Cara nya dengan menesteskan cat air di atas kertas dan dilakukan satu per satu lebih dulu. Lalu kita bisa meminta anak untuk meniupkan cat tersebut ke segala arah secara acak. Selain melatih imajinasi dan kreatifitas anak, aktifitas ini juga bagus banget untuk membantu melatih kemampuan oral motor anak dengan meniup sedotan (meniup salah satu stimulasi yang dapat dilakukan untuk melatih kemampuan berbicara pada anak :))

  • Benang Kuman

Nah, kalau aktifitas ini versi membuat DIY :) Beberapa anak mungkin kurang suka melakukan DIY, beberapa yang lain mungkin suka banget. Seperti Aliyah, yang sebenarnya kurang suka membuat DIY, tapi tetap dicoba dilakukan sebagai variasi aktifitas selama #dirumahaja. Cara membuat Benang Kuman ini sangat sederhana, benang wol (kalau ada, kalau ga ada pakai benang jahit juga gapapa :), atau tali-talian yang lain yang ada di rumah seperti pita, rafia, dll :)) lalu ditempelkan diatas kertas secara acak saja. Setelahnya bisa dihias dengan manik mata (kalau ga ada bisa pakai gambar mata dari kertas) diberi hidung dan tangan dari tali dengan warna yang berbeda. Bentuk hasilnya akan super gemas sih hehe. Melalui aktifitas ini, untuk adik-adik yang berusia 2-3 bisa belajar menempel dan menggunting  tali :)

  • I had A Flu

Masih di aktifitas versi membuat DIY, I Had A Flu adalah gambar anak yang ceritanya sedang bersin, hihi. Kita cukup menggambar figur si anak bersin (bisa disesuaikan juga dengan karakter anak kita :)) lalu meminta anak untuk mewarnai gambar figur tersebut. Versi saya dan Aliyah adalah gambar anak perempuan dengan poni :)) Gambarnya diwarnai oleh saya (karena Aliyah waktu itu lagi mager :')) lalu kami menempelkannya bersama-sama. Jangan lupa memberi lubang dibagian hidung ya, teman-teman mama :) Nanti kita tinggal ambil selembar tisu (boleh juga kain yang tidak terpakai :)), lalu meminta anak untuk memberi motif pada tisu seolah-olah kuman.

Cara mainnya sederhana, tinggal memasukkan tisu ke dalam lubang dan menariknya keluar sambil membuat suara bersin. Dari DIY I Had A Flu, Aliyah jadi bisa belajar kalau ia sedang bersin, ternyata ada kuman yang keluar dari dalam hidungnya. Aliyah jadi mengerti mengapa ketika ia sedang flu, ia harus menggunakan masker agar tidak menulari teman-temannya :) Satu-satunya tips versi saya dalam membuat DIY, untuk menghindari anak keburu cranky/ bosan saat menunggu kita menggambar, sebaiknya gambar dan bahan disiapkan lebih dulu ketika anak sedang tidur. Jadi saat bangung bisa langsung bebikinan deh :)


Nah, kelima aktifitas diatas adalah aktifitas yang dicoba dilakukan di rumah oleh saya dan Aliyah dalam mengenal kuman dan pentingnya menjaga kebersihan :) Kalau teman-teman mama punya aktifitas seru apa nih buat mengenalkan kuman dan pentingnya menjaga kebersihan ke anak? Yuk, share sama-sama disini, siapa tau bisa jadi ide untuk saya dan teman-teman mama yang lainnya :)

Semoga bermanfaat ya :)

Selamat bermain!


MENGENALKAN KUMAN & PENTINGNYA MENJAGA KEBERSIHAN KEPADA ANAK MELALUI BUKU, AKTIFITAS DAN TAYANGAN #1

| on
April 14, 2020

Halo!

Di blog post kali ini, saya ingin berbagi tentang beberapa rekomendasi buku, aktifitas dan tayangan untuk mengenalkan kuman kepada si anak toddlers. Saya dan Aliyah sudah mencoba nya dan ternyata lumayan dapat membuat Aliyah mnegerti tentang bahaya kuman dan pentingnya menjaga kebersihan dirinya :) Blog post untuk judul ini akan terbagi di dalam tiga bagian. Nah, yang pertama adalah rekomendasi buku yang bisa dibaca bersama anak :)


  • What Are Germs? 
Buku ini adalah buku bacaan pertama Aliyah dalam mengenal kuman (virus, bakteri, dll). Buku ini bagus banget karena gambar di dalamnya sangat kanak-kanak dengan kalimat-kalimat yang sangat sederhana. Karena bukunya juga pop-up, jadi menambah daya tarik anak dalam membacanya.


Setelah membaca buku ini, Aliyah jadi punya gambaran imajinasi bagaimana sih bentuk kuman itu, dimana saja kuman biasa hidup dan singgah, apa yang tidak boleh dilakukan untuk menghindari kuman masuk ke dalam tubuh dan berbagai penjelasan sederhana versi anak-anak lainnya.


Saya sendiri tidak membeli buku ini, melainkan saya pinjam dari @pinjambukuanakdarrel , tempat saya biasa meminjam buku secara online :) Buku ini telah dua kali saya pinjam saking sukanya, hehehe.

ALSO READ: PINJAM BUKU ONLINE SURABAYA | @PINJAMBUKUANAKDARREL


  • Germs Make Me Sick!
Buku ini sebenarnya kurang disuka oleh Aliyah karena gambar ilustrasinya (ini cuma soal selera yaa :'D) Saya sendiri suka dengan isinya yang sangat detail.


Buku ini sama bagusnya dengan What Are Germs? bahkan cenderung lebih detail.  Dari judulnya, Germs Make Me Sick!, sudah ketahuan kalau buku ini ditulis dengan bahasa Inggris,  namun tanpa disertai terjemahan. Ceritanya tersusun dari kalimat yang panjang-panjang serta gambar ilustrasi yang sedikit lebih kompleks.


Buku ini mungkin lebih sesuai untuk si kakak yang duduk di bangku sekolah dasar. Sama seperti What Are Germs?, buku Germs Make Me Sick! juga saya pinjam dari @pinjambukuanakdarrel.


  • Cerita Si Korona
Mungkin sebagian dari teman-teman mama juga sudah sangat familiar dengan Cerita Si Korona. Pertama kali saya tau Cerita Si Korona dari grup Whatsapp. Cerita Si Korona ditulis oleh mbak Watiek Ideo dan mbak Luluk Nailufar sebagai ilustratornya. Ceritanya sangat sederhanya, ilustrasinya sangat anak-anak meski awalnya Aliyah sempat mengernyitkan dahi saat melihat Si Korona, namun buku ini bagus banget karena berhasil memberi gambaran ke Aliyah apa sih Korona yang selalu disebut oleh saya, baba nya bahkan tontotan di televisi.


Dari buku ini, Aliyah jadi mengerti mengapa ia tidak bersekolah dan tidak keluar rumah (dalam konteks ini, Aliyah sudah lebih dulu membaca What Are Germs? Oh iya, Cerita Si Korona milik saya adalah hasil print dari file PDF yang legal dibagi oleh penulisnya :) Saat ini sudah tersedia buku nya dengan harga yang sangat terjangkau untuk versi yang lebih awet disimpan :) Sampai sekarang mbak Watiek Ideo dan mbak Luluk Nailufar terus menulis kelanjutan dari Cerita Si Korona dan rutin mengupdate nya di akun instagram mereka :)

Ga banyak ya ternyata rekomendasinya? hehee. Meski cuma tiga buku, tapi ternyata ketiga buku tersebut lumayan dapat memberi pemahaman kepada Aliyah tentang kuman dan pentingnya menjaga kebersihan. Versi Aliyah yang menjadi favorit adalah What Are Germs? Setelah membacanya, Aliyah jadi ga susah kalau disuruh cuci tangan, bahkan mulai sering sadar-sadar sendiri kalau rajin cuci tangan sangat penting untuk kebersihan dan kesehatan tubuhnya, hihi.

Nah, kalau teman-teman mama ada rekomendasi buku apa nih untuk mengenalkan kuman dan pentingnya menjaga kebersihan kepada anak? Yuk, share di komen siapa tau bisa jadi referensi saya dan teman-teman yang lain :)

Semoga bermanfaat ya :)






KETIKA SI ANAK TODDLERS MENOLAK MENYESELESAIKAN TUGAS SEKOLAH

| on
April 11, 2020

Halo!

Tidak terasa ya bohong ding, cukup terasa sebenarnya sudah satu bulan kita semua #dirumahaja bersama anak-anak yang sekolah di rumah dan suami yang bekerja dari rumah. Jika di awal suasana #dirumahaja masih sangat kondusif, ritme aktivitas sehari-hari masih teratur, maka ternyata setelah satu bulan berjalan, suasananya masih kondusif tapi cenderung fluktuatif :)) Apalagi soal mood mama dan anak yang harus bekerja sama menyelesaikan tugas dari sekolah. Semakin kesini tugas sekolah Aliyah sebenarnya tidak terlalu berat bahkan cenderung lebih ringan. Nah, yang menjadi tantangan adalah semakin kesini mood Aliyah semakin naik turun begitu pun dengan saya. Agar tidak keterusan dengan mood yang naik turun, saya mencoba memahami emosi diri sendiri lebih dulu, lalu mencoba memahami perasaan Aliyah.

Satu minggu setelah saya memustuskan unfollow beberapa akun sosial media portal berita, saya merasa mood saya menjadi jauuh lebih baik. Lebih sering chat dengan keluarga jauh, lebih sering video call dengan bapak, mama dan adik saya, bahkan dengan beberapa sahabat. Emosi saya menjadi jauh lebih stabil. Setelah emosi saya menjadi lebih stabil. selanjutnya, saya mencoba memahami perasaan Aliyah. Dari kelas parenting online yang sempat saya ikuti, ternyata ada yang kadang terlupa oleh kita para orangtua, kalau anak-anak juga punya perasaan. Meski mereka tampak sibuk bermain, tetapi ternyata mereka juga punya rasa bosan namun masih sulit untuk mengungkapkannya (in case untuk anak usia toddlers). Hal yang sama juga terjadi pada Aliyah. Di awal sekolah di rumah, Aliyah sangat excited melakukan dan menyelesaikan berbagai assignment, namun akhir-akhir ini ia cenderung menolak dan berujung saya pun tidak mengumpulkan assignment yang diminta (saya mencoba untuk tidak memaksa Aliyah harus mengerjakan assignmentnya dan harus mengumpulkan tepat waktu).

Lalu bagaimana pada akhirnya? Pada akhirnya Aliyah berhasil menyelesaikan assignmentnya dengan mood yang bagus dan tanpa terpaksa meski harus terlambat dua hari. Nah, apa saja yang coba dilakukan untuk mengembalikan mood si anak toddlers untuk menyelesaikan assignment dari sekolah?

1. Menyelesaikan tugas sefleksibel mungkin.

Anak-anak usia toddlers punya kemampuan dan kelebihan masing-masing. Ada yang sudah mampu beraktifitas secara teratur sesuai dengan jadwalnya, ada yang masih harus menunggu mood nya bagus dulu baru dapat memulai suatu aktifitas. Kita para ibu yang paling tau karakter anak kita sendiri. Kita dapat menyesuaikan aktifitas harian anak sesuai dengan karakter anak kita :) Membuat jadwal aktifitas untuk anak yang sudah siap dengan keteraturan, atau memulai dengan aktifitas kesukaan anak untuk membangun mood yang baik bagi anak yang perlu mood bagus untuk menyelesaikan sesuatu. Kalau versi Aliyah, karena anaknya punya temperamen yang cenderung slow to warm, maka sebelum masuk jam "sekolah di rumah" biasanya ia punya waktu untuk chillin' lebih dulu, seperti minum susu, mandi, makan, dan bermain sebentar sesukanya. Anak-anak boleh memulai kapan saja saat mereka siap :) (in case di sekolah Aliyah tidak ada video conference, dll).

Untuk durasi waktu menyelesaikan tugas pun dibuat sefleksibel mungkin. Memberi jeda istirahat, atau selingan kegiatan lain bisa menjadi pilihan saat anak merasa sudah lelah atau bosan :) Nanti, kita bisa bertanya kembali apakah mereka sudah siap atau belum untuk kembali menyelesaikan tugasnya. Nah, sama seperti anak, kita pun boleh meminta jeda saat merasa sedikit kelelahan atau perlu mengerjakan pekerjaan lainnya. Misalnya kita perlu mencuci piring sebentar, kita boleh bilang ke anak kalau sedang butuh waktu untuk mencuci piring dan akan kembali belajar dan bermain bersama setelah kegiatan mencuci piring selesai. Tips nya, pastikan kita benar-benar kembali kepada mereka saat pekerjaan kita selesai :) Hal ini sekaligus dapat membangun trust anak kepada kita. InsyaAllah, anak menjadi lebih mudah diajak bernegosiasi di kemudian hari (saya punya pengalaman ini bersama Aliyah :)). Oh iya, kita juga bisa mengajak anak untuk terlibat di dalam kegiatan kita sebagai pengisi waktu jeda mereka. Membantu mencuci piring dengan senang hati mereka lakukan karena itu tandanya mereka boleh bermain busa sabun dan air. It's kind of happiness for them hihihi.

2. Menurunkan standar

Kita para ibu, secara sadar ataupun tidak, pasti punya standar tertentu dalam membersamai anak di rumah. Di situasi pandemi seperti sekarang ini, ataupun kondisi tidak stabil lainnya, kita boleh menurunkan sedikir standar kita dari kondisi normal seperti biasanya. Mungkin ini masih berkaitan dengan fleksiblitas di point 1, dengan tambahan tidak menaruh ekpektasi yang terlalu tinggi pada anak. Di luar konteks menyelesaikan tugas pun, sedikit menurunkan standar dapat dilakukan dalam konteks yang lain misalnya saat anak ingin bermain diluar namun kita merasa was-was. Yang tadinya tidak boleh sama sekali bermain diluar, sekarang boleh bermain diluar saat tidak terlalu ramai, dengan batasan waktu tertentu misalnya (tentu ini mungkin akan berbeda di setiap lingkungan rumah). 

3. Permainan kata

Di awal minggu #dirumahaja, saat Aliyah dan saya  akan memulai sekolah di rumah, saya akan dengan gamblang mengajaknya dengan berkata "Yaya, ayuk sekolah di rumah sama mama yuk", dengan mudahnya Aliyah langsung mengiyakan karena waktu itu ia masih sangat excited. Nah, belakangan saat semangatnya mulai menurun, kalimat tersebut tidak lagi efektif, bahkan saya mendapatkan respon penolakan dari Aliyah. Akhirnya dicoba mengganti kalimat tersebut dengan " Yaya, ayuk main diluar yuk" jika tugas sekolah yang diberikan seperti berolahraga misalnya. Ternayata kata "main" menjadi daya tarik nya saat ini. Mencari pilihan kata pengganti ajakan sesuai dengan minat anak saat ini bisa jadi trik untuk mengajak anak menyelesaikan tugasnya tanpa paksaan :)

4. Memahami perasaan anak

Akan selalu ada alasan atas sebuah jawaban, begitu pula dengan jawaban penolakan dari anak saat menolak untuk menyelesaikan tugas sekolah. Mencoba berbicara kepada anak dari hati ke hati saat mood kita dan anak sedang bagus dapat dilakukan untuk mengetahui alasan penolakan mereka untuk menyelesaikan tugas dari sekolah, meski jawabannya dari si anak usia toddlers ujung-ujungnya random saja, atau cuma sekedar "nggak suka". Kalau jawaban yang diberi adalah "ngga suka" kita bisa bertanya lagi, ga suka apanya, dimananya, apakah gambarnya atau tulisannya. Intinya kita dapat menunjuk secara detail setiap detail tugas anak untuk menemukan bagian mana yang tidak disuka olehnya. Karena biasanya kalau kita hanya balik bertanya 'kenapa ga suka' biasanya ujung-ujungnya jawabannya tetap 'nggak suka' titik, hahaha. Beberapa alasan dari Aliyah biasanya karena tidak suka gambarnya, atau ia sedang tidak suka difoto atau divideo terus-terusan. Mungkin di dalam batinnya 'mama, plis i need a privacy' wkwkwk.

Eh, tapi beneran loh teman-teman mama, anak juga bisa merasa sangat terganggu kalau kita foto atau mengambil gambar mereka terus. Kita bisa mencoba untuk berefleksi bagaimana rasanya menjadi anak, yang kalau tiap ngapa-ngapain di fotoin atau divideo-in melulu. Agak ganggu kan ya, lama-lama. Biasanya saya akan ijin dulu ke Aliyah jika akan memgambil gambar dirinya. Kalau Aliyah merasa kurang nyaman, maka yang diambil gambarnya hanya tangannya saja, atau alternatif lainnya bisa pakai tripod untuk mengurangi visual Aliyah yang melihat saya memegang kamera. Tripod juga bisa membantu saya untuk tetap bisa berinteraksi dengannya, melihat mata ke mata secara fokus, dan InsyaAllah Aliyah merasa jauh lebih nyaman :)

Last but not least, selain dari keempat poin diatas yang juga penting adalah tetap menjaga mood kita dalam kondisi bagus saat menemani anak sekolah di rumah. Saya sangat memahami bahwa hal ini bukan perkara yang mudah karena saya sendiri pun kadang moodnya masih naik turun. Namun ada satu hal yang selalu menjadi pengingat bagi saya agar berusaha semangat menemani Aliyah adalah pengalaman  masa kecil saya. Saya punya pengalaman masa kecil yang pernah diajarin perkalian dengan bapak tapi pakai sedikit esmosi (maaf ya pak, I remember that, but thanks so much Pak, now I learned to teach Yaya better, hehe).

Tidak bisa dipungkiri, inner child kita membuat kita belajar banyak sekali. Yang tidak enak, tentu saja  membuat kita tidak ingin terulang kepada anak kita. Percayalah, saya adalah hasil anak yang diajarin dengan sedikit esmosi, dan setelahnya, saya jadi trauma kalau mau minta diajarin lagi. Lalu pada akhirnya saya memilih belajar sendiri, membuat diri merasa sendiri an, dan berujung nilai rapor yang jeblok kala itu. Kalau banyak quotes jokes tentang ini, percayalah this not a joke  to your kids. Lalu, bagaimana supaya mood kita bagus? Kita bisa mencoba melakukan me time sambil refleksi apa saja yang mempengaruhi mood kita, dan mencoba mengurangi jika pengaruhnya kurang bagus dan menambahkan jika ternyata membuat mood kita menjadi lebih baik. Ataupun bisa sesederhana mandi dulu, makan dulu, atau scrolling IG dulu (hati-hati biasanya yang ini suka kebablasan :P) dan kita bisa memulai menemani anak kapanpun ketika kita siap :)

Nah, kalau teman-teman mama, apa nih yang menjadi tantangan membersamai anak sekolah di rumah? Yuk, share sama-sama di sini :)

Semoga bermanfaat ya :)


Disclaimer: Saya bukanlah seorang expert di bidang parenting/ psikologi. Tulisan diatas ditulis berdasarkan pengalaman pribadi, yang mungkin saja kondisinya bisa berbeda dengan kondisi teman-teman mama :)





6 Tips Menyimpan & Merawat Mainan Anak

| on
March 05, 2020

Halo!

Bermain adalah hal yang paling menyenangkan bagi anak-anak. Tidak terkecuali Aliyah. Aliyah suka sekali bermain-main, entah di rumah, di rumah tetangga, atau diluar rumah saat sedang berpergian. Berhubung anak-anak suka sekali bermain, tentu saja diiringi dengan mereka suka minta dibelikan mainan 😅

Saya sendiri sering tarik ulur dalam membelikan mainan untuk Aliyah. Kalau pas lagi ada rejeki berlebih, dan sepertinya anaknya ingin sekali, lalu di rumah juga belum ada mainan seperti itu,   biasanya saya belikan selama harganya masih wajar menurut kami. 

Di sisi lain, kami juga tidak selalu menuruti keinginan Aliyah untuk membeli mainan. Kami tidak ingin Aliyah tumbuh menjadi anak yang manja dengan keinginan yang selalu dituruti. Tidak jarang kami menolak membelikannya mainan saat memang belum begitu perlu, atau saat kami lihat Aliyah hanya sekedar ingin saja. 

Sering juga kami menundanya dengan mengatakan 'ya udah Yaya menabung dulu ya supaya bisa beli mainan itu' atau ' Yaya berdoa minta sama Allah supaya diberi rejeki untuk punya mainan itu'. Harapannya, Aliyah bisa belajar untuk mengerti kalau ingin sesuatu juga perlu dengan usaha dan berdoa :)

Berhubung mainan Aliyah di rumah juga tidak banyak, bukan pula mainan yang mihil-mihil dan saya juga tidak terlalu sering membelikan, saya ada beberapa tips menyimpan mainan ala saya (yang disesuaikan dengan kondisi jiwa, raga, lahir, batin saya juga hehehe).  Harapannya mainan Aliyah lebih terjaga dan tahan lama, Aliyah lebih mudah memilih mainan yang mau dimainkan, dan Aliyah menjadi merasa punya mainan yang baru (yang ini terinspirasi dari tulisan seorang teman blogger juga :)) Hal ini juga hasil belajar dari pengalaman masa kecil saya yang mengumpulkan mainan random didalam satu kresek besar . Mau cari mainan tertentu, harus keluarin mainan satu kresek dulu supaya bisa ketemu mainan yang dicari 😅

Tips Menyimpan & Merawat Mainan Anak
  • Mengelompokkan mainan berdasarkan tipe/kategorinya. Mainan di rumah dikelompokkan berasarkan tipe/kategorinya untuk memudahkan Aliyah memilih mainan yang akan dimainkan. Saya menyimpan mainan masak-masakan di dalam satu kotak plastik transparan untuk memudahkan Aliyah mengetahui isinya. Oiya untuk tips ini, tidak harus membeli storage khusus. Teman-teman mama bisa memanfaatkan tempat bekas semisal toples plastik dari kue kering atau plastik jala dari membeli buah. Pakai tas kresek bening hasil belanja kue juga tidak masalah :) Ini juga akan membantu banget supaya anak-anak lebih selow dalam bongkar-bongkar, kita pun lebih mudah dalam membereskannya :)
  • Tidak membuang kardus mainan. Mainan yang dibeli dengan kardus, kardus nya tidak pernah dibuang, tetapi tetap dipakai untuk menyimpan mainan tersebut. Kalau pada akhirnya kardusnya rusak, baru deh dipindahkan ke tempat yang lain :)
  • Merawat dan memperbaiki mainan. Kalau mainan Aliyah sudah terlihat mulai berdebu, biasanya langsung deh dibersihkan dengan kain lap basah yang bersih, atau langsung dicuci untuk mainan yang bisa dicuci. Nah untuk mainan yang rusak, saya dan suami coba mengamati dulu kira-kira apa yang rusak, masih bisa diperbaiki atau tidak. Sebisa mungkin kami berusaha untuk memperbaiki, sambil berharap Aliyah dapat belajar bahwa tidak semua yang rusak langsung dibuang dan diganti dengan yang baru. Kalau bisa diperbaiki, lebih baik diperbaiki :)
  • Menyimpan sebagian mainan di tempat tertentu. Mainan Aliyah sebenarnya sebagian besar disimpan di dalam satu kontainer tertutup. Kontainer yang digunakan juga kontainer standard biasa, sehingga kontainernya tidak muat jika harus menyimpan semua mainan Aliyah di dalamnya. Beruntungnya, Aliyah menjadi lupa akan sebagian mainannya yang tersimpan di dalam kontainer. Sesekali saya buka kontainer nya, lalu mengeluarkan salah satu mainan, eh ternyata Aliyah jadi happy karena merasa seolah-olah punya mainan baru, hihi. Nanti, mainan tersebut akan ditaruh diluar terus dalam beberapa lama. Sebagai gantinya, saya menyimpan mainan yang lama diluar ke dalam kontainer. Jadi seperti menukar mainan gitu. Meski sebenarnya Aliyah juga tau sih kontainer tersebut berisi harta karun tersembunyi, hahaha.
  • Mengajarkan Aliyah untuk menyayangi mainannya. Sewaktu Aliyah masih berusia 2 tahun lebih, menjelang usia 3 tahun seingat saya, Aliyah belum bisa mengontrol kekuatannya dalam menggunakan mainannya. Jadi seringkali Aliyah diingatkan untuk lebih hati-hati, atau pelan-pelan dalam memainkan mainannya. Entah mengerti atau tidak, waktu itu tetap terus diingatkan sampai sekarang. Alhamdulillah sekarang mainan Aliyah rata-rata masih bisa digunakan :)
  • Lebih aware dengan printilan mainan. Kalau ini bagian PR buat mamanya nih. Saya suka gemas kalau ada bagian mainan Aliyah yang hilang. Sebisa mungkin dicoba untuk dicari kalau ada bagian yang hilang atau kata orang jawa ketelisut. Ribet ya? Iya ribet banget, tapi entah kenapa kubahagia sekali kalau berhasil menemukan si printilan ketelisut itu 😂 Kalau mainanannya lengkap, anak-anak juga lebih awet main dengan mainannya (menurut mamajeng yang suka ribet 😅). Untuk mengurangi resiko mainan hilang, ketika Aliyah kelihatan sudah tidak memainkan mainannya, saya akan bertanya kepadanya sudah selesai atau belum, mainan mana yang bisa di tidy up, dan mana yang belum. Seketika itu juga langsung di tidy up untuk mainan yang sudah selesai dimainkan :)
Nah, kurang lebih itu sih tips mama Aliyah dalam menyimpan dan merawat mainan. Tadinya ingin menerapkan ala-ala Montessori atau disimpan rapi ala Marie Kondo, tapi apa daya saya hanyalah Mamamia biasa 😂  

Kalau teman-teman mama, punya cerita seru apa nih tentang mainan anak-anak di rumah?

Semoga bermanfaat ya :)

Selamat beberes eh bermain-main :)


DIY Magic Cards

| on
October 22, 2019

Halo!

Kali ini saya dan Aliyah membuat magic cards. Biasanya magic cards ini dijadikan gift celebration gitu, atau hadiah buat teman :) 

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat magic cards ini sangat sederhana, hanya kertas gambar ukuran A4, kertas bufalo/karton berwarna, lembaran plastik mika, spidol hitam serta pensil warna/crayon/spidol warna warni.

Cara membuatnya dapat dilihat disini yaa :)
Seru sih mainnya, bisa bikin Aliyah mikir banget kenapa kok bisa berubah warna tulisannya, hihi :)
Jangan lupa untuk ajak anak terlibat dalam membuatnya yaa :) Kalau Aliyah kebagian mewarnai tulisannya, karena untuk menggunting dan menggaris Aliyah belum begitu mahir :)

Untuk cara mainnya tinggal digeser-geser saja atas bawah, atau bisa dilihat disini :)


Selamat bikin-bikin :) 


MEMILIH SEKOLAH UNTUK ALIYAH

| on
October 04, 2019

Halo!

Beberapa hari yang lalu saya sempat ingin berbagi cerita bagaimana pengalaman kami, saya dan suami saya, saat akan memilih sekolah Aliyah di instagram story, namun karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk membagi cerita ini ke teman-teman mama-mama melalui blog post ini lebih dulu :) Tadinya saya sempat sedikit ragu untuk membagi cerita pengalaman kami memilih sekolah untuk Aliyah, karena mungkin untuk beberapa orang, memilih sekolah sebenarnya hal yang sederhana saja, tidak perlu banyak pertimbangan apalagi jika usia anak baru saja mau duduk di bangku pra sekolah ataupun taman kanak-kanak. Dan, mungkin dulu saya juga termasuk salah satu orangtua yang berpikiran sama, sampai saat saya mengikuti Seminar Memilih Sekolah yang diadakan oleh tim #bikinbikinditaman milik mbak Iput @iburakarayi. 
Karena beberapa hari belakangan sangat ramai tentang survey biaya sekolah yang diadakan oleh The Urban Mama di instagram story, akhirnya saya semakin yakin untuk berbagi cerita memilih sekolah versi keluarga kami. Siapa tau ada sedikit informasi yang bisa didapat dari cerita kami untuk teman-teman mama-mama yang juga sedang mencari sekolah untuk anaknya :)

Oh iya, sebelum memulai, saya ingin menyamakan persepsi terlebih dulu dengan teman-teman, bahwa setiap kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga pasti berbeda, termasuk juga dalam hal memilih sekolah anak :) Dalam konteks ini, kebetulan kondisi keluarga kami adalah tipikal yang "on budget" dalam memilih sekolah untuk Aliyah. Tidak ada yang dikurangi, dan tidak ada yang dipaksakan :) Dan ini menjadi salah satu alasan, kenapa oh kenapa sepertinya cara kami memilih sekolah untuk Aliyah terlihat lebih "ribet" dibandingkan dengan yang lain. On budget dan banyak maunya, ya mestii berujung jadi beribet sendiri, kan akhirnya :')

Oke, kembali ke cerita pengalaman kami dalam memilih sekolah untuk Aliyah. Tahun ini Aliyah tepat berusia 4 tahun, dan sudah waktunya Aliyah untuk bersekolah menurut saya atas pengalaman membaca beberapa buku dan pengalaman berbagi dengan para sahabat. Mengapa Aliyah tidak bersekolah sejak usia 3 tahun? Sebenarnya, usia bukan merupakan tolak ukur yang utama untuk anak bersekolah. Semua kembali bergantung dari kebijakan masing-masing orangtua dan yang paling utama adalah bagaimana kesiapan anak itu sendiri untuk mulai bersekolah. 

Belajar dari masa lalu saya dan adik-adik saya yang mulai bersekolah di usia yang masih muda (yang kini saya sadari bahwa sungguh itu terlalu muda :')) Dari pengalaman masa kecil yang cukup traumatis bagi saya dan adik-adik tersebut, membuat saya berpikir bahwa, hal tersebut dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak, jika anak belum benar-benar siap untuk bersekolah. Pada akhirnya dapat berpengaruh pada kemampuan/kematangan cara berpikir anak, kondisi emosional, dan kemampuan menghadapi masalah (walaupun juga terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi ketiga hal diatas) di masa depan. Dan, saya tidak ingin kejadian tersebut berulang kembali pada Aliyah. 

Kembali kepada bagaimana kesiapan anak untuk bersekolah. Dari beberapa buku dan artikel yang saya baca, salah satunya dari Buku Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, anak dikatakan dapat mulai bersekolah beberapa diantaranya adalah ketika: 

1. Anak sudah selesai dengan toilet trainingnya, 
2. Kemampuan sosial anak yang semakin berkembang
3. Kemampuan berbahasa anak yang semakin berkembang
4. Sudah bisa makan dan minum sendiri
5. Sudah menujukkan tanda-tanda kemandirian.
Pada saat Aliyah berusia 3 tahun, saya pernah mencoba untuk mengajaknya bermain-main ke sekolah yang cukup dekat dengan rumah kami. Hasilnya, saat itu, Aliyah hanya tertarik ke sekolah untuk bermain perosotan :') Aliyah belum mau masuk ke kelas dan berinteraksi dengan guru dan teman-temannya. Aliyah memang tipikal anak yang butuh waktu beradaptasi yang cukup lama, tidak hanya hitungan jam, bahkan bisa sampai hitungan hari ataupun minggu :') Saya juga sempat mengajak Aliyah ke tempat les bahasa Inggris, dengan pikiran mungkin saja waktu les yang hanya sebentar dapat melatih Aliyah untuk terbiasa  berada di dalam kelas, namun hasilnya, sekedar untuk trial class saja Aliyah menangis dan menolak ikut masuk kelas. Dari trial and error ini, saya akhirnya bisa menerima pesan dari Aliyah bahwa ia belum siap untuk bersekolah ataupun sejenisnya :)

Sembari menunggu Aliyah siap untuk bersekolah, saya mulai mengajaknya untuk lebih sering bermain dengan orang lain (Aliyah anak rumahan yang seringnya bermain dengan saya, atau keluarga inti yang lain). Aliyah mulai berkenalan dengan anak tetangga, dan belajar untuk bermain bersama. Setiap sore saya mengajaknya untuk bermain di taman kompleks rumah, bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Semua yang kenal dengan Aliyah akan tau banget kalau belum pernah bertemu, Aliyah pasti akan menolak itu mendekat bahkan sekedar untuk cium tangan, hehehe. Saya tidak memaksanya karena saya percaya Aliyah punya waktunya sendiri, dan memang tipe temperamennya seperti itu. 

Memasuki usia 3,5 tahun Aliyah mulai menujukkan tanda-tanda perkembangan dalam kemampuan sosialnya. Aliyah mulai kebingungan mencari teman bermain kalau sedang di rumah dan senang jika rumah kami ramai karena kunjungan dari keluarga dan kerabat. Dari sini saya seperti mendapat pesan dari Aliyah kalau ia sudah  siap untuk bersekolah :)

Tentang Memilih Sekolah untuk Aliyah

Memilih sekolah untuk Aliyah gampang-gampang susah bagi kami karena ya itu tadi, seperti yang sudah saya ceritakan diatas, kalau kami tipikal yang "on budget" tapi banyak maunya, hehehe. Pertanyaannya kemudian, apakah semua kriteria yang diinginkan terpenuhi? Tentu saja tidak, mengingat "on budget" tadi dan memang pilihan yang tersedia di kota kami juga tidak banyak jika dibandingkan dengan kota lain. Waktu itu kami sempat survey ke 6 sampai 7 sekolah pra sekolah dan taman kanak-kanak, hihihi. 

Beberapa pertimbangan kami dalam mencari sekolah untuk Aliyah:

1. Sekolah yang dekat dari rumah, walaupun kami juga sempat survey ke sekolah yang berjarak 5-6 km dari rumah. Memilih sekolah yang dekat dari rumah sebagai antisipasi anak akan lelah/ kehabisan waktu di jalan, sehingga tidak semangat untuk bersekolah.
2. Berbasis agama 
3. Rasio guru dan anak yang cukup berimbang, dengan jumlah anak per kelas tidak lebih dari 10 murid. Dari standar NAEYC (National Association for the Education of Young Children) yang dikutip dari Buku Panduan Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, paling tidak untuk anak usia 0-2 tahun, 1 guru mewakili 4 murid, usia 2-4 tahun, 1 guru mewakili 6 murid dan usia 4-6 tahun, 1 guru mewakili 10 murid.
4. Sistem kelas sentra/ moving class untuk menghindari anak merasa bosan.
5. Kelas yang luas tanpa meja dan tempat duduk yang tertata rapi (kalaupun ada tempat duduk dan meja, sebaiknya ditata secara melingkar atau saling berhadapan) sebagai tanda bahwa setiap anak dapat saling berinteraksi satu sama lain, serta berinteraksi dengan gurunya dengan porsi yang seimbang.
6. Sekolah yang concern dengan kebersihan sebagai tanda bahwa menjaga kebersihan juga merupakan bagian dari pendidikan
7. Tersedia sarana dan alat belajar yang cukup untuk anak bermain dan belajar yang diletakkan secara rapi di rak rendah serta dilengkapi dengan tulisan untuk mempermudah anak mengambil dan mengembalikannya.
8. Hasil karya semua anak yang dipajang di tembok kelas sebagai tanda bahwa setiap karya mendapat apresiasi yang sama tanpa harus menjadi yang paling sempurna.
9. Jam masuk sekolah yang tidak terlalu pagi, bahkan cenderung siang sebagai antisipasi anak trauma berangkat ke sekolah karena terpaksa bangun pagi. Bukannya tidak ingin melatih Aliyah untuk bangun pagi, namun Aliyah adalah tipikal anak yang cukup 'moody' dan selalu membutuhkan waktu sejak ia bangun pagi sampai mood nya benar-benar bagus dan siap untuk berangkat ke sekolah. Saya salah satu yang percaya kalau dengan mood yang bagus anak akan lebih mudah menjalani harinya di sekolah :) Hal ini juga untuk menghindari Aliyah terlambat berangkat ke sekolah jika jam belajarnya terlalu pagi (in case, Aliyah masih dalam tahap belajar dan menyesuaikan diri dengan ritme aktivitasnya yang berubah karena sekolah) :)
10. Guru-guru yang cukup terbuka, ramah pada anak secara natural, dan komunikatif dengan orangtua murid.
11. Jadwal sekolah yang tidak terlalu padat mengingat Aliyah masih akan masuk usia pra sekolah. Kami lebih memilih sekolah yang jadwalnya selang seling antara sekolah-libur-sekolah atau sederhananya hanya 3-4 hari sekolah/minggu, daripada yang full senin-jumat.

Step by step dalam memilih sekolah untuk Aliyah

1. Sebelum survey fisik, saya dan suami mencari informasi lebih dulu dengan browsing di internet kira-kira sekolah mana saja yang akan kami kunjungi untuk memperkecil lingkup survey kami.
2. Kami survey setiap hari sabtu, yang rata-rata di beberapa sekolah sedang berlangsung kegiatan belajar-mengajar. Kami juga mengajak serta Aliyah untuk ikut survey sekolah karena paling tidak Aliyah punya gambaran seperti 
sekolah yang sebenarnya. Rata-rata Aliyah suka di sekolah karena ada playgroundnya, hahaha.
3. Saat survey, kami berusaha berkomunikasi dengan pihak sekolah secara terbuka, baik guru ataupun kepala sekolah. Menanyakan tentang apa saja kegiatan di sekolah, jam belajar anak, berapa jumlah murid per kelas dan jumlah guru yang mengajar per kelasnya, serta program lain seperti kegiatan keagamaan, ekstrakulikuler, outbond, studi tur, dll yang mendukung kegiatan belajar mengajar.
4. Kondisi fisik dan lingkungan sekitar sekolah juga diperhatikan. Saya selalu bertanya tentang bagaimana jika anak ingin ke toilet, melihat kondisi kebersihan toiletnya, memperhatikan bagaimana guru menghandle anak yang tantrum atau bertengkar,  serta memperhatikan bagaimana keamanan anak saat orangtua terlambat menjemput.
5. Sebisa mungkin kami mengikutkan Aliyah pada program trial class jika pihak sekolah menyediakan program tersebut. Saya juga selalu berusaha mendampingi agar dapat melihat langsung bagaimana gambaran kegiatan di sekolah berlangsung.
6. Karena kami 'on budget', kami selalu berusaha realistis saat membaca rincian-rincian biaya yang ditetapkan dari masing-masing sekolah. Oleh karena nya sangat penting untuk survey fisik dan bertanya-tanya sebanyak mungkin informasi yang ingin kami ketahui tentang sekolah yang di survey agar kami dapat membandingkan apakah biaya yang tertera di brosur sesuai dengan kegiatan, fasilitas,  dan sarana belajar atau tidak. Jujur, dari survey kami, beberapa sekolah tidak cukup relevan antara biaya dengan kegiatan, fasilitas serta sarana belajarnya.

Tentang keputusan memilih sekolah

Pada akhirnya kami memutuskan memilih sekolah untuk Aliyah yang tidak begitu jauh dari rumah kami, berjarak sekitar -/+ 1,5 km. Tadinya kami tidak tahu bahwa ada sekolah ini di dekat rumah kami. Setelah suami saya browsing dan mencari di Google, kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi sekolah Aliyah. Sejatinya bahwa tidak ada satu pun yang sempurna di dunia ini, sama halnya dengan sekolah Aliyah. Tidak semua kriteria kami diatas dapat terpenuhi, tapi paling tidak sebagian besar sudah mewakili kebutuhan kami. Yang paling utama sebenarnya adalah karena sistem kelas di sekolah Aliyah adalah sistem sentra yang dinamis. Jadi Aliyah belajar di sentra yang berbeda setiap harinya.


Berikut beberapa hal yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk Aliyah bersekolah di sekolahnya saat ini:

1. Sistem kelas sentra/moving class. Di sekolah Aliyah terdapat 6 kelas sentra yang terdiri dari, Sentra Balok, Sentra Peran, Sentra Musik dan Olah Tubuh, Sentra Alam, Sentra Seni & Kreatifitas, dan Sentra Keaksaraan.
2. Sarana dan alat belajar cukup variatif dan lengkap yang semuanya diletakkan di rak rendah dengan dilengkapi keterangan tulisan untuk memudahkan anak mengambil dan mengembalikannya.
3. Perbandingan guru dan murid per kelas nya -/+ 1:2. Jumlah murid per kelas tidak lebih dari 10, dengan jumlah guru -/+ 3 orang, (wali kelas, guru sentra dan guru pendamping).
4. Tersedia pilihan jam masuk sekolah, pagi atau siang dengan jadwal sekolah 3-4 hari/minggu.
5. Tidak begitu berbasis agama, tapi setiap pagi sebelum mulai belajar, ada kegiatan religion lebih dulu seperti mengaji, membaca surat-surat pendek, besholawat, dll.
6. Guru-guru yang ramah dan komunikatif secara natural dengan anak dan orangtua anak.
7. Tersedia beberapa kegiatan yang mendukung kegiatan belajar seperti ekstrakulikuler, keagamaan, outbond dan studi tur.


Kalau diatas adalah kebutuhan kami dan Aliyah yang dapat terpenuhi di sekolah Aliyah saat ini, berikut beberapa kebutuhan kami dan Aliyah yang tidak dapat terpenuhi di sekolah Aliyah saat ini:

1. Playground yang mumpuni. Aliyah merupakan tipikal anak kinestetik yang sangat aktif dan selalu butuh sarana untuk menggerakkan bagian tubuhnya. Di sekolahnya tidak tersedia playground yang cukup aman dan mumpuni untuk Aliyah bermain. Untuk hal ini dapat saya maklumi, karena saya pikir toh Aliyah masih dapat bermain di taman kompleks rumah kami setiap sore, atau sesekali bermain di playground mall.
2. Ekstrakulikuler yang tersedia sangat basic, seperti menari, mewarnai, fashion, dll. Tidak tersedia ekstrakulikuler olahraga seperti panahan, atau science seperti robotic, dll. Untuk ekskul yang agak canggih-canggih ini sebenarnya tersedia di sekolah yang diatas budget kami. Namun karena tidak ingin memaksakan juga, saya coba untuk ambil jalan tengah dengan mencari tempat les diluar sambil melihat potensi bakat dan minat Aliyah. Sejauh ini sepertinya minat Aliyah lebih ke olah tubuh seperti menari balet.
3. Walaupun sistem kelasnya sentra, pola belajar dan mengajar di sekolah Aliyah masih semi konvensional menurut saya, imho :) Hal ini saya coba siasatin saat bermain dengan Aliyah di rumah. Apa yang diajarkan gurunya di sekolah, saya ulang kembali di rumah dengan cara yang berbeda. Harapan saya, paling tidak tujuan saya dan gurunya seiringan, masih bisa memenuhi kebutuhan Aliyah, di sisi lain Aliyah juga tetap merasa nyaman dan tidak mudah bosan :)

Sejauh ini, proses Aliyah menjalani hari-hari si sekolah nya Alhamdulillah tidak ada hambatan yang berarti, walaupun seminggu pertama memang ada drama karena Aliyah masih perlu beradaptasi :) Tapi sejauh ini cukup oke, pagi hari  Aliyah dilalui dengan semangat untuk ketemu guru dan main dengan teman-teman :)

Pada intinya, setiap kondisi dan kebutuhan masing-masing keluarga pasti berbeda dalam memilih sekolah. Versi kebutuhan kami, belum tentu sama dengan versi kebutuhan teman-teman mama-mama :) Kalaupun sama, pasti ada satu dan lain hal yang berbeda :) Saya masih selalu ingat pesan dari Pak Bukik Setiawan, salah satu penulis Buku Panduan Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now, bila tidak ada sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan kita dan anak 100%,  orangtua punya pilihan untuk memenuhi kebutuhan anak dengan cara yang lain :)

Anyway, bagaimana menurut teman-teman mama-mama? Yuk share sama-sama di sini :)

Semoga sharing saya bermanfaat ya :)

Disclaimer: Tulisan diatas semata-mata atas dasar referensi dan pengalaman pribadi. Kebutuhan dan kondisi setiap anak dan keluarga bisa saja berbeda dalam memilih sekolah sesuai dengan referensi dan pengalaman masing-masing :)

*mohon maaf untuk keterbatasan foto yang ditampilkan mengingat informasi mengenai sekolah dan atributnya adalah privasi anak yang perlu kita jaga bersama :)










Mengenal Huruf Vokal Melalui Permainan Kartu AIUEO

| on
October 02, 2019


Halo!

Saya pernah membaca kalau setiap anak selalu mempunyai 'waktunya' sendiri. Dan iya ya, saya jadi tersadar kalau ternyata anak memang punya 'waktunya' sendiri, seperti Aliyah yang punya waktu belajar berjalannya sendiri, waktu bisa berbicara dengan lancarnya sendiri, walaupun terkadang saya suka kurang sabar menemani Aliyah menjalani semua prosesnya :(

Bermain huruf AIUEO ini salah satu proses saya dan Aliyah yang sama-sama sedang menunggu 'waktunya' Aliyah untuk mulai membaca. Ga tau kapan, tapi saya percaya pada Aliyah kalau Aliyah mempunyai 'waktu' yang tepat :)

Cara membuat permainan ini sangat sederhana, hanya dengan mengunduh gambar hewan dari internet yang namanya berawalan dari huruf AIUEO, lalu dilapisi dengan kertas karton yang agak tebal supaya lebih awet :) Gambar yang diunduh akan lebih baik jika sesuai dengan bentuk nyata hewannya, bukan kartun ataupun sketsa dengan tujuan sekalian mengenalkan jenis hewan kepada anak. 

Ide bermainnya terinspirasi dari buku Montessori Play and Learn :) Permainan pra membaca dengan metode phonic. Saat anak keliru menyebut awalan huruf hewan yang ditunjuk, tidak apa-apa, seperti Aliyah yang menunjuk huruf U pada hewan Ikan. Walaupun gemas, saya mencoba untuk tidak langsung mengoreksinya, tetapi menggiring Aliyah untuk berpikir dan mengoreksinya kesalahannya sendiri dengan menyebut kan "Hmmm apakah namanya Ukan?" Lalu kami tertawa bersama dan Aliyah pun langsung menyebutkan, "bukaan, Ikan! I !! "


Walaupun permainan ini sederhana ternyata it works :)

Untuk video saat saya dan Aliyah bermain bisa dilihat di sini yaa :)

Selamat bermain :)


Montessori Play and Learn: Menjadikan Kegiatan Bermain Lebih Bermakna

| on
September 30, 2019


Halo!

Saya sebenarnya kurang mengerti apa itu Montessori. Saya hanya sekedar pernah melihat dan mendengar, tidak begitu paham apa makna dan fungsinya bagi tumbuh kembang anak. Sampai pada saat membaca buku Elvina Liem Kusumo, yang Real Mom Real Journey, disitu saya mulai mengerti sedikit apa sebenarnya Montessori.
Pada dasarnya, sangat banyak pendekatan yang dapat kita adaptasi untuk pola asuh kita kepada anak. Tidak hanya pendekatan Montessori, tetapi juga ada beberapa pendekatan lain. Mau pilih yang mana, mau dikombinasikan seperti apa, fleksibel saja, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan anak kita :)

Nah, kali ini saya ingin berbagi tentang buku Montessori Play and Learn. Buku ini bukan ditulis langsung oleh Maria Montessori, melainkan oleh Lesley Britton, seorang Montessorian dan founder London Montessori Centre.

Lagi-lagi, buku ini tidak saya beli tetapi saya pinjam dari pinjam buku online andalan saya @pinjambukuanakdarrel. Cerita tentang bagaimana meminjam buku di @pinjambukuanakdarrel bisa di klik disini yaa :)

Oke, kembali ke buku Montessori Play and Learn. Buku ini merupakan cetakan tahun 2017, yang merupakan cetakan versi terjemahan dari Montessori Play and Learn terbitan Vermilion,London. Buku aslinya dicetak pertama kali pada tahun 1992. Diawal buku, Lesley Britton sedikit bercerita tentang Maria Montessori. Menjelaskan siapa sebenarnya Maria Montessori, bagaimana jenjang karir dan pengalamannya, sampai bagaimana akhirnya Maria Montessori sangat concern tentang pendidikan dan tumbuh kembang anak, walaupun latar belakang Maria Montessori sebenarnya bukan dari dunia psikolog seperti psikolog pendidikan, namun dari dunia kedokteran.


Kadang, kita ga pernah tau, orang yang ternyata punya latar belakang yang sedikit berbeda, ternyata dapat menjadi ahli di suatu bidang tertentu, kalau mau concern dan serius untuk terus belajar. Ini benar-benar menjadi pengingat dan motivasi bagi saya.

Di bagian berikutnya, Lesley Britton, menjabarkan bagaimana esensi dari metode Monstessori. Disini Lesley Britton menjelaskan bagaimana esensi Montessori  yang seringkali menimbulkan salah kaprah di masyarakat luas. 

Tahapan bagaimana menerapkan metode Monstessori dalam pengasuhan diijabarkan di bagian berikutnya. Semua dijelaskan dengan cukup detail dimulai dari mengembangkan kepribadian anak, bagaimana peran orangtua, dan bagaimana membantu penyesuaian sosial dan emosional anak.

Di bagian berikutnya, Lesley Britton memberi contoh aplikasi pendekatan Monstessori yang dapat kita lakukan di berbagai lingkungan tempat anak tumbuh dan melakukan aktivitas nya sehari-hari. Dimulai dari lingkungan rumah seperti kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga, sampai di lingkungan sekitar rumah, lingkungan sekolah, pedesaan, kota, negara dan alam semesta.

Semua aktivitasnya ternyata cukup sederhana, tidak serumit bayangan saya sebelumnya. Sesederhana bagaimana anak bermain dengan volume air yang ternyata dari sana anak dapat belajar konsep matematika sederhana tanpa perlu belajar konsep yang lebih rumit seperti langsung diajarin 1+1= 2.


Dari sini saya semakin belajar bahwa untuk mengenalkan sesuatu kepada anak, dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, secara pelan-pelan dan dilakukan dengan bertahap. Saya, yang masih suka kurang sabar ini, terkadang tidak menyadari hal itu. Penginnya, Aliyah langsung bisa, langsung mengerti apa maksud saya :'(

Tentang belajar dengan pelan-pelan

Saya jadi teringat saat berkunjung ke Klinik Anakku beberapa waktu lalu. Semua stimulasi yang disarankan untuk dilakukan, terutama yang berkaitan dengan aktivitas makan Aliyah, sebaiknya dilakukan dengan bertahap. Menaikkan tekstur makanannya dengan pelan-pelan. Mengganti ukuran sendoknya dengan pelan-pelan, dari sendok kecil, ke sendok yang sedikit lebih besar, sampai ke ukuran yang lebih besar lagi. Semuanya sebaiknua dilakukan secara bertahap.

Saya juga teringat saat sharing session dengan mbak Iput @iburakarayi tentang bagaimana sebaiknya mengenalkan huruf kepada anak. Dimulai dengan mengenalkan bentuk lebih dulu, seperti segitiga, bujur sangkar, lingkaran, sampai akhirnya anak familiar akan bentuk dan kemudian anak akan lebih mudah mengenal huruf. Semua ternyata ada tahapannya :)

Tentang Play and Learn

Di buku Montessori Play and Learn juga terdapat berbagai macam ide bermain yang dapat dilakukan di rumah dengan rentang umur bervariasi. Kalau sebelumnya saya sempat menduga pendekatan Montessori harus dengan aparatus yang banyak dijual dengan harga yang tidak murah,  ternyata saya keliru. Semua bahan bermain dapat dibuat sendiri di rumah dengan bahan-bahan yang ada di rumah :)


Dari buku Montessori Play and Learn ini, saya jadi belajar bagaiamana cara mengajarkan sesuatu kepada Aliyah dengan cara yang lebih seru. Jujur, hal ini sangat membantu saya untuk menyeimbangkan sistem belajar di sekolah Aliyah yang semi konvesional.

Dan akhirnya saya pun kepikiran,  sepertinya saya perlu membeli buku ini untuk sebagai pegangan di rumah, karena benar-benar sangat banyak ilmu yang dapat dipelajari dari buku ini.

Teman-teman mama-mama ada yang sudah membaca buku ini juga ga? Yuk sharing sama-sama disini :)

Semoga sharing saya bermanfaat ya :)


Pengalaman Stimulasi Kemampuan Bicara pada Aliyah

| on
September 20, 2019

Halo!

Bagaimana harinya hari ini teman-teman? Semoga menyenangkan ya :) Di postingan kali ini saya ini ingin berbagi pengalaman saya dan Aliyah dalam hal belajar berbicara. Sebenarnya sudah sejak lama ingin berbagi soal ini, namun maju mundur karena sepertinya teman-teman juga sudah banyak yang tahu dan mengerti bagaimana stimulasi untuk mengajarkan anak belajar berbicara :) Tapi akhirnya, saya berpikir siapa tahu pengalaman saya dan Aliyah ini dapat memberi sedikit tambahan informasi bagi teman-teman :)

Aliyah tergolong anak yang agak terlambat dalam berbicara. Saya tidak tahu pasti apakah Aliyah sudah termasuk dalam anak dengan speech delay atau tidak. Tapi, saat Aliyah berusia 20 bulan, kami sempat ke Klinik Anakku Surabaya, untuk screening tumbuh kembangnya. Saat itu, di samping memberi stimulasi untuk sensorik dan motoriknya, concernnya memang memberi stimulasi untuk kemampuan berbicara Aliyah, karena Aliyah ada indikasi agak terlambat.

Dari hasil screening saat itu, ketahuanlah penyebab Aliyah terlambat berbicara yang tergolong beragam. Kurang lebih sama seperti faktor penyebab keterlambatan bicara pada anak umumnya, seperti kurang diajak bercerita, pengenalan bahasa secara bilingual, pola makan Aliyah yang kurang tekstur dan, tentu saja kebiasaan menonton televisi/gagdet. 

Fungsi oral motor Aliyah juga belum maksimal, otot-otot di sekitar rahang dan mulutnya masih kurang kuat untuk mendukung Aliyah berbicara.

Maka, solusinya tentu saja saya perlu lebih banyak mengajak Aliyah bercerita dengan kalimat sederhana, lebih sering berbahasa Indonesia dengannya, meningkatnya tekstur menu makanannya sampai membatasi Aliyah dalam menonton televisi/gadget.

Stimulasi lain yang dapat dilakukan untuk melatih oral motor Aliyah adalah dengan lebih banyak latihan menghisap dan meniup. Beberapa permainan meniup kami coba lakukan di rumah. Seperti, meniup lilin, meniup potongan kertas kecil, meniup terompet, dan meniup bubble/ gelembung sabun. Dari kegiatan meniup, Aliyah memang terlihat cukup kesulitan. Gerakan bibirnya cenderung seperti menyembur, tidak bisa monyong seutuhnya :'D

ALSO READ: Bikin-bikin Di Taman: Tips Stimulasi Bicara Anak dan DIY Table Soccer Game


Untuk mengajak Aliyah bercerita sebenarnya susah-susah gampang bagi saya. Tidak jarang saya bingung harus memulai dari mana bercerita dengan Aliyah :') Saya mulai mencoba dengan membacakannya buku cerita, setiap saat entah siang atau malam. Saran dari psikolog Klinik Anakku untuk memulai mengenalkan kata sederhana dengan memenggal suku kata pun dilakukan. Seperti saat mengajaknya bermain di taman, dan berhitung 1,2,3 ketika akan meluncur di perosotan. Satu, dua,tiii......berhenti sejenak sampai Aliyah menyahut 'ga'. Atau saat Aliyah haus dan ingin minum, maka akan saya ambilkan setelah saya bilang Mii... dan Aliyah berhasil menyebut kata 'num'.

Buku cerita Aliyah yang berbahasa Inggris saya terjemahkan dengan random  menggunakan kata-kata sederhana dalam bahasa Indonesia. Tekstur makanan Aliyah juga mulai ditingkatkan, dari makan daging cincang yang halus, dicoba diganti pelan-pelan dengan daging yang teksturnya lebih kasar atau diiris tipis. Seiring berjalannya waktu, tekstur makanannya terus ditingkatkan sampai sekarang.

Sewaktu Aliyah berusia 2 tahun lebih sebulan, kami kembali ke Klinik Anakku Surabaya untuk kembali screening tumbuh kembang Aliyah. Beberapa aspek sensorik dan motoriknya sudah cukup berkembang saat itu. Namun, untuk kemampuan berbicaranya masih perlu distimulasi. Kali ini, oleh psikolog dari Klinik Anakku, Aliyah diberi sedotan ulir berbentuk hati berwarna pink kesukaan Aliyah. Harapannya, dengan menyedot minuman menggunakan sedotan ulir, otot-otot di sekitar rahang dam mulut Aliyah menjadi lebih kuat :)

Sedotan ulir yang saya beli di @articmediaterapi
Sedotan ulir ini digunakan setiap kali Aliyah minum untuk melatih daya hisapnya. Saya sempat mencoba juga minum dengan sedotan ini, dan memang butuh usaha ekstra untuk menyedot minuman dengan sedotan ini. Mungkin, karena sedotannya cukup eye cacthing, Aliyah sepertinya enjoy-enjoy saja mengggunakannya, hihi.

Selain latihan menghisap dengan sedotan ulir, stimulasi lain untuk melatih oral motor dan kemampuan berbicara Aliyah seperti yang saya sharing diatas tetap terus dilakukan.

Sudah dua tahun berlalu sejak screening Aliyah terakhir di Klinik Anakku. Bulan Mei yang lalu, kami kembali ke Klinik Anakku untuk kembali screening tumbuh kembang Aliyah. Alhamdulillah, surprisingly, menurut dokter yang menguji Aliyah saat itu, artikulasi berbicara Aliyah tergolong sangat jelas untuk anak seusianya. Walaupun begitu PR untuk tetap menggunakan sedotan ulir tetap berlanjut untuk memperjelas huruf R dan L pada saat Aliyah berbicara. Dalam hal ini, saya juga tidak tahu apakah Aliyah ada indikasi tongue tie atau tidak karena kemampuannya dalam mengucapkan kedua huruf tersebut belum sempurna (kalau soal tongue tie di periksa atau tidak, saya belum memeriksakannya, karena sebelumnya pernah membaca artikel kalau tongue tie bisa sembuh sendiri seiring semakin besarnya anak, namun memang ada juga yang perlu tindakan lebih lanjut. Saya masih di level observasi dulu, hehe) . Tapi, secara keseluruhan, hasil screening nya kali ini cukup baik. Yaiy!

Barangkali teman-teman mama ada yang ingin memulai stimulasi berbicara pada anak, jangan tunggu sampai seperti saya yaa.. Anaknya terlanjur terindikasi terlambat bicara baru distimulasi :')

Berikut beberapa tips untuk stimulasi bicara  pada anak berdasarkan pengalaman saya dan Aliyah, yang mungkin juga kurang lebih sama seperti pengalaman teman-teman mama yang lain,

1. Sering-sering mengajak anak bercerita. Kalau tipikal orang tua nya pendiam, bisa dimulai dengan membacakan buku cerita :) Sering mengajak anak bertemu dengan orang lain selain orang yang ada di rumah juga cukup membantu, apalagi yang sehari-harinya anak hanya dengan ayah dan ibu saja di rumah :)
2. Mengurangi penggunaan bahasa bilingual di rumah. Beberapa anak mungkin punya kemampuan lebih dalam berbahasa. Namun, beberapa anak lainnya bisa saja terbatas sehingga menyebabkan anak menjadi bingung dalam berbahasa. Kebetulan, Aliyah sepertinya tipikal yang agak bingung dengan dua bahasa.
3. Membatasi waktu anak menonton televisi/gadget. Kalau pun anak menonton, paling tidak tontonan anak dengan satu bahasa dengan gambar gerak yang tidak terlalu cepat. Baby TV Indonesia salah satu yang bisa jadi rekomendasinya :)
4. Berlatih memenggal suku kata untuk mengajak anak berbicara.
5. Meningkatkan tekstur makanan anak.
6. Banyak bermain dengan meniup.
7. Menghisap/menyedot minuman dengan sedotan ulir.

Oiya, untuk dimana bisa mendapatkan sedotan ulir, dari hasil browsingan saya,  tidak banyak toko yang menjual sedotan ulir. Satu-satunya yang saya dapat hanya di @articmediaterapi, toko online yang berjualan berbagai macam alat terapi.

Anyway, bagaimana dengan teman-teman mama? Ada yang punya pengalaman atau cerita tentang stimulasi bicara pada anak juga ga? Yuk sharing sama-sama di sini :)
Semoga sharing saya bermanfaat ya :)

Disclaimer: Setiap kasus terlambat berbicara pada anak bisa saja berbeda. Teman-teman mama dapat menghubungi para ahli seperti psikolog/dokter tumbuh kembang anak untuk mengetahui penyebab pastinya dan untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut :)